SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 121: Sampai di Jepang


__ADS_3

Alseenio berpikir untuk membeli jet pribadi yang lain, tetapi ia tidak tahu kapan harus membelinya, karena untuk sekarang ini belum terlalu dibutuhkan.


Sangat disayangi apabila ia membeli jet pribadi, tetapi jarang dipakai dan digunakan, mengingat ia jarang pergi ke luar negeri, hanya membuang-buang uang saja, lebih banyak kerugiannya.


Pesawat ini saja biaya perawatan ditanggung oleh Alseenio sendiri, termasuk gaji pilot dan pramugari, biaya parkir juga, dan pajak, Alseenio harus menghabiskan 88 miliar per tahun untuk semua biaya yang menyangkut hal jet pribadi.


Sistem hanya memberikan unit saja, Alseenio berharap Sistem juga menanggung biaya operasional dan perawatan semua barang mewah yang dipunya.


Untuk saat ini belum dibutuhkan memiliki jet pribadi yang lebih mahal, kemungkinan besar di masa depan Alseenio akan membeli jet pribadi lebih besar dari yang ia miliki saat ini.


Selama hampir 8 jam, pesawat jet milik Alseenio sampai ke Bandara Internasional Tokyo, Jepang.


Pesawat Gulfstream G650 mampu sampai ke Bandar Udara Internasional Tokyo dari Bandara Soekarno-Hatta dalam sekali perjalanan. Hal itu dikarenakan jangkauan maksimum pesawat ini hampir menyentuh 13.000 kilometer, sedangkan jarak Bandar Udara Soekarno-Hatta ke Bandara Internasional Tokyo hanya 5.800 kilometer.


Setibanya mereka di Jepang, langit sudah redup dan akan menjadi langit malam.


Suhu di Jepang sangat berbeda dengan di Indonesia, di sini sangat dingin karena telah memasuki musim dingin.


Tampak ada beberapa tumpukan salju di beberapa titik di Bandara Tokyo, beruntungnya mereka tiba bukan di waktu turunnya badai salju.


Sugi telah memesan hotel di Kota Tokyo, tentu bukan hotel murah karena Alseenio meminta memesan kamar di hotel berbintang sekaligus ia meminta untuk menyewa mobil untuk bisa ke hotel lebih cepat.


Mereka semua sudah melakukan persiapan yang matang, mereka semuanya turun dengan menggunakan jaket tebal khusus musim dingin.


Sebelum pergi, mereka semua sudah tahu musim yang sedang turun di Jepang, jadi mereka membawa perlengkapan baju yang cocok di musim dingin.


Setelah itu, mereka semua naik 3 mobil mewah yang Alseenio sewa, mobil Toyita Camry Hybrid.


Ketiga mobil melaju meninggalkan Bandara Tokyo dan pergi ke hotel di pusat Kota Tokyo.


Sesampainya di hotel, mereka makan bersama di restoran yang ada di lobi hotel, tawa dan canda menghiasi obrolan mereka semuanya.


“Apa kalian diundang sama Om Dedi Buldozer untuk syuting Indonesia Riwain?“ Tiba-tiba Alseenio bertanya kepada Bang Luffi dan yang lainnya.


Sontak Bang Windi menoleh ke arah Alseenio dan menjawab, “Ya, aku diundang sama Om Dedi bulan lalu.“


“Aku enggak, Bang Nio.“

__ADS_1


“Apalagi aku. Belum pernah sana sekali aku diajak untuk masuk ke Indonesia Riwain.“


Bang Luffi dan Bang Birand sama-sama menjawab bahwa mereka tidak diundang.


Alseenio bertanya perihal tersebut karena beberapa menit yang lalu ia mendapatkan pesan Instagrem dari Om Dedi Buldozer yang berisi undangan ikut syuting pembuatan video Indonesia Riwain.


Biasanya di akhir tahun akan ada sebuah video yang meringkas atau merangkum kejadian-kejadian yang tren atau panas dalam satu tahun tersebut. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam 1 tahun itu akan dibuatkan video rangkuman dengan pembawaan yang asyik dan konsep yang keren.


Namun, Alseenio sepertinya tidak bisa ikut karena ada urusan yang penting baginya, yaitu menyelesaikan misi.


“Aku diundang, tetapi aku tidak bisa ikut syuting,” kata Alseenio seraya menggelengkan kepalanya.


“Mengapa? Sayang sekali jika tidak ikut … Bang Nio.“ Birand menatap Alseenio dan menelan makanan di mulutnya.


“Benar, padahal itu video hanya setahun sekali,” tambah Bang Luffi yang juga merasa menyayangkan Alseenio menyia-nyiakan kesempatan.


Sebenarnya, Alseenio ingin tahu dan bertemu dengan orang-orang yang ikut Indonesia Riwain, kebetulan ada misi dari Sistem yang menghalangi, ia tidak bisa menolak misi, kalau dibiarkan gagal Alseenio menanggung hukuman yang tercantum pada panel misi.


