SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 153: Tampil di Televisi


__ADS_3

Visual wajah Alseenio sangat luar biasa dampaknya ketika orang lain melihat wajahnya pertama kali, contohnya seperti mereka bertiga ini.


Mereka diam tak bergerak selama beberapa detik dengan pupil mata yang terkejut dan melebar ke arah Alseenio. Beginilah reaksi ketika orang yang baru melihat ketampanan Alseenio.


Selain ketiga pembawa acara, semua kru dan tim acara memiliki reaksi yang sama.


Untuk sementara waktu studio menjadi hening. Suara orang beraktivitas lenyap, bahkan band yang memainkan musik berhenti bergerak.


Namun, beberapa detik kemudian, mereka semua tersadar dan kembali beraktivitas.


Enji yang tertegun tiba-tiba mendekati Alseenio dan menatap wajahnya dengan mata yang penuh kekaguman serta rasa ingin tahu yang dalam.


“Jujur saja, kamu pria paling tampan yang pernah aku lihat,” ucap Enji tanpa sadar.


Pujian dari Enji segera Alseenio respons dengan senyuman. “Terima kasih, kamu juga salah satu wanita cantik yang pernah aku lihat.“


Melihat senyuman Alseenio yang memiliki dampak besar pada hatinya, ditambah dengan kata-kata yang keluar dari mulut Alseenio, membuat Enji tersipu, wajahnya memerah, ia mundur beberapa langkah dan menundukkan kepalanya.


Pujian Alseenio benar-benar mengenai hati Enji.


Fara masih berdiri di sebelah Alseenio, ia menatap Enji dengan mata yang penuh kewaspadaan. Wanita ini tampaknya akan jatuh cinta terhadap Alseenio.


“Aku mau bertanya, apa kamu benar-benar orang?“ Pincen melangkah maju dan melihat Alseenio dengan dekat.


Belum sempat Alseenio jawab, tiba-tiba Gesta berkata dengan sopan, “Lebih baik kita duduk dahulu, tidak baik jika mengobrol sambil berdiri. Kasihan tempat duduk didiamkan, nanti marah.“


Mereka semua tersenyum dan tertawa mendengar ucapan Gesta, kemudian mereka berlima duduk di sofa masing-masing.


Alseenio dan Fara duduk di sofa tengah yan muat untuk 3-4 orang. Alseenio duduk di paling pojok kanan sofa, Fara di tengah, dan Enji di paling kiri. Gesta duduk di sofa lain samping kiri sofa ketiganya, dan Pincen sofa sebelah kanan.


Sebenarnya, mereka bertiga tidak ingin mengobrol dan cuma mau melihat wajah Alseenio dengan tenang, tetapi mengingat mereka berada di sini untuk bekerja, mereka harus tetap profesional menjalankan pekerjaannya.


Bulan yang lalu mereka juga kedatangan bintang tamu tampan, tetapi reaksi ketiganya tidak sebesar ini. Alseenio di dalam pandangan mereka, ketampanannya berbeda jauh dengan orang yang dianggap tampan yang pernah ke sini dan diwawancarai.


Mata Enji masih terpaku pada wajah Alseenio, Gesta yang sadar dengan ini langsung menepuk tubuh Enji untuk menyadarkannya. “Enji, kamera ada di sana bukan ada di wajah Alseenio.“


“Eh, maaf-maaf.“ Enji terkejut dan ia malu. “Aku benar-benar tidak bisa fokus, pria ini terlalu tampan.“


“Wanita memang sama saja,” kata Gesta sambil menggelengkan kepalanya. “Sebentar, Alseenio. Apakah aku boleh memeluk kamu?“


Wajah Gesta seperti orang yang serius. Kelihatan dia benar-benar ingin memeluk Alseenio.


“Hah?“


Semua orang terkejut dan tertawa di detik berikutnya. Enji segera berkata dengan ekspresi yang tak senang , “Hei, tidak boleh, kamu masih sejenis.“


“Siapa tahu boleh. Pria ini tampan sekali.“ Gesta masih memainkan candaannya.


“Aku dari tadi tidak fokus, aku melihat Alseenio, seperti melihat pria tampan di film kartun,” Pincen mengeluarkan pendapatnya tentang apa yang ia rasakan selama melihat wajah Alseenio.


“Memang, aku juga melihat Alseenio melebihi reaksi aku melihat anggota band pria PTS luar negeri.“ Enji sependapat.


Gesta dan Pincen yang adalah seorang pria mengakui kalau Alseenio memang tampan, keduanya tidak munafik dan memang Jujur.


“Omong-omong, apakah kamu orang luar negeri?“ Pincen bertanya kepada Alseenio yang sedari tadi memandang mereka bertiga dan sudah siap siaga menghadapi pertanyaan yang ada.


“Bukan, aku orang Indonesia asli.“ Alseenio sedikit menggelengkan kepalanya.


“Campuran?“


“Bukan, aku asli Indonesia, tidak ada darah campuran dari orang luar atau apa pun itu.“


“Sungguh?!“

__ADS_1


Mereka bertiga tidak menyangka Alseenio adalah murni darah orang Indonesia. Kebanyakan pria tampan yang pernah berkunjung ke sini dan menjadi bintang tamu acara memiliki darah campuran, entah salah satu dari kedua orang tuanya berasal dari luar negeri. Berbeda sekali dengan Alseenio yang murni Indonesia.


“Orang Indonesia ternyata bisa tampan seperti ini?“ Gesta terpana kemudian melanjutkan, “Sepertinya, darah keluarga kamu adalah darah keluarga tampan yang tersembunyi di Indonesia. Jangan tanya, aku sama sekali bukan dari darah itu.“


“Hahaha!“


Alseenio ditanya oleh mereka perihal asal kewarganegaraan, mereka masih tidak percaya dan di sini untuk memastikan identitas Alseenio, banyak orang yang masih tak yakin dengan asal Alseenio.


“Aku orang Indonesia asli, tak ada blasteran, aku bisa menunjukkan kartu tanda penduduk aku kepada kalian agar percaya.“


Tangan Alseenio mengambil dompet di saku celana dan menyerahkan kartu tanda penduduk ke mereka bertiga.


Satu per satu mereka melihat kartu ini dan tertera jelas tulisan kewarganegaraan Indonesia. Bukan asing.


Bukannya fokus ke tulisan kewarganegaraan, tetapi Enji fokus ke foto di dalam kartu penduduk ini, Alseenio sangat tampan.


“Kebanyakan orang, foto di kartu tanda penduduk mereka tampak jelek, tidak tampan layaknya difoto oleh teman, berbeda dengan Alseenio, dia bahkan terlihat sangat tampan di kartu tanda penduduk miliknya sendiri.“


Pincen mengangguk setuju dengan ungkapan Gesta. Wajah Pincen di dalam kartu tidak begitu bagus, ia kadang malu melihat wajahnya yang ada di dalam kartu.


Enji tidak berbicara, ia masih memandangi wajah Alseenio di kartu.


“Enji, kembalikan kartunya, jangan dipakai untuk pinjaman daring,” celetuk Gesta yang melihat Enji masih menggenggam kartu tanda penduduk Alseenio.


“Hahaha!“


Mendengar candaan ini, Enjo segera mengembalikan kartu Alseenio. “Enak saja, dikiranya aku teman yang datang ketika butuhnya doang.“


“Alseenio memang benar asli Indonesia, dia bukan warga negara asing yang tinggal di Indonesia dan berbuat arogan, sampai-sampai bisa memakai kendaraan peja—”


“Sutt, berhentikan ucapanmu, Pincen. Kamu hampir membuat kami masuk ke dalam kondisi yang berbahaya,” potong Gesta dengan waktu yang tepat. Jika tidak disela, Gesta khawatir dirinya tidak aman.


Mendengar ini Alseenio dan Fara tersenyum, ketiga pembawa acara di sini sangat aktif.


Wajah serius Pincen yang membuat ucapan yang keluar terdengar lucu.


