SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 149: Dipukuli Orang


__ADS_3

Orang-orang yang berpenampilan beringas dan menakutkan memberi ekspresi wajah yang ramah. Tampaknya ada sesuatu yang ingin mereka lakukan kepada Alseenio dan Gondals.


“Kalian berdua sangat tepat ke sini. Tempat ini memang dikhususkan untuk para orang yang tersesat di jalan singgah dan menanyakan jalan. Kemari! Lebih baik kalian istirahat sejenak di sini!“ Salah satu orang yang mengenakan topi warna abu-abu, baju cokelat, dan celana panjang hitam memberi isyarat tangan kepada mereka untuk masuk ke gudang.


Alseenio dan Gondals saling melihat satu sama lain dan mengangguk, kemudian keduanya berjalan mendatangi mereka semua yang berdiri di depan bangunan gudang yang temboknya terbuat dari seng tipis.


Orang-orang ini tersenyum lebar melihat mereka berdua datang mendekat mereka. Setelah itu, mereka menyuruh Alseenio dan Gondals duduk bersama mereka di kursi kayu yang panjang tanpa sandaran yang ada di dalam gudang.


Penampilan semua orang ini memiliki tato pada bagian tubuhnya, memang sudah semestinya jika ingin ditakuti harus memiliki tato, terlebih bergambar sesuatu yang menyeramkan.


Di dalam gudang terdapat barang-barang rusak dan utuh tergeletak begitu saja di pojokan gudang paling dalam. Pencahayaan di sini lumayan terang, karena ada jendela yang di buat.


Secara keseluruhan, dalam gudang ini benar-benar mirip seperti markas orang-orang aneh berkumpul, ditambah seperti tempat menampung benda-benda rongsok.


“Kalian berdua dari mana?“


Orang-orang di sini mulai mengobrol dengan Alseenio dan Gondals seperti biasa.


“Kami berdua dari Jakarta, ingin ke rumah teman yang ada di Sukabumi, tetapi aku lupa lagi jalannya,” jawab Alseenio dengan akting yang terlihat sangat natural.


“Memangnya di mana rumahnya, kamu tahu alamatnya?“


“Alamatnya di ….“


Alseenio memberikan alamat rumah Fara yang dahulu kepada mereka semua.


Begitu mendengar alamat yang diungkapkan oleh Alseenio, mereka semua tersentak lalu tersenyum penuh arti.


“Alamatnya sudah dekat dari sini, tinggal naik mobil mengikuti jalan, jaraknya sekitar dua kilometer lagi dari sini.“


Kepala Alseenio bergerak ke samping ke arah orang yang memberi tahu tempat alamatnya Fara. “Bukankah itu sangat dekat? Sepertinya kami berdua harus kembali naik mobil dan melanjutkan berangkat ke sana.“


“Jangan, kalian di sini dahulu. Istirahat sebentar, lagi pula perjalanan sudah hampir sampai.“


Secara serempak mereka semua menahan Alseenio dan Gondals yang ingin kembali melanjutkan perjalanan.


“Baiklah, aku juga kebetulan lelah dari Jakarta ke sini, butuh udara segar.“ Alseenio mengangguk menyetujui saran mereka semua.


“Perjalanan ke sini memang dibilang cukup melelahkan. Lihatlah kedua kaki milikku bergetar karena kelelahan.“ Gondals menunjukkan kedua kakinya yang berselonjor agak ke bawah yang terlihat gemetar.


Hampir saja Alseenio tertawa setelah melihat ini, tindakan Gondals sangat lucu dan membuat orang ingin tertawa.


Mereka semua tersenyum saat melihat kaki Gondals. Orang ini terlihat lemah, hanya naik mobil saja sudah bergetar seperti itu.


“Omong-omong, apa mobil yang kamu naiki adalah mobilmu?“


“Benar, itu mobilku yang aku beli dari uangku.“ Alseenio sekali lagi mengangguk membenarkan tebakan mereka.


Alis mereka terangkat, tampaknya tertarik dengan pembicaraan tentang mobil Alseenio.


“Berapa harganya? Kelihatan bagus mobil itu, aku rasa aku mengenali logo di mobil punyamu.“


“Harganya hampir sembilan miliar, memang mahal, aku harus mengeluarkan sebagian tabunganku untuk membelinya.“


Segera, setelah mendengar ini, tubuh mereka tersentak kaget, bahkan ada yang jatuh dari kursinya setelah mendengar ucapan Alseenio.


Mereka tidak menyangka dan berpikir bahwa harga mobil yang Alseenio pakai sangatlah mahal. Namun, mereka tidak langsung percaya, mereka menanyakan nama jenis mobil Alseenio, dan ingin mencari harganya di internet.


Usai mendapatkan nama jenis mobil Alseenio mereka langsung mencari harga aslinya mobil Alseenio di Indonesia dan ternyata hasilnya hampir mendekati 9 miliar rupiah. Pria di depan mereka tidak berbohong.


Mata mereka semua tiba-tiba memindai sosok Alseenio sekali lagi.


