SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 37: Jaya Exford Berkumpul


__ADS_3

“Tidak ada yang salah, kenapa?“ tanya Alseenio tanpa merasa ada yang salah.


Bang Windi, Candy, dan yang lainnya menatap Alseenio dengan serentak.


“Kenapa? Bro ... makanan ini terlalu banyak!“ Bang Candy duduk di atas sofa sambil menatap makanan yang ditata rapih di lantai yang bersih.


Di depan mereka semua, terdapat puluhan bungkus makanan cepat saji dari dua restoran yang terkenal.


Itu terdiri dari berbagai makanan ayam goreng, beberapa makanan penutup, dan beberapa pizza dengan bermacam jenis ukuran dan isiannya, tidak lupa juga kehadiran minuman yang sudah satu paket dengan makanannya.


Tidak pernah Bang Windi dan kawan-kawan berpikiran bahwa Alseenio akan membawa makanan sebanyak ini. Malah sebaliknya, Bang Windi telah menyiapkan uang untuk memesan makanan, apabila Alseenio ingin makan di rumahnya.


Terlebih lagi Alseenio tidak mengabari bahwa ia akan membawa makanan ke rumah, ia hanya meminta alamat dan hendak berkunjung ke sana, sama sekali tidak mengetik kalimat dirinya membawa makanan.


Makanan sebanyak ini siapa yang sanggup menghabiskannya?


“Benar juga,” kata Alseenio sambil menggaruk kepalanya. “Oh, ya. Bukannya ada teman yang lain? Ajak saja mereka ke sini untuk makan sore dan makam malam.“


Alseenio baru ingat bahwa Tim Jaya Exford tidak sedikit seperti sekarang ini, seharusnya masih ada beberapa orang, mungkin mereka ada kepentingan dan tidak datang.


Selagi masih ada waktu, dan hari belum masuk jam 5, lebih baik mengundang mereka untuk datang ke sini untuk makan bersama.


Misi belum menyatakan bahwa telah selesai, sebab Tim Jaya Exford tidak berkumpul semuanya. Mau tidak mau Alseenio harus berusaha untuk membuat anggota Jaya Exford datang ke sini.


“Oh, benar!“ Bang Windi baru ingat bahwa ia lupa mengundang semua anggota Jaya Exford.


Windi menoleh ke Agnis dan berkata, “Sayang, tolong panggil Rino Caca, Rojad, dan Lafhel. Jangan lupa panggil juga Mac kecil.”


“Siap, sayang!“ Agnis langsung menyalakan ponselnya dan mengirim pesan kepada teman-teman.


Melihat pacar Windi sedang meminta teman-teman untuk datang ke sini, Alseenio hendak berjalan menuju ke sofa yang tempatnya lebih luas dari tempatnya berdiri sekarang. Posisi Alseenio sekarang ada di dekat pintu masuk rumah.


Rumah Windi begitu sempit, ditambah dengan keberadaan makanan yang sangat banyak membuat rumahnya terasa lebih sempit lagi.


Begitu Alseenio berjalan beberapa langkah menuju sofa, Leviathan miliknya yang ada di bawah perut terasa sesak seolah kandangnya menjadi sempit, padahal ukuran Leviathan yang berkembang menjadi besar, bukan kandangnya.


Rasanya seperti ada benda besar yang mengganjal di antara kedua kakinya setiap kali Alseenio berjalan dan mengambil langkah.


Alseenio masih belum terbiasa dengan perubahan ukuran Leviathan yang ia punya sekarang, kini ia sedang beradaptasi dengan Joninya yang bertumbuh dewasa.


Rata-rata panjang dan besar Leviathan atau Joni di negara Ecuador saja hanya 17 cm. Milik Alseenio melebihi sebagian besar rata-rata Joni pria di dunia dengan panjang Joni Alseenio kurang lebih 25 cm.


Mungkin tampak seram bagi sebagian wanita.


Di sofa ada Bang Candi, Gheska, dan Mac, sedangkan Bang Windi dan kak Agnis sedang berdiri dan dekat peralatan siaran langsungnya Bang Windi.


Pada saat Alseenio berjalan memutar untuk bisa ke sofa, terlihat wajah Gheska yang memerah, dan Candy juga.


Kak Gheska ketika melihat Alseenio ia merasa bahwa jantungnya akan lepas, sebab wajah Alseenio melebihi ketampanan orang yang pernah ia lihat sebelumnya.


Sementara itu, kak Agnis hanya mengagumi ketampanan Alseenio, ia tidak akan berpaling dan tetap menjadi pasangan Bang Windi.


“Candy kenapa memerah?“ gumam Alseenio yang heran ketika memandang Candy yang memerah seperti tersipu.


Menggelengkan kepalanya, Alseenio mengabaikan Candy yang bereaksi aneh dan datang ke mereka yang ada di sofa.


Sesampainya di sofa, Alseenio memandang mereka semua yang tengah terdiam menatap makanan, dan berkata, “Kenapa diam saja? Ayo makan, selagi masih hangat.“


“Tetapi belum datang semua anggota tim Jaya Exfordnya,” Bang Windi membalas sambil melihat makanan yang ada di bawah.


“Makan saja kalau memang tidak bisa menahan lapar, makanlah sambil menunggu yang lain datang.“ Alseenio mengambil satu kotak pizza dan mengambil satu potongan pizza.


Bang Windi dan yang lainnya bingung, apakah ia ingin memakan sekarang atau menunggu bersama-sama.


Alseenio sadar dengan wajah mereka yang tampak ragu-ragu, lalu ia melihat kotak pizza di tangannya, dan menawarkan pizzanya, “Kalau begitu, ambil potongan pizza ini, lumayan untuk mengganjal perut.“


Barulah ketika Alseenio menyerahkan kotak pizza yang diambil dan sudah dibuka, mereka baru mau memakan makanannya.


Tingkat kepercayaan diri dan bersosialisasi Alseenio sangat tinggi, baru kenal beberapa menit saja terasa seperti seorang teman lama yang tidak bertemu, begitu akrab.


Bang Windi dan teman-temannya, duduk berkumpul dengan Alseenio, mereka sedang membahas mengenai donasi Alseenio dan uang ratusan juta untuk Candy.


Mereka berbincang tentang hal tersebut sembari menunggu teman yang lain datang.


Malam sudah muncul seiring berjalannya waktu ketika mereka menunggu semua anggota kumpul.


“Uang ini benar untuk Candy dan donasi ke situs KamiBisa, Bang Nio?“ Windi bertanya sambil menatap Alseenio.


“Benar, sesuai dengan apa yang aku katakan kemarin malam, 600 juta total semuanya yang aku berikan dibagi untuk Candy, situs KamiBisa, dan iuran pajaknya.“ Alseenio mengangguk tegas tanpa terlihat keraguan di wajahnya.

__ADS_1


Windi, Agnis, Mac, dan yang lain terpana dengan jumlah nominal donasi yang dikatakan Alseenio, bukankah itu hanya 500 juta, kenapa sekarang bertambah 100 juta, Candy juga kenapa tidak bilang ke tim Jaya Exford.


“Bukannya itu 500 juta? Kenapa ada 100 juta tambahan?“ Agnis bertanya pada Alseenio dengan wajah yang tidak percaya.


Respons Alseenio begitu melihat mereka cuma sedikit tersenyum dan menerangkan tanpa adanya kebohongan.


“100 juta sudah aku kirimkan, dan bukti penerimaan juga sudah diperlihatkan oleh Candy, 100 juta tambahan untuk biaya pajak semuanya, entah pajak donasi dan pajak ketika mengambil secara keseluruhan uang bagian Candy, uang 500 juta tersebut masuk ke golongan pendapatan dan pastinya terkena pajak, 100 juta untuk pajak semuanya.“


Setelah mendengar informasi dari penjelasan Alseenio tadi, Windi dan teman-temannya langsung mengerti.


Candy segera menunjukkan bukti penerimaan uang transfer dari Alseenio kepada teman-temannya.


Bang Rando dan yang lainnya langsung paham apa yang dimaksud oleh Alseenio, tetapi mereka masih tidak mengerti kenapa Alseenio memberi uang kepada Candy.


Tok-tok!


Suara ketukan berbunyi di pintu rumah Bang Windi, sepertinya ada seseorang yang datang.


Segera, mereka semua yang ada di dalam rumah menoleh ke arah pintu rumah hampir secara bersamaan.


Tepat ketika Windi si pemilik rumah ingin berdiri, ia ditahan oleh Alseenio.


“Kamu tidak akan kuat, biar aku saja,“ ujar Alseenio dengan mimik wajah yang serius.


Teman-teman Bang Windi tercengang, terutama Bang Windi sendiri, ia belum mengerti apa yang terjadi.


Tanpa menunggu Bang Windi merespons, Alseenio sudah berdiri dan berjalan ke pintu.


Posisi Alseenio lebih dekat dengan pintu rumah, sudah semestinya dirinya yang membuka pintu.


Tangan Alseenio menjulur dan jari-jarinya memegang gagang pintu, memutar gagang pintu hingga berbunyi, dan ia menarik pintu ke arah dalam sampai terbuka lebar.


Begitu pintu terbuka, Alseenio langsung melihat empat orang sedang berdiri di depan pintu, 1 wanita, 2 pria dewasa, dan 1 anak-anak.


Mereka semua adalah teman-teman Rando dan saudara Rando.


“Halo!“ Alseenio menyapa mereka dengan ramah.


Rojad, Rino Caca, Mac kecil, dan Lafhel membeku sejenak ketika melihat orang yang membuka pintu adalah Alseenio.


Pemuda tampan tak terlukiskan dengan senyum hangat, membuat mereka semua terpesona beberapa saat.


Rino Caca pun bersalaman dengan Alseenio sebagai tanda pertemuan dan persahabatan. “Wah, ada Bang Nio!“


Mac kecil juga bersalaman dengan Alseenio, hanya tersisa wanita yang bernama Lafhel yang belum salam-salaman dengannya.


Lafhel atau Kak Lafhel diam terpaku di depan tubuh Alseenio dengan wajahnya ditundukkan ke bawah.


Pada detik ini, Kak Lafhel sedang menjerit di hatinya, setelah mengetahui bahwa ia bertemu dengan pria pujaannya.


Diam-diam Kak Lafhel menyukai wajah Alseenio yang sangat tampan, ia juga termasuk penggemar berat Alseenio, hampir setiap jamnya ia memandangi foto Alseenio tanpa ada rasa bosan, bahkan ia berniat membuat poster wajah Alseenio untuk dipajang di kamarnya.


Tidak tahu mimpi apa dirinya semalam, tiba-tiba saja bertemu dengan idola.


Sekarang bingung ia harus apa, apakah harus memeluk Alseenio atau hanya sekadar bersalaman.


“Aaa! Apa yang harus aku lakukan? Jantungku berdetak lebih cepat membuatku bertambah gugup. Sial! Kenapa pria ini sangat tampan sekali! Bahkan lebih tampan dari yang di foto!“ Lafhel berteriak di dalam hatinya dan ia bergumam bingung dengan apa yang harus dilakukan di depan Alseenio.


“Kamu tidak apa-apa?“


Suara Alseenio membangunkan Lafhel, seketika Lafhel berhenti berkata dalam hati.


“An–anu, aku baik-baik sa–saja,“ Lafhel menjawab dengan gugup tanpa memandang wajah Alseenio.


Rino, Rojad, dan Mac kecil menggelengkan kepalanya dan masuk lebih dahulu ke dalam.


“Aku ke dalam, Bang Nio.“


“Oke,” sahut Alseenio mengiakan.


Pandangan Alseenio kembali ke sosok wanita cantik dan seksi di depannya ini. Wajah Alseenio tampak bingung, kenapa wanita ini menundukkan kepalanya, apakah dia tersipu.


Daripada diam seperti ini, lebih baik ia masuk ke dalam.


“Kalau begitu aku masuk dahulu,” ucap Alseenio dan berbalik untuk masuk ke dalam.


“Sebentar!“


Tiba-tiba suara Lafhel terdengar di telinga Alseenio, dan tubuh Alseenio berhenti bergerak.

__ADS_1


“Kenap—”


Begitu Alseenio berbalik tubuh kembali, tubuh Lafhel memeluk Alseenio dengan erat, tampaknya Lafhel tidak bisa menahan pesona Alseenio dan tidak bisa menahan keinginannya untuk memeluk.


Mata Alseenio melebar sesaat, sontak ia terkejut dengan tindakan Lafhel yang mendadak seperti ini, kemudian ia menunduk melihat ubun-ubun kepala Lafhel yang sedang memeluknya.


Alseenio tidak berani membalas pelukan ini, sebab Alseenio tidak tahu caranya memeluk seorang wanita dengan benar, takut sesuatu yang seharusnya tidak dipegang malah terpegang olehnya.


Lafhel tidak lama memeluk Alseenio, hanya beberapa detik saja dan setelah itu melepaskan pelukan.


“Aku masuk dahulu!“ Lafhel langsung melewati sosok Alseenio dan masuk ke dalam rumah.


Alis Alseenio naik, ia tidak mengerti dengan perilaku yang dilakukan wanita satu ini, menggeleng kepala dan mengangkat bahunya, lalu Alseenio masuk ke dalam rumah Windi.


Begitu Alseenio masuk, Lafhel bergabung dengan Agnis dan Gheska, mereka melakukan cipika-cipiki untuk bersalaman.


Sementara itu, para pria yang ada sedang memilih makanan yang ingin dimakan.


Rino Caca sudah mengambil satu potong pizza dan ia melahapnya dengan nikmat, Rino memang suka sekali dengan makanan, tak heran tubuhnya memiliki gumpalan lemak yang cukup banyak.


“Bang, aku sudah menentukan target orang yang ingin aku donasikan di situs KamiBisa. Coba kamu lihat, apakah ini pantas dan cocok?“ ucap Candy kepada Alseenio yang sedang berjalan ke arahnya.


