SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 128: Misi Berbagi Uang Random


__ADS_3

Dalam perjalanan, Alseenio dan Fara mengobrol banyak hal. Banyak topik yang ia bahas, terlebih mengenai sesuatu yang ada di internet.


Begitu mendengar Alseenio ingin berbagi uang, Fara dengan senang hati mendukung niatnya, ia tak masalah dengan perbuatan tersebut, malah ia mendukung penuh niat Alseenio.


Sesama manusia harus berbagi. Mengingat Alseenio sering kali memberi uang ke orang, Fara sudah mulai terbiasa dengan keborosan Alseenio, meskipun ia tetap harus mengingatkannya.


Namun, ada sesuatu yang Fara tidak tahu, pendapatan dari Tiktod, Alseenio salurkan ke lembaga amal. Rencananya, penghasilan dari Yitub, Alseenio ambil 30% dan 70% yang sisanya dialokasikan ke lembaga sosial dan amal. Setengah penghasilan 70% akan diberikan ke lembaga yanng ada di situs, dan setengahnya lagi diberikan secara langsung atau tatap muka.


Informasi tentang ini, Alseenio belum beri tahu kepada Fara, ia lupa untuk memberi tahu perihal tersebut.


Tinn! Tin!


Suara klakson mobil dan sepeda motor terdengar di jalan raya. Banyak orang yang terburu-buru sehingga menjadi tak sabaran lantaran dihadapkan oleh kemacetan. Mereka dengan penuh emosi menekan tombol klakson sampai berkali-kali, terus mendesak kendaraan di depan untuk terus maju. Padahal, kendaraan di depannya pun tak bisa maju.


Jalanan di sore hari di Jakarta cukup ramai, banyak orang yang berkendara untuk pergi ke suatu tempat. Jalan raya sedikit macet dan padat. Untungnya, sepeda motor Alseenio masih bisa melaju dan lolos dari macet.


“Kita mau bagi-bagi uang di mana, Sayang?“ Fara yang duduk di kursi sepeda motor belakang bertanya dengan nada yang penasaran.


Alseenio dengan tenang mengendalikan setang sepeda motor, dan ia menjawab pertanyaan Fara, “Kita akan cari orang yang tepat yang tengah berjalan di trotoar sepanjang jalan kita ke belakang Mall GI”


“Orang yang sedang jalan di trotoar?“


“Iya, jika ada orang yang tampak membutuhkan dan ada di jalan khusus pejalan kaki atau trotoar, kita akan memberi uang kepada orang tersebut,” Alseenio menjelaskan lagi agar Fara mengerti.


“Ouh, oke! Aku mengerti!“ Fara mengangguk menunjukkan dirinya telah paham. “Aku akan membantu mencari.“


“Baiklah, Sayang. Beri tahu aku kalau kamu melihat seseorang yang menurutmu pantas dibagikan uang.“


“Siap, Kapten!“


Setelah obrolan tersebut, Fara dengan serius menjalankan tugasnya, ia melihat ke sisi jalan yang terdapat trotoar, berharap menemukan orang yang layak mereka berikan uang.


Sepeda motor Alseenio terus melaju menuju ke arah Jakarta Pusat. Banyak sekali jalan raya yang mereka lalui, tetapi mereka tak kunjung menemukan target.


Pada saat sepeda motor melewati jalan dekat apartemen Alseenio yang ditempati Bang Windi, Fara menemukan seorang pengendara ojek daring yang sedang memberhentikan sepeda motor di sisi trotoar.


Pengendara ojek ini tampak tua, bisa dilihat dengab jelas rambut dan janggut orang ini, sudah banyak rambut yang memutih. Uban rambut yang dialami pria ini diakibatkan oleh faktor usia.


Garis-garis halus banyak bermunculan di sekujur wajah pria ini. Dengan demikian, Fara langsung memberi tahu Alseenio bahwa ada orang yang pantas dibantu.


Dengan sigap, Alseenio memutar jalan karena orang yang dimaksud oleh Fara telah terlewati. Jadi ia harus memutar dan melewati jalan yang dilalui tadi.


Pria tua yang sehabis mengantarkan penumpang dan hendak beristirahat tersebut memalingkan wajahnya ke arah Alseenio dan Fara yang tiba-tiba datang dan berhenti di samping sepeda motor milik Pria tua.


Pria tua tersebut memandang Alseenio dengan ekspresi wajah yang biasa saja, berpikir Alseenio dan Fara juga ingin berhenti dan istirahat di kursi umum trotoar seperti dirinya.


