
[Ding! Tidak bercanda, Tuan Rumah. Hadiah yang didapatkan murni karena keberuntungan Anda!]
[Centurion Card adalah Kartu Kredit tanpa limit, iuaran tagihan setiap tahun akan ditanggung oleh Anda sendiri. Kartu hitam ekslusif ini dapat digunakan di berbagai negara, 130 negara. Catatan: harap Anda baca keuntungan atau manfaat dari pemegang Black Card.]
Sesuai dengan saran Sistem, Alseenio segera membaca manfaat yang didapatkan oleh pemegang kartu hitam ini, di antaranya adalah mendapatkan akses VIP di berbagai acara dan hotel, akses Centurion Lounge di bandara internasional, bisa menyewa jet pribadi dan mobil mewah kapan saja, poin reward, buka tutup toko bermerek terkenal, dan masih banyak yang lainnya.
Pada hakikatnya, pemegang kartu hitam ini memiliki akses spesial di beberapa tempat. Tidak akan dipandang remeh, sebab ini adalah kartu legendaris.
“Kartu yang keren. Aku akan pastikan selalu membawa kartu ini mulai sekarang. Benda ini pasti penting dan berguna nantinya.“ Alseenio menatap puas kartu kredit ini, kemudian ia memasukkan kartu hitam tersebut ke dalam dompet, bersama dengan kartu Thailand yang sebelumnya.
Alseenio mengambil kartu terakhir yang memiliki gambar mirip dengan kartu hitam yang baru saja disimpan. “Kartu ini? Kartu ini sedikit mirip dengan Kartu Hitam tadi, kartu apa ini, Sistem?“
[Ding! Kartu tersebut adalah kartu platinum, tingkat atau level kartu ini ada di bawah kartu hitam. Terdapat beberapa manfaat bagi pemegang kartu ini yang sama dengan pemegang kartu hitam, salah satunya, yaitu mendapatkan poin reward ketika melakukan transaksi menggunakan kartu ini. Anda bisa membaca kegunaan poin tersebut.]
Penasaran dengan kartu ini, ia segera mencari informasi tentang kegunaan dan manfaat kartu platinum ini di gugel.
Ketika menemukan artikel yang membahas kartu ini, Alseenio membaca isian artikel dengan saksama dan pandangan yang fokus.
“Ternyata manfaat hotel dan tunjangan bandara termasuk ke dalam kartu platinum ini juga, hanya saja tidak begitu eksklusif seperti kartu hitam, bahkan kartu hitam bisa menutup toko branded untuk kepentingan pribadi,” gumam Alseenio setelah membaca keuntungan dari pemilik kartu platinum Ameks.
Nama bank kedua kartu selain kartu Thailand adalah kartu Ameks atau amerika ekspress. Satu jenis dengan kartu kredit reguler hanya berbeda kasta dan levelnya, lebih masuk ke kartu tagihan yang di mana harus membayar tagihan setiap bulannya setelah melakukan transaksi.
“Ternyata poin reward ini bisa ditukarkan menjadi poin reward khusus hotel Lilton dan beberapa bandara, kurasa itu kurang berguna untukku.“ Alseenio merasa bahwa poin reward ini kurang berguna karena ia tidak tertarik untuk menggunakan poin reward.
Poin reward ini bisa diubah menjadi poin membership group Lilton, di mana itu ia bisa langsung membeli membership atau keanggotaan tamu VIP hotel tanpa menunggu terkumpulnya poin reward dari kartu ini. Mungkin saja akan berguna di masa depan.
Untuk sekarang ini, ia pikir tidak akan terpakai poin rewardnya.
“Omong-omong, bukankah mendapatkan kartu hitam Centurion harus memenuhi syarat menggunakan kartu ameks varian apa saja minimal selama satu tahun? Sedangkan aku baru saja menggunakan kartu ini, dan tak pernah mendapatkannya sama sekali di masa lalu.“ Alseenio membaca persyaratan yang harus dipenuhi agar menjadi pemilik blackcard saat membaca artikel tersebut. Ia merasa bahwa dirinya tidak memenuhi syarat yang ada itu. Ini aneh.
[Pembelian barang, seperti mobil mewah dan motor sport yang Anda dapatkan, dibeli oleh Sistem dengan memakai perantara kartu Ameks dan atas nama Anda.]
[Tidak perlu bingung, sebab Anda sudah memakai kartu Ameks tersebut yang diwakili oleh Sistem.]
Penjelasan yang Sistem beri tahu ini membuat Alseenio paham sepenuhnya terhadap cara kerja hadiah misi.
