SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 68: Mencari Pasangan


__ADS_3

“Benar, akhirnya kita bertemu lagi,” Alseenio menjawab sedikit canggung dengan tangan kanannya memegang bagian belakang kepala.


Wanita yang berdiri di depan Alseenio adalah Niara alias Hani Kiara. Keduanya sudah janjian untuk bertemu dan kebetulan Alseenio mendapatkan hadiah sebuah rumah mewah yang ada di satu kompleks dengan rumah milik Niara, rasanya seperti diberi bantal saat mengantuk.


Wajah Niara tetap cantik dengan riasan yang tipis, sepertinya ia hanya memakai bedak dan sedikit lipstik. Keseluruhan tampilannya sangatlah cantik. Poin penampilan 89 memang tidak diragukan, bahkan menurut pribadi Alseenio, kecantikan wajah Hani Kiara ini melebihi sebagian besar selebriti besar tanah air.


Namun, Niara masih kalah apabila dibandingkan dengan Yochi yang transgender.


Lupakan itu, Alseenio tetap suka pada wanita tulen.


Pada saat ini, mereka berdua saling beradu pandangan. Keduanya saling melihat penampilan satu sama lain.


Saat melihat wajah Alseenio secara langsung, Hani Kiara merasa bahwa Alseenio lebih tampan dan menawan dibandingkan dengan yang ada di layar ponselnya. Mereka berdua sudah hampir 5 kali melakukan panggilan video.


Hani Kiara jelas mengetahui pesona Alseenio dalam layar ponsel, ini berbeda dengan melihatnya secara langsung. Visual Alseenio sangat tampan, ini membuatnya ingin memeluk pria di depannya ini selama satu minggu tanpa terlepas.


“Sangat tampan, layak menjadi idola di kampusku,” gumam Hani di dalam hati.


Melihat tampilan menyeluruh Alseenio terasa matanya sedang dimanjakan. Ini merupakan cuci mata bagi wanita. Termasuk temannya yang ada di universitas, mereka kerap mengobrol seputar Alseenio, tak jarang mereka bertanya tentang Alseenio kepadanya, sebab mereka tahu bahwa dirinya dekat dengan Alseenio.


Hampir semua teman-temannya adalah seorang penggemar Alseenio, terutama teman wanita, tetapi ada beberapa teman pria yang menjadi penggemar berat Alseenio, aneh.


“Ternyata, kamu lebih tampan daripada yang di ponsel.“ Niara tersenyum lembut seraya menatap wajah Alseenio dengan tatapan yang nyaman.


Alseenio ikut tersenyum. “Pasti, bagaimanapun yang asli tetaplah yang terbaik.“


“Kamu tahu? Jika teman-temanku ada di sini dan sempat melihat senyumanmu, aku yakin mereka akan pingsan,” Niara berkata sambil tersenyum menahan untuk tidak tertawa.


“Kenapa bisa begitu?“ Alseenio penasaran dengan alasannya mengapa temannya Niara akan bereaksi seperti apa yang dikatakan Niara.


Niara memiringkan kepalanya, dan menjawab, “Kenapa? Itu karena pesonamu, Alseenio Asep.“


“Selain itu, tolong jaga pesona wajahmu agar tidak diterkam oleh wanita gila,” tambah Hani Kiara.


“Haha, oke. Aku akan jaga pesonaku,“ Alseenio sedikit tertawa dan memberi tanda oke dari tangannya.


Kedua sekuriti yang ada di dalam ruangannya menyaksikan Alseenio dan Niara berbincang-bincang tampak seru, mereka berdua menahan rasa iri dan asam di hatinya. Keduanya ialah jomlo atau perjaka. Wajar saja saat ditunjukkan adegan manis ini, mereka langsung merasa sedih, tetapi di sisi lain itu membangkitkan niat mereka untuk cepat-cepat mencari dan menemukan pasangan.