Pria tua ini sempat memandang sepeda motor Alseenio dengan takjub, penampilan sepeda motor Alseenio bukan seperti kendaraan biasa.


“Halo, Pak!“


Begitu turun dari sepeda motor, Alseenio menyapa Pria tua tersebut sembari memegangi tangan Fara.


Mendengar Alseenio menyapanya, bapak pengendara ojek tersebut tersenyum dan balas menyahut, “Halo.“


Terlihat jelas senyuman Pria tua seperti yang dipaksakan. Pria tua tersebut kelelahan, tetapi berusaha tetap tersenyum kepada orang lain.

__ADS_1


Perlahan Alseenio duduk di sebelah Bapak tua ini dan Fara duduk di sebelah Alseenio. “Sedang apa, Pak?“


“Istirahat habis narik pesanan, Nak. Kalian mau ke mana?“


“Oh, begitu. Kita mau ke Bundaran HI, Pak.“


Ternyata Bapak ojek satu ini sangat ramah, tidak cuek dan galak. Tahu sifat Bapak yang mudah berbaur, Alseenio dengan natural mengobrol dengan Bapak ini.


Usai berbincang selama belasan menit, Alseenio mengetahui nama dari Bapak ini, namanya adalah Bapak Goni yang sudah berusia 52 tahun, tetapi tetap bekerja demi menafkahi keluarganya.


Alseenio salut dengan ketangguhan dan tekad Bapak Gono mencari uang. Meskipun sudah berumur, semangat kerja tetap membara.


Tepat ketika Alseenio mengobrol dengan Bapak Gono, penjual minuman yang naik sepeda melewati mereka.


Fara yang sibuk mendengarkan keduanya mengobrol, dengab cekatan memberi kode kepada Alseenio melalui gerakan tepuk paha Alseenio.


Ternyata tidak hanya Fara yang memperhatikan penjual minuman keliling naik sepeda ini, Alseenio dan Bapak Gono juga melirik penjual tersebut.


“Pak, mau minum?“ tanya Alseenio kepada Bapak Gono yang sudah tidak terlihat kelelahan seperti beberapa menit yang lalu.


“Bapak tidak punya uang, kamu saja yang beli minum, bapak tidak usah.“ Bapak Gono menggelengkan kepalanya.


“Tenang, aku yang belikan, Pak.“ Alseenio tersenyum dan menatap wajah tua Bapak Gono.


“Ya sudah, terserah kamu saja, Nak.“ Bapak Gono membalas tersenyum dan menerima tawaran dari Alseenio.


Segera, Alseenio memberhentikan penjual minuman dan memesan minuman instan untuk mereka bertiga.


Alseenio dan Bapak Gono memesan kopi hitam, sedangkan Fara memesan minuman es jeruk saset.


Penjual minuman ini bernama Firdaus, usianya 38 tahun, sudah memiliki istri dan 2 anak.


“Bapak Gono dan Bapak Firdaus mau uang tidak?“ Alseenio bertanya dengan sopan sambil mengaktifkan tempramen lembut agar pertanyaannya tidak menyinggung.


“Uang? Tentu saja mau,” jawab Bapak Firdaus tanpa malu.


Pria ini sangat menjorok ke inti, tidak banyak omong basa-basi dan juga kerap bercanda selama mengobrol dengan Alseenio dan Bapak Gono.


“Bapak mau uang, makanya Bapak kerja jadi tukang ojek,” Bapak Gono ikut merespons pertanyaan Alseenio.


Melihat jawaban mereka, Alseenio mengangguk dan melanjutkan, “Aku ada uang, Pak. Kalian mau? Tetapi ada syaratnya.“


“Mau, tetapi uang legal, kan?“ Bapak Firdaus dengan cepat bertanya balik.


“Tentu saja, ini bukan uang gelap dan hasil curian, uang ini seratus persen legal.“ Alseenio mengangguk tegas dan meyakinkan mereka bahwa uang yang ia miliki adalah uang sah.


“Boleh, apa syaratnya, Nak?“ Bapak Gono tertarik dan menanyakan perihal syarat yang dimaksud Alseenio.


Alseenio memegang sebuah tas selempang di tubuhnya, isinya adalah uang yang jumlah totalnya 50 juta rupiah. Uang tersebut akan Alseenio bagikan ke 5 orang yang beruntung dan terpilih olehnya.


Sudut mulut Alseenio melengkung dan ia mulai menjabarkan syaratnya, “Syaratnya adalah Bapak Gono dan Bapak Firdaus harus berkata 'Siu' sambil bergerak seperti ini.“


Tangan Alseenio menyodorkan ponselnya yang sedang memