
Wajah satpam ini sangat lucu ketika menunjukkan ekspresi terkejut. Ternyata pria yang bekerja menjadi penjaga kantor pusat ini mengetahui tentang dirinya usai membaca nama yang tercantum di kartu tanda penduduk.
Menanggapi satpam kantor ini, Alseenio menunjukkan senyuman dan sedikit mengangguk kepada pria ini.
Orang-orang yang melihat satpam yang terkejut ini menjadi ingin tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi.
“Mengapa Satpam itu kaget?“
“Ada apa dengan pria tampan dan tinggi ini?“
“Kurasa orang ini bukan orang biasa.“
“Lihat dari penampilannya saja, sudah terlihat berbeda dari kita yang standar ini.“
“Jangan-jangan orang ini adalah anak dari pejabat yang arog—”
“…”
Celotehan dan seruan terdengar dari orang-orang, tanpa membuat Alseenio tergerak. Ia terus berjalan ke kursi kosong di tempat tunggu dan duduk di sebelah pria yang memakai pakaian yang seragam dengannya.
Kedatangan Alseenio yang duduk begitu saja di antara mereka membuat semua menjadi lebih penasaran.
Para pria yang ada di sini secara terang-terangan menatap Alseenio dan memindai sosok Alseenio.
Akan tetapi, kedua pria yang duduk di dekat Alseenio mengeluarkan keringat di dahinya. Mereka berdua bisa merasakan aura menindas yang terpancar dari Alseenio. Rasanya mereka tengah berada di sekitar petinggi perusahaan besar dan orang penting serta terkenal.
“Halo, Bang.“
Salah satu pria yang duduk di sebelah kiri Alseenio tiba-tiba menyapa dengan ekspresi canggung di wajahnya.
Mendengar ada yang menyapa, Alseenio menoleh ke kiri dan mengangguk. “Halo ….“
Suara yang sangat jantan dan sangat enak didengar keluar dari sosok Alseenio, dan itu terdengar di tiap-tiap telinga orang yang ada di sekitar Alseenio.
Para wanita yang hadir bereaksi, menatap Alseenio dengan pandangan mata yang menunjukkan ekspresi tak tertahankan.
Mereka terkejut dengan suara Alseenio, suara ini sangat indah hingga bisa melelehkan hatinya dalam sekejap.
Pria yang menyapa Alseenio pun terpana untuk sesaat, kemudian ia memberanikan diri untuk bertanya kepada Alseenio, “Anu, kamu ke sini karena dipanggil juga, Bang?“
“Benar, aku dipanggil dan dipinta untuk datang ke sini.“ Alseenio mengangguk tanda tebakan pria ini adalah benar.
“Sama denganku, aku juga disuruh ke sini untuk diberikan arahan.“
Lama-kelamaan pria satu ini tak begitu takut dan canggung berbicara dengan Alseenio. Dia belum tahu bahwa orang yang diajak bicara olehnya adalah Alseenio sang sosok yang sedang terkenal.
Alseenio memperhatikan orang yang mengobrol dengannya, orang ini tampak muda, memiliki sifat yang ramah dan mudah berkenalan dengan orang baru. Tubuhnya memang pendek dan kecil, mungkin tingginya 165 cm, tetapi dia diterima menjadi pelayan di restoran ini.
Alasan mengapa Alseenio bisa mengobrol panjang dengannya, hak itu dikarenakan orang ini selalu saja mendapatkan topik pembicaraan sehingga ia tak bosan berbincang santai dengannya. Selalu ada sesuatu yang mereka bicarakan, entah penting atau tidak penting, obrolan berjalan secara natural.
Sepanjang Alseenio mengobrol dengan pria ini, orang-orang mengunci perhatian mereka kepada keduanya. Bukan karena tertarik dengan pria yang diajak mengobrol oleh Alseenio, melainkan semua orang penasaran dengan Alseenio.
__ADS_1
Saking mereka terlalu fokus memandang Alseenio, orang-orang sampai tak mendengar bahwa mereka sudah bisa ke dalam gedung untuk menemukan HRD perusahaan.
