
“Aku memang sering kali pergi ke sini meskipun tidak setiap hari Minggu bisa datang. Ini pertama kalinya aku melihat kamu datang ke tempat ini,” ucap Ryan Laryse yang heran dengan Alseenio.
Alseenio menggaruk-garuk pipinya terlihat malu, ternyata Ryan memang kerang kali datang menghadiri acara di sini.
“Kukira kamu juga sepertiku yang pertama kali datang ke sini.“
Ketika melihat Ryan Laryse muncul di sini, di dalam pikirannya bahwa Ryan juga orang baru yang pertama kali datang dalam acara sunmori atau kumpul bersama di Cency, ternyata ia salah dalam menduga kali ini.
“Tidak-tidak, aku memang sudah beberapa kali ke sini sebelumnya jika ada waktu yang kosong tepat di hari Minggu.“ Ryan menggelengkan kepalanya. “Omong-omong, kamu ke sini sendirian? Di mana sepeda motor milikmu?“
“Ya, aku ke sini sendiri, tetapi di sini ada banyak kenalan. Sepeda motorku ada di sana,” kata Alseenio sambil menunjuk ke tempat sepeda motornya yang sedang dikelilingi orang-orang.
Melihat ke arah yang Alseenio tunjuk, wajah Ryan menunjukkan rasa penasaran dan bingung, lalu ia bertanya, “Ada apa di sana? Kenapa banyak sekali orang yang berkerumun?“
“Kamu lihat saja ke sana, sulit untuk aku jelaskan.“
“Baiklah, aku segera ke sana.“
Ryan Laryse memajukan sepeda motornya ke lahan parkir yang kosong. Alseenio melihat bahwa Ryan cukup populer di sini, banyak orang yang bersalaman dan menyapanya, fotografer yang puas melihat sepeda motornya pun mengambil gambar sepeda motor milik Ryan.
Hal ini memang membuktikan bahwa Ryan memang sudah pernah ke sini sebelumnya.
Alseenio berjalan mendatangi Ryan, dan kemudian membawanya ke kerumunan.
Begitu Ryan melihat benda apa yang dilihat oleh orang-orang, ia memiliki ekspresi yang sama, yakni terkejut dan terpana sesaat.
Kemudian, ia berjalan ke depan untuk melihat lebih dekat dan jelas sepeda motor langka ini, bahkan yang Ryan tahu sepeda motor ini baru satu orang punya di Indonesia.
Dalam sekejap, rasa ingin memiliki sepeda motor semacam ini melonjak tinggi.
Ryan Laryse mundur kembali ke dalam kerumunan dan ia berdiri di sebelah Alseenio.
“Itu sepeda motor milikmu?“ tanya Ryan yang sedikit tidak percaya.
“Ya, itu benar, aku sudah bilang sebelumnya di awal.“ Alseenio mengangguk tegas dan tak ada rasa kebohongan dalam wajahnya.
Ryan Laryse menatap sepeda motor Alseenio sekali lagi, tatapan matanya ketika melihat sepeda motor Alseenio seperti orang yang berminat dan ingin membeli barang.
Kemudian ia mengalihkan pandangannya lagi ke Alseenio. “Sepeda motor itu, apakah kamu ingin menjualnya? Aku ingin membelinya dengan harga berapa saja.“
Mendengar tawaran tiba-tiba dari Ryan, Alseenio sedikit tersentak, ia menatap Ryan dengan wajah yang menampilkan kebingungan.
Alseenio sama sekali tidak ingin menjual sepeda motor ini, bukan mengenai masalah harga, tetapi ini pemberian dari Sistem. Pengingat Sistem sudah disampaikan kepadanya bahwa barang-barang yang diberikan dari Sistem tidak boleh dijual kecuali uang, tetapi tidak masalah apabila disewa atau dipinjamkan kepada orang lain, terpenting barang tersebut masih dipegang oleh Alseenio dalam segi hukum.
“Tidak, aku tidak akan menjualnya, bukan karena aku pelit kepadamu, sepeda motor ini didapatkan dari hasil kerjaku yang di mana di dalam sepeda motor ini memiliki suatu cerita,” terang Alseenio dengan ekspresi yang serius.
Begitu mendengar jawaban Alseenio, Ryan langsung memahami arti dari ucapan Alseenio. Pada intinya sepeda motor ini memilik makna dalam kehidupan Alseenio.
“Oke, aku mengerti dan aku tidak akan memaksa.“
Alseenio mengehela napas ringan dan menatap Ryan dengan senang karena mengerti maksud dari perkataannya tadi.
