
Uang sebesar 3 Triliun dari atau 200 juta Euro berhasil masuk ke rekening banknya, ditambah dengan 150 triliun rupiah hasil dividen 4 tahun dari saham Luis Vuton.
Semuanya sudah masuk rekening tabungannya. Jika saldonya dihitung dan akumulasi keseluruhannya, ada sekitar 350 triliun rupiah.
Kekayaan saldo Alseenio yang sekarang sudah menghancurkan kekayaan orang terkaya peringkat dua di Indonesia.
Hal itu hanya dihitung dari saldo, jika kekayaan bersih yang dihitung semua barang dan benda yang dimiliki Alseenio mungkin lebih dari itu.
Kemungkinan besar Alseenio sudah masuk ke jajaran peringkat 50 orang terkaya di dunia. Sungguh prestasi yang luar biasa.
Namun, Alseenio tidak sadar dengan ini, ia tidak begitu memikirkan tentang itu.
Saat ini, ia sedang memanggil Bella melalui telepon untuk memberi tahu tentang mobil yang harus diambil di tempat Yudi Salam.
Mobil barunya yang mewah harus diambil dari sana dan ditaruh di mansion. Seharusnya, waktu di Indonesia tidak beda jauh dengan di China, hanya memiliki perbedaan 1 jam.
Jadi, Alseenio meminta Bella mengambil mobil di hari esok. Yudi Salam juga sudah menghubunginya dan mengabarkan tentang mobil tersebut yang sudah bisa diambil.
Sebetulnya, Alseenio bisa membeli mobil yang diberikan oleh Sistem, harganya masih bisa ia beli dengan mudah. Masih berada di jangkauan ratusan miliar.
[Ding! Melihat kinerja Anda yang sangat bagus dalam menyelesaikan misi Sistem. Sistem memberikan Anda tunjangan sebagai bantuan membayar semua biaya yang diperlukan pada barang-barang yang diberikan oleh Sistem, seperti biaya perawatan, biaya pekerja pilot pesawat, pajak tahunan mobil dan kendaraan lain, pajak bumi dan bangunan rumah, dan lainnya.]
“Eh? Benaran, Sistem?“ Alseenio terkejut sambil memandang kosong ke arah televisi kamar hotel, ia sedang fokus berbicara dengan Sistem dalam hatinya.
[Benar, Tuan Rumah! Pajak Penghasilan, Pajak Harta Kekayaan, Pajak Rumah dan sebagainya akan ditanggung oleh Sistem. Anda tidak perlu memikirkan semua biayanya.]
Senyum Alseenio makin lebar, ia sangat bahagia setelah mendengar ini. Akhirnya, ia benar-benar tidak perlu memikirkan tentang biaya hidup, seperti pajak tahunan dan bulanan, sekarang dia seperti seorang pegawai dalam perusahaan negara yang memiliki banyak tunjangan hidup.
Uangnya pun tidak akan berkurang karena dipakai untuk membayar pajak, Sistem akan membayarnya dalam sepengetahuan Alseenio.
Setelah pemberitahuan ini muncul, Alseenio tidur dengan senyuman manis di wajahnya, ia bermimpi indah dalam tidurnya. Kesenangan tersebut sampai ke mimpinya dan menjadi manifestasi dari suasana hati yang sedang dirasakan oleh Alseenio pada malam itu.
Pada pagi hari selanjutnya, semuanya melakukan sarapan di restoran hotel, Cantika pun ikut sarapan dengan mereka sebelum dirinya diantar menuju hotel asalnya.
Fandick mencari hotel yang disebutkan oleh Cantika, ia berniat untuk mengantarkan Cantika pergi ke hotel tersebut.
Letak hotelnya dekat dengan Jalan Nanjing yang kemarin mereka kunjungi dan menjadi tempat berbelanja, berada di sekitar 1 kilometer dari Jalan Nanjing, terbilang dekat.
Usai makan, mereka semua berangkat mengantarkan Cantika kembali ke hotelnya.
