SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 125: Setengah Misi Terselesaikan


__ADS_3

Alseenio menyentuh pipi Fara dan mencubit Lembut. Wanitanya sangat menggemaskan, membuat Alseenio tidak tahan untuk tidak mencubit pipi Fara yang kenyal. “Iya, Sayang.“


Mereka berdua menunggu lebih dari 20 menit di taman sambil memandangi ketenangan air danau, keduanya saling berpelukan dan bermesraan.


Tanpa sadar bahwa orang lain yang sempat melihat mereka berdua langsung menjadi iri hati. Semua orang juga ingin memiliki pasangan yang pengertian dan romantis.


Menunggu lama, tetapi Yochilin belum menampakkan dirinya, bahkan Sugi dan pacarnya pun belum kembali.


Tepat di setengah jam keduanya menunggu, Alseenio mendapatkan pesan dari Yochilin yang bilang bahwa dirinya sudah sampai di Taman Lumpini dan sedang menuju kursi taman yang Alseenio serta Fara duduki.


Dengan lekas Fara memakai maskernya lagi untuk menutupi wajahnya.


Alseenio pun berdiri dan melihat ke sekeliling sambil mencari sosok wanita yang sudah ditunggu dari setengah jam yang lalu.


Begitu mata Alseenio bergerak untuk mencari sosok wanita yang ditunggu, tak lama berselang ia langsung menemukannya.


Seorang wanita menggunakan gaun santai biru muda berjalan bersama seorang pria yang memakai kemeja kotak-kotak abu-abu dan celana hitam.


Mereka berdua adalah Yochilin dan temannya. Keduanya berjalan beriringan menuju Alseenio dan Fara.


Yochilin pada saat ini menampilkan sosoknya dengan baik, dengan rambut panjang tergerai tampak indah ketika diterpa angin.


Pria yang berjalan di samping Yochilin, Alseenio belum mengenalnya, tampaknya pria itu adalah temannya.


Jujur saja, Alseenio tidak percaya orang yang dahulunya seorang pria, kini menjadi seorang wanita cantik yang kecantikannya dan itu mengalahkan banyak wanita asli.


Bahkan kemampuan Sexeyes miliknya mengakui bahwa orang ini memiliki kecantikan yang tinggi dan jarang dimiliki oleh seorang wanita.


Wanita ini berdiri di depan Alseenio dan Fara dan sedikit menundukkan kepalanya seraya berkata, “Sawadee khaa~”


“Sawadee khap!“ Pria yang ada di sebelah Yochi ikut menyapa.


Alseenio dan Fara membalas sapaan dengan ucapan yang sama.


“Sawadee khap!“


“Sawadee khaa ….“


Usai menyapa, Alseenio tersenyum ke mereka berdua dan langsung mengajak mereka ke sebuah tempat yang nyaman untuk mengobrol.


Ada banyak restoran dan kedai minuman yang letaknya tidak jauh dari taman ini. Jadi, Alseenio meminta mereka untuk pergi ke salah satu restoran tersebut.


Di jalan Alseenio menyempatkan diri untuk mengirim pesan kepada Sugi untuk pergi ke restoran yang tengah dituju oleh mereka berempat.


Alseenio merasa kasihan apabila Sugi mencari-cari keberadaannya di taman, sedangkan mereka sudah ada di restoran.

__ADS_1


Dalam restoran keempatnya memesan makanan sambil mengobrol, Alseenio mengungkapkan niatnya mengundang Yochi untuk bertemu dengannya dan Fara.


Respons Yochilin terhadap tujuannya disepakati baik olehnya, Yochi tidak masalah menjadi objek fotonya, lagi pula dirinya sendiri suka berfoto-foto.


Akun Instagrem Yochi banyak sekali gambar dirinya, kebanyakan itu hasil difoto oleh seseorang.


Malah Yochi senang karena berkesempatan diambilkan gambar oleh Alseenio.


Yochi bahkan mengajak Fara berfoto bersama dengannya. Keduanya cepat sekali akrab, Yochi memiliki kepribadian yang ramah dan cepat akrab.


Fara pun tidak risih kepada Yochi, menganggap Yochi sebagaimana seorang wanita pada umumnya.


Keduanya mengagumi satu sama lain, Fara terpana ketika melihat wajah Yochi secara langsung. Untuk orang yang sebelumnya adalah seorang pria, sosok Yochi ini terlalu cantik sebagai seorang trans.


Tampilan Yochi secara langsung lebih cantik ketimbang foto yang ada di media sosialnya.


“Kita mau ambil foto di mana?“ tanya Yochi sambil mengambil makanan dengan sendoknya.


“Di taman yang tadi saja, bagaimana?“ Alseenio menjawab sambil menelan makanan yang diambil oleh Fara.


“Taman Lumpini?“ Tan merenung sesaat. “Menurutku baik-baik saja, di sana cukup bagus dijadikan tempat untuk mengambil gambar.“


Tan adalah teman Yochilin. Memang tampak seperti seorang pacar, tetapi Yochi bilang dia dan Tan adalah teman atau sahabat.


“Baiklah, sehabis ini kita melakukan potret di sana.“ Alseenio mengangguk sambil menatap Yochi dan Tan di kursi seberang.


Tidak hanya Yochi saja, Tan juga ikut difoto oleh Alseenio karena hasil jepretan Alseenio sangat apik, layaknya seorang fotografer profesional.