__ADS_1
Syukurlah pria ini bukan orang yang arogan yang sering kali mendominasi orang yang memiliki kedudukan lebih rendah, entah itu tentang ekonomi, jabatan, harta, dan lain-lain.
Putra bos dari perusahaan besar inii ternyata bukan orang yang seperti itu.
Hal ini juga yang membuat Alseenio ingin berteman dengan Ryan, sebab Alseenio melihat generasi kedua yang kaya ini tidak memiliki sifat sombong walaupun memang wajahnya sedikit dingin.
Mereka berdua tidak menyadari bahwa orang-orang di tempat parkir ini memandangi mereka.
Semua orang tahu Ryan adalah orang yang sangat kaya, tiap kali datang ke Cency ia selalu membawa sepeda motor yang berbeda, tampaknya Ryan akan berganti-ganti sepeda motor setiap minggunya, dari hal tersebut saja orang-orang sudah memiliki pandangan bahwa Ryan orang yang memiliki kekayaan dengan tingkatnya berbeda dengan mereka semua.
Kali ini, ternyata pemilik sepeda motor Vyrus Alyen 988 yang mestinya bukan orang biasa dan tidak lebih rendah dengan Ryan ternyata masih memiliki hubungan pertemanan.
Dua orang sultan yang sebenarnya ternyata berteman baik.
Orang-orang yang berdiri di dekat Alseenio dan Ryan memiliki ekspresi yang terkejut dan tidak percaya begitu mendengar obrolan mereka berdua, ternyata kekayaan mereka berdua menembus imajinasinya terhadap orang kaya.
“Jam tanganmu bagaimana? Apakah itu dijual?“
Alseenio menunjukkan jam tangannya yang tertutupi lengan jaket kepada Ryan. “Maksudmu jam tangan ini?“
“Ya, apakah itu dijual? Kalau iya, aku ingin membelinya darimu.“ Ryan mengangguk dan menatap jam tangan Alseenio dengan penuh minat.
“Tidak, aku sedang tidak kekurangan uang, Ryan.“
Tentu saja Alseenio tidak akan menjualnya, jam tangan 9 miliar yang harganya mirip dengan harga Vyrus dan Ferrari hitam miliknya ini akan menjadi koleksi jam tangan pribadinya, lagi pula ini juga pemberian dari Sistem, tidak bisa untuk dijual.
“Sayang sekali, aku sedang mencari jam tangan Panteq Philips 5711 Sapphire untuk dikoleksi, aku sudah memiliki seri Panteq Philips 5711 yang lainnya, hanya jam tangan satu ini yang belum aku punya,” kata Ryan yang sedikit kecewa.
Mulut Ryan melengkung menampilkan senyuman, ia menepuk pundak Alseenio pelan. “Terima kasih, aku akan menunggu hari itu.“
“Haha, sama-sama,” Alseenio tertawa kaku ketika mendengar kata Ryan.
Pria ini memang sedikit keras kepala dan memiliki rasa sombong yang dibalut secara samar-samar setelah Alseenio perhatikan.
Rambut Alseenio yang berkibar terkena deru angin mengambil perhatian Ryan sehingga ia sadar bahwa ada sesuatu yang berbeda dari penampilan Alseenio. “Omong-omong, kenapa rambutmu panjang? Kamu memakai wig?“
“Iya, aku memakai wig karena tantangan dari teman, ini tantangan dari bermain kejujuran dan keberanian,” jawab Alseenio dengan wajah yang terlihat jujur tanpa celah kebohongan.
“Oh, seperti itu. Kamu cocok dengan gaya ini.“
Ryan mengangguk mengerti dan terselip kata pujian kepada Alseenio.
“Terima kasih.“
Setelah mengobrol sambil memandangi sepeda motornya, Alseenio tiba-tiba diajak oleh Abang MV dan Byrand Plos untuk pergi ke kafe lagi, ajakan ini diterima oleh Alseenio selagi ia tidak ada acara hari ini.
Namun, pada kesempatan kali ini berbeda, Alseenio mengajak Ryan Laryse untuk meminum kopi di kafe yang tidak begitu mewah ini.
Ia menerima ajakan, tetapi ia memberitahukan bahwa dirinya kemungkinan besar akan pulang lebih dahulu, sebab nanti siang ada keperluan yang harus ia hadiri.
Vroom!
__ADS_1
Mesin sepeda motor yang mengeluarkan suara garang dan keras terdengar di tempat parkir Cency, kemudian sosok sepeda motor yang terlihat futuristik dan keren melaju keluar dari tempat parkir Cency bersama dengan beberapa sepeda motor yang lainnya.
Ada dua puluh orang lebih yang ikut pergi untuk meminum kopi bersama, itu termasuk Alseenio dan Ryan Laryse.
Di sepanjang jalan banyak fotografer yang ikut dalam acara sederhana ini hanya demi mendapatkan banyak gambar dari sepeda motor Alseenio dan juga sepeda motor Ryan.
Sepeda motor Ducati Panigale 1199 SL yang dibawa oleh Ryan juga menjadi bintang tamu utama dari acara Cency, lantaran harga dari sepeda motor ini melebihi harga H2 penuh karbon ataupun YZF-R1M.
Terlebih lagi sepeda motor ini sudah dimodifikasi dengan komponen termahal.
Kemungkinan harganya menyentuh 3 Miliar Rupiah.
Ketika Alseenio dan Ryan sedang bersantai meminum kopi dengan Tim Semfack dan orang-orang yang datang ke Cency, di internet sedang panas berita tentang adanya sepeda motor Vyrus Alyen milik Alseenio.
Berbagai media sosial menyebarkan foto sepeda motor Alseenio yang sempat diambil oleh salah satu fotografer.
Hal ini menimbulkan banyak popularitas bagi Alseenio hingga akhirnya semua akun media sosial milik Alseenio dibanjiri oleh warga internet.
Mereka semua penasaran dengan nama Alseenio si Selebgrem yang pernah memecahkan rekor siaran langsung di Instagrem.
Banyak orang yang tidak kenal Alseenio sekarang menjadi kenal akibat dari berita-berita yang merebak.
Pada saat ini, Alseenio masih santai meminum kopi hitam kesukaannya seraya mengobrol ringan dengan para pesepeda motor ini.
Di sana, Ryan tidak sering bertukar kata, sesekali ia bertukar kata dengan Alseenio. Orang ini memang memiliki kepribadian yang pendiam.
Tak lama kemudian, Ryan berpamitan dengan orang-orang karena ia mendapatkan panggilan mengenai urusannya.
Usai meminum kopi dan berfoto bersama selama beberapa jam, akhirnya mereka semua pulang ke rumahnya masing-masing.
Alseenio pun pulang ke apartemennya dan bersantai di rumah sambil sesekali mengobrol melalui pesan dengan Fara dan Niara, tak lupa juga untuk mengedit video yang diambil hari ini.
“Tidak seperti biasanya sistem seperti ini, kenapa dia tidak mengeluarkan misi?“ gumam Alseenio yang heran dengan Sistemnya.
Biasanya Sistem memberi misi, tetapi hari ini Sistem tidak memberi satu pun misi, padahal sekarang sudah jam setengah tiga siang.
Daripada ia memikirkan hal yang aneh ini, lebih baik fokus untuk mengedit video yang ada, mengingat besok pagi misinya menjadi Motovlogger seharusnya selesai, misi spesial ini memiliki durasi waktu tujuh hari, ia harus memaksimalkan kemampuannya di hari terakhir ini.
Alseenio memerlukan waktu dua jam untuk menyelesaikan tugas pengeditan 2 video yang direkam hari ini, video-video tersebut sedang diunggah dan masih ditahap proses pengunggahan.
“Fiuh, akhirnya sebentar lagi misi menjadi Motovlogger selesai, tidak terasa satu minggu akan berlalu.“
Duduk di sofa balkon sambil menidurkan kakinya di atas meja, Alseenio memandang langit-langit balkon dengan tatapan kosong.
“Aku bosan sendiri di sini … enaknya melakukan kegiatan apa untuk mengisi waktu kosong seperti ini, ya?“ Alseenio bertanya pada diri sendiri yang kini merasa bosan.
Perlahan Alseenio menggerakkan kepalanya ke samping dan melihat langit yang mulai berubah menjadi sedikit gelap, tandanya hari sudah memasuki jam sore.
Seketika sebuah ide terlintas di benaknya dan Alseenio segera membereskan barang-barang ini dan membawanya ke dalam apartemen.
Alseenio menunggu video berhasil diunggah, sehabis itu ia memakai pakaiannya untuk bepergian keluar rumah yang terdiri dari kaus hitam dan celana bahan panjang berwarna hitam, pastinya memakai jaket, tidak lupa juga membawa kamera Yopro yang memiliki baterai penuh.
__ADS_1
Menuruni apartemen, dengan gegas ia menaiki sepeda motor ZX-10RR, dan melajukan sepeda motornya keluar apartemen menuju suatu tempat.