
“Aku ada keperluan dengan seseorang. Kalian pergi saja tanpaku, Sugi, Fani, dan Fara. Mungkin saja kita akan menyusul kalian kelau memang masih tersedia waktunya. Saling hubungi satu sama lain saja.“ Alseenio memandangi mereka semua dengan wajah yang santai sambil tersenyum.
Hari ke-3 di Korea Selatan, Alseenio memiliki urusan dengan seseorang, lebih tepatnya dengan suatu kelompok. Sudah dikomunikasikan beberapa hari yang lalu, Alseenio haru menepati janjinya dan pergi ke sana.
Bang Windi, Bang Luffi, dan teman lainnya memahami maksud dari kalimat Alseenio.
Mereka semua sudah paham dengan Alseenio. Pria di depannya ini adalah orang sibuk. Tak heran apabila dia memiliki suatu kepentingan mendadak.
Sebetulnya, bukan mendadak, tetapi Alseenio yang lupa memberi tahu informasi tersebut kepada mereka semua yang menjadikan hal tersebut mendadak. Menurut mereka, Alseenio memiliki urusan bisnis yang tiba-tiba.
“Tak apa, bukan masalah, Bang Nio. Silakan saja, kami harap urusan Bang Nio cepat selesai,” Bang Windi berkata sembari tersenyum kepada Alseenio dan lainnya yang ingin pergi.
Bang Luffi menghirup sedotan yang terhubung ke gelas minuman di tangannya, mengunyah sesuatu di mulutnya dan berkata sedikit susah, “Tidak apa-apa, Bang Nio. Kami tidak masalah ditinggal—terpenting urusan Bang Nio selesai. Kalau memang masih sempat, Bang Nio bisa hubungi aku.“
“Bobanya dikunyah dahulu, Bang Luffi. Aku lihatnya jadi ikut ingin menelan boba.“ Fandick menepuk pundak Bang Luffi. Hampir saja Bang Luffi tersedak.
“Sial! Jangan ditepuk kencang seperti itu, tenggorokan aku hampir tersangkut boba!“ pekik Bang Luffy sambil menelan boba dengan cepat. Ia menepuk pundak Fandick dan memperingatinya.
Tangan Fandick bergerak, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Maaf, enggak sengaja, Bang Luffi.“
“Baiklah, aku ingin bersiap-siap untuk pergi, Fara dan yang lain juga. Hati-hati di jalan, kabari aku dengan cepat jika ada sesuatu yang darurat,“ ucap Alseenio berpamitan kepada teman-temannya yang masih makan di restoran hotel. Mereka belum selesai sarapan pagi.
“Siap, Bang Nio. Kalian juga hati-hati di jalan.“
“Tetap waspada, jangan lengah, Bang Nio, Sugi, dan yang lain.“
“…”
Bang Luffi, Bang Windi, Fandick, dan teman lainnya merespons kalimat berpamitan Alseenio, Fara, Sugi, dan Fani.
Setelahnya, mereka berempat meninggalkan restoran hotel dan pergi menuju kamarnya masing-masing untuk mengenakan baju yang bagus.
Lebih dari 15 menit mereka di kamar, akhirnya mereka keluar dari kamar dan pergi ke lobi tanpa mampir ke restoran hotel.
Terdapat 2 mobil Rolls-Royce sudah menunggu keempatnya di depan hotel, mereka segera masuk ke dalam mobil.
Supir langsung menancapkan pedal gas, mobil melaju meninggalkan hotel dan berangkat ke suatu tempat.
Arah 2 mobil yang mereka naiki menuju suatu distrik yang bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 1 jam dengan menggunakan mobil.
Di sana terdapat sebuah gedung perusahaan dari girl band yang terkenal.
Benar, Alseenio pergi ke gedung pusat XG Entertainment, dia memiliki sebuah urusan atau kepentingan dengan Ceo dan jajarannya.
Sebenarnya, tidak begitu penting, Alseenio hanya melihat-lihat orang di sana dan ingin tahu bagaimana struktur organisasi perusahaan. Sekaligus juga untuk bertemu artis-artis idol terkenal yang dinaungi oleh XG Entertainment.
Sugi sudah mengonfirmasi mobil apa yang mereka pakai untuk ke sana kepada CEO Huang Bang Hyung.
Di dalam mobil, Fara dan Fani merasa sangat gugup. Meskipun keduanya terpisah, tetapi perasaan mereka saat ini kebetulan sama. Bagaimana tidak, orang-orang yang akan ditemui oleh mereka adalah kumpulan orang terkenal, terlebih ada 1 girl band yang memiliki popularitas begitu tinggi.