Mereka memesan ojek mobil atau taksi daring, di sini ada ojek yang sama seperti Gokar di Indonesia, cukup praktis dan mudah apabila ingin pergi ke suatu tempat yang ada di wilayah ini.
Sama seperti kemarin, mereka tidak berhenti di depan hotel, mereka ingin berjalan beberapa ratus meter hingga ke lokasi tujuan. Anggap saja olahraga kecil selama liburan. Tetap memelihara tubuh agar tetap sehat dan kuat dalam perjalanan.
__ADS_1
Tepat ketika rombongan Alseenio sampai di depan hotel Cantika, mereka melihat 6 orang wanita yang berdiri di depan hotel.
Wajah mereka terlihat cemas dan khawatir, tetapi begitu mereka melihat kedatangan Alseenio dan lainnya, wajahnya berubah. Mata keenam wanita ini bercahaya, perasaan cemas menghilang digantikan oleh hati yang lega.
Kemudian, keenam wanita ini berjalan bersamaan menuju rombongan Alseenio yang mendekat ke depan hotel.
“Cantika, kamu ke mana saja semalam? Kami semua khawatir ….“
Salah satu wanita berambut panjang yang diikat kuda menghampiri Cantika dan mengambil tangannya. Tampak ada rasa bersalah pada matanya.
“Maafkan aku, Cantika. Tentang sikapku semalam yang dingin padamu, aku salah, aku salah telah egois, maaf ….“ Wanita ini menatap Cantika dengan wajah yang serius dengan tatapan yang penuh penyesalan.
“Tidak apa-apa, Keisya. Aku telah memaafkannya dari semalam.“ Cantika tersenyum dan memeluk temannya.
Teman-teman yang lain merasa senang karena masalah sudah terselesaikan, Alseenio dan yang lain pun ikut senang.
Temannya yang menjadi permasalahan Cantika bernama Keisya, dia adalah teman dekat Cantika, dan semalam dia mendinginkan sifatnya terhadap Cantika. Memang ada perasaan egois dan ingin menang semalam. Namun, ketika melihat Cantika tidak pulang ke hotel selama 1 malam, dia akhirnya tersadar dengan perilakunya yang telah membuat teman dekatnya sakit hati.
Pada dasarnya, kesalahan memang berasal dari dirinya sendiri dan bukan Cantika.
“Kamu kenapa tidak pulang ke hotel, Cantika?“ Salah satu temannya bertanya dan menatap cantika dengan penasaran.
“Anu, itu aku lupa jalannya dan kebetulan tidak membawa jaket, dan ponselku ada di dalam kantung jaketku. Karena itu, aku tidak bisa menghubungi kalian untuk menanyakan jalan. Hehe.“
Bisa-bisanya wanita ini keluar hotel tanpa jaket, padahal sedang musim dingin, dan di luar memiliki suhu yang dingin.
“Sifat ceroboh kamu tidak menghilang.“ Keisya menggelengkan kepalanya.
Alseenio dan yang lainnya berdiri di belakang Cantika dan menyaksikan keenam wanita ini berinteraksi dengan Cantika.
Melihat semuanya menjadi normal, dan masalah Cantika sudah beres, Fandick ikut merasa lega. Masalah yang diceritakan oleh Cantika sudah tuntas secara resmi.
“Dan ini?“ Keisya menatap Alseenio dan lainnya dengan bingung.
Melihat temannya menampilkan wajah bertanya-tanya kepada dirinya, Cantika membisikkan sesuatu kepada Keisya.
Usai dibisikkan, manik mata Keisya membesar ia menatap Alseenio dengan tidak percaya.
Pantas saja pria tinggi dengan rambut pirang kekuning-kuningan ala seorang pangeran ini tampak familier baginya. Ternyata itu adalah idolanya.
“Itu, Kalian semua. Lebih baik kita bicarakan di taman.“
Sehabis kata-kata itu keluar dari mulut Cantika, rombongan Alseenio dan teman-teman cantika berjalan ke taman yang berada di dekat hotel Cantika.