“Coba kulihat.“ Alseenio duduk lantai dekat sofa dan berkata kepada Candy.


Candy menyerahkan ponselnya yang menampilkan daftar beberapa orang dan kelompok yang membutuhkan donasi uang dari orang.


Mengambil ponsel Candy, mata Alseenio segera menatap seraya menimbang-menimbang tanggapannya terhadap cocok atau tidak daftar yang dibuat oleh Candy.


Beberapa menit melihat, Alseenio mengembalikan ponsel ke Candy. “Aku setuju dengan daftar itu, sisanya itu terserah kamu, yang terpenting 300 juta uang itu benar-benar didonasikan pada situs KamiBisa, sisa uang untukmu.“


“Baiklah, aku mengerti, Bang Nio.“ Candy mengangguk menunjukkan pemahamannya.


Selanjutnya, Candy dan dibantu Windi serta temannya mentransfer atau mendonasikan uang yang terkumpul di akun rekening Candy.


Butuh belasan menit untuk mengurusi itu semua, selama itu Alseenio dan Mac mengobrol ringan, kadang ia juga berbincang dengan Gheska, dan dua wanita lainnya.


Awalnya mereka canggung berinteraksi dengan Alseenio, tetapi setelah beberapa obrolan dilakukan, mereka merasa nyaman mengobrol dengannya.


Mereka kira Alseenio adalah orang yang mudah tersinggung atau sensitif, tidak ramah dan berbaur, kenyataannya itu terbalik, Alseenio sangat mudah akrab, mereka merasa Alseenio memang sudah menjadi seorang teman.


“Semuanya sudah didonasikan, Bang Nio. Ini buktinya.“


Alseenio melihat sekali lagi layar ponsel Candy yang menampilkan bukti donasi yang telah berhasil dilakukan, total secara keseluruhan pas di angka 300 juta.


“Oke, terima kasih atas kerja samanya,” kata Alseenio sembari memberikan kembali ponsel ke Candy.


“Sama-sama,” balas Candy. “Kerja sama?“


“Ya, ini kerja sama, kan?“


Tepat ketika kata-kata Alseenio keluar, Tim Jaya Exford mengalihkan pandangannya ke Alseenio.


Rasa curiga dan takut terlihat di setiap wajah mereka, ucapan Alseenio memiliki makna yang ambigu.


“Tunggu, Bang Nio. Jangan main-main, ini uang dari mana? Jangan bilang ini uang hasil ilegal seperti Dani Salaman!“ Bang Candy berkata dengan panik dan ekspresinya meminta penjelasan yang konkret.


Mulut Alseenio melengkung tersenyum ketika melihat Rando dan teman-teman curiga kepadanya.


Alseenio memaklumi perkataan Candy yang terkesan menuduhnya yang tidak-tidak, tetapi menurutnya itu hal wajar, sebab Alseenio sendiri tidak memberikan alasannya yang jelas kenapa dirinya memberikan uang untuk donasi melalui Candy.


“Aku bukan orang yang seperti itu,” kata Alseenio sambil menggelengkan kepalanya. “Kalian pasti bertanya-tanya bagai Dylan Ceptol kenapa aku tidak mendonasikan secara langsung ke situs KamiBisa, kan?“


Mendengar pertanyaan ini, Windi Rando dan anggota Jaya Exford mengangguk, mereka memang memiliki pikiran dan pertanyaan tersebut.


“Namun sayangnya aku tidak bisa memberikan alasan yang jelas kenapa aku mengirim uang untuk donasi harus melalui Cendy, pasalnya aku pun tidak tahu kenapa memiliki niat absurd yang seperti itu.


“Untuk kalian bertanya-tanya dari mana aku memiliki uang untuk membeli sepeda motor mewah yang di depan rumah dan uang ratusan juta hanya untuk donasi, kalian bisa memeriksa pemegang saham GoTe saat ini, semestinya sudah diperbaharui datanya.“


Sontak Rando, dan yang lainnya tercengang dan bahkan bereaksi yang cukup berlebihan, Mac, Candy, dan pria yang lain hampir meloncat dari duduknya setelah mendengar penjelasan Alseenio.


Sedangkan wanita yang hadir segera melihat pemegang saham GoTe, terdapat nama AA di papan pemegang saham.


“AA?“ Agnis mengucapkan nama AA yang ada di layar ponselnya dan ditujukan kepada Alseenio.


Alseenio mengangguk dan menjawab, “AA adalah Alseenio Asep dan itu namaku.“


Mendesis! Tuutt~


Dalam sekejap, rumah Windi menjadi sunyi tanpa ada seseorang yang berbicara, dan hanya ada bunyi kentut yang muncul secara berkala.

__ADS_1


"Sial! Bau sekali!"


__ADS_2