“Hadiah misi ini dibeli olehmu, Sistem? Bukan yang tiba-tiba ada dan datang tanpa sebab?“ Alseenio menanyakan hal ini dengan rasa penasaran yang besar.
[Benar, hadiah barang dan harta mewah dibeli oleh Sistem dengan memakai banyak cara, salah satunya menggunakan kartu Ameks.]
Setelah memasukkan kartu platinum yang berwarna agak silver ini ke dalam dompetnya, Alseenio bergerak keluar dari ruang keluarga sambil membawa gitar dan laptopnya, kemudian ia membereskan peralatan siaran langsung yang dipakai, hanya pegangan ponsel dan lampu bundar untuk pencahayaan.
Malam yang hitam pekat datang, Alseenio menyalakan semua lampu penerangan di dalam apartemennya.
Pada saat ini, ia hanya melakukan kegiatan menggulir unggahan yang ada di aplikasi Tiktod, Yitub, dan Instagrem. Juga, sesekali ia memainkan gim dewa perang Krajos di PS5, banyak waktu luang, Alseenio tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mengisi waktu senggang ini.
Alseenio setiap hari mengobrol di kolom pesan Whatsupp dengan Fara dan di Telegrom dengan Niara, ia masih berhubungan baik dengan orang yang pernah ditemui, bahkan dengan pengikutnya yang ikut siaran langsung bersamanya.
Setelah makan malam dan mandi, Alseenio bersiap-siap untuk tidur. Namun, sebuah panggilan datang ke ponselnya di jam 9 malam ini.
“Dari Bapak Polisi? Ada apa ini?“ Alseenio melihat bahwa yang meneleponnya adalah Bapak AKP polisi. Dengan lekas ia mengangkatnya.
“Halo, Pak Polisi?“ Alseenio menyapa terlebih dahulu.
“Halo, Tuan Alseenio. Maaf mengganggu waktu istirahatnya,” Bapak Polisi meminta maaf terlebih dahulu kepada Alseenio karena merasa mengganggu.
Alseenio menggelengkan kepalanya sambil memegang ponsel ke telinganya. “Tidak mengganggu, Pak. Ada apa, ya? Apakah ada sesuatu yang perlu saya bantu?“
“Jadi begini, Tuan Alseenio. Kami hanya ingin membertahukan mengenai wanita yang sempat Anda tolong sebelum tragedi pembegalan terjadi. Wanita tersebut masih satu tim dengan dua pria pembegalan tersebut.“
Begitu Alseenio mendengar informasi dari Bapak Polisi ini, ia stagnan matanya melotot tidak percaya. “Tidak ada kesalahan dalam informasi ini, kan?“ tanya Alseenio terburu-buru.
“Tidak ada, Tuan Alseenio. Wanita ini terlalu takut ketika dipanggil ke kantor dan secara terang-terangan ia mengakui semua kejahatannya. Tim begal ini sudah beberapa kali beroperasi dan memakan korban.“ Di balik telepon, Bapak Polisi Bambang dengan tenang memberi tahu informasi ini sembari duduk di kantor. Ia sendiri pun sempat terkejut dengan hasil penyelidikan ini.
__ADS_1
Alseenio memijat dahinya, ia benar-benar tak menyangka orang yang ditolong ternyata anggota begal juga. Pada saat menolong wanita itu, Alseenio murni bertujuan untuk menolong sebagai seorang manusia, sekarang ia merasa dikhianati, kebaikannya disalahgunakan.
“Terima kasih atas informasinya, Pak Polisi. “
Suara Alseenio tidak bergairah, seakan-akan tak ada semangat. Tidak tahu harus bagaimana untuk menanggapi ini. Suasana hati Alseenio saat ini tengah sedih dan kecewa.
“Hanya itu saja yang saya kabarkan, mereka tengah menjalani proses hukum, kami akan beri tahu kepada Anda akhir putusan pengadilan.“
Tampaknya Pak Polisi tahu Alseenio sedang tidak ingin berbicara lebih lama lagi, terasa dari nada bicara Alseenio.
“Baik, Pak. Saya percayakan kasus ini kepada Anda. Saya benar-benar tidak ingin melihat orang-orang itu lagi,” Alseenio berkata sambil memejamkan matanya, mencoba untuk merilekskan pikiran dan tubuhnya.
Setelah itu Alseenio menjawab beberapa patah kata dan panggilan diputuskan oleh Bapak Polisi.
Sama sekali Alseenio tidak berprasangka buruk kepada orang, ia selalu berpikir positif meskipun terkadang mesum. Berita ini benar-benar memukul kepalanya sehingga membuatnya tersadar, bahwa berbuat baik jangan terlalu berlebihan.
Demi keamanan dan keselamatan diri sendiri, ia harus pintar-pintar berbuat baik dan pemilih juga.
Pada dasarnya, tidak semua orang itu baik. Mungkin sekali kebaikan yang diberi akan diperalat oleh orang yang ternyata bukan orang yang baik, sehingga itu berdampak merugikan kepada si pelaku kebaikan.
Kebaikan berujung maut.
Mulai saat ini, Alseenio akan berhati-hati dan mengamati orang-orang yang sekiranya membutuhkan pertolongan. Ia sungguh tak ingin peristiwa ini terjadi lagi.
Duduk di atas kasur sambil menyesap segelas air putih di tangannya, ia menatap kosong ke arah televisi yang ada di depannya. Masih terbayang-bayang peristiwa malam itu.
Masih tidak menyangka, wanita yang tidak terlihat jahat ternyata berbuat buruk kepadanya.
“Sudahlah, aku tak perlu memikirkan hal itu lagi.“ Alseenio mencoba untuk mengalihkan pikirannya ke hal lain selain hal yang mengecewakan tersebut.
Alseenio memutuskan untuk bermain permainan ponsel, permainan seluler yang tengah marak dimainkan oleh orang Indonesia, yakni Mobel Lejen.
Usai mengunduh dan memasang gim tersebut. Alseenio mencoba untuk memainkan permainannya karena penasaran.
Sama sekali Alseenio belum pernah mencoba gim ini, di kehidupan sebelumnya maupun kehidupan sekarang tak pernah menyentuh gim ini, padahal orang-orang di sekitarnya banyak yang sudah bermain permainan seluler ini.
“Ada apa dengan Fara? Tak biasanya dia menelepon jam setengah sepuluh ini.“ Alseenio langsung menerima panggilan dari Fara di detik berikutnya.
“Halo, Nio?“
Suara ciri khas Fara terdengar dari lubang suara ponsel Alseenio. Sama seperti biasa, suaranya membuat hati Alseenio menjadi nyaman.
“Ada apa, Fara?“ Alseenio bertanya dengan nada suara yang lembut.
“Anu … itu ….“ Suara Fara terdengar ragu-ragu di telepon, Alseenio bisa merasakannya dengan jelas.
Mendengar suara Fara yang terkesan ragu ingin berkata sesuatu, Alseenio lekas bertanya, “Kenapa? Bilang saja kepadaku.“
“Umm … bi-bisakah kamu menemaniku malam ini?“ Intonasi suara Fara terdengar gamang. Seperti wanita takut untuk mengucapkan kalimat tersebut kepada Alseenio.
Ketika mendengar ini, Alseenio terkejut dan terheran, kemudian wajahnya menjadi merah perlahan. Sel neuron diaktifkan.
“Maksudmu, aku pergi ke rumahmu malam ini untuk menemanimu?“ Alseenio bertanya dengan wajah yang semangat.
“Bodoh! Bukan itu maksudku!“ Fara langsung marah dengan pipi yang tersipu setelah mendengar jawaban Alseenio.
Alseenio menggaruk pipinya terlihat canggung selepas dibentak tak sengaja oleh Fara. “Kalau bukan itu, lalu apa?“
“Kamu menemaniku lewat telepon saja seperti sekarang, aku harus membuat laporan keuangan toko malam ini, besok harus diberikan ke atasan.“
“Oke, tetapi jangan lama-lama, huaa~” Alseenio sempat menguap ketika berbicara. Jam segini Alseenio sudah merasakan kantuk.
“Iya-iya, aku akan cepat membuat laporannya.“
__ADS_1
Pada akhirnya, sebelum tidur, Alseenio menyempatkan diri untuk menemani Fara yang tengah membuat laporan pekerjaannya sebagai penjaga toko. Hampir dua jam mereka terhubung sampai Fara menyelesaikan membuat laporan.
Sehabis itu, keduanya saling mengucapkan selamat malam dan selamat tidur ke satu sama lain.
Malam itu Alseenio tidur dengan lelap, tanpa ada mimpi buruk yang mengganggunya.
Satu hari berlalu tanpa ada misi sistem yang lainnya, Alseenio hanya fokus menaikkan angka pengikut ketiga akun media sosial yang dimilikinya dengan cara mengunggah foto dan videonya tentang bermain gitar, bernyanyi dan memainkan biola.
Kemampuan biola yang beberapa hari kemarin ia dapatkan akhirnya pakai untuk dipamerkan kepada publik di tiga media sosial sekaligus.