Mukhlis salah satu sekuriti menoleh ke temannya yang masih menonton Alseenio berbincang dengan Niara di depan ruangan khusus sekuriti. “Sepertinya kita harus cepat menemukan pasangan, kita berdua sudah cukup berumur.“


“Benar, Klis. Aku jadi ingin seperti Tuan Alseenio, aku bosan hidup monoton tanpa ada bumbu manis di jalan kehidupanku.“ Temannya Mukhlis mengangguk begitu mendengar kata-kata Mukhlis.


Dengan ini, mereka berdua berencana untuk mencari pasangan hidup.


“Ini rumahmu?“ Niara bertanya sambil mengamati tampilan depan rumah Alseenio yang besar ini.


Alseenio mengangguk tegas. “Benar, ini rumahku. Aku juga tak menduga ternyata rumah kita masih satu perumahan. Sungguh kebetulan.“


“Benarkah? Kamu bukan stalker, kan?“ Niara memicingkan matanya ke Alseenio tampak mencurigai.


“Bukan. Aku bukan stalker, untuk apa juga aku diam-diam memperhatikan kamu sampai aku membeli rumah di sini.“


“Benar juga. Eh, tetapi itu bisa saja, kan?“


“Entahlah.“ Alseenio menaikkan kedua bahunya.


Niara menoleh ke sekitar, ia terlihat penasaran dengan


“Rumah ini lebih besar dari rumahku. Bisakah aku melihat interior rumah yang ada di dalam?“ Niara bertanya kepada Alseenio dengan mata yang agak memohon. Manik matanya membesar dan berkilauan.


Permintaan seorang wanita memang sangat sulit ditolak. Alseenio menghembuskan napas ringan dan menjwab, “Boleh, tetapi ada teman-temanku di dalam, tidak apa-apa?“


“Teman? Siapa itu? Wanita atau pria? Apa tujuannya ke sini? Berdua atau ramai-ramai? Tidak berbuat hal aneh, kan?“


Niara menjadi agresif dan ia melempar banyak pertanyaan sekaligus dalam satu tarikan napas. Tubuhnya menjadi lebih dekat dengan Alseenio hanya dipisahkan jarak 6 sentimeter saja.


“Tenang, Niara,” Alseenio melambaikan tangannya seraya mundur satu langkah, “aku bersama teman-teman, cukup ramai, ada 13 orang, 4 wanita 9 pria, ada satu pasangan suami-istri. Semuanya orang terkenal di Yitub, mungkin kamu kenal dengan salah satu dari mereka.“


“Wow! Banyak sekali. Mereka semua berasal dari Bandung juga atau Jakarta?“


“Delapan orang dari Bekasi, mereka ke sini bersamaku, sisanya memang tinggal di Bandung,” jelas Alseenio sambil membenarkan rambut panjangnya.


Melihat Alseenio yang sedang membenahi rambutnya yang panjang, Niara merasa gemas dan ingin membantunya.


“Sini, biar aku yang ikat rambutnya.“


Tangan Niara langsung menyambar rambut terjuntai ke belakang milik Alseenio.


“Tunggu, biar aku duduk terlebih dahulu. Kamu tidak akan sampai.“ Alseenio menahan Niara untuk tidak terburu-buru.


Kemudian ia berjalan ke tempat duduk yang terbuat dari tembok di samping ruang sekuriti, diikuti oleh Niara yang sudah tidak sabaran.

__ADS_1


“Nio, aku tidak sependek itu tahu,“ Niara tersinggung dengan kalimat Alseenio tadi, jadi ia memprotes.


Alseenio duduk di atas tempat duduk, ia mengangkat kepalanya untuk melihat Niara yang berdiri di depannya dengan bibirnya cemberut. “Kamu memang tidak pendek, akunya saja yang terlalu tinggi.“


Wajah Niara langsung berubah, dan ia tersenyum manis. “Hehe …. Sini, biarkan aku mengikat rambutmu.“


“Silakan.“


Tangan putih Niara yang mulus itu bergerak dengan hati-hati dan lembut, ia berusaha untuk tidak menyakiti Alseenio saat mengikat rambut.


