
Dengan adanya Misi Spesial satu ini, waktu Alseenio akan tersita hanya untuk menyelesaikan misi saja, menjadi pelayan restoran bukan 1—2 jam saja, melainkan 8 sehari dan itu mengambil waktu Alseenio di siang hari untuk membuat konten.
Alseenio sangat keberatan terhadap Misi Spesial satu ini. Namun, hukuman yang dicantumkan oleh Sistem membuatnya harus melakukan apa yang diperintahkan dalam misi.
Menggelengkan kepalanya, menghembuskan napas panjang, Alseenio bergumam sendiri, “Aku harus mengubah jadwal lagi, besok aku tidak jadi mengajarkan Fara ilmu bela diri, mungkin akan aku undur di sore hari.“
Tidak ada pilihan lagi, dia harus mengalah dan merombak jadwal kegiatannya. Beruntung, Asqa tak jadi untuk meminta Alseenio mengajarinya ilmu bela diri. Alseenio pasti bingung bagaimana cara memberi alasan jika dirinya berhalangan dan tak bisa mengajarkan.
Besok Alseenio harus memakai kemeja lengan pendek berwarna putih, celana panjang hitam, dan sepatu pantofel.
Pakaian tersebut dimiliki Alseenio, ia segera menyiapkan pakaian untuk dipakai besok.
Setelah melakukan persiapan kecil, Alseenio keluar dari kamar dan pergi ke pintu kamar Fara.
Alseenio menjelaskan bahwa dirinya tak bisa mengajarkan kepadanya seni bela diri karena dirinya memiliki pekerjaan.
Ketika mendengar ini, Fara tentunya menanggapi dengan ekspresi kaget di wajah cantiknya.
Ini terlalu tiba-tiba, Alseenio tidak memberi tahu informasi yang sebenarnya ini sangat penting.
“Mengapa kamu mendadak mengirim lamaran pekerjaan ke sana? Ada apa?“ Fara yang tak mengerti dengan tindakan Alseenio ini bertanya dengan ekspresi yang tak mengerti.
Ada jeda beberapa detik sebelum Alseenio menjawab pertanyaan Fara, kemudian ia berkata dengan kikuk, “Aku tiba-tiba ingin merasakan bagaimana menjadi seorang pelayan restoran, hitung-hitung pengalaman hidup.“
“Astaga, Sayang. Kalau begitu, mengapa tidak dari dahulu saja? Mengapa harus sekarang?“
“Anu, aku sudah mengirimkan berkas lamaran beberapa minggu yang lalu, itu pun iseng, aku tidak mencantumkan wajah aku. Entah kenapa lamaranku diterima sekarang. Mau tidak mau aku harus bekerja di sana, paling tidak sebulan.“ Tangan Alseenio terangkat, ia menggaruk kulit kepalanya sedikit gatal.
Sistem menyampaikan bahwa lamaran yang digunakan untuk dirinya bisa sampai diterima tak mencantumkan wajah, tidak tahu bagaimana itu bisa diterima.
Umumnya, akan sulit atau bahkan tak diterima oleh perusahaan mana pun. Pada dasarnya Sistem memang ajaib, ia diterima tanpa jelas.
Wajah Fara menjadi pasrah, ia menghembuskan napas dengan cepat dan menatap Alseenio. “Baiklah, aku tidak bisa melarang kamu, aku hanya bisa mendukung. Besok kamu mau ke kantor pusat, kan? Lebih baik kamu tidur sekarang, nanti kesiangan.“
“Oke, Sayang. Terima kasih sudah mengerti kondisiku.“ Alseenio menarik pinggul Fara ke tubuhnya.
“Sama-sama, Sayang. Sudah menjadi tugasku sebagai calon istri kamu.“ Fara mendongak ke atas dan memandang mata Alseenio dengan wajah yang penuh kelembutan.
Berikutnya, mereka berdua berciuman sebelum pergi tidur di kamar masing-masing.
