SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 196: Terkadang Pamer Diwajibkan


__ADS_3

Keesokan paginya, Alseenio dan beberapa orang rumah keluar untuk menyambut tiga mobil sedan yang cukup mahal berhenti di depan halaman depan rumahnya.


Melihat kedatangan tiga mobil ini, Alseenio tersenyum memandang dari jauh menunggu orang-orang yang ada di dalam mobil turun.


Fara, ibu Fara, Bella, Sugi, dan Hen Taiga, berdiri di kedua sisi Alseenio ikut memandangi ketiga mobil di depan.


Berikutnya, pintu semua mobil terbuka, beberapa orang keluar dengan suara yang bermacam.


"Alseenio!"


Suara keras memanggil nama Alseenio, seorang pria dengan rambut sedikit jambul dan berpakaian rapi dan sederhana berjalan menghampiri Alseenio bersama seorang wanita dan dua anak kecil.


Kaki Alseenio melangkah ke depan, sebuah senyuman terbentuk di sudut mulutnya, ia berjalan mendekati orang yang memanggilnya dan berkata, "Selamat datang di rumahku, Bang Rapi."


Orang yang datang tersebut adalah Rapi Amat bersama istri dan kedua anaknya, satu sedikit besar dan satu masih sangat kecil.


Bersalaman dengan gaya pria, Alseenio dan Rapi Amat terbilang dekat, mereka berdua berteman sangat baik.


Selain itu, Fara dan lainnya pun akrab dengan istri serta anak-anak Rapi Amat.


Sebagai informasi, anak kedua Rapi Amat ini sangat senang dipangku oleh Fara. Masih kecil sudah tahu wanita cantik. Mirip dengan Alseenio di waktu kecil.


"Bagaimana kabarnya? Kamu sehat, kan?" Rapi bertanya sambil tersenyum cerah. Dia sangat senang bisa bertemu dengan Alseenio.


Alseenio mengangguk dan menjawab, "Aku sehat-sehat saja. Bagaimana denganmu? Rehanza dan Apatar sehat?"


"Lihat saja mereka berdua." Tunjuk Rapi Amat ke arah belakang, kedua anaknya sedang berpegangan tangan sambil tersenyum ke arah Alseenio. "Mereka makin gemuk, sekarang senang makan."


"Syukurlah."


Berikutnya, di belakang Rapi Amat dan keluarga beserta timnya, datang beberapa orang yang terlihat seperti orang luar negeri melambaikan tangan kepada Alseenio.


Target kolaborasi benar-benar datang ke rumahnya.


Tanpa berlama-lama lagi, Alseenio membawa mereka semua ke dalam rumah.


Setibanya mereka di dalam, mereka benar-benar dikejutkan betapa mewahnya rumah Alseenio yang memiliki harga lebih dari 1,5 triliun rupiah.


Mereka semua mengobrol sejenak, beberapa kamera dari tim Rapi Amat dan Alen Runner sudah menyala sejak mereka keluar dari mobil.


Mereka semua terus berjalan ke ruang tamu yang luas dengan berbagai perabot dan desain interior yang luar biasa megah.


Rapi Amat yang sudah bergelimang harta dan kekayaan masih terkejut dengan besar dan mewahnya rumah Alseenio.


Sejujurnya, Rapi Amat dan yang lain sudah dikejutkan sejak mereka melihat penampakan luar gerbang rumah Alseenio.


Itu sangat panjang dan lebar, ada beberapa satpam yang bertugas di sana hanya untuk membuka gerbang besar.


Saat masuk pun mereka kembali dikejutkan dengan luasnya halaman rumah Alseenio dan terlihat sangat hijau.

__ADS_1


Begitu memandang depan rumah Alseenio untuk pertama kalinya mereka semua hanya bisa menelan ludah dengan ekspresi terpana.


Ini bukan lagi rumah, melainkan istana.


Mereka makin terkejut untuk sekian kalinya ketika melihat sebuah helikopter terparkir di atas bangunan rumah.


Memang dari kejauhan helikopter tersebut bisa dilihat dengan jelas.


Entah itu Rapi Amat atau Alen Runner, mereka semua tertegun dengan segala kemewahan di rumah ini.


"Serius? Semua ini pembantumu?" Rapi Amat memandang beberapa wanita berpakaian maid bak pelayan kerajaan.


"Benar. Mereka asisten rumah tangga di sini. Aku mewajibkan mereka memakai pakaian tersebut agar terlihat sopan dan rapi." Alseenio tersenyum dan perlahan mengangguk.


Pakaian maid atau pembantu yang Alseenio wajibkan punya model yang sopan, gaunnya memiliki rok panjang dan bagian tubuh atas benar-benar tertutup tanpa memperlihatkan suatu belahan.


Alen Runner dan lainnya terdiam, ini terlalu berlebihan. Mereka memang tidak mengerti cara kerja pola pikir orang kaya.


Ruang tamu, ruang keluarga dengan banyak fasilitas di dalamnya, ruang tamu, dan ruang lainnya dijelajahi bersama-sama secara berurutan.


Tidak ada kata-kata yang cocok untuk mengutarakan keterkejutan mereka dengan kemewahan rumah besar ini.


"Aa Alseenio, aku boleh main gim ini?" Apatar tertarik dengan konsol gim mini yang bisa digenggam dan dibawa ke mana-mana.


Alseenio mengangguk dan mengusap rambut Apatar. "Boleh. Bawa pulang saja tidak apa-apa."


"Tidak usah, aku hanya ingin memainkannya sebentar." Apatar tidak mau mengambil barang milik orang lain begitu saja.


Melihat ini, Apatar akhirnya menerima pemberian Alseenio dan mengucapkan terima kasih.


Rapi Amat seperti anaknya dia juga sempat melarang Alseenio memberikan barang itu kepada Apatar. Dia merasa tidak enak.


Pasalnya, Rapi Amat tahu harga barang tersebut, menyentuh puluhan juta karena barang kustom.


Selain mainan gim tersebut, Apatar diberikan beberapa hadiah berupa jam tangan rolex yang Alseenio iseng beli dan tidak terpakai senilai 300 juta.


Mengetahui ini, Rapi Amat hanya bisa diam dan meneteskan air liur.


"Ini semua mobil kamu?" Alen Runner menunjuk ke deretan mobil yang terparkir di parkiran bawah tanah Alseenio. Menatap mata Alseenio penuh tanda tanya.


Mereka semua sudah sampai di tempat parkir di mana semua kendaraan Alseenio disimpan dan ditaruh.


"Benar, semua ini adalah mobilku, ada beberapa mobil milik Fara dan Orang Tua Fara, mobile mereka terpisah agar mudah dipakai juga dikeluarkan. Dan di luar sana ada mobil milik Sugi, asisten pribadiku," ujar Alseenio menunjuk ke arah luar rumah.


Melihat mobil-mobil yang berjajar rapi dengan segala jenis model desain, Rapi Amat dan Alen Runner terdiam sambil menatap semua mobil ini dengan tatapan dipenuhi keinginan.


Mereka berdua juga ingin sekali punya banyak mobil mewah seperti Alseenio.


"Bajingan busuk! Bukankah ini mobil Rolls-Royce Boat Tail?!"

__ADS_1


Salah satu mobil di garasi Alseenio dikenali oleh Rapi dan dia terperanjat kaget sampai melompat ke belakang.


Pencinta mobil tentu saja tahu mobil-mobil mahal karena banyak dari deretan mobil mahal menjadi daftar mobil impian mereka.


Rapi sendiri mengenali beberapa mobil paling mahal yang ada di dalam garasi mobil Alseenio.


"Ini dikirim langsung dari luar," kata Alseenio menyilangkan tangannya di belakang.


Dengan rasa ingin tahu yang besar, Rapi Amat mencoba untuk melihat lebih dekat mobil ini.


Menoleh untuk melihat Alseenio di sebelahnya, dalam hatinya sudah terdapat pertanyaan, dan Rapi bertanya, "Berapa harga mobil ini?"


"Sekitar empat ratus lima puluh miliar rupiah atau setara tiga puluh juta dolar AS," jawab Alseenio dengan senyuman yang biasa serta tenang.


Kini tidak hanya Rapi yang terkejut, tetapi semua orang yang datang dan masuk ke garasi ini terkejut dan membeku bagai patung.


Harga mobil yang fantastis karena mereka juga tahu melalui Gugel bahwa mobil ini memang sangat spesial.


Tidak hanya melihat jenis mobil Rolls-Royce, mobil-mobil lain milik Alseenio, seperti Buggati La Voiture, Koenigsegg, Hennessey, Pagani, Lamborghini, dan mereka mobil lain, semuanya dilihat dan dilirik oleh semua orang dari tim Rapi dan Alen.


"Sumpah, ini terlalu luar biasa, teman-teman!" Rapi berdiri di samping sebuah sepeda motor yang unik dan berbicara ke arah kamera. "Kalian tahu harga sepeda motor ini? Harga sepeda motor ini tembus lebih dari seratus lima puluh miliar, padahal ini hanya sepeda motor dan bukan mobil."


Sepeda motor yang ditunjukkan Rapi adalah sepeda motor Neiman Marcus senilai 165 miliar rupiah.


Mereka semua berkunjung ke rumah Alseenio serasa sedang mengunjungi dunia mimpi.


Rapi Amat ingin menjadi adik Alseenio kalau sudah tahu begini.


Kekayaan Alseenio diasumsikan oleh keduanya memiliki jumlah berpuluh kali lipat dari kekayaan yang mereka berdua miliki.


Sebenarnya, Alen tidak punya kekayaan yang sangat banyak, cuma setara setengah dari harga mobil Rolls-Royce milik Alseenio.


Semua kendaraan Alseenio jika dihitung dan dijumlahkan total harganya, itu bisa mencapai hampir 2 triliun rupiah.


Puas melihat-lihat barang mewah, mereka semua pergi ke ruang makan bersama yang besar. Di rumah Alseenio punya ruang makan bersama yang dikhususkan untuk banyak orang.


Mereka benar-benar terkejut lantaran meja panjang dan lebar ini cukup untuk belasan orang, beberapa orang dari tim keduanya bisa ikut makan bersama.


Alseenio sudah menyiapkan tempat lain untuk orang-orang yang dibawa Rapi dan Alen. Sebagai orang yang mengundang, Alseenio harus matang dalam mempersiapkan semuanya.


Acara kolaborasi ini hanya untuk melihat apa yang Alseenio punya sekarang. Alseenio juga memberi tahu tentang sumber kekayaannya berasal dari apa.


"Bro, kamu itu sebenarnya apa? Maksudku, pekerjaanmu itu apa?" tanya Rapi Amat yang bingung dengan pencapaian Alseenio. Semua barang di rumah ini dia anggap sebagai pencapaian Alseenio.


Mendengar pertanyaan ini, Alseenio menatap kameraman Rapi Amat lalu memperlihatkan senyumannya, dan dia menjawab dengan jujur, "Bukankah kamu sudah tahu? Aku termasuk pemegang saham perusahaan yang menaungi grup band BelekPink, dan ada beberapa dari perusahaan lain, contohnya adalah ini."


Secara mendadak, Alseenio menunjuk ke sebuah logo di baju Rapi Amat.


Melihat sesuatu yang ditunjuk Alseenio, mereka semua langsung tahu maksud dari tindakan Alseenio tadi.

__ADS_1


"Ka–kamu termasuk orang yang memegang saham Perusahaan Luis Vuton?!!"


__ADS_2