SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 48: Pergi Menuju Cency


__ADS_3

Sebuah motor yang tampak aneh dikendarai Alseenio, memiliki tampilan depan yang mirip seperti kadal payung yang mengembangkan lehernya. Keseluruhan tampilannya tampak futuristik dan aneh, tetapi tetap keren dipandang oleh mata dan banyak sekali orang yang menyukainya.


Di jalan raya, banyak orang-orang yang mengalihkan pandangannya ke arah sepeda motor yang dinaiki Alseenio begitu sepeda motor ini lewat meskipun sekilas. Kemungkinan besar mereka penasaran dengan sepeda motor Alseenio, sebab visual tubuh sepeda motornya memang aneh dan tidak pernah dijumpai oleh orang-orang di jalan.


Alseenio berkendara santai, selama ia menaiki sepeda motor ini pun rasanya enak-enak saja. Meskipun terlihat sedikit besar bahkan hampir sama dengan motor sport lainnya, sepeda motor ini memilik bobot yang ringan, setangnya pun cukup nyaman dikendalikan.


Memang suara mesinnya yang keluar dari knalpot cukup berisik apabila tuas gasnya ditarik. Walaupun demikian, orang-orang tidak mempermasalahkan hal ini, banyak yang menyukai suara ini, asalkan di jalan tidak arogan dan tidak melanggar peraturan jalan.


Setengah jam berlalu Alseenio melaju di jalan Jakarta sambil berbicara banyak pada kamera yang terpasang di moncong mulut helmnya, akhirnya ia hampir sampai di tempat tujuan, yakni Cency atau Cenayan City.


Di sana, tempat sepeda motor mahal dengan kapasitas cc yang besar berkumpul. Ya, hanya sekadar berkumpul dan berbicara satu sama lain, setelah itu mereka pulang atau makan bersama-sama dan acara lainnya yang diselenggarakan oleh masing-masing mereka.


Di depan jalan yang mengarah ke Cency ini sudah banyak diisi oleh berbagai motor sport, entah itu Kawasaki, Ducati, Yamaha, GSX, dan merek lainnya. Alseenio duga mereka juga memiliki tujuan yang dama dengannya.


Selain itu, banyak seorang fotografer yang berdiri di pinggir jalan untuk memfotokan mereka yang lewat membawa motor sport, Alseenio pun sempat difoto oleh mereka.


Alseenio baru sadar bahwa para pesepeda motor berkapasitas cc besar ini mengerumuninya seperti sedang dikawal, tampaknya mereka tahu apa sepeda motor Alseenio.


Para pesepeda motor ini pun memiliki motor yang cukup mahal, kebanyakan dari mereka membawa Zx-10R dan Yamaha seri R yang harganya ratusan juta, tak bisa diremehkan apalagi disebut murah.


Meskipun akan terkesan murah jika dibandingkan dengan harga sepeda motor Alseenio.


Vroom! Vroom!


Sesekali salah satu dari mereka bertanya di jalan tentang sepeda motornya, apakah ini Vyrus Alyen 988 atau bukan, atau hanya bajakan dan barang palsu.


Tentu, Alseenio jawab seperlunya dan bilang bahwa ini memang Vyrus Alyen, pasalnya dapat dilihat terdapat tulisan Alyen di tubuh sepeda motornya, nanti pun bisa diperiksa apabila sudah sampai Cency.


Tak lama kemudian rombongan yang mengawal Alseenio dan Alseenio pun sampai di tempat parkir berkumpulnya sepeda motor mewah.


Ketika orang-orang melihat sepeda motor Alseenio, mereka berseru karena berbagai alasan, pastinya mereka berseru karena terkejut, terpesona, dan terpana.


Para pengendara sepeda motor yang sempat mengawal Alseenio ini mempersilakan Alseenio untuk masuk ke tempat parkir Cency.


