
[Ding! Misi Telah Terdeteksi!]
Judul : Pengendara Andal Satu Tangan dan Mata.
Misi : Mengendarai mobil dengan satu mata dan satu tangan.
Syarat : Lakukan sampai tujuan.
Hadiah : 1x Kotak Misteri.
Hukuman : Lumpuh 10 tahun.
[Misi otomatis diterima!]
Senyum masam muncul di wajah Alseenio begitu melihat misi yang datang. Misi aneh yang mengharuskan melakukan sesuatu yang konyol, juga dengan hukuman yang sadis.
Alseenio menangkupkan setengah dari wajahnya sampai menutupi mata kirinya menggunakan tangan kirinya, dan tangan kanan lainnya memegang setir mobil, mengendalikan mobil dengan santai dan tenang. Ia harus selalu seperti ini sampai rumah Bang Luffi.
Melihat gerakan Alseenio, Candy memandangnya dengan aneh, matanya sedikit menyipit dengan wajah yang terheran. “Kenapa setengah wajahnya ditutup, Bang? Mata kirinya sakit?“
“Enggak, ini cuma lagi menantang diri. membawa mobil hanya menggunakan satu tangan,” kata Alseenio ringan. Seolah itu bukanlah masalah.
Namun berbeda dengan persepsi Candy, ini suatu masalah, sebab perjalanan menuju Bandung bukanlah perjalanan yang dekat. Kurang lebih 144 kilometer jarak tempuh, memang sangat jauh, butuh waktu lebih dari 2 jam itu pun kalau tidak macet atau jalan raya sedang lancar, mungkin bisa lebih dari 3 jam lamanya.
Dengan demikian, Alseenio selama 3 jam itu mengendarai mobil dengan satu tangan dan satu mata untuk melihat.
Terpaksa Alseenio harus lakukan demi kelangsungan hidup.
“Jangan bercanda, Bang. Ini perjalanan jauh, lo. Jangan mengada-ada,” Candy mengeluh penuh khawatir terhadap tindakan Alseenio.
Mendengar ini Alseenio langsung tersenyum dan ia berniat untuk menjahili Candy. “Sebenarnya aku ingin menantang diri sendiri dengan menutup kedua mataku saat berkendara. Sepertinya seru.“
“Jangan-jangan!“ Candy menggelengkan kepalanya dengat cepat dan memohon kepada Alseenio untuk tidak melakukan hal berbahaya itu.
“Pfftt! Hahaha!“ Alseenio tertawa lepas setelah melihat reaksi panik Candy.
“Santai saja. Aku tidak akan melakukan hal itu,“ lanjut Alseenio usai tertawa.
Ternyata tertawa sambil menutup setengah wajah sangat merepotkan dan membuat lelah.
“Jangan begitulah, aku takut kalau bercandanya bermain nyawa.“ Candy masih tampak ketakutan. Ia benar-benar tidak bisa bermain-main jika sedang berada di dalam perjalanan.
Alseenio menggelengkan kepalanya dan masih menyeringai hendak tertawa, tetapi ia berusaha menahan tawa. Memikirkan Candy yang terlihat panik tadi, itu membuatnya ingin tertawa. Benar-benar lucu dan mengocok lambung.
“Sudahlah, Bang. Jangan senyum-senyum ingin tertawa seperti itu,” Candy protes dengan wajah yang tidak senang.
“Iya-iya. Omong-omong, Bang Luffi sudah punya pacar atau jomlo?“ tanya Alseenio yang penasaran dengan pria yang bernama Luffi ini.
“Tidak jomlo, bahkan Bang Luffi sudah menikah dan punya istri.“
Ketika mendengar ini, Alseenio sedikit tersentak kaget, dan ia menoleh ke Candy. “Sudah menikah? Kapan?“
Alseenio benar-benar tidak tahu tentang Bang Luffi. Saat di rumah Bang Windi, tim Jaya Exford hanya memperkenalkan pekerjaan atau profesi Bang Luffi tanpa menyebutkan bahwa sudah menikah.