Dibandingkan dengan diri mereka sendiri, mereka merasa rendah dan tidak ada apa-apanya.
Alseenio memperhatikan gelagat aneh Fara, jidatnya yang putih dan mulus mengeluarkan butiran keringat, bahkan tangan Fara yang sedang memegangi tangannya terasa sangat basah dan lembap
Dengan perlakuan yang hati-hati, tangan Alseenio menyeka dahi dan tangan Fara menggunakan tisu kering.
Perasaan grogi dan gugup Fara lenyap seketika usai merasakan tindakan manis Alseenio, kemudian Fara langsung memeluk tangan Alseenio dengan erat.
“Jangan takut, mereka itu masih manusia, bukan sesuatu makhluk yang luar biasa yang perlu ditakuti dan begitu dihormati. Anggap saja mereka teman baru,” Alseenio berkata dengan lembut sambil membelai rambut hitam Fara.
Fara mengangguk mengerti dan mencoba menenangkan diri sendiri. “Baik, Sayang. Aku mengerti apa yang kamu katakan. Aku mencoba untuk bersikap biasa nanti.“
“Bagus. Asal kamu tahu, aku memegang beberapa persen saham di sana. Ingat, kamu adalah calon istriku, kedudukanmu sama denganku, Sayang. Jadi, anggap saja mereka seperti orang biasa.“ Alseenio mengecup dahi Fara dengan lembut dan memberi tahu informasi tersebut dengan jelas.
__ADS_1
“Iya, aku adalah calon istrimu, aku akan terus berusaha beradaptasi dengan kemewahan hidupmu.“ Fara memandang Alseenio dengan tatapan mata yang penuh tekad dan niat.
Terlihat sekali Fara bersungguh-sungguh untuk membiasakan diri dengan kehidupan Alseenio yang penuh kemewahan dan sesuatu yang belum pernah terbayangkan di dalam otaknya.
“Sayang, kamu tahu? Jika saja kamu masuk ke dalam grup band perempuan, pasti kamu akan terkenal seperti mereka, bahkan lebih terkenal dari mereka,” Alseenio berkata sesuai dengan apa yang ada di pikirannya.
Menurut Alseenio, Fara pasti akan lebih terkenal dibanding para perempuan yang menjadi idol tersebut.
Dilihat dari segi wajah, Fara tentunya menang telak, tidak ada wanita satu pun yang menandingi kecantikan Fara.
Dari segi tubuh, milik Fara jangan ditanyakan lagi.
“Menurutku sulit, Sayang. Aku cantik bukan berarti aku bisa memiliki segalanya. Bahkan, menurutku wajah ini sangat berpotensi untuk melukai diriku sendiri, terlebih tubuhku, kamu tahu sendiri, tubuhku sangat memancing.
“Di luar sana banyak sekali orang jahat, aku sangat mudah untuk dijadikan target mereka, terutama orang yang memiliki kekuasaan dan harta. Aku bukan lagi dipandang sebagai manusia jika terjun di dunia seperti itu, aku dianggap sebagai benda, sesuatu benda yang harus didapatkan.
“Maka dari itu, aku bersyukur dicintai olehmu. Aku bersedia dimiliki kamu, Sayang. Aku sudah mengenal kamu dari kecil. Aku yakin, kamu bukan orang jahat. Aku sayang kamu.“
Mendengar penjelasan Fara yang panjang dan lebar, Alseenio tersadar.
Apa yang dikatakan Fara adalah sebuah kebenaran. Memang sudah banyak orang cantik tersiksa hidupnya bahkan sampai menjadi sebuah penyebab mengapa diri mereka sendiri berakhir.
Banyak kasus yang menyeramkan, kasus pembunuhan, dan kasus bunuh diri yang disebabkan karena dirinya cantik dan tampan.
Cantik dan tampan memang anugerah sekaligus kutukan.
Alseenio masih ingat dengan artikel berita yang berisi tentang informasi tentang seorang perempuan yang dibunuh oleh dua orang temannya sendiri lantaran perempuan tersebut lebih cantik dari kedua temannya itu.
Dikarenakan kedua temannya iri dan tak suka, akhirnya perempuan cantik itu dibunuh dengan cara yang tragis dan mengenaskan.
Masih ada banyak lagi kasus seperti itu. Orang cantik dan tampan banyak yang depresi karena lingkungan kerja atau pun masalah pribadi, seperti percintaan dan keluarga.
