
Sesampainya di dalam Mall, Alseenio dan Fara berjalan menuju ke lobi mall karena Fara sudah menunggu di sana.
Sehabis berjalan beberapa menit, mereka berdua bisa melihat seorang wanita yang tingginya hampir sama dengan Fara, memakai pakaian sederhana dan rapi, kaus krem, jaket hitam, dan rok cokelat panjang selutut.
Pada saat mereka makin dekat, wanita ini menoleh dan melihat Alseenio yang berjalan beriringan dengan Fara.
Terlihat wajah wanita ini terkejut dan berdiri membeku di tengah lobi untuk waktu yang singkat, kemudian wanita ini berjalan berlawanan arah.
Wanita itu adalah Hani Kiara, ia berjalan dengan wajah yang rumit.
Berdiri di depan keduanya, Niara langsung bertanya, “Ini siapa, Nio?!“
Niara terkejut saat melihat seorang wanita memakai masker yang ikut bersama Alseenio.
Ia tidak menyangka Alseenio akan membawa seorang wanita di pertemuan mereka berdua. Mengenai hal ini, Alseenio sama sekali tidak memberi tahu, ia pun lupa untuk mengingatkan Alseenio bahwa hanya mereka berdua saja yang datang dan jangan membawa orang lain.
Sebelum Alseenio menjawab, Fara lebih dahulu merespons, dan ia menjawab dengan cepat, “Perkenalkan, aku Fara, pacar dan calon istri Alseenio.“
Deg!
Terdapat sesuatu yang retak dan hancur begitu perkataan Fara dikeluarkan.
Niara menoleh kaku dan memandang Alseenio meminta penjelasan.
Alseenio mengangguk dan mengkonfirmasi ucapan Fara, dan ia menambahkan, “Ini Fara Nisa, temanku dari kecil. Ya, dia sekarang adalah pacarku.“
Segera, tangan Niara mengepal keras dan menatap wajah Alseenio dengan ekspresi yang berubah-ubah, perlahan tangannya yang mengeras itu mengendur.
Saat ini, Niara bingung harus apa, seakan-akan mengalami amnesia dan hilang ingatan, perasaannya telah hancur lebur, dunia yang awalnya indah menjadi kelam dan sunyi seketika.
“Maaf, Nio. Aku merasa tidak enak badan tiba-tiba. Aku izin pulang dahulu.“
Tanpa menunggu Alseenio menjawab, Niara berbalik dan hendak pergi.
Setetes air jatuh dari kepala Niara begitu berbalik dan membelakangi keduanya.
Mata Alseenio sempat menangkap detail kecil ini.
Saat berikutnya, Alseenio ingin menahan Niara yang berjalan menjauh dan memanggil, “Tunggu, Niara!“
Alseenio hanya bisa memanggil, ia tidak mungkin bersentuhan tangan dengan Niara di depan Fara.
Sayangnya, beberapa panggilan Alseenio diabaikan, kaki Niara terus melangkah dan perlahan menghilang di dalam pandangan mereka berdua.
“Sayang, apa aku sudah melakukan kesalahan?“
Fara merasa sangat bersalah begitu melihat Niara yang pergi meninggalkan mereka, bola mata Fara bergetar dan berkaca-kaca, ia ingin menangis sekarang.
Entah mengapa, Fara juga ikut merasa sakit di hatinya. Mungkin karena sama-sama wanita.
__ADS_1
“Tidak, ini bukan salahmu. Jangan menangis.“ Alseenio memeluk Fara dan menenangkannya.
Di dalam pelukan Alseenio, Fara menangis tersedu-sedu, hatinya terlalu lembut, Fara tidak cocok untuk menjadi orang jahat.
Padahal dirinya ingin bertemu Niara untuk mengumumkan identitasnya dan mengingatkan Niara untuk tidak terlalu dekat dengan Alseenio.
Belum ia mengatakan dan mengungkapkan itu semua, Niara sudah menyerah dan mengerti.
Kenyataannya sangat berbeda dari ekspektasi Fara, ia kira Niara akan melawan. Fara merasa sangat bersalah karena perihal itu.
Pada saat yang bersamaan, Niara telah berada di dalam toilet khusus wanita masih di kawasan mall, kini ia tengah menangis diam-diam tampak menyedihkan.
Peristiwa yang terjadi barusan benar-benar membuat hatinya hancur berkeping-keping, sama sekali ia tidak pernah membayangkan Alseenio memiliki seorang pacar.
Dari awal ia sudah yakin mengenai Alseenio akan menjadi pacarnya, ia sudah mengenali sifat Alseenio yang seperti anti terhadap wanita kecuali dirinya, dan cuma bersamanya Alseenio lebih banyak berinteraksi dengan wanita, bahkan ketika Alseenio ke rumah temannya di Bandung, pastinya pria ini datang dan mampir untuk menemuinya.
Semua itu menurutnya merupakan langkah untuk mendapatkan Alseenio.
Bahkan pada hari ini Niara berkunjung ke Jakarta pun berniat untuk mengungkapkan perasaannya kepada Alseenio secara tatap muka.
Belum juga mengungkapkan perasaan hatinya, ia sudah disuguhkan dan menerima kejadian yang baginya sebuah mimpi buruk.
Saat Niara menangis di momen yang *******, tiba-tiba panggilan berbunyi dari ponsel di tasnya.
Tangisan yang lembut itu berhenti dalam sekejap. Meskipun masih terasa sesak di dadanya, Niara mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri untuk mengangkat telepon yang berasal dari Ayahnya.
Berikutnya, ia mengangkat telepon.
“Halo, Ayah?“
“Niara, kamu di mana? Ayah, Mamah, dan Tante sudah ada di rumah teman Ayah sekarang.“
“Aku ada di Mall, Ayah. Aku sudah bilang ke Mamah sebelumnya.“
“Ya sudah, kamu ke sini, sebentar, teman ayah sedang berbicara ….“
Niara mendengar Ayahnya di telepon sedang berbicara dengan orang lain, tak lama dari itu Ayahnya melanjutkan percakapan.
“Kirim alamat kamu sekarang, Niara. Nanti anak teman ayah jemput kamu.“
Mendengar ini, Niara langsung menolak, “Tidak usah, Ayah. Aku bisa ke sana sendiri.“
“Tidak-tidak, kamu itu masih gadis, nanti diculik sama tukang ojek. Kamu harus mau dijemput. Oh, ya, anaknya teman ayah sudah berangkat, kamu disuruh menunggunya di depan Mall.“
“Tunggu, Ayah. Aku tida—”
Tut! Tut!
Panggilan diakhiri oleh Ayah Niara sebelum ucapan Niara selesai. Wajah Niara yang sedih berubah menjadi cemberut dan kesal.
__ADS_1
Mau tidak mau, Niara menuruti permintaan Ayahnya dan ia keluar dari toilet dan pergi menuju ke depan Mall.
Tidak lebih dari 15 menit Niara menunggu, di depannya berhenti sebuah mobil mewah bermerek Pagani lalu seorang pemuda tampan keluar dari mobil dan berjalan mendatanginya.
Niara ketika melihat pria ini ia sedikit terkejut sejenak, pria ini terbilang sangat tampan, tetapi ketika ia membandingkan ketampanan pria ini dengan Alseenio itu masih kalah jauh dan ia sedikit kecewa.
“Hai, apa kamu Hani Kiara?“ Pria ini berdiri di depannya dan bertanya dengan sopan dan ramah.
“Benar, dan kamu?“
“Aku disuruh Ayah untuk menjemputmu, kamu anak Bapak Ghani, kan?“
“Iya ini aku Niara.“
“Ayo masuk! Kita harus pergi ke rumah.“
Pria ini langsung membukakan pintu untuk Niara dan menatap Niara yang masih berdiri diam di dekat mobil. “Mengapa diam?“
“Kamu belum memperkenalkan dirimu, aku tidak ingin masuk.“ Niara penasaran dengan nama Pria ini, tetapi dari tadi belum dijawab pertanyaannya.
“Aku akan memberi tahu tentangku padamu setelah kamu masuk ke dalam mobil. Mereka sudah menunggumu di rumah.“
“Tidak ma—”
“Halo, Ayah. Anaknya teman ayah tidak mau dijemp—”
“Jangan-jangan, aku akan masuk sekarang.“ Niara berlari ke mobil dan menahan Pria ini yang sedang menelepon Ayahnya.
“Bagus, masuklah!“
“Iya-iya,” Niara dengan malas menjawab dan masuk ke dalam mobil. “Tunggu, kamu menipuku, ya?“
Niara tersadar bahwa telepon genggam yang di tangan pria ini tidak sedang terhubung dengan siapa-siapa.
Brug!
Suara pintu ditutup berbunyi, Pria itu menutup pintu mobil, dan ia tersenyum kepada Niara. “Jika tidak seperti itu, tampaknya kamu takkan masuk.“
Melihat senyuman ini, Niara merasa kesal dan ia mengepalkan tangannya.
Dengan wajahnya yang menekuk, Niara bergumam dan memarahi pria yang menjemputnya ini di dalam hati, “Sial! Hari yang sangat sial! Sudah tertimpa kejadian buruk, aku bertemu dengan Pria yang sangat mengesalkan ini!“
“Pasang sabuk pengaman, kita akan berangkat sekarang.“ Dengan wajah yang datar, Pria tersebut mengingatkan Niara.
“Ya,” jawab Niara dengan dingin dan singkat.
Mendengar tanggapan Niara, Pria tersebut menggelengkan kepalanya, kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi.
“Aaaa! Jangan cepat!"
__ADS_1