“Sayang! Bangun! Sudah jam tujuh pagi!“
Suara ketukan pintu yang intens terdengar sayup-sayup, detik berikutnya itu menjadi sangat keras hingga telinga Alseenio merasa bising dan terganggu. Pada akhirnya, Alseenio terbangun dari tidur.
“Sayang! Ayo bangun! Sudah jam tujuh! Katanya kamu mau pergi ke kantor?!“
“Iya-iya. Tunggu sebentar, Sayang ….“
Alseenio menutup mulutnya yang terbuka lebar karena menguap, kemudian ia mengibaskan selimut yang menutupi tubuhnya dan mengambil ponsel di meja sebelah ranjang untuk melihat jam.
Saat melihat jam di ponsel, Alseenio melihat bahwa jam baru menuju pukul jam setengah 6 pagi, sangat jauh dari jam 7 pagi.
Ia rasa Fara sengaja membangunkannya dengan cara itu agar dia tidak terlambat.
__ADS_1
Ceklek!
Pintu kamar Alseenio terbuka, sosok Fara yang imut dan menggemaskan berdiri di depan pintu kamar dengan pakaian santai di rumah. Gunung kembar masih samar-samar terlihat menonjol dari balik bajunya.
Tanpa berbicara sepatah kata, Alseenio mengangkat tubuh Fara dan mencium bibirnya sambil menggendong.
“Kamu berbohong, ini baru jam setengah enam pagi, bahkan jam enam pagi pun belum datang.“
“Haha, sengaja aku katakan jam tujuh agar kamu cepat bangun, bukannya kamu akan berangkat jam setengah delapan?“ Fara sedikit tertawa dan tangannya memegang dagu Alseenio untuk dielus.
“Benar, aku harus ada di sana jam delapan pagi nanti.“
“Nah, sekarang kamu pergi ke bawah, aku sudah menyiapkan makanan untukmu.“
“Oke, Sayang.“
Alseenio bergegas cepat menuruni tangga dan pergi lantai bawah, tanpa menurunkan Fara di pelukannya.
“Aa! Sayang, jangan lari!“
Fara berteriak ketika Alseenio berlari di lorong mansion.
Di ruang makan keluarga, Alseenio dan lainnya makan bersama. Masakan di pagi hari ini ada ikut campur tangan Fara selain para pembantu yang biasanya memasak makanan.
“Kamu mau pergi kerja jadi pelayan? Kamu tidak bercanda, kan?“ Bella menunjuk ekspresi tak percaya begitu mendengar ucapan Alseenio sebelumnya.
“Aku serius, ini bukan candaan.“ Alseenio menatap serius ke arah mereka semua.
“Untuk apa bekerja? Bukannya kamu sudah memiliki banyak uang?“ Ibu Fara heran dengan Alseenio yang tiba-tiba ingin berangkat ke kantor untuk panggilan lamaran.
Biasanya, pekerjaan orang biasa cukup berat, tetapi gajinya kecil.
Alseenio tersenyum dan membenarkan tebakan Gondals. “Benar, aku ingin tahu rasanya menjadi seorang Pelayan Restoran. Sebelumnya, aku sudah menjadi seorang Yituber, Tiktoder, tukang ojek, Motovlogger, dan lainnya. Kali ini, aku ingin merasakan bagaimana menjadi profesi lain, salah satunya menjadi Pelayan Restoran.“
Setelah mendengar ini, mereka semua paham dengan maksud Alseenio meski agak janggal, perilaku Alseenio sangat acak sekali hingga ingin menjadi seorang pelayan tanpa ada alasan yang jelas.
“Kurasa kamu di sana tidak bekerja, pulang sebentar, cuma diberi arahan, ya?“ ucap Bella yang memiliki pengalaman bekerja.
“Benar, tampaknya aku hanya diberi arahan, kemudian pulang.“ Alseenio juga merasa seperti itu.
Gondals menambahkan, “Kemungkinan besar kamu ditentukan akan di mana kamu ditempatkan. Restoran TaySatay memiliki banyak cabang di sekitar Jakarta.“
“Tampaknya begitu. Aku akan ceritakan apa yang terjadi nanti.“
Mereka semua mengangguk dan menatap Alseenio, mereka melanjutkan sarapan paginya sampai habis.