Sempat Alseenio baca berita yang paling menyeramkan, yakni seorang wanita cantik disetubuhi oleh ayah dan saudaranya, sangat di luar nalar. Alseenio merasa ngeri saat membaca berita tersebut.
Pada kesimpulannya, bersyukur apa yang sekarang kita punya, dan jangan sering mengeluh karena itu tidak ada gunanya.
“Aku sayang kamu juga, Sayang. Aku pasti akan menjagamu. Jangan ke mana-mana dan tetap bersamaku.“ Alseenio menggosok pipinya ke pipi Fara lalu mencium bibir sekilas.
Fara menatap Alseenio sesaat, kemudian mencium pipi Alseenio dengan perasaan penuh kasih sayang yang teramat besar. “Aku akan terus di samping. Tidak peduli seberapa jauh kamu pergi, aku akan terus mengikuti, bahkan jika itu ke dunia lain.“.
Lengkungan senyuman terbentuk di wajah tampan Alseenio. Hatinya terasa berbunga-bunga sekaligus hangat. Ia benar-benar bahagia memiliki pasangan yang cantik dan baik seperti Fara.
Tak lama kemudian, mobil mereka berhenti di depan sebuah gedung yang unik. Gedung ini memiliki bentuk yang futuristik dan megah.
Alseenio tahu gedung ini, gedung baru XG Entertainment, dan du sebelah gedung ini terdapat gedung lamanya.
Begitu Alseenio dan Fara keluar dari mobil banyak orang lewat yang mengarahkan pandangannya ke arah keduanya.
Mereka bertanya-tanya di dalam hatinya, apakah kedua orang yang turun dari mobil tersebut merupakan anggota grup band atau bukan.
Dengan rasa penasaran, mereka berdiri di tempat dan terus mengawasi Alseenio dan Fara.
Kemudian, sosok Sugi dan Fani menyusul keduanya sampai masuk ke dalam gedung XG Entertainment.
Tepat pada saat Alseenio dan Fara masuk ke dalam gedung, mereka disambut oleh banyak orang di dalam.
Alseenio dan yang lainnya melihat grup band berdiri sambil sedikit menunduk ke arah mereka.
Mereka bahkan melihat jelas ada grup band BelekPink yang berdiri menyambut kedatangannya.
Seorang pria tiba-tiba berjalan ke arah mereka lalu berjabat tangan dengan Alseenio.
Ternyata pria ini adalah CEO XG Entertainment.
__ADS_1
Alseenio, Fara, dan lainnya tidak membuka masker lantaran mereka lebih dahulu terkejut sehingga lupa untuk membuka masker.
Saat Bapak Huang berbicara, dan ingin membalas ucapannya, Alseenio baru sadar bahwa dirinya masih memakai masker.
Terasa sangat jelas bahwa napasnya agak tertahan. Dengan begitu, Alseenio membuka masker di hadapan mereka semua.
Di bawah tatapan mereka, wajah Alseenio terekspos dengan jelas tanpa ada sesuatu yang menghalangi ketampanannya.
Orang-orang tanpa sadar menghalangi jalur pandangannya ke arah Alseenio sebab ada kilauan cahaya yang membesut dari wajah Alseenio.
Berikutnya, mata para wanita menyala, entah itu idol ataupun para staff yang bekerja dan kebetulan menyambut kedatangan Alseenio.
Mereka memandang Alseenio dengan wajah merah.
Alseenio tidak menyadari hal ini. Dia hanya heran dengan Pak Huang yang tertegun sesaat setelah dirinya membuka masker.
“Pak Huang? Halo? Anda tidak apa-apa?“ Tangan Alseenio melambai di depan wajah Pak Huang yang membeku dengan sorot matanya terpaku kepada wajah Alseenio.
Mendengar panggilan suara dan melihat bayangan tangan Alseenio yang bergerak membuat CEO perusahaan satu ini tersadar dan kembali bersikap normal. Meskipun ada sedikit perbedaan sikapnya, sedikit lebih hormat dan menghargai Alseenio.
Alseenio, Fara, Sugi, dan Fani bersalaman dengan BelekPing dan grup yang dinaungi oleh XG Entertainment.
Para Idol ini pandangan matanya masih terfokus pada wajah Alseenio, entah itu cowok ataupun cewek.
Mereka mengagumi keindahan wajah Alseenio, bahkan Risa BelekPink tidak kuat memandang wajah Alseenio terlalu dekat saat berjabat tangan.