“Desember tahun lalu kalau tidak salah ingat. Aku bersama teman-teman pernah datang ke rumahnya saat pernikahan digelar,” ucap Candy seraya memegang dagunya.
“Kalian memberi hadiah kado untuk Bang Luffi saat di acara pernikahan?“
“Ya! Tentu saja.“ Candy mengangguk berat.
“Sepertinya aku harus memberi kado juga untuk mereka, hitung-hitung sebagai hadiah pernikahan dan pertemuan,” gumam kecil Alseenio dan fokus menyetir.
Pada saat Alseenio bergumam, tiba-tiba sistem muncul bersama dengan bunyi dering khasnya.
[Ding! Misi Sampingan Telah Terdeteksi!]
Misi : Membeli barang dengan total uang yang dihabiskan 500 juta.
Waktu : 3 jam.
Hadiah : 1x Kotak Misteri.
Hukuman : Semua Harta Hilang.
[Misi otomatis diterima!]
Setelah melihat misi ini, Alseenio memutuskan untuk membeli sesuatu hadiah di mall dalam perjalanan nanti.
“Kamu tahu di mana tempat perbelanjaan terbesar di Bandung?“ Alseenio bertanya tanpa melihat ke arah Candy yang ada di bangku sebelahnya.
Candy merenung sejenak sebelum menjawab, “Ciwalking mungkin, tetapi di sana banyak toko terkenal dan populer.“
“Aku berniat untuk memberi mereka kado, menurutmu kado apa yang pas untuk mereka berdua?“ Alseenio meminta saran kepada Candy, pasalnya ia sama sekali tidak mengenal Bang Luffi. Jadi, ia tidak tahu barang apa yang cocok untuk mereka berdua.
“Umm … bagaimana dengan elektronik? Mengingat Bang Luffi seorang Yituber, pasti dia tidak jauh dengan gadget,” saran Candy setelah berpikir sekilas.
“Baiklah, aku akan memberi kado elektronik. Kamu tahu di mana tempat untuk membeli barang elektronik?“
“Iya, setahuku, Gedung BIC memiliki produk elektronik yang lengkap.“
“Ya sudah, beri tahu aku jalannya, jangan lupa untuk beri tahu Bang Windi untuk mampir ke tempat toko ponsel itu lebih dahulu sebelum ke rumah Bang Luffi,“ Alseenio mengintruksikan kepada Candy.
__ADS_1
“Baik!“ Candy langsung bergerak menginformasikan tujuan Alseenio kepada Bang Windi dan kawan-kawan melalui pesan.
Dua jam kemudian, mereka sudah memasuki kawasan Bandung. Tanpa berlama-lama lagi, mereka semua pergi ke gedung pusat toko elektronik berada, BIC.
Di sana, Alseenio dan Tim Jaya Exford sedang mencari toko yang mengecer produk iPon resmi. Alseenio berpikir untuk membeli produk ponsel iPon dan beberapa merek elektronik lain sebagai hadiah.
Tak lama mereka mencari, mereka akhirnya menemukan toko yang bisa dibilang memiliki produk Apel yang original.
“Ada berapa 14 Pro Max yang tersedia di toko ini?“ Alseenio bertanya kepada pemilik konter telepon genggam.
“Ada 20 buah yang tersisa, yaitu 12 buah yang memiliki penyimpanan 128 GB, 5 buah yang penyimpanannya 256 GB, 2 buah penyimpanannya 512 GB, dan 1 buah penyimpanannya 1 Terabyte.“
“Berapa harga dari masing-masingnya?“
“Penyimpanan 128 GB harganya di 21 juta, 256 gb harganya 22 juta, 512 GB harganya 23 juta, dan 1 Tera harganya 28 juta,” terang Pemilik Toko yang terlihat seperti blasteran darah Cina.
Alseenio bimbang ingin memilih yang mana, dikarenakan bingung, ia memutuskan untuk membeli semuanya.
Pada intinya, dalam misi ini ia harus mengeluarkan uang sekitar 500 juta.