Verifikasi tentang asal negara Alseenio sudah diungkapkan di sini, tak ada kebohongan. Mereka melanjutkan perbincangan ke pertanyaan yang pertama.


“Alseenio ini tak sengaja terkenal lantara dirinya memasang foto di Instagrem, apakah benar? Bagaimana ceritanya?“ Pincen bertanya sambil memegang paha kakinya.


“Ceritanya dahulu itu aku tidak pernah bermain media sosial selain Whatsupp, aku iseng-iseng buat akun dan memasang foto wajahku sebagai foto profil akun. Awalnya, tidak ada yang melihat foto aku, tetapi ada sebuah kejadian setelah aku unggah foto ini yang membuat foto aku disukai banyak orang.“


Cerita Alseenio menarik, dan ketiga pembawa acara ini ingin tahu kejadian tersebut.


“Bagaimana kejadiannya? Apa kamu bertemu dengan selebgrem dan foto kamu dipromosikan?“ Gesta menebak asal.


“Bukan seperti itu kejadiannya. Waktu itu aku pergi ke salah satu mall, aku bosan dan memutuskan untuk bermain permainan di tempat bermain digital, Temzon. Aku di sana melakukan duel permainan lempar bola basket dengan anak kecil—“


“Kamu kalah?“ Enji tiba-tiba berkata.


“Tidak, aku menang. Nah, dari duel itu banyak wanita yang melihatku dan akhirnya mereka tahu akun Instagram aku, mereka tahu begitu aku mengobrol dengan salah satu wanita di sana, yaitu kakaknya teman anak kecil yang aku ajak bertanding, dari situlah akun aku makin dikenal.“ Alseenio tersenyum di sepanjang ia bercerita.


Membuat Enji dan yang lain tidak terlalu bisa konsentrasi dengan apa yang Alseenio bicarakan. Untungnya, mereka menangkap apa yang diucapkan oleh Alseenio.


“Tolong, Alseenio. Kamu jangan tersenyum seperti itu, aku lama-lama bisa diabetes karena senyuman kamu,” Enji memohon dengan wajah yang panas.


“Waduh, kalau ada Yesti pasti Alseenio sudah habis digoda-goda ini.“ Gesta teringat pembawa acara yang lain, lebih tepatnya teman kerjanya.


“Oh, jadi seperti itu.“ Pincen paham dan mengerti mengapa Alseenio bisa terkenal dengan cepat. “Aku penasaran, kamu memang ingin masuk ke dunia industri hiburan atau bagaimana?“


“Tidak, aku sama sekali tidak mau masuk ke industri hiburan. Aku membuat akun Tiktod, Instagrem, dan Yitub murni karena aku ingin saja untuk melakukan semua itu. Sebagai informasi saja, aku banyak diundang oleh beberapa produser film untuk main di suatu film, banyak tawaran acara masuk ke televisi, bahkan aku diundang beberapa kali oleh perusahaan idol di negeri ginseng.“


“Wow! Kamu pernah ditawarkan bermain film juga dan diundang jadi anggota boyband luar negeri?“ Pincen sangat kaget dengan ini. Enji, Gesta, dan para tim yang di dalam studio juga tercengang begitu tahu informasi ini.

__ADS_1


“Banyak pesan undangan yang masuk di akun Instagrem milikku. Aku biasanya periksa beberapa undangan tersebut dan asal undangannya memang benar-benar dari mereka, bukan undangan palsu.“


Alseenio memang menerima banyak undangan, saking banyaknya ia malas untuk buka dan ia diamkan begitu saja.


“Keren banget bisa seperti itu. Aku juga ingin diundang jadi anggota boyband. Siapa saja tolong rekrut aku, aku bersedia jadi anggota boyband idol,” ucap Gesta ke arah kamera.


“Gesta, alangkah baiknya kamu menjadi seperti sekarang saja. Kamu tidak cocok jadi idol, takut band itu bubar karena kamu.“


“Hahaha!“


Orang-orang yang ada di studio tertawa, sedangkan Gesta pura-pura marah.