__ADS_1
Di sana, mereka melakukan perkenalan satu per satu. Satu sama lain menjadi kenal, dan Alseenio mengetahui bahwa Cantika dan temannya ini memiliki umur lebih dari 25 tahun.
Mereka belum menikah, tetapi baru lulus dari kuliah. Mereka semua kuliah di satu universitas di Indonesia, lebih tepatnya di salah satu universitas terkenal di Bandung, juga satu jurusan.
Saat ini mereka sedang liburan untuk merayakan kelulusan mereka. Bisa dilihat dari wajah mereka, wanita-wanita ini seperti orang yang memiliki keluarga yang sangat berkecukupan, membeli mobil mewah bukan suatu hal yang sulit.
Wajar saja, apabila lingkaran pertemanan Cantika terlihat elite, mereka memang dari kalangan orang yang mampu.
Fandick yang mengetahui ini menjadi pesimis, ia mulai memandangi dirinya yang menurutnya tidak satu level dengan Cantika. Tidak mungkin bagi pria yang sepertinya bisa mendapatkan wanita cantik dan sempurna seperti Cantika.
Alseenio menyadari ada sesuatu yang dari wajah Fandick, dan sebagai pria ia tahu apa yang dipikirkan oleh Fandick. Selain Alseenio, Sugi juga tahu mengapa Fandick jarang berbicara dan hanya menatap Cantik sembunyi-sembunyi.
Tangan Sugi terangkat, ia menepuk bahu Fandick sambil memberi pandangan yang memiliki, kepala Sugi sedikit mengangguk.
Sebagai seorang teman, Fandick mengetahui arti ini, tanpa sadar ia menatap Alseenio dan Alseenio pun menatapnya dengan makna yang tersirat.
Dalam sekejap, matanya menyala dangan ambisi dan semangat yang membara. Tatapannya yang lesu menghilang, digantikan dengan mata yang penuh optimis.
Dengan pertemuan tidak sengaja ini, mereka semua sepakat untuk liburan bersama.
Dunia dipenuhi kebetulan, cantika dan teman-temannya masih memiliki waktu 5 hari untuk liburan. Sementara itu, Alseenio dan lainnya masih ada waktu 2 hari liburan di kota ini.
Melihat waktu masih banyak, mereka secara mendadak pergi ke suatu tempat yang cukup terkenal di Kota Shanghai, tempat wisata tersebut adalah Taman Disniyland Kota Shanghai.
Saat perjalanan berlangsung, teman-teman Cantika selalu melirik ke arah Fandick dan Cantika. Mereka merasa bahwa keduanya seperti memiliki hubungan yang dekat satu sama lain.
Semenjak mereka tiba di Disniyland, keduanya selalu berjalan bersama, terdapat canda dan tawa di antara mereka berdua. Sampai-sampai Alseenio dan yang lain terasingkan oleh keduanya karena mereka memang benar-benar tampak asyik, seakan-akan dunia milik mereka berdua.
Alseenio dan lainnya tidak ingin mengganggu mereka berdua, membiarkan keduanya saling terhubung perasaannya satu sama lain.
Di tengah mereka sedang menikmati wahana dan tempat hiburan di sini. Alseenio melihat sesosok yang dikenalnya tengah berjalan di depannya.
“Sayang, apakah kamu merasa kenal dengan dua orang yang berjalan di depan kita?“ Alseenio menoleh ke Fara dan bertanya.
Fara mengangguk dan menjawab, “Kukira hanya aku saja, ternyata kamu juga sama sepertiku. Ya, aku merasa akrab dengan tampilan belakang kedua orang ini.“
“Mau kita panggil saja?“ Alseenio sedikit memiringkan kepalanya sambil alisnya terangkat.
“Boleh, coba saja.“
“Baiklah.“
Segera, Alseenio dan Fara mempercepat jalannya dan mulai mendekati sosok yang ada di depan mereka.
__ADS_1