
Semua orang mengalihkan pandangan matanya ke arah mesin tinju yang ada di tengah ring. Mesin tinju yang ada di depan Alseenio terbakar di dalam dan mengeluarkan asap hitam, tampak telah meledak.
Layar mesin tinju yang menampilkan skor pukulan tinju telah mati. Jika diperhatikan dengan baik, mesin tinju ini mundur beberapa sentimeter ke belakang.
Di depan mesin tinju yang terbakar ada Alseenio yang berdiri santai sambil memandang mesin tinju yang rusak. Pupil matanya menunjukkan dirinya yang kebingungan.
Para peserta tinju yang melihat ini pun sama, mereka memandang satu sama lain dengan wajah yang terheran-heran tak mengerti.
“Mengapa mesinnya rusak?“
“Mesinnya rusak karena dipukul Alseenio?“
“Apa yang terjadi dengan mesin tinjunya? Mengapa itu terbakar?“
“Sepertinya itu hanya kebetulan mesinnya rusak.“
“…”
Banyak orang yang mengomentari tentang hal yang baru saja terjadi. Seluruh penonton yang ada di sini terkejut dengan apa yang terjadi pada mesin tinju di atas ring.
Mereka sempat melihat begitu jelas apa yang dilakukan Alseenio terhadap mesin tinju. Dia hanya memukul pelan karung tinju yang ada pada mesin, seperti seseorang yang memukul sesuatu tanpa ada niat dan kegigihan. Terlihat lemas.
Namun, hasilnya sangat besar, dampak dari pukulan Alseenio dapat membuat karung tinju terpental ke belakang dan menciptakan suara redam yang keras.
Penampilan Alseenio meninju mesin tinju yang disediakan terekam dan tersorot oleh kamera dengan sangat jelas karena kamera menembak Alseenio dengan dekat sehingga gerakannya tidak luput dari mata para penonton.
Penonton yang ada di rumah dan menonton acara ini sedang tercengang dengan mata yang terbelalak. Mereka semua menonton layar kaca televisi dengan wajah yang penuh tanda tanya, tak mengerti apa yang telah terjadi pada acara yang mereka saksikan.
Semua penonton di rumah menunggu kejelasan dari pembawa acara tentang hasil pukulan dari Alseenio.
Para peserta, juri, dan penonton yang ada di tempat acara sedang membahas tentang hal ini. Mereka semua yang ada di tempat acara tidak tahu jelas dengan yang terjadi pada mesin.
Alseenio masih berdiri di depan mesin tinju dan dia melirik ke semua orang yang ramai berkomunikasi satu sama lain.
Adik Rei dan Om Dieddy juga terdiam dan hanya menatap sosoknya dengan tilikan mata yang rumit.
Tak lama kemudian, tidak sampai dari kurang 3 menit, suasana yang penuh dengan kebingungan serta ketidakjelasan menghilang usai pembawa acara kembali ke panggung untuk memberi tahu suatu informasi.
Orang-orang di tempat acara telah mengamati gerak-gerik dari pembawa acara dan juri di area sisi kanan ruangan. Wajah pembawa acara dan para juri ini tampak begitu serius sambil berbicara sesuatu yang membuat orang-orang sangat penasaran.
Di akhir perundingan mereka saling mengangguk dengan ekspresi yang dalam. Pembawa acara kembali ke tempatnya, kemudian menatap Alseenio yang berdiri di dalam ring bersama mesin yang rusak dan sudah tidak berasap lagi. Petugas keamanan properti menangani ini.
“Halo, Semuanya! Maaf dengan apa yang sudah terjadi. Tampaknya ada kesalahan pada mesin tinju ini, tim acara akan menggantikan mesin tinju yang rusak dengan yang baru. Kami sudah mengantisipasi hal ini karena mesin tinju memang bisa saja rusak jika dihantam oleh pukulan keras secara terus-menerus, lebih lagi pukulannya berasal dari orang-orang yang memiliki otot yang kuat.“
Pembaca acara dengan senyuman yang agak canggung mulai menjelaskan tentang yang apa terjadi pada mesin tinju. Ketika di perundingan, juri semuanya bilang bahwa mesin ini mungkin mengalami kerusakan akibat dampak keras dari pukulan banyak peserta. Itu hanya asumsi yang dipercaya oleh semua juri, dan dinyatakan benar untuk sementara waktu.
__ADS_1
Alseenio hanya merespons dengan senyuman ketika mendengar keterangan dari pembawa acara ini.
Sejujurnya, Alseenio tidak berpikir bahwa tinjunya bisa sekuat ini, padahal dia sudah mengira-ngira kekuatan yang dipakai untuk memukul mesin tinju ini. Sayangnya, dia salah perhitungan dan pengukuran, dampak pukulannya masih menimbulkan kerusakan yang tinggi.
Menatap mesin tinju yang dibawa oleh tim acara untuk diturunkan, Alseenio bergumam dalam hatinya, “Kurasa aku harus mengurangi kekuatan tinjuku sampai sepuluh persen.“
Beberapa saat kemudian, mesin tinju baru muncul di atas ring.
Untuk percobaan, Peris yang selalu memukul pohon pisang datang untuk mencoba mesin tinju, memastikan mesin tinju bekerja dengan baik atau tidak.
Bam!
Skor tinju dengan cepat dihitung oleh mesin tinju. Layar di mesin tinju menampilkan angka yang selalu berubah. Pada akhirnya, angka yang dimunculkan oleh mesin tinju masih sama dengan skor yang diperoleh oleh Peris di mesin tinju sebelumnya.