Dengan demikian, ketiga akunnya kini bertambah banyak dari sebelumnya.
Pengikut Tiktodnya sudah mencapai satu juta orang, sedangkan Instagremnya sudah menembus tiga juta pengikut. Akun Yitub ikut berkembang, ada 2,7 juta pelanggan, perkembangan saluran Yitubnya tidak begitu signifikan seperti dua akun media sosial yang lain.
Pada hari ini, di tanggal 16 November 2022, ia sedang berada di rumah Bang Windi dengan membawa mobil Ferrari hitam miliknya.
Ada acara di sini, yaitu makan-makan di rumah teman Windi, rumah Luffi Maliwaman.
Luffi ini juga seorang Yituber, memiliki genre atau konsep Yitub yang sama dengan Windi, hanya saja ia tidak memasukkan gimik hiburan seperti Bang Windi sehingga channel Yitubnya tidak berkembang pesat, padahal Luffi salah satu Yituber lama.
“Sekarang kita berangkat. Bagaimana persiapannya, Bang?“ Bang Windi menepuk pundak Alseenio yang tengah memeriksa perlengkapan di bagasi mobil.
Alseenio menoleh ke samping dan berkata, “Semuanya sudah siap, kita di sana hanya sehari saja, kan?“
“Ya, kita di Bandung hanya sehari saja. Siang hari kamis kita sudah sampai di sini lagi.“ Windi mengangguk.
“Baiklah, aku juga di sana sekaligus ingin menemui teman.“
Rumah Luffi ada di daerah Bandung, cukup jauh dari Bekasi. Oleh karena itu, di jam 6 pagi ini mereka sudah siap untuk berangkat.
Alseenio dari jam 4 pagi berangkat dari apartemennya ke rumah Bang Windi, ia bangun jam setengah empat, dalam setengah jam itu Alseenio melakukan banyak hal, mulai dari membersihkan diri, membawa beberapa perlengkapan untuk menginap satu hari, dan merapikan cepat apartemennya.
“Siapa itu? Jangan-jangan itu teman wanita?“ celetuk Candy sambil menghampiri keduanya begitu ia keluar dari rumah Bang Windi.
Di belakang Candy, ada beberapa anggota Jaya Exford, seperti Mac Markel, Rino Caca, Rijal, Lafhel, Gheska, dan pacar Windi, Agnis.
Total ada dua mobil, satu mobil keluarga dengan 8 kursi dan satunya lagi adalah mobil Alseenio yang memiliki 1 kursi saja.
Candy akan duduk bersama Alseenio di dalam mobil Ferrari miliknya.
Di sana ada 1 kursi kosong agar tidak terlihat sempit.
Alseenio tidak menjawab pertanyaan Candy, ia hanya tersenyum yang memiliki arti.
“Pasti temannya adalah seorang wanita, sudah terlihat dari wajah Bang Nio yang mencurigakan.“ Candy yakin dengan dugaannya bahwa teman Alseenio yang ada di Bandung ada teman wanita.
Mendengar ucapan Candy, semua orang hanya tersenyum diam, tetapi ada satu orang yang tidak tersenyum, yaitu Lafhel, mendengar dugaan Candy, wajahnya menjadi muram dan sedih.
“Ayo kita masuk! Kita akan kesiangan juga terus mengobrol,” Bang Windi menyarankan kepada mereka semua untuk masuk ke dalam mobil. Waktu terus bergerak, mereka akan terlambat sampai di Bandung jika diam di sini terlalu lama.
“Oke, ayo kita berangkat semuanya!“
“Asyik! Aku duduk di mobil mewah, hehe.“ Candy menyeringai aneh dan masuk ke dalam mobil Alseenio terlebih dahulu, ia mendahului pemilik mobilnya.
Segera, mereka semua masuk ke dalam mobil dan pergi menuju kota Bandung.
Mobil Alseenio mengikuti mobil Bang Windi, keduanya berangkat secara beriringan.
Di dalam mobil, Candy melihat-lihat interior mobil, wajahnya tampak kegirangan. “Wow! Mewah sekali!“
Selama di perjalanan, Candy melontarkan puluhan pertanyaan mengenai mobil ini, ia sangat menikmati perjalanan ini.
“Enak sekali memiliki mobil mewah ….“ Candy duduk bersandar dengan tubuh yang rileks sambil menatap santai jalanan yang di depannya.
__ADS_1
Tepat ketika Candy mengucapkan kata-kata itu, sebuah suara sistem tiba-tiba terdengar di kepalanya.
[Ding! Misi Telah Terdeteksi!]