“Aku beli semuanya,” ucap Alseenio ringan tanpa ada beban, “tolong yang 1 Tera dan 1 buah yang 512 GB dipisah juga dikadokan, soalnya itu untuk hadiah.“
“Maaf, Pak. Bapaknya bilang apa tadi? Bisa diulang?“ Pemilik toko merasa bahwa dirinya salah mendengar. Ia kembali bertanya dan mendekatkan telinganya ke arah Alseenio.
“Aku beli semua 20 buah ponsel Apel 14 Pro Max yang ada di toko ini. Untuk 1 Tera dan salah satu dari 2 buah 512 GB aku minta dipisah dan dikadokan, itu untuk diberikan kepada seseorang,” Alseenio menjawab dengan suara yang lantang dan jelas.
Dalam sekejap, orang-orang yang sedang melewati depan toko ini terhenti ia memandang Alseenio dengan terpana.
Pemilik toko yang adalah seorang pria tua itu tercengang dengan tangannya sedikit bergetar, entah karena gembira atau terkejut.
Tidak hanya mereka, Tim Jaya Exford pun memandangi Alseenio dengan ekspresi ketidakpercayaan. Mulut mereka terbuka lebar dengan matanya yang melotot ke arah Alseenio.
“Tolong dipercepat, Pak. Aku sedang terburu-buru.“ Alseenio menatap dengan tenang Bapak Pemilik toko yang membeku di seberang etalase kaca.
“Eh, oke-oke, kami akan bungkus semuanya!“ Bapak pemilik toko tersadar dan mengangguk cepat, ia bersama dua karyawannya segera membungkus dan mengambil ponsel yang dibeli Alseenio.
“Bang, kenapa banyak sekali belinya? Untuk siapa saja?“ Bang Windi bertanya dengan heran. Ia tak tahu alasan Alseenio membeli semua ponsel ini.
Alseenio menoleh ke Bang Windi, dan menjawab, “Kalian sudah punya iPon? Kalau belum, kalian boleh ambil salah satu dari ponsel yang aku beli.“
“Satu orang untuk satu ponsel,” sambung Alseenio.
“Beneran?!“ Candy terbelalak dan ia bertanya dengan cepat.
“Ya!“ Alseenio mengangguk tegas.
“Terima kasih, Bang Nio!“ Bang Candy hendak memeluk Alseenio, tetapi langsung ditepis oleh Alseenio dengan cepat.
Kini ponsel yang tersisa ada 12 buah, 2 di antaranya dibungkus dan dikadokan khusus untuk hadiah pernikahan Bang Luffi, sementara untuk 10 buah lagi dibungkus normal dalam tiga kantong.
Ponsel yang diambil oleh teman Bang Windi tidak dibungkus, mereka membawanya secara langsung.
Alseenio melihat tiga kantong yang berisikan ponsel merek iPon, dan bertanya kepada Pemilik toko, “Berapa total semua ponselnya?“
“436 juta, Pak.“
Suara Bapak Pemilik toko terdengar antusias dan terburu-buru, tetapi tetap hormat.
“Bisa gesek kartu kredit di sini?“
“Tentu. Tolong gesek di sini, Pak.“ Pemilik toko langsung mengeluarkan alat pembayaran kartu kredit di tangannya.
Segera, Alseenio mengeluarkan dompet dan mengambil kartu hitam yang terlihat elegan. “Tolong gesek saja.“
Kartu hitam itu diserahkan kepada pemilik toko.
Tepat ketika pemilik toko ini melihat kartu yang diberikan Alseenio, matanya melebar hampir keluar, ia mengenali jenis kartu ini. Dalam sekejap sikap Pemilik toko menjadi lebih hormat.
Ting!
Bunyi transaksi berhasil dilakukan terdengar oleh mereka semua. Pemilik toko langsung tersenyum lebar. Kemudian ia mengembalikan kartu hitam milik Alseenio.
“Terima kasih, Tuan. Sudah berbelanja ponsel di toko kami,” ucap Bapak Pemilik toko dengan nada yang hormat.