Hanya berbeda beberapa poin saja, bahkan di mesin tinju yang baru lebih rendah sedikit dari skor poin sebelumnya yang Peris didapatkan, padahal tinju yang dia lontarkan sudah sekuat tenaga yang dia bisa keluarkan.
Para juri dan penganalisis mengangguk memiliki makna. Mesin tinju ini masih memiliki perhitungan dan parameter yang sama dengan mesin tinju sebelumnya.
Seharusnya, itu tidak apa-apa untuk dipakai lagi.
Setelah diperiksa bahwa tidak ada keanehan pada mesin tinju yang baru, Alseenio dipersilakan untuk memulai gilirannya meninju mesin tinju.
Alseenio berdiri di depan mesin tinju, matanya menatap tajam ke arah bola tinju yang menggantung, tangannya perlahan terkepal dengan erat, kemudian dia melemparkan pukulan tangan kanannya tanpa ragu.
Skor sudah menunjukkan di angka 900 dan itu terus melonjak naik begitu cepat. Hanya dalam hitungan detik, itu sudah sampai di angka 970 ke atas.
Pada akhirnya, skor Alseenio berhenti di angka 992 poin.
Melihat angka ini, semua orang langsung meledak dengan teriakan dan sorakan yang keras.
Orang-orang menjadi ribut, mereka semua berteriak merayakan hasil tinju Alseenio yang begitu tinggi.
Mereka semua terbelalak dan tercengang sambil berteriak kegirangan, terlebih para penggemar Alseenio, mereka paling kencang jeritannya.
“Wow! Sangat hebat!“
“Kamu keren, Nio! Aku sayang kamu!“
“Om Botak kalah oleh Alseenio! Kuat sekali!“
“Sangat kuat pangeranku, aku menyukaimu!“
“Keras sekali pukulannya!“
“Kerja bagus!“
__ADS_1
“…”
Pada saat ini, Om Dieddy menatap Alseenio dengan pandangan yang terkejut, tetapi pandangannya berubah beriringan dengan senyuman yang muncul di wajahnya. Om Dieddy tahu bahwa pukulan Alseenio tadi bukan pukulan penuhnya.
“Cukup hebat, pukulannya bisa mengalahkan kamu, Died. Pantas untuk seorang yang bisa bertarung.“ Adik Rei menatap Om Dieddy dan tersenyum.
Mendengar ucapan adik Rei, Om Dieddy merespons dengan senyuman, dan dia berkata dengan senyuman yang berbeda, “Dia memang hebat. Kamu juga, Adik Rei. Bukan atlet petarung dan hanya bodybuilder bisa memiliki pukulan yang begitu kuat.“
Adik Rei mengangguk dan tersenyum lebar sambil merangkul Om Dieddy.
Mereka berdua mengobrol sesaat dan terlihat gembira.
Fara yang melihat ini pada awalnya terkejut dan tampak seperti ada yang salah, tetapi dia langsung mengerti mengapa Alseenio melakukan hal tersebut.
“Ternyata Alseenio benar-benar kuat! Aku sangat menyukainya!“
“Ototnya bukan hiasan, itu benar-benar otot yang kuat!“
“Acara yang cukup seru! Menyaksikan orang-orang yang ingin memamerkan kekuatan tinjunya.“
“Bakat dan prestasi baru terbuka untuk Alseenio! Pria segudang bakat!“
“Sangat jantan! Pria seperti ini tidak akan menangis jika terkena kipas tangan.“
“…”
Dengan hasil dari skor para peserta tersebut, para juri sudah menentukan siapa pemenangnya.
Hadiah tidak dibagikan hanya untuk juara 1, ada hadiah yang berbeda yang akan diberikan kepada sang juara 2 dan juara 3, beberapa juara yang ke bawah pun memiliki hadiah yang berbeda lagi.
Acara ini tak terasa telah berjalan selama berjam-jam. Setiap peserta yang ingin menampilkan performa tinjunya akan diberi waktu kurang lebih 15 menit. Selama waktu itu berjalan, para peserta hanya boleh memukul sampai 3 kali kesempatan jika dirasa pukulan awal dan yang lainnya bukan pukulan maksimalnya.
Pada sekarang ini, di penghujung acara, pengumuman pemenang kompetisi satu ini siap dilaksanakan.
Di atas panggung, sudah terdapat 3 orang pria yang berdiri berjajar rapi ke samping selain kedua pembawa acara.
Di tengah panggung berdiri seorang pria dengan otot tubuh yang begitu besar, pria ini adalah Adik Rei. Di sebelah kiri Adik Rei ada seorang pria berkepala botak yang memiliki otot yang cukup besar, meskipun tidak sebesar Adik Rei. Dan terakhir, di sebelah kanan di atas panggung, seorang pria tampan yang berdiri dengan tubuh atas yang memiliki otot yang sempurna dan indah, siapa lagi jika bukan Alseenio.
Alseenio berdiri di atas panggung sambil menampilkan senyuman yang dapat membunuh hati para wanita.
Di suatu kamar mandi di dalam sebuah rumah besar, seorang wanita tengah mandi sambil menyaksikan acara Pukulan Terdahsyat di Bumi.
Wanita ini mendadak menjadi aneh gelagatnya ketika melihat wajah Alseenio yang ditampilkan di layar ponselnya.
“Aku tidak kuat!“
__ADS_1