Begitu masuk pun banyak fotografer yang biasanya memotret sepeda motor dari jauh kini mendekati Alseenio dan mengerubungi Alseenio hanya untuk mendapatkan foto keren dari sepeda motornya, tetapi mereka semua tidak berani menyentuh, mereka tahu bahwa sepeda motor ini sangat langka dan juga mahal.


“Gila! Vyrus Alyen 988, Bro!“


“Kenapa tidak ada berita tentang pemilik Vyrus Alyen 988?“


“Orang yang mampu membeli ini pastinya bukan orang biasa, ini bukan masalah uang, melainkan apakah orang yang membeli ini memilik konektivitas yang bagus atau tidak.“


“Pastinya orang yang memiliki ini sultan sungguhan, kamu pasti ngerti maksudku.“


“Keren tubuh sepeda motor ini, seperti alien belalang sembah!“


Alseenio masuk ke dalam tempat parkir Cency dengan santai tanpa sedikitpun rasa malu dan grogi, adaptasinya menjadi seorang terkenal begitu cepat, ia tidak sombong dan tidak terkena star syndrome.


Prinsip Alseenio kuat, bahwa ia berasal dari rakyat biasa dan bukan entitas seseorang yang penting, terlebih apa yang dia miliki bukan sepenuhnya berasal dirinya sendiri. Sistem pun menempa kepribadian baiknya tanpa sepengetahuan Alseenio sendiri walaupun kebiasaannya mengutuk sistem tidak dapat diberhentikan.


Alseenio melihat di tempat parkir ini sudah ada beberapa Motovlogger yang pernah berkenalan dengannya, yaitu Abang MV, Nalpi, Byrand Plos, AMR Rider, dan masih banyak yang lainnya.


Namun, mereka semua tidak mengetahui bahwa Alseenio yang membawa sepeda motor Vyrus Alyen ini. Alseenio juga tidak menyapa mereka karena tak sempat, di sini terlalu ramai jika ia diam di tempat untuk menyapa satu per satu orang yang dikenal itu akan membuat sepeda motor yang di belakangnya tidak bisa masuk.


Sepeda motor Alseenio ditaruh di ujung parkiran, lalu Alseenio turun dari sepeda motornya sambil mengabaikan pandangan orang yang terfokus pada dirinya.


Abang MV, AMR Rider, Byrand Plos, dan pemilik sepeda motor Kawasaki H2 mendekati Alseenio dan mereka ada di barisan terdepan kerumunan.


Wajah-wajah mereka begitu penasaran dengan pemilik sepeda motor ini.


Perlahan tangan Alseenio yang masih mengenakan sarung tangan itu bergerak, ia melepaskan kamera Yopronya dari helm dan diletakkan di atas jok, kemudian Alseenio membuka sabuk helm dan pelan-pelan melepaskan helmnya.


Alseenio memunggungi kerumunan ini sehingga ketika helm terlepas rambut panjangnya jatuh lebih dahulu.

__ADS_1


“Perempuan?“


“Sial! Apakah pemilik ini seorang wanita?“


“Kamu kenal dengan wanita ini?“


“Tidak, aku belum pernah melihat tampilan belakang wanita yang memiliki bahu lebar seperti ini.“


“Aku rasa orang ini juga seorang Motovlogger.“


Lazar yang ikut sunmori bersama Abang MV dan sekarang ia sedang berdiri dekat Abang MV, kebetulan ia melihat pemandangan ini dari jarak dekat, dan kemudian ia bertanya dengan wajah yang penasaran, “Bang MV, kamu tahu dia?“


“Aku tidak yakin aku kenal orang ini atau tidak,” ucap Abang MV yang masih menatap punggung Alseenio. “Namun, punggung ini terasa familiar bagiku.“


Mereka semua yang baru hadir di tempat parkir Cency mulai bergabung untuk melihat Alseenio.


Alseenio meletakkan helm dan sarung tangannya di atas jok setelah mengambil kamera Yopro, kemudian ia mengambil tali kuncir yang Alseenio beli di abang-abang tukang jepitan yang kebetulan berjalan di trotoar jalan yang Alseenio lewati.


Jari-jari tangannya terlihat mahir dalam mengikat rambut, setelah itu rambut Alseenio terikat dengan model Messy Top Knot.


Setelah dirasa sudah cukup rapi, Alseenio menyalakan kamera Yopronya, dan kemudian berbalik menghadap kerumunan secara perlahan.


Sekejap, rasa penasaran orang-orang makin tinggi begitu Alseenio hendak membalikkan badan. Abang MV dan para Motovlogger yang membawa kamera langsung mengarahkan kameranya kepada Alseenio, mereka masih belum tahu bahwa Alseenio pemilik sepeda motor ini.


Di detik berikutnya, wajah Alseenio yang tampan dilihat oleh semua orang, dengan senyum menawan yang terpampang di wajahnya.


“Bang Nio?!“


Anggota Tim Semfack yang tahu Alseenio langsung menyebut nama Alseenio tanpa sadar dengan wajah mereka yang terperangah.


Orang-orang yang belum tahu Alseenio memiliki reaksi yang berbeda, mereka mengagumi keindahan wajah Alseenio dan juga keuangan Alseenio.


“Halo,” sapa Alseenio sambil melambai-lambaikan tangan kanannya.


Setelah sapa-menyapa singkat kepada orang yang belum dikenal, Alseenio perlahan berjalan menuju Abang MV dan kawan-kawan.


Sekali lagi, Abang MV dan temannya bertanya mengenai rambutnya yang panjang, jawaban Alseenio masih sama dengan sebelumnya.


Di sana Alseenio berkenalan dengan pemilik H2 dan Ducati Panigale, ternyata ada seorang Motovlogger Jakarta, ia sempat berkenalan dengannya.


Nama Yitubnya Barad Karan, ia pemilik sepeda motor Ducati Panigale V4.


Selain itu juga, di sini ada sepuh Motovlogger, yaitu KapelRisky nama Yitubnya, orang ini memiliki sepeda motor CBR 600.


Masih banyak orang yang berkenalan dengan Alseenio, orang-orang kaya yang mempunyai sepeda motor idaman orang-orang di sini pun sempat berkenalan dengannya.


“Ini beneran Vyrus Alyen 988?“ tanya Bang Barad.


Barad Karan tahu sepeda motor ini, maka dari itu ia bertanya kepada Alseenio.


Alseenio mengangguk dan berkata, “Ya, kamu boleh melihatnya lebih dekat.“


“Aku boleh melihatnya juga?“ celetuk Byrand Plos yang wajahnya terlihat antusias.


“Boleh-boleh, yang lain juga boleh lihat.“


Alseenio mengizinkan mereka untuk melihat dari jarak yang dekat, tetapi mereka tidak rusuh dan berganti-gantian untuk melihat sepeda motor ini, sebab yang lainnya pun ingin melihat, bukan hanya Abang MV dan kenalan Alseenio yang punya mata, orang lain pun memilikinya.


Para Fotografer pun meminta izin kepada Alseenio sebelum memotret sepeda motornya.


Mereka terorganisir dengan sendirinya, kemungkinan besar mereka tertib karena atas kesadaran dirinya masing-masing.


“Mesinnya memang dari Ducati Panigale, ya?“ tanya Bang Byrand setelah melihat sepeda motor Alseenio.

__ADS_1


Alseenio sedikit mengangguk. “Benar, mesinnya memang dari Ducati Panigale L-twin yang memiliki kapasitas 1.285 cc 4 silinder.“


“Bagaimana cara kamu bisa mendapatkannya, Bang Nio?“


Barad Karan penasaran dengan Alseenio, pria muda ini kenapa bisa mendapatkan sepeda motor ini, sebab orang yang punya uang untuk membeli pun barangnya belum tentu ada, harus ada relasi dengan orang-orang penting dari perusahaan Ducati, kalau tidak itu pastinya sulit.