“Sama-sama, kami pergi dahulu.“ Alseenio melambaikan tangannya kepada pemilik toko.
“Dadah!“
“Pamit, Pak.“
Tim Jaya Exford mengucapkan beberapa kata sebelum meninggalkan konter ponsel.
Setelah membeli iPon, Alseenio juga membeli satu laptop ROG untuk Bang Luffi dan satu ponsel lipat merek Sungsang untuk istrinya. Alseenio merasa bahwa ponsel iPon saja belum cukup.
Total hampir 600 juta rupiah Alseenio keluarkan untuk membeli semuanya menggunakan kartu hitamnya.
Di tempat parkir, Bang Windi memiliki pertanyaan yang mengganjal di kepalanya, ia tak tahan lagi, akhirnya ia bertanya kepada Alseenio, “Bang, aku ingin bertanya, apakah memiliki saham di GoTe menghasilkan banyak uang?“
“Tergantung berapa banyak saham yang kita pegang,” jawab Alseenio apa adanya. “Makin banyak saham yang dimiliki, makin banyak pula dividen yang didapatkan.“
“Terus, Abang mendapatkan berapa rupiah? Maaf, terlalu personal.“
__ADS_1
“Tiga ratus,” Alseenio menjawab sambil menunjukkan tiga jari tangan kanannya.
“Juta?“
“Bukan.“ Alseenio menggelengkan kepalanya. “Tetapi miliar.“
Bang Candy, Bang Mac, Rino, dan anggota pria yang dekat dengan Bang Windi yang tengah bertanya langsung tertegun sejenak, kemudian secara bersamaan mereka semua menggelengkan kepala dan menghembuskan napas dari hidungnya.
Perbedaan pendapatan mereka dengan Alseenio sangat jauh berbeda, bahkan Bang Windi satu tahun tidak dapat setengahnya dari penghasilan Yitub.
Namun, mereka tidak tahu bahwa penghasilan Alseenio lebih dari itu.
“Ayo kita lanjutkan perjalanan lagi!“
Merasa suasananya menjadi canggung, Alseenio mengajak Bang Windi dan kawan-kawan untuk pergi ke rumah Bang Luffi secepatnya.
Mereka semua tak lupa berterima kasih kepada Alseenio karena telah dibelikan ponsel mahal sebelum melanjutkan keberangkatan menuju lokasi rumah Bang Luffi.
[Ding! Misi Sampingan Terselesaikan dan Dapatkan Kemampuan Bernyanyi Tinggi, Uang 100 Milyar!]
Dalam satu detik, sebuah perubahan terjadi di kerongkongan Alseenio dan juga di akun rekeningnya. Habis itu, Alseenio fokus mengendalikan mobil.
“Halo.“
“Halo, Bang Luffi!“
“Akhirnya sampai juga. Eh, halo, Tim-nya Bang Luffi!“
“Aaa! Kita ketemu lagi, Kak Diya!“
Setibanya di rumah Bang Luffi, mereka semua saling bersalaman dan menebus kerinduan satu sama lain. Sebelumnya, Tim Jaya Exford pernah datang ke sini, ke acara pernikahan Bang Luffi beberapa bulan yang lalu, sepertinya hampir satu tahun.
Ketika mereka saling salam-salaman, Alseenio hanya diam di belakang mereka. Ia belum berkenalan dan bahkan belum pernah bertemu dengan Bang Luffi beserta partnernya.
Tak lama kemudian, mereka semua selesai bersalaman. Segera, Bang Windi memperkenalkan Alseenio kepada Bang Luffi serta timnya yang bernama Paith, sebenarnya ini bukan hanya tim, tetapi tim bisnis.
“Ini dia Bang Alseenio yang pernah aku ceritakan tentang Candy yang mendapat uang ratusan juta, Bang Luffi,” jelas Bang Windi kepada Bang Luffi sembari memegang pundak Alseenio.