Butuh satu menit lebih untuk mengikat rambut Alseenio, rambutnya diikat mode kuncir kuda yang letaknya sedikit ke atas. Tampilan wajah Alseenio menjadi sedikit feminim.


“Wajahmu itu seperti gabungan antara feminim dan maskulin, Nio. Kalau ukuran baju itu bisa disebut unisex,” Niara memuji Alseenio dengan pipinya yang memerah. Memandang wajah tampan Alseenio yang tanpa celah ini membuatnya terlena, sedari tadi ia menahan untuk tidak melakukan sesuatu yang aneh kepada Alseenio.


Tubuh Alseenio mengeluarkan pancaran tempramen lembut dan maskulin, ini adalah senjata untuk melemahkan wanita, ditambah lagi wangi alami dari tubuh Alseenio yang sangat memabukkan.


“Ini rambut asli atau rambut palsu, terlihat sangat nyata sekali.“


Ketika Niara mengikat rambut Alseenio, ia merasa bahwa rambut ini seperti asli, tidak terasa seperti rambut palsu atau wig.


“Rambut palsu, tetapi aku membelinya dan memasang layaknya rambut asli. Keren, bukan?“ Alseenio langsung bangkit dan menghadap Niara yang sedang duduk seraya memasang gaya yang keren.


“Pfftt! Hahaha!“


Melihat Alseenio yang bergaya aneh di depannya membuat Niara tertawa terbahak-bahak sambil menepuk pahanya.


Wajah Alseenio berubah, ia menatap Niara dengan ekspresi yang bingung sambari nenggaruk dagunya. “Bukankah itu keren?“


“Tidak-tidak, itu sama sekali tidak keren, melainkan aneh dan sedikit kaku.“ Niara melambaikan tangannya dengan cepat, ia mengambil napas, mencoba untuk tidak tertawa lagi.


“Eh, iyakah?“


“Iya, Nio Asep.“ Hani Kiara mengangguk meyakinkan. “Ayo kita masuk ke dalam! Aku sudah penasaran dengan rumah dan teman-temanmu.“


“Ya,” jawab Alseenio.


Setelah itu, mereka berdua berjalan ke pintu masuk rumah yang cukup besar, dan perlahan Alseenio mendorongnya hingga terbuka.


Tepat ketika pintu terbuka lebar, Niara bisa melihat bahwa di balik pintu ini banyak sekali orang yang sedang duduk di meja makan, tetapi ada yang aneh, di atas meja tidak ada makanan sama sekali. Mereka semua menatap dirinya dan Alseenio dengan berbagai reaksi ekspresi.


“Anu, siapa dia, Bang Nio?“ Bang Mac bangun meninggalkan kursi makan, berjalan mendekati Alseenio dan Niara.


Mata para para pria di sini langsung bersinar mengeluarkan kilapan cahaya, seakan jiwanya terbangun seketika ketika melihat Niara. Kecantikan Niara mengalahkan semua wanita yang datang ke rumah Alseenio, bahkan Istri Bang Luffi kalah poin kecantikannya.


Ketika melihat wajah Niara yang tersenyum canggung dan agak malu, Bang Fandick berbisik ke Bang Luffi dan Bang Pali, entah apa yang diucapkannya.


“Halo, Semuanya ….“ Niara melambaikan tangannya dengan malu-malu.


Deg!


Hati para pria di sini seolah sedang dipanah oleh anak panah cinta. Senyuman Niara sangat manis menurut pandangan mereka, sangat mengandung kadar gula yang berlebih.


“Maaf, dia sekarang lagi berada di mode pemalu, biasanya tidak seperti ini,” Alseenio langsung memberi tahu kepada Bang Windi dan lainnya tentang Niara.


Mendengar ucapan ini, Niara mencubit pinggang Alseenio dan melotot.


“Aduh!“


Alseenio terkejut dengan gerakan Niara yang tiba-tiba mencubit kulit pinggangnya dengan kencang.


