SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 141: Mengungkapkan Identitas


__ADS_3

Para pengawal ini mengantarkan mereka semua keluar dari kerumunan yang tak kenal lelah meminta tanda tangan dan foto bersama kepada Alseenio dan Fara.


Perjuangan untuk bisa terbebas dari kerumunan terbilang cukup sulit karena orang-orang banyak yang rela berdesak-desakan demi melihat Alseenio dan Fara secara dekat, orang-orang makin banyak yang berdatangan karena tertarik oleh pemandangan orang yang ramai berkumpul.


Apabila ada yang berkumpul, artinya ada sesuatu yang menarik sedang terjadi, pemandangan tersebut menarik perhatian orang sehingga orang-orang datang atas dasar penasaran.


Sebelum ke hotel, Alseenio dan lainnya berpisah dengan Luan Jing serta timnya. Tim Manusia Pohon tidak tinggal di Kota Shanghai, mereka tingga di Tongxiang, daerah yang masih berada di kawasan Kota Jiaxing, kota yang ada di sebelah Kota Shanghai.


Jaraknya lumayan jauh, mereka naik mobil untuk bisa sampai ke sana, mobil mereka di simpan di area parkir dekat Jalan Nanjing, mereka harus ke sana lagi dan berpisah dengan rombongan Alseenio.


Sesampainya di hotel, Alseenio, Fara, Sugi, Fani, dan Fandick makan malam bersama sebelum tidur.


Seperti biasanya, setelah makan malam Alseenio dan Fara menghabiskan waktu berdua di luar hotel untuk menikmati suasana malam di Kota Shanghai.


Sementara itu, Sugi dan Fani sibuk mengobrol di restoran, sedangkan Fandick keluar hotel sambil melihat-lihat area sekitar hotel.


Dikarenakan Fandick sendiri, ia bebas untuk pergi ke mana saja, Alseenio juga sudah memberi uang pegangan selama di sini kepada Fandick sebesar 40.000 yuan, bebas digunakan untuk apa saja. Uang 40.00 yuan jika dirupiahkan sama dengan 86 juta rupiah di kurs tahun 2023, mendekati 87 juta.


Jadi, tidak masalah bagi Fandick jalan sendirian, ia memiliki pegangan jika ada apa-apa dan ingin membeli sesuatu.


“Sayang, kamu yakin akan mengungkapkan bahwa kita adalah pasangan kepada para penggemar kamu?“


Alseenio dan Fara duduk di kursi taman dekat hotel sambil memandangi jalan raya di Kota Shanghai.


Pertanyaan yang dilontarkan oleh Fara membuat Alseenio terdiam sejenak, kemudian ia menoleh ke arah Fara sambil tersenyum. “Aku yakin, sampai kapan aku berpura-pura tidak memiliki pasangan di depan mereka. Takutnya, mereka akan lebih kecewa daripada sekarang kalau aku mengungkapkannya di kemudian hari.“


“Betul, aku jika menjadi mereka akan kecewa berat kalau kamu diam-diam memiliki pasangan.“ Fara setuju dengan pernyataan Alseenio.


“Kamu juga penggemarku, kan?“ Alseenio tersenyum sembari satu alisnya dinaikkan. Ekspresi wajahnya membuat Fara kesal.


Fara dengan cepat menggelengkan kepalanya dan mendengus. “Enak saja! Aku bukan penggemarmu, untuk apa juga aku menjadikanmu yang mesum sebagai idola, huh!“


Deg!


Sesuatu seperti ada yang tertusuk, tiba-tiba Alseenio memegang dadanya, ia merasa hatinya telah ditusuk pedang oleh Fara.


Melihat Alseenio yang berwajah kesakitan sambil meremas dadanya sendiri, Fara menjadi panik dan ia bertanya dengan cemas, “Sayang, aku tidak bermaksud seperti itu, aku juga penggemarmu! Maafkan, aku ….“


Alseenio tidak menjawab, ia masih berpura-pura kesakitan dengan akting yang totalitas hampir membuat orang yang sempat lewat di jalan depan mereka duduk percaya.


“Sayang, maafkan aku! Aku mengidolakanmu, tolong jangan seperti ini, aku takut, Sayang!“


Saking cemas dan khawatirnya, Fara bangun dari kursi dan mencoba memeriksa keadaan Alseenio. Tangannya mengangkat wajah Alseenio yang masih terlihat kesakitan dan Fara menatapnya dengan wajah yang panik. “Sayang, jangan seperti ini. Aku—”


Sebelum Fara menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Alseenio menangkap tubuh Fara dan menggendongnya menggunakan gaya bridal.


Senyum lebar tercetak di wajah Alseenio, ia memandang wajah panik Fara dengan wajah yang ingin tertawa. “Menjahili kamu ternyata menyenangkan, ya.“

__ADS_1


“Kamu, kamu benar-benar ngeselin! Aku sekarang tidak mau diajak ciuman lagi!“ Fara sangat kesal. Ia memalingkan wajahnya yang menekuk dengan alisnya mengerut.


Sama sekali Alseenio tidak takut dengan ancaman yang dikeluarkan oleh mulut Fara. Alih-alih menjawab, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Fara dan mencium dahi Fara sesaat.


“Ih! Curang!“ Fara yang tadinya kesal langsung menjadi tidak puas karena tiba-tiba dikecup tanpa izin.


Dirinya sendiri tidak berdaya saat dihadapkan oleh ciuman Alseenio, hatinya yang dongkol otomatis menghilang dan digantikan oleh rasa senang yang tak terlukiskan.


“Kita lanjutkan di hotel, di sini banyak orang. Kemu bisa lihat ke sekitar, mereka memperhatikan kita berdua,“ ucap Alseenio sambil menurunkan Fara dari gendongannya.


“Baik.“ Fara mengangguk mengerti. Tangannya terulur berinisiatif untuk berpegangan tangan bersama Alseenio. “Ayo kita ke hotel!“


Alseenio memakai maskernya lagi, dan menganggukkan kepalanya sekali. “Ayo, Sayang!“


Keduanya berjalan kaki menuju ke hotel kembali.


“Omong-omong, kamu tidak takut aku diambil orang setelah kamu mengungkapkan indentitas aku sebagai pasanganmu di media sosial?“ Fara masih bertanya tentang pembicaraan di kursi taman dekat jalan raya. Ia memastikan lagi bahwa Alseenio yakin dengan keputusan yang akan dibuat.


Respons Alseenio masih sama, dia mengangguk dengan kejam, dan membalas dengan wajah yang serius, “Memangnya ada yang berani mengambil calon istriku? Jikalau itu ada, aku akan merebutmu kembali. Namun, ada satu hal yang ingin aku tanyakan, apa kamu memang mau dengan pria yang merebutmu nanti?“


Tanpa berpikir lagi, Fara berkata sesuai dengan hatinya, “Tidak. Aku sudah terlanjur cinta padamu. Mustahil untukku berpaling darimu, Sayang.“


“Benar, kah?“


“Iya! Kamu tidak percaya?“


“Kalau pria yang merebutmu lebih tampan dan lebih baik, apa kamu masih mau denganku?“ Alseenio menatap wajah Fara dengan mata yang menunggu jawaban.


Alseenio berpikir sekilas, dan tampaknya memang tak ada pria yang lebih baik dari dirinya, terlebih perihal ketampanan, Sistem sendiri sudah menjaminnya. “Tidak ada, Sayang.“


“Nah, jawabannya sudah bisa kamu tebak. Kemungkinan besar yang merebut adalah dirimu sendiri. Bagiku, tidak ada pria yang lebih baik di segala sisi dan bidang, selain dirimu. Kamu adalah pria yang sempurna untukku, tak ada yang menyaingi dirimu di hatiku.“


Kalimat Fara begitu manis sehingga membuat Alseenio tersenyum tanpa disadari.


Dengan begitu, Alseenio makin bangga dengan Fara. Ia berharap semua omongan yang Fara keluarkan adalah sebuah kebenaran dan bukan kebohongan.


Alseenio mencium kening Fara sebagai cara melampiaskan kasih sayang yang ia pendam.


Tak terasa mereka berdua sampai di hotel, keduanya pergi ke restoran hotel untuk bergabung dengan Sugi dan Fani yang tengah mengobrol tentang sesuatu.


“Fandick masih di luar, Sugi?“ Duduk di sebelah kursi Sugi, Alseenio bertanya kepada Sugi.


“Sepertinya iya, aku belum melihat dia lewat di lobi lagi.“ Sugi mengangguk dan melirik sekali jam yang ada di pergelangan tangannya. “Bagaimana di luar, Tuan Nio? Masih ramai di luar?“


“Masih, padahal sudah jam sembilan malam, di luar masih ramai, trotoar dan taman masih banyak dilalui oleh orang-orang.“


“Pantas saja Fandick belum kembali, ternyata di luar masih ramai.“

__ADS_1


“Kita tunggu saja dia kembali, takut ada apa-apa pada Fandick.“


Alseenio takut Fandick hilang dan tersesat, makanya ia akan menunggu Fandick pulang ke hotel, jika masih belum kembali di tengah malam, ia akan mencarinya.


“Siap, Tuan Nio.“


Usai berbincang, mereka berempat mengobrol satu sama lain. Fani dan Fara bergabung, keduanya berbicara seputar topik yang disukai mereka. Tidak jauh dengan persoalan pakaian, film, makanan, berita viral di internet, dan masih banyak yang lain. Kelihatan menyenangkan dan seru.


Sementara itu, Alseenio dan Sugi berbincang santai tentang anime, mobil, dan gim, tak lupa membicarakan keuangan yang telah Alseenio habiskan.


“Kamu tahu orang yang viral itu tidak? Orang yang viral karena ngomong 'kamu nanya?' dari beberapa bulan yang lalu.“


“Tahu, Kak Fara. Aku kesal dengan orang-orang di Tiktod, banyak orang yang berkomentar seperti itu. Aku pernah bertanya tentang konteks dalam video, tetapi mereka malah membalas dengan kalimat itu. Sangat menyebalkan!“


“Aku juga, teman-teman kerja yang masih berhubungan denganku juga suka berkata seperti itu. Ingin rasanya menampar tangan mereka.“


“…”


“Sugi, menurutmu apakah aku harus membeli sabuk Kemem Raideh atau tidak? Aku tiba-tiba ingin mengkoleksi mainan dari masa kecil itu.“


“Tuan Nio suka Kemem Raideh juga? Aku baru tahu! Kataku harus sebagai penggemar, terlebih mainannya di zaman sekarang sudah bagus, layak untuk dibeli.“


“Baiklah, pesankan aku mainan sabuk Kemem Raideh dari semua serial filmnya, terlebih yang langka, Sugi. Jangan lupa untuk catat pengeluarannya.“


“Siap, Tuan. Sebentar, aku akan memesankan mainannya.“


“…”


Obrolan wanita dan pria memang berbeda topik dan tema. Meskipun sudah besar, kebanyakan pria masih memiliki sisi yang seperti anak kecil, contohnya membeli mainan.


Sebagian besar pria akan membeli mainan yang tak bisa dan tak sempat dibeli ketika masih kecil. Ketika dewasa dan memiliki uang, biasanya pria akan membeli mainan yang didambakan. Suatu kebahagiaan yang dilakukan begitu sederhana.


Mereka berempat mengobrol sambil memakan camilan kecil khas Cina. Kedatangan Fandick masih ditunggu oleh mereka berempat, tetapi Fandick masih belum datang dan muncul lubang hidungnya di lobi hotel.


“Ke mana, Fandick? Lama sekali keluarnya, ini sudah jam sebelas malam.“ Alseenio berdiri dari kursi, dan melihat area sekitar restoran hotel yang masih bisa melihat area lobi.


“Mau kita cari, Tuan Nio? Apa aku perlu hubungi pengawal untuk mencari dia?“ Sugi menawarkan bantuan.


“Tidak perlu, dia sudah ada di sini.“ Alseenio menggelengkan kepalanya dan duduk kembali di kursi.


“Benar, kah? Di mana? Aku tidak melihatnya.“ Sugi menatap Alseenio dengan penasaran.


“Berdiri saja, dia sudah aku instruksikan untuk ke sini.“


Setelah mendengar jawaban Alseenio, Sugi berdiri dan mencari sosok Fandick.


Benar saja apa yang dikatakan Alseenio, ia melihat Fandick yang sedang berjalan di kejauhan mengarah ke restoran hotel ini.

__ADS_1


Namun, mata Sugi membesar, ia terkejut melihat Fandick berjalan dengan seorang wanita di sampingnya.


“Hehe, maaf sudah menunggu!“


__ADS_2