“Aku pernah dengar berita kamu memecahkan rekor siaran langsung terbanyak di Instagrem Indonesia, bagaimana itu bisa terjadi?“ Gesta kali ini yang melontarkan pertanyaan.


“Itu, aku juga karena iseng, di apartemen tidak ada kegiatan, aku memutuskan untuk siaran langsung dan bernyanyi.“ Alseenio menatap Gesta dengan santai.


“Itu, aku tahu kamu pintar bernyanyi, aku suka dengar kamu nyanyi. Aku masih menyimpan potongan video yang ketika kamu bernyanyi di Instagrem dan Tiktod,” Enji berkata dengan muka merah dan senyum yang pemalu.


“Apakah benar? Terima kasih sudah menyukai nyanyian aku.“ Alseenio harus mengapresiasi orang yang menghargai bakatnya.


“Sama-sama~ ….“


Pincen dan Gesta hanya bisa tersenyum melihat temannya ini, Enji benar-benar berbeda, ia berubah menjadi seorang wanita yang malu-malu. Hari biasanya Enji tidak seperti ini sikapnya.


“Jadi, itu tidak sengaja juga?“ Pincen memastikan jawaban Alseenio.


“Benar, aku tidak sengaja memecahkan rekor. Aku sama sekali tidak memiliki pikiran siaran langsung tersebut ramai ditonton orang-orang.“


Semua orang kelihatannya sudah terbiasa dengan sesuatu yang menakjubkan dari Alseenio, reaksi mereka tidak begitu heboh.


“Omong-omong, aku lihat di KTP, kamu berumur dua puluh tahun, kamu sedang kuliah atau fokus kerja sebagai selebgrem dan yituber?“ Pincen bertanya lagi.


“Tidak kuliah,“ Alseenio menjawab sembari menggelengkan kepalanya.


“Lalu kamu kerja sebagai selebgrem dan pekerjaan di internet, kan?“


“Aku tidak menganggap itu pekerjaan, aku cuma sekadar suka saja melakukan hal tersebut. Maka dari itu, aku berkali-kali bilang ke para penonton di siaran langsung waktu itu agar tidak memberiku hadiah, aku tidak perlu diberi uang, aku hanya ingin bersenang-senang di siaran langsung tanpa dibayar.“


Semua orang memberi tepuk tangan untuk Alseenio, jarang-jarang ada orang yang memiliki prinsip yang sama dengan Alseenio.


“Kalau begitu, bukannya kamu tidak mendapatkan penghasilan jika seperti itu?“ Gesta agak heran.


“Aku memiliki bisnis, tidak ada masalah tentang keuangan,” jawab Alseenio dengan senyuman.


“Bisnis apa itu?“


“Ada bisnis, tetapi aku tidak bisa memberi tahu di sini.“


Tidak bisa semua hal tentang dirinya diungkapkan, terutama tentang bisnisnya. Mungkin Alseenio akan jawab secara personal dengan artis-artis ini.


Enji diam saja saat Gesta dan Pincen menanyakan seputar Alseenio. Ia sangat senang mendengar suara Alseenio yang nyaman ditambah dengan visual wajahnya yang memanjakan mata.


“Maaf, Alseenio. Wanita di sebelah kamu siapa, ya?“


Gesta, Pincen, dan Enji sudah memperhatikan sosok wanita yang duduk diam di sebelah Alseenio.


Tampaknya acara ini tidak diberi tahu informasi seputar Alseenio terlebih dahulu, ini acara wawancara yang benar-benar bisa dikatakan acara wawancara asli yang mewawancarai orang tanpa harus mengetahui informasi dasar pada bintang tamu.


Pembawa acara saja tidak tahu tentang siapa wanita yang duduk di samping Alseenio.


Sebetulnya, pihak tim sengaja tidak memberi tahu informasi tentang Alseenio membawa pacarnya ke Enji, Pincen, dan Gesta supaya acara terlihat nyata tidak banyak gimik.


Mendengar ini, Alseenio langsung mengambil tangan kanan Fara dan berkata, “Dia adalah pacarku.“

__ADS_1


__ADS_2