Ketika semua orang melihat Alseenio yang kesakitan dan Niara yang tengah marah, tampak serasi dan dekat, mereka hanya bisa tersenyum diam-diam dan mengetahui sesuatu. Pikiran mereka semua secara mendadak menjadi satu.


Namun, Lafhel memiliki ekspresi yang kontras dibandingkan yang lain. Gheska tahu ada yang salah dengan Lafhel, dan ia segera membantu Lafhel untuk tidak kecewa.


“Mereka hanya teman, Kak Lafhel. Jangan sedih, ya.“ Gheska menatap Kak Lafhel dan membawan


Sedikit menjauh dari ruang tamu.


Gheska sangat membantu menenangkan hatinya, Kak Lafher merasa tidak begitu menyakitkan lagi, tidak kayak sebelumnya yang begitu menusuk, lebih lagi ketika Niara mencubit Alseenio dan Alseenio bereaksi berpura-pura kesakitan, sangat harmonis dan cocok, di sana hati Lafhel terasa sakit, ibarat hatinya dilindas truk kontainer.


Alseenio sama sekali tidak mengetahui ini. Pada saat ini, ia mengusap-usap pinggangnya yang terasa perih karena dicubit oleh Niara dengan kejam, Alseenio menebak kulitnya yang dicubit menjadi biru sekarang.


Mengabaikan rasa sakit ini, Alseenio menyerahkan Niara kepada istri Bang Luffi. Pasalnya, Kak Diya tiba-tiba menarik Niara untuk bergabung dengan mereka. Para wanita ini membawa Niara ke ruangan lain yang terpisah dari ruang tamu. Sepertinya mereka pergi menuju ke ruang keluarga.


Di sana, para pria memutuskan untuk berenang sebelum pulang. Terdapat sebuah kolam renang di belakang rumah yang sangat besar ini, cukup luas kolam renangnya, masih bisa dimasuki belasan orang sekaligus dan berenang bersama.


Wanita-wanita tidak ikut berenang, mereka hanya duduk di bangunan terpisah. Rumah ini dibagi dua bangunan, tetapi basemennya tetap satu. Mereka duduk di balkon bangunan yang satunya dan menyaksikan para pria bermain air.


Akan tetapi, saat ini, mereka lebih fokus membicarakan tentang tubuh Alseenio seraya memfokuskan pandangannya masing-masing ke tubuh Alseenio yang hampir sempurna.


Lekukan otot pada tubuhnya tidak ada cacat sama sekali, kulitnya pun putih, mereka sebagai wanita pun iri dengan kulit yang melapisi tubuh Alseenio. Perut delapan kotak, otot punggung dan dada yang padat, keseluruhan orang bisa dikatakan rasio emas.

__ADS_1


Bang Windi sampai terpukau dengan tubuh Alseenio, secara tidak langsung membuatnya ingin kembali ke tubuhnya zaman dahulu, sebelum menjadi Yituber.


Setelah berenang sampai jam 10 pagi. Sampai di rumah ini sekitar jam setengah 8 pagi, ada waktu untuk berenang dan mengobrol bersama.


Usai semuanya selesai, mereka pulang ke rumah masing-masing. Niara pulang terlebih dahulu karena ada sebuah panggilan telepon dari orang tuanya.


Tidak lupa Alseenio memberi pesan kepada lima pembantu dan dua sekuriti di sini untuk menjaga rumah. Alseenio juga mengizinkan kepada Bang Luffi dan temannya untuk memakai rumah itu jika diperlukan, daripada kosong lebih baik diisi, asalkan mereka tidak merusak.


Tepat pukul jam 3 sore, Alseenio sampai di apartemen dengan selamat, ia sempat mampir ke rumah Bang Windi untuk makan siang bersama.


Dikarenakan terlalu lelah, Alseenio tertidur begitu dirinya mendarat di atas kasur sehabis mandi.


“Bangunlah, Ksatria! Bangun sendiri!“


“Tanpa bantuan tangan dan sabun mandi!“


“Ksatria Batang Hitam! Konak terus!“


“Ksatria Batang Hitam! Pant—”


Lagu aneh tersebut berhenti seketika, sebuah tangan mematikan lagu tersebut yang ternyata adalah alarm ponsel.