“Tempatnya ada di lantai tiga ruang Atlantis. Untuk bisa ke sana, kalian hanya menaiki tangga sampai lantai tiga, ada tandanya, kemudian berjalan ke arah kiri lorong setelah keluar dari tangga. Di sana, tertera nama pada setiap ruangan, kalian cari saja,” ucap Satpam gedung yang mendapatkan instruksi dari orang yang berjabat sebagai HRD perusahaan. Dia memberi tahu letak tempat berkumpulnya mereka dan bertemu dengan orang yang akan memberi arahan.
Dipimpin oleh seorang pria yang agak tinggi, mereka semua mengikuti jalan yang ditunjuk Pak Satpam menuju tempat pertemuan.
Alseenio berjalan di barisan para pria, di sebelahnya ada pria yang yang mengajaknya mengobrol barusan, dan di belakangnya ada 7 wanita.
Mata wanita-wanita ini tak bisa lepas dari sosok Alseenio yang berjalan dengan penampilan yang sangat tampan. Setiap gerakan yang Alseenio buat terlihat keren dan memesona, mereka sulit untuk melepaskan pandangan mereka dari Alseenio
Orang yang dipanggil hari ini untuk ke kantor berjumlah kurang lebih 30 orang. Semuanya hadir dan tidak ada yang berhalangan atau tak bisa datang.
Mereka semua menemukan ruangan yang dimaksud, dan segera masuk ke dalam ruangan tersebut.
Ruangan ini memiliki kursi belajar atau kursi yang memiliki meja sendiri dan menyatu tidak terpisah, biasanya kursi ini ada di kampus-kampus.
Masing-masing dari mereka duduk di tempat duduk yang mereka inginkan. Jumlah kursi sangat pas dengan jumlah orang yang datang.
Tempat duduk Alseenio ada di barisan terakhir paling kanan. Di sebelah kiri kursinya ada pria yang mengajaknya mengobrol sebelumnya, dia duduk dekat Alseenio.
Sampai detik ini, Alseenio belum tahu nama dari pria tersebut. Ia lupa untuk menanyakan nama orang ini.
Beberapa saat kemudian, seorang pria yang agak tinggi dan memiliki tubuh yang agak berisi masuk ke dalam ruangan sambil membawa sebuah berkas di tangannya.
“Halo, Semuanya! Selamat pagi! Bagaimana kabar kalian?“
Pria ini berdiri di depan mereka semua setelah meletakkan berkas di tangannya di atas meja. Pria ini melakukan pembukaan dari pertemuan mereka semua.
Tanpa banyak basa-basi, pria ini memberi tahu tujuan mereka diperintahkan untuk datang ke kantor pusat.
“Kalian semua sudah membawa fotokopi buku tabungan dua lembar? Kalau sudah, kalian letakkan di atas meja ini,” pinta Wandi tersebut kepada mereka semua.
Segera, mereka semua berdiri dan menyerahkan dua lembar fotokopi rekening tabungan yang diperintahkan oleh pihak perusahaan.
Alseenio baru tahu alasan Sistem memberi rekening bank baru beserta beberapa lembar fotokopi. Ternyata alasannya karena rekening bank ini akan dikirimkan uang oleh pihak perusahaan setelah gaji turun di bulan depan.
“Kamu mengapa tidak membawa fotokopi? Bukankah sudah beri tahu dari kemarin bahwa kamu harus membawa fotokopi dari rekening bank?“
Mata Alseenio bergerak ke arah seorang wanita yang menundukkan wajahnya karena malu tidak memenuhi permintaan pihak perusahaan.
“Kalau begitu, hari Senin nanti, kamu harus memberi fotokopi dan diserahkan kepada kami. Kamu kasih saja ke Pak Satpam.“
“Baik, Pak.“
Untungnya, orang yang menjadi pengarah mereka semua memiliki rasa kasihan. Pak Wandi memberi keringanan untuk wanita tersebut.