Fara dan Yochilin sempat diambil gambarnya oleh Alseenio, tetapi itu tidak akan diunggah ke akun instagrem khusus hasil foto yang diambil Alseenio.


Foto itu hanya akan disimpan dan dijadikan kenang-kenangan.


“Bolehkah aku meminta beberapa fotonya?“ Yochi bertanya dengan antusias, ia merasa sangat senang lantaran foto yang diambil Alseenio sangat bagus.


“Tentu.“ Alseenio mengangguk. “Tunggu sebentar, aku akan mengirimkannya kepadamu.“


Setelah mengirimkan beberapa hasil foto Yochi dan Tan, Sistem memberi tahu bahwa misi 50% terselesaikan, butuh 3 orang lagi untuk misi selesai dengan tingkat penyelesaian 100%.


Sesi mengambil foto telah dilakukan, Alseenio mengajak Yochi dan Tan ke mall untuk berbelanja, ia melakukan ini sebagai rasa terima kasihnya karena membantu menyelesaikan misi.


Sasaki yang menjadi target misi juga Alseenio beri hadiah, berupa uang 1 juta yen atau sama dengan 115 juta rupiah.


Pada kesempatan ini, Alseenio memberi 500.000 baht untuk keduanya, atau 250.000 baht masing-masing dari keduanya.


Setengah uangnya Alseenio jadikan barang karena membelikan mereka barang-barang dengan total nilainya sekitar 50 juta rupiah.

__ADS_1


Di malam hari, Yochi mengajak Alseenio dan yang lain ke tempat makan pinggir jalan atau kaki lima kesukaannya, di sana sangat ramai sekali dengan orang-orang, katanya makanan yang dibuat sangat enak.


Letaknya lumayan jauh dari Central World, tetapi relatif dekat jika pulang naik mobil dan bukan berjalan kaki.


“Apa nama makanan ini?“ Alseenio menunjuk ke salah satu makanan yang ada di atas meja mereka berenam.


“Gaeng Daeng atau kari merah ….“ Yochilin tersenyum ke arah Alseenio dan Fara. “Ini sama-sama menggunakan santan seperti Tom Yum. Pastinya kalian sudah tahu Tom Yum.“


Mendengar penjelasan Yochilin, Alseenio mengangguk mengerti, kemudian ia menunjuk makanan yang tersedia di atas meja.


Yochilin dengan sabar menerangkan semua makanan yang dipesan, ucapannya sangat fasih seakan-akan memang pahan akan makanan-makanan yang ada di sini.


Saat Alseenio coba, makanannya memiliki rasa yang enak, benar apa yang dikatakan oleh Yochi, makanan yang ada di warung makan pinggir jalan ini rata-rata rasanya lezat.


Cocok di lidah orang Indonesia walaupun di setiap makanan ada rasa asam.


Dikarenakan letak makanan ini di pinggir jalan dan merakyat, banyak sekali orang yang mengobrol dengan nada suara yang keras sehingga mereka bisa mendengar perkataan mereka.


Mengingat Alseenio, Fara, Sugi, dan Fani tidak mengerti bahasa Thailand, mereka mengabaikan suara bising di sekitar mereka.


Namun, Yochilin tiba-tiba berkata kepada Alseenio bahwa ada beberapa orang yang sedang membicarakan mereka berenam.


Awalnya, Alseenio mengabaikan hal ini, tetapi begitu tahu apa yang diucapkan oleh orang-orang yang membicarakan sesuatu tentang mereka, amarah Alseenio melonjak liar dan ia bangkit dari kursi dan berjalan menuju tempat orang-orang tersebut membicarakan mereka.


Orang-orang yang bergosip ini adalah kumpulan para pria, tubuh mereka dipenuhi tato dan aksesoris layaknya seorang preman, mereka itu membicarakan sesuatu tentang Fara.


Menurut mereka, wanita yang memakai baju ukuran besar memiliki tubuh yang seksi dan mereka hendak memeriksanya secara langsung nanti.


Alseenio tahu apa maksud dari ucapan mereka.


Kumpulan bajingan ini sudah menyentuh titik amarahnya.


Melihat Alseenio yang berdiri dan berjalan ke arahnya, mereka tahu bahwa Alseenio ingin mencari masalah dengan mereka.


Terasa jelas aura tidak senang yang terpancar dari tubuh Alseenio, terlebih tatapan tajamnya.


Mereka sama sekali tidak takut dengan Alseenio, sebab mereka beramai-ramai, 5 orang melawan 1 orang sudah bisa ditebak siapa pemenangnya.


Dengan tubuh yang sengaja ditegakkan, kelima pria ini berdiri dan mendekati diri ke Alseenio yang sedang dalam perjalanan ke arah mereka.


“Apa yang kalian bicarakan tadi?“ Alseenio berdiri menatap kelima orang yang menghalangi dirinya dan bertanya dengan tenang.


“Wanita itu, kami membicarakan dia, kamu tidak suka?“ Pria yang memiliki tato di leher menjawab sambil seringai aneh.


Melihat tangan yang ditunjuk orang ini mengarah ke Fara, Alseenio sudah siap untuk melemparkan kepalan tangan.

__ADS_1


Namun, sebelum Alseenio hendak menyerang mereka berlima, salah satu dari kelima pria lebih dahulu melemparkan pukulan ke arah Alseenio.


Pukulan itu melesat dengan cepat diiringi teriakan umpatan berbahasa Thailand. “Ii sat!“


__ADS_2