“Lagu apa itu?! Mengapa disetel di ponselku?“


Alseenio bangun dari tidurnya karena lagu ini. Mimpinya yang indah berubah setelah mendengar lirik “Batang Hitam” di dalam mimpinya.


“Sepertinya Fandick dan kawan-kawan menjahiliku.“ Alseenio berasumsi bahwa yang melakukan ini adalah Tim Bang Luffi, sebab ia sempat melihat bahwa ponselnya berubah tempat, yang awalnya di atas tubuhnya menjadi di atas meja.


Ponselnya tidak memasang kata sandi, jadi mereka bisa mengakses ponselnya, tetapi semua aplikasi terpasang keamanan tambahan dan butuh kata sandi.


Saat Alseenio melihat jam di dalam ponsel, ternyata sudah menunjukkan jam 8 malam. “Apa aku tertidur tadi sore?“


“Sangat pas sekali mereka memasang alarm di jam segini,” Alseenio bergumam sambil menatap layar ponsel.


Kruuu~


Bunyi aneh terdengar dari perut Alseenio, ia lapar sekarang. Sudah waktunya untuk mencari makanan.


“Aku lapar, sepertinya jam segini cocok untuk mencari makanan,” pikir Alseenio sambil menepuk pipinya dengan satu jari.


Tanpa berpikir lama, Alseenio bersiap-siap dan keluar dari apartemen.


Tepat saat tangannya ingin menyentuh pegangan pintu, sebuah panggilan telepon berbunyi.


“Tiara? Tidak biasanya ia menelepon, ada apa dengan dia?“


Alseenio segera menerima telepon dari Tiara. Ia merasa bahwa panggilan ini penting.


“Halo, Nio.“


“Ya, halo? Ada apa, Tiara?“ Alseenio langsung bertanya ke intinya.


“Emm … bi-bisakah kamu menjemputku, aku ada di dekat Bundaran HI.“


Nada suara Tiara terdengar kikuk dan sedikit terbata-bata. Namun, Alseenio merasa Tiara sedang bimbang, sangat terdengar jelas dari intonasi katanya.


“Oke. Aku akan ke sana, aku juga ingin membeli makanan untuk malam ini, tunggu di sana.“


“Iya, aku akan menunggu di sini.“


Tutut!


Panggilan berakhir. Dengan gegas Alseenio keluarga dari apartemen dan melaju dengan H2-nya menuju Bundaran HI.


Setibanya di sana, Alseenio bertemu dengan Tiara, mereka melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Membeli makanan yang direkomendasikan oleh Tiara.


Namun, Alseenio merasa ada yang salah dengan Tiara. Tiba-tiba saja Tiara meminta dirinya untuk membawanya ke apartemen, dia ingin makan bersama dengan Alseenio dan juga ingin berkata sesuatu yang penting di sana.


Tentu saja, Alseenio menuruti permintaan Tiara, sebab ini penting bagi Tiara, dari awal bertemu, raut wajah Tiara ada yang aneh.


Mereka berdua makan di apartemen Alseenio, lebih tepatnya makan di ruang tamu.


Usai keduanya selesai makan, Tiara mendadak menunjukkan gelagat yang aneh, ia berdiri dari kursi makan dan berjalan tanpa berkata satu pun ke arah Alseenio, kemudian … Tiara duduk di pangkuan Alseenio saling menghadap.


Postur keduanya terlihat sangat panas, lebih lagi pandangan mata Tiara yang super seduktif ketika melihat Alseenio.


Alseenio belum bereaksi, ia masih bingung dengan tindakan Tiara dan hanya menatap dengan tatapan yang tak mengerti.


Sorot mata Tiara begitu menggoda saat memandang mata Alseenio yang bingung.


Selanjutnya, bibir ceri Tiara terbuka dan berkata, “Bolehkah aku mengandung anak-anakmu, Nio?“

__ADS_1


__ADS_2