“Cara mendapatkannya … dengan cara membeli,” jawab Alseenio dengan polos.


Orang-orang pasti tahu cara mendapatkan suatu barang pasti dengan cara membelinya, tetapi yang dimaksud Barad bukan itu.


“Bukan-bukan, maksudku kamu mendapatkannya dari orang atau memesan dari pabrik secara langsung?“ kata Barad dengan serius.


“Oh itu, itu aku langsung pesan dari pabriknya di Italia.“


Dalam sekejap, orang-orang tertegun, kerumunan terdiam hingga suasana menjadi hening sementara.


“Aku memesannya kustom, dan ini bukan varian reguler,” tambah Alseenio dengan wajah yang lugu dan jujur.


Mendesis!


Kulit kepala semua orang mati rasa setelah mendengar kalimat ini, orang kaya pemilik Kawasaki H2 pun termangu.


Meskipun mereka kaya, tetapi mereka tidak memiliki relasi yang luar biasa layaknya Alseenio.


Bang Nalpi menggelengkan kepalanya untuk meredakan keterkejutannya, dan ia bertanya, “Omong-omong, berapa harga untuk membeli sepeda motor ini?“


Begitu mendengar pertanyaan ini, Alseenio enggan untuk memberitahukannya secara terang-terangan, lalu ia meminta Bang Nalpi mendekat, Alseenio ingin membisikkan harganya.


“Wow! so expensive!“ Bang Nalpi membelalak dan berseru.


“Artinya apa, Bang Nalpi?“ tanya Abang MV yang penasaran.


Bang Nalpi menoleh ke arah Abang MV dan menepuk pundaknya, “Kamu Motovlogger terbaik di Bekasi.“


“Terima kasih, Bang Nalpi!“ Abang MV berterima kasih atas pujian Bang Nalpi.


Usai mereka melihat-lihat sepeda motor Alseenio, kini Alseenio dikelilingi oleh pesepeda motor wanita yang kebetulan ikut sunmori di Cency.


“Alseenio, kenapa kamu makin tampan? Kalau begini terus aku lama-lama bisa jatuh cinta.“


“Wajahmu hari demi hari sepertinya bertambah tampan.“


“Alseenio nanti kapan-kapan kita main, ya?“


Tubuh Alseenio langsung gemetar mendengar kata-kata wanita ini, bulu kuduknya pun berdiri. Alseenio berusaha pergi dari wanita-wanita yang liar ini.


Tepat ketika Alseenio berjalan ke depan jalur masuk tempat parkir Cency, ia melihat sosok yang dikenalnya sedang mengendarai sepeda motor Ducati 1199 Panigale SL hendak masuk ke tempat parkir Cency.


“Ryan Laryse?“ panggil Alseenio tanpa sadar.


Sosok ini kebetulan mendengar suara Alseenio, dan langsung menoleh untuk melihat Alseenio.


Tampaknya orang ini mengetahui Alseenio, kemudian pengendara motor Ducati ini menghampiri Alseenio lebih dahulu sebelum masuk ke dalam parkiran.


“Kamu Alseenio, kan?“ sahut orang tersebut.


Benar yang diduga Alseenio, ternyata orang ini adalah Ryan Laryse.


Alseenio bisa mengetahui Ryan Laryse cuma dari matanya saja. Pasalnya, Alseenio masih mengingat dengan jelas sepasang mata yang sedikit acuh tak acuh ketika menolong Fara dan dirinya kemarin lusa.


“Kenapa kamu di sini?“ tanya Ryan Laryse dengan bingung.


Alseenio tersentak, dan ia balik bertanya, “Kamu sendiri kenapa ke sini?“

__ADS_1


__ADS_2