Bang Luffi bersama istrinya yang berdiri di depan Alseenio cukup terkejut ketika melihat tampilan Alseenio secara dekat, terlebih istrinya. Istrinya sedari tadi memerhatikan Alseenio dari awal kedatangan Tim Exford.
“Kenalkan, Bang. Saya Luffi Maliwaman.“ Bang Luffi mengulurkan tangan kanannya mengajak bersalaman.
“Aku Alseenio, salam kenal.“ Alseenio tersenyum kecil dan menjabat tangan Bang Luffi.
“Oh, iya. Ini ada hadiah untuk kalian berdua.” Alseenio mengambil tiga tas belanjaan dari dalam mobil Ferrari miliknya. Satu kantong yang berisi ponsel hadiah pernikahan, satu kantong berisikan laptop milik Bang Luffi, dan satu kantong lagi untuk tim Bang Luffi.
Berikutnya, ia menyerahkan ketiga kantong besar di tangannya kepada Bang Luffi.
“Aduh, berat banget!“ Ketika Luffi memegang tiga tas belanja ia merasakan berat di salah satu kantong.
Awalnya ia mengira bahwa kedua kantong ini terasa ringan, sebab Alseenio membawanya begitu santai tanpa terlihat keberatan.
“Hati-hati, Bang Luffi. Isi hadiahnya terbilang mahal," Candy berkata sambil membantu mengangkat tas belanjaan yang dipegang Bang Luffi.
“Memang apa isinya?“ Mendengar ini Bang Luffi penasaran dan ia segera bertanya kepada Alseenio.
“Rahasia. Dua tas kantong itu hadiah atas pernikahan kalian berdua, dan satunya adalah hadiah pertemuan untuk teman-teman Bang Luffi,” jawab Alseenio yang masih mempertahankan ekspresi yang ramah.
“Woah! Sungguh?“
Salah satu teman Bang Luffi, yaitu Fandick langsung berseru dan mengambil salah satu tas di tangan Bang Luffi.
“Benar, periksa saja.“
“Tunggu, jangan periksa di sini. Ayo kita masuk ke dalam dahulu!“ Bang Luffi sang pemilik rumah menyarankan mereka untuk masuk ke dalam.
“Oke!“
Mereka semua bergegas masuk ke dalam rumah Bang Luffi yang cukup besar.
Di dalam sana, mereka semua membuka kado yang diberi oleh Alseenio.
Tak disangkanya, mereka semua dengan kompaknya berterima kasih kepada Alseenio.
Mereka semua benar-benar terkejut dengan hadiah yang dikasih Alseenio, ini terlalu mahal, apalagi mengingat Alseenio yang membeli banyak sekaligus.
Alseenio dan Tim Jaya Exford sampai di rumah Luffi tepat di jam 11 siang, Tim Jaya Exford makan terlebih dahulu di Mall kecil yang ada di dekat daerah perumahan Bang Luffi. Karena itu, mereka agak lama sampainya.
Di sana mereka beristirahat sejenak, kemudian di sore sampai malam harinya mereka melakukan video kolaborasi, yaitu Podcast.
Bintang tamunya adalah Alseenio dan Tim Jaya Exford.
“Halo, Gaes! Sekarang kita sedang kedatangan bintang tamu epik SSS, nih!“
“Betul, pasti kalian sudah tahu semuanya. Mereka berdua adalah Bapak Bocil Kegelapan dan Idola para wanita saat ini, yaitu Bang Windi atau Rando dan Alseenio.“
Luffi dan Fandick melakukan pembukaan setelah kamera aktif dan dengan cepat memperkenalkan bintang tamu.
Selepas itu, mereka berdua bertanya-tanya mengenai kehidupan dan cerita pribadi anggota tim Jaya Exford dan Alseenio.
“Pernah enggak, sih, Bang Nio pacaran? Atau sekarang lagi pacaran?“ Tiba-tiba Fandick bertanya kepada Alseenio. Saat ini adalah sesi pertanyaan yang ditujukan pada Alseenio.
__ADS_1
“Emm ….“