Waktu berjalan tanpa ada jeda, tak terasa jam setengah 8 sudah hampir sampai.
Alseenio telah mengenakan pakaian yang dipinta oleh penelepon kemarin, Ibu HRD. Melihat ke cermin, pantulan sosoknya sudah menampilkan sosoknya yang rapi dan sangat tampan.
Memakai pakaian apa pun, Alseenio tetap terlihat tampan dan keren.
Kemeja putih dan celana bahan hitam sangat cocok dengan warna kulit dan rambutnya yang terdiri dari perpaduan hitam dan putih.
__ADS_1
Tangan Alseenio menjinjing tas selempang bermerek Luis Vuton untuk memasukkan buku rekening baru yang diminta oleh Ibu HRD semalam.
Vroom!
Suara nyaring kenalpot sepeda motor R6 yang mampu membuat telinga terangsang terdengar di tempat parkir bawah tanah.
Di detik berikutnya, bayangan hitam keluar dari gerbang dan meluncur membelah jalan raya Kota Jakarta Selatan.
Di pagi hari tidak begitu macet layaknya di sore atau malam hari. Perjalanan Alseenio menuju kantor pusat pun cukup lancar.
Kantor pusat restoran ada di Jakarta pusat dekat Jalan Sudirman.
Setibanya di sana, Alseenio memasukkan sepeda motor ke tempat parkir gedung kantor yang ternyata hanya ada 1 lantai, dan tidak begitu luas, itu juga bergabung dengan tempat tunggu atau tempat satpam menjaga gedung. Biasanya, orang-orang yang melamar kerja menunggu di tempat itu.
Lantai kantor tidak banyak, hanya ada beberapa lantai saja, tidak melebihi 10 lantai.
Melihat kedatangan Alseenio bersama sepeda motor kerennya, perhatian semua orang yang ada di tempat parkir teralihkan, mereka semua terfokus dengan sosok Alseenio yang datang.
Alseenio ke gedung ini memakai jaket. Berhenti di tempat parkir, Alseenio membuka jaketnya sebelum membuka helm.
Gerakan Alseenio diperhatikan oleh semua orang yang ada di tempat tunggu, ada belasan pria dan beberapa wanita, mereka semua mengenakan seragam yang sama dengan Alseenio.
Pada saat, Alseenio membuka helm dan jaketnya dengan tubuh memunggungi mereka.
Mata mereka sedikit membesar, terutama mata wanita yang ada. Mereka tahu bahwa orang yang datang dengan menggunakan sepeda motor mahal memilik sosok baik.
Dari belakang saja sudah terlihat Alseenio ini tinggi, juga berotot sedang, tangannya terlihat kekar tidak berlebihan dengan urat-urat yang menonjol.
Kulit tangan Alseenio pun terlihat putih dan mulus, pastinya orang ini tampan.
Omong-omong, Alseenio sepertinya paling tinggi di antara mereka semu, tinggi 192 cm tak ada yang menyamainya.
“Wow!“
“Lihat matanya! Tampan sekali!“
“Apakah dia sama seperti kita?“
“Akankah kita satu tempat dengan cowok tampan ini?!“
"Aaaa!"
“…”
Saat Alseenio berbalik dan berjalan ke arah mereka semua, semburan seruan kekaguman terdengar di tempat parkir, mereka tidak bisa menahan diri untuk tidak bersuara.
Alseenio dengan memakai masker ajaib, takkan bisa dikenali oleh orang-orang.
Berjalan ke tempat satpam, Alseenio melaporkan kehadirannya dan menyerahkan KTP.
KTP harus ditahan jika mau masuk ke kantor.
Akan tetapi, saat satpam itu membaca nama KTP tersebut, matanya terbelalak dan menatap Alseenio dengan ekspresi yang tidak percaya.
__ADS_1
“Itu, ka–kamu?!“