Setelah semuanya mengumpulkan berkas yang dipinta, Pak Wandi memberikan sebuah tautan untuk mereka bisa mengabsen ketika bekerja. Absensi kerja tak manual lagi, melainkan memakai situs yang khusus dibuat oleh perusahaan.
Mereka cuma perlu memasukkan kode karyawan dan nama sendiri yang akan diberikan setelah hari pertama mereka masuk. Melakukan absensi sesuai dengan jadwal yang dibuat. Apabila masuk pagi, mereka harus memasukkan kode di jam yang ditentukan.
“Arip Colay, kamu ditempatkan di cabang Tanah Abang. Kamu berikan kertas ini kepada Leader di sana.“
__ADS_1
“Fira Unjuk Gygi, kamu ditempatkan di restoran cabang Mall Plaza Bundaran HI. Kertas ini kamu berikan ke Leader di sana.“
“Samsul Arip Kejar Dia, kamu ditempatkan di cabang Mars. Kertas ini kamu bawa dan berikan kepada Leader Alien di cabang sana.“
“…”
Satu per satu, nama orang dipanggil oleh Pak Wandi untuk memberi tahu di mana mereka dipekerjakan. Cabang perusahaan cukup banyak, maka dari itu banyak yang berpisah dan tidak ditempatkan dengan yang lain.
Hanya ada beberapa orang yang ditempatkan di tempat yang sama dengan yang lainnya.
“Hilman Nadim, kamu ditempatkan di cabang Kebun Sirih. Kertas ini kamu berikan kepada Leader di sana.“
“Alseenio Asep, kamu ditempatkan di cabang Kebun Sirih. Kertas ini kamu ambil dan berikan kepada Leader cabang setempat.“
“…”
Ternyata, pria yang duduk di kursi sebelah Alseenio ditempatkan di cabang yang sama dengan Alseenio.
Dengan ini juga Alseenio tahu nama dari pria yang ramah dan mudah berteman ini, Hilman Nadim.
“Hei, Bang. Kita satu tempat, aku tak menyangka bisa satu tempat kerja.“
“Sama, aku juga tak menduga.“
Alseenio dan Hilman berbincang sesaat dengan suara yang sekecil mungkin.
Tak lama kemudian, Pak Wandi menyelesaikan memberi informasi tentang penempatan mereka semua.
“Sampai sini, apakah di antara kalian ada yang keberatan dengan penempatan ini? Silakan berdiri dan berikan alasannya!“
Berikutnya, ada 2 orang yang berdiri dan merasa keberatan atas pemilihan penempatan tempat kerja.
“Saya keberatan, Pak. Saya saat itu memilih di cabang restoran Kebon Jeruk karena dekat dari rumah saya. Namun, mengapa aku malah ditempatkan di Kelapa Gading? Jauh sekali,“ Pria ini berkata dna mengeluarkan ketidaksetujuannya.
“Tunggu, sekarang aku bertanya kepadamu. Saat pemilihan tempat kerja, kamu mencentang cabang Kebun Jeruk atau tidak?“ tanya Pak Wandi kepada pria ini.
“Iya, Pak. Katanya makin banyak cabang yang dicentang, makin besar kemungkinan diteri—” Jawaban Pria ini dipotong.
“Kalau kamu mencentang, artinya kamu siap ditempatkan di tempat yang kamu centang di kertas formulir saat itu.“
“Tapi, Pak—”
“Kamu harus bertanggung jawab atas pilihan kamu sendiri.“
Pak Wandi selalu menyela ucapan pria tersebut, secara tidak langsung membuat pria yang satunya yang merasa keberatan tak jadi untuk memprotes pemilihan tadi.
Pria tersebut kembali duduk dengan keringat yang keluar di dahinya.
“Kamu, mengapa kamu duduk lagi? Beri tahu alasan kamu keberatan dari penetapan ini!“
“Anu, Pak. Tidak jadi, aku berubah pikiran dan setuju.“
__ADS_1
“…”