Pastinya, Alseenio tidak ingin menerima hukuman dari Misi, kalau dirinya bisa milih dari kedua pilihan antara dihukum oleh Sistem dengan dihukum oleh hakim negara, ia lebih memilih dihukum oleh hakim, paling tidak itu tidak sekejam seperti Sistem.


Mulut Alseenio melengkung naik, tersenyum kepada mereka semua dan berkata, “Aku ada urusan lain sehabis dari Jepang ini. Tidak ada waktu kosong untuk ikut syuting.“


“Wajar saja, tidak apa-apa jika tidak ikut juga.“


Mendengar alasan Alseenio tak memungkinkan untuk ikut, mereka semua paham dan mengerti, memaklumi mengapa Alseenio tidak bisa ke sana untuk syuting.


“Namun, bukannya Bang Windi ikut? Kapan syutingnya?“ Bang Luffi bertanya sambil menikmati suapan dari sang Istri tercinta.


Bang Windi tidak langsung menjawab, ia mengunyah makanan yang diberikan Kak Agnis sampai bisa ditelan. “Awal bulan November kalau tidak salah, sudah sebulan.“


“Bagaimana di sana? Apakah seru?“ tanya Bang Birand yang penasaran dengan syuting Indonesia Riwain tahun ini.


“Lumayan seru, banyak Tiktoder yang ikut di sana.“ Bang Windi menusuk daging udang dengan garpu. “Eh, kalian mau tahu aku jadi pemeran apa di sana?“


“Jadi apa?“


Mereka semua ingin tahu bagian apa yang Bang Windi terima dari proyek ini.

__ADS_1


“Aku jadi Pratos dari Good of War, bagaimana menurut kalian, cocok, kan?“ Bang Windi melirik mereka semua dengan tatapan yang berharap mereka setuju dengan tanggapannya.


“Cocok apabila Bang Windi botak, sesuai dengan karakter Pratos.“


Bang Windi tanpa sadar memegangi rambut begitu mendengar ucapan Bang Luffi. “Waduh, sulit direalisasikan ….“


“Jadi ingat Bang Windi versi anak kecil yang main Stambel Gei, hahaha,” tambah Bang Luffi yang teringat dengan momen Bang Windi pura-pura menjadi anak kecil yang suka berkata kasar.


“Lucu banget Bang Windi versi itu, aku tertawa terbahak-bahak semalaman, haha ….“


Tawa mereka semua menginfeksi Alseenio untuk tertawa, Bang Windi versi bocil memang sangat lucu, terlebih ketika marah dan mengeluarkan kata-kata umpatan.


Wanita-wanita hanya bisa mendengarkan mereka mengobrol dan tersenyum walaupun tidak mengerti apa yang dibicarakan, terlebih Fara dan Pacar Sugi.


Keduanya adalah orang baru di dunia Yitub, Fara tidak begitu aktif di Yitub dan media sosial yang lain.


Setelah berbincang bersama dan makan malam, mereka istirahat di kamar masing-masing, total ada 5 kamar yang dipesan, pria dan wanita tentunya pisah, apalagi yang masih berstatus pacar, Bang Luffi dan Kak Diya tidak pisah, Alseenio memberi kamar untuk keduanya, sebab mereka pasangan yang resmi dan juga sah.


Besok paginya, mereka pergi dari hotel menuju tempat wisata pertama, yaitu Menara Tokyo.


Di sana mereka berfoto bersama dan tidak lupa untuk memajang di media sosial masing-masing.


Banyak rekan-rekan Yituber dari Jaya Exford dan lainnya yang menanyakan kabar mereka di Jepang. Suasana di sini bagus meski bersuhu dingin dan harus berpakaian tebal.


Dari Menara Tokyo, mereka melanjutkan perjalanan ke kafe kucing terdekat sambil menghangatkan tubuh, di luar sangat dingin, mereka belum begitu terbiasa.


“Aaa! Lucunya, Pusii!“


“Puss, pus, sini kucing yang lucu!“


Wanita-wanita sering kali berseru gemas begitu datang ke kafe ini, mereka tidak tahan melihat keimutan hewan berbulu ini, kucing memang hewan yang disukai oleh wanita dan pria.


Sementara itu, pria-pria lebih fokus ke pelayan yang memakai pakaian seperti kucing ini, sangat cantik dan menggemaskan, pria menyukai spesies kucing yang ini dibandingkan kucing normal.


Pelayan berkostum mirip kucing lebih disukai oleh pria-pria, wajah mereka seketika menjadi aneh.


Alseenio tidak termasuk, ia dengan santai meminum kopi di tangannya sambil memandangi sosok Fara.

__ADS_1


“Hei, kalian sedang lihat apa?!“


__ADS_2