Maka dari itu, dia beberapa kali mengedipkan mata untuk meredakan efek dari pesona wajah Alseenio.
Setelahnya, Alseenio, Fara, Sugi, dan Fani dibawah oleh CEO ke kantornya untuk memberitahukan informasi tentang perusahaan.
Sugi membantu Alseenio dalam memeriksa keuangan perusahaan, Sugi pun memberi tahu bahwa semuanya aman tidak ada sesuatu yang janggal dalam pengeluaran uang.
“Semuanya aman. Aku tidak ada menemukan sesuatu yang membuatku tidak cocok dengan perusahaan ini. Secara keseluruhan, struktur organisasi sudah bagus, berjalan dengan baik. Aku mempercayakan perusahaan ini kepadamu Pak Huang.“ Alseenio duduk di sofa dan melirik Pak Huang di seberang sofa dengan senyuman.
Temperamen bangsawan tak sadar memancar keluar, hal itu membuat pandangan Pak Huang kepada Alseenio menjadi tinggi dan lebih hormat.
“Terima kasih atas kepercayaannya, Bapak Alseenio. Aku akan terus berusaha meningkatkan kualitas agensi yang kami naungi. Selain itu, kami meminta maaf sebesar-besarnya karena performa kami di tahun kemarin sangat buruk.“ Pak Huang berdiri dari sofa dan menundukkan kepalanya 90 derajat ke arah Alseenio.
Namun, dengan cepat Alseenio membangunkan Pak Huang untuk berdiri tegak kembali. “Tidak apa-apa. Semuanya sudah terjadi, jadikan semua peristiwa yang kemarin sebagai sebuah pelajaran. Evaluasi lagi dan cari solusinya. Jikalau butuh bantuan, Pak Huang bisa menghubungiku, aku usahakan untuk membantu perusahaan ini.“
“Baik! Aku paham, Pak Alseenio!“ Wajah Pak Huang menjadi lebih rileks dibandingkan sebelumnya.
Tampaknya, masalah tentang pendapatan tahun 2022 kemarin yang turun. Pak Huang takut Alseenio marah karena masalah tersebut.
Ternyata Alseenio tidak begitu mempermasalahkan, untung-rugi sudah biasa pada bisnis. Perasaan kecewa memang ada, tetapi itu sudah terjadi, kita hanya perlu mengoreksi diri dan memperbaikinya, pastikan tidak akan terjadi lagi.
“Satu lagi, ada sesuatu yang ingin aku sarankan, yaitu masalah perpanjangan kontrak dengan BelekPink. Aku harap itu bisa diperpanjang. Aku memiliki firasat akan ada sesuatu yang luar biasa yang diciptakan oleh mereka. Semoga Pak Huang bisa mempertimbangkan saranku,” ujar Alseenio dengan wajah yang serius sambil menatap mata milik Pak Huang.
“Saya akan pikirkan dengan baik, Pak Alseenio. Terima kasih atas sarannya.“
Mereka berbincang mengenainya beberapa topik, keduanya akrab bahkan mereka sempat tertawa karena membahas tentang perusahaan penghasil idol yang ingin merekrut Alseenio menjadi talentanya.
Bapak Huang tahu soal ini, sebab Alseenio memang sudah ditargetkan oleh perusahaan-perusahaan tersebut dan kabarnya sampai ke dirinya.
Jujur saja, Bapak Huang juga memiliki pikiran untuk mengajak Alseenio gabung sebagai talentanya. Untungnya, itu tidak terjadi.
Akan lucu jika pemegang saham menjadi produk perusahaan tersebut, kasusnya sama dengan Alseenio jika dia menjadi talenta grup band dari XG Entertainment.
Usai berbincang, keempatnya diantarkan lagi oleh Pak Huang bersama beberapa grup band untuk mengelilingi perusahaan.
Fara dan Risa ternyata bisa akrab. Alseenio terkejut mengetahui Fara mengobrol dengan Risa begitu dekat, padahal keduanya memiliki batasan komunikasi, Fara tak bisa bahasa Korea, begitu pun sebaliknya.
Namun, karena ada staff yang berasal dari Indonesia, itu diterjemahkan olehnya sehingga mereka bis mengobrol bersama. Tak hanya Fara dan Risa, grup band yang lain pun mengobrol dengan Alseenio, Sugi, dan Fani.
__ADS_1
Cuma, Alseenio lebih sering mengobrol dengan Pak Huang sambil membicarakan banyak hal tentang perusahaan.