Dalam bidang penglihatan mereka, visual Alseenio sangat berbeda dengan mereka, terlebih tempramen yang terpancar keluar dari tubuh Alseenio sangat elegan, layaknya orang yang memiliki kekayaan lebih.


Mereka juga salah fokus terhadap ucapan Alseenio yang berkata bahwa uang membeli mobil ini hanyalah sebagian dari tabungannya, artinya Alseenio memiliki uang yang banyak, setidaknya seharga mobil yang terparkir di depan gudang.

__ADS_1


Entah apa tujuannya, salah satu dari mereka tiba-tiba menutup pintu gudang.


Mata Alseenio dan Gondals menunjukkan ekspresi yang takut, tetapi mereka tampak berusaha untuk tidak takut.


“Sangat mahal sekali mobilnya!“


“Kapan aku memiliki uang sebanyak itu?“


“Kurasa sebentar lagi aku akan sukses seperti kalian berdua, hehehe.“


“Mobil yang sangat mewah, bahkan rumahku tidak semahal itu!“


“…”


Reaksi ditampilkan oleh 17 orang yang memiliki tato ini dan telinga tindik ini. Mereka melampiaskan keterkejutannya saat mengetahui harga mobil Alseenio.


Akan tetapi, reaksi mereka terlihat canggung sekali, terlebih wajah mereka yang bengis dipaksa seperti badut yang terkejut.


“Apakah kalian berdua orang yang sukses?“


“Aku tidak bisa menilai diriku sendiri, biar kalian yang menilai kami berdua.“ Alseenio tersenyum.


“Anggap saja kamu berdua sukses, apa yang kamu miliki sekarang selain mobil? Apa ada ponsel iPon? Jam tangan mahal? Atau koleksi sepatu mahal?“


“Ada, aku memiliki beberapa koleksi barang-barang itu. Ponsel iPon ada saku celana, kalau jam tangan kebetulan aku malas pakai, aku taruh di mobil. Kalau koleksi sepatu, sepatu yang aku dan dia pakai harganya cukup mahal.“


Senyuman mereka semua makin lebar dan cerah ketika mendengar ini.


“Ada apa? Mengapa kalian kelihatannya ingin tahu barang-barang kami?“ Alseenio menatap ke arah mereka semua dengan polos dan lugu. Sama seperti reaksi Gondals yang sedari tadi terlihat penakut karena tidak pernah menatap mereka semua saat obrolan berlangsung.


“Kami hanya penasaran saja, tidak ada yang perlu ditakuti.“ Orang yang memakai topi abu-abu tersenyum ramah, saking ramahnya eksepsinya terlihat mengerikan.


Pada saat yang bersamaan, Ryan dan Niara datang ke rumah sakit untuk menjenguk Ayah Fara, mereka terkejut saat mendapati berita tentang Ayah Fara.


“Ayah baik-baik saja, beberapa hari ke depan sudah bisa dipindahkan ke mansion untuk dirawat lagi dan dievaluasi lagi. Terima kasih sudah datang, Ryan dan Niara.“ Fara tersenyum kepada Ryan dan Niara yang duduk di sebelahnya.


Ibu Fara dan Bella pun ikut tersenyum, kedatangan keduanya membuat mereka senang, mereka repot-repot membawa buah-buahan untuk Ayah Fara dan beberapa makanan untuk mereka semua yang menunggu Ayah Fara di rumah sakit.


“Syukurlah, semoga Ayah Fara cepat pulih dan bisa beraktivitas normal lagi,” ujar Niara yang tersenyum tulus. Ia mendoakan dengan sungguh-sungguh.


Ryan penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Ayah Fara sampai bisa terluka seperti ini.


Maka dari itu, ia bertanya perihal tersebut kepada Fara.


Kronologi peristiwa sekali lagi Fara terangkan, ia mengungkapkan semua kejadiannya yang benar-benar terjadi. Bella juga menambahkan beberapa detail peristiwa itu agar mudah dipahami oleh Ryan.


Waktu mendengar cerita ini, wajah Ryan menjadi merah, ia sangat marah. Bisa-bisanya ada orang yang jahat seperti itu, terlebih kejahatannya terjadi kepada orang yang dekat dengannya.


Bayangkan saja, kita tidak memiliki salah, tetapi tiba-tiba ditusuk oleh orang tak dikenal, ternyata orang tersebut datang dari orang yang membenci kita, memanfaatkan orang tak dikenal untuk mewujudkan kebenciannya terhadap Ayah Fara.


“Ke mana Alseenio? Mengapa dia tidak ada di sini?“ Ryan dari tadi tidak menemukan batang hidung Alseenio di rumah sakit ini.


Fara tersenyum dan menjawab, “Alseenio sedang pergi bersama Gondals, katanya ada suatu urusan yang penting.“


“Urusan yang penting?“ Wajah Ryan tampak terheran.


Bruak!


Sosok Alseenio didorong oleh dua orang di depannya sampai terjatuh ke lantai gudang yang beralaskan semen.


“Kalau kamu mau hidup, lebih baik serahkan iPon dan kunci mobilmu,” kata orang yang memakai topi dengan seringai licik.


Alseenio dengan wajah yang panik menggelengkan kepalanya dengan cepat dan ia menyeret tubuhnya mundur ke belakang. Ia menjauhi orang-orang ini jangan sampai mengambil apa yang mereka inginkan. “Tidak mau!“


“Percuma saja, aku sarankan kamu serahkan tas yang kamu gendong itu, aku tahu di sanalah kunci dan ponselmu disimpan.“ Orang ini sangat memaksa Alseenio.

__ADS_1


Melihat Alseenio enggan menuruti permintaannya, teman-teman yang lain bergegas ke Alseenio dan mengangkat tubuhnya untuk berdiri.


Tanpa aba-aba dari mereka, Alseenio tiba-tiba dipukul oleh 3 orang yang membangunkannya dari tanah.


Buk! Bak! Bik!


Suara renyah dari pukulan yang mendarat di beberapa bagian tubuh Alseenio terdengar.


Alseenio menahan rasa sakit dan berkata, “Jangan lakukan itu, kumohon jangan pukuli aku!“


“Tidak ada ampunan untukmu, aku harus mengajarimu sampai kamu menyerahkan tas itu dengan inisiatif. Pukul dia!“


Pria bertopi ini mengomandoi teman-temannya untuk menghajar Alseenio secara habis-habisan.


Alseenio membiarkan mereka memukuli dirinya sehingga tampak sangat tidak berdaya dan lemah. Beberapa luka memar terlihat di beberapa bagian tubuhnya kecuali wajah.


Selama proses pemukulan terhadap Alseenio berlangsung, Gondals pun sedang ditahan oleh setengah dari mereka yang tersisa dan tak memukuli Alseenio.


“Berikan ponselnya dan beberapa benda berharga lainnya!“ Salah seorang pria mengancam Gondals. Tatapannya sangat tajam diarahkan ke mata Gondals yang terlihat ketakutan seperti pengecut.


“Anu, ponselku ada di dalam mobil, semua barang-barangnya tidak aku kantongi,” ucap Gondals yang kedua tangannya tengah ditahan oleh dua orang pria.


“Kalau begitu, berikan kunci mobilnya!“


“Kunci mobil ada di temanku, aku bukan pemilik mobilnya.“


Mendengar jawaban Gondals, membuat orang-orang itu marah.


“Persetan denganmu! Hajar dia!“ Orang ini berseru kepada teman-temannya untuk memberi pelajaran ke Gondals.


“Jangan, Om!“ teriak Gondals yang penuh ketakutan.


Bugh! Bugh!


Pukulan demi pukulan menabrak tubuh Gondals, rasa nyeri dan perih dirasakan oleh Gondals.


Wajahnya terlihat sangat kesakitan, ia menjerit kesakitan karena dipukuli oleh orang-orang ini.


Di sisi lain, Fara dan yang lain sedang makan siang bersama. Mereka mengobrol sambil membahas tentang sesuatu.


“Kira-kira, kapan Ayah Fara bisa sembuh?“ Niara penasaran tentang ini dan ia bertanya ke Fara.


“Sembuh total? Kata dokter butuh tiga sampai lima bulan untuk sembuh total,” jawab Fara yang masih ingat kalimat dokter.


“Lumayan lama, ya? Tetapi seharusnya tiga sampai lima bulan itu, Ayah Fara masih bisa beraktivitas.“


“Umumnya seperti itu. Doakan saja Ayah cepat sembuh.“


“Aku dan Ryan akan selalu doakan.“


Fara, Ibu Fara, dan Bella tersenyum mendengar ini. Senang sekali mendapatkan teman yang saling perhatian satu sama lain.


“Aku penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Alseenio. Ada urusan penting apa sebenarnya? Bukannya dia jarang ke perusahaan?“ Ryan bertanya dengan nada yang sangat ingin tahu.


Wajah Bella langsung terlihat salah, ia bingung harus memberikan informasi itu ke yang lain atau tidak.


Pasalnya, hanya dia, Alseenio, dan Gondals yang tahu urusan tersebut.


Melihat mata mereka yang terpusat padanya, Bella rasa ini harus diungkapkan kepada mereka semua.


Dengan wajah yang kaku, Bella menatap wajah mereka semua, ia menelan ludah dan berkata pelan-pelan, “Sebenarnya, mereka berdua telah tahu dalang di balik penusukan tersebut. Mereka berdua sedang pergi ke tempat di mana komplotan yang ada di belakang orang yang menusuk Ayah Fara. Seharusnya, mereka sudah sampai sekarang.“


“Jangan bilang, Alseenio akan bertarung dengan orang lain lagi?!“ Fara tahu sifat Alseenio. Pria miliknya ini pasti bertarung dengan orang-orang itu. Sama seperti yang terjadi di Thailand.


“Kemungkinan besar akan begitu ….“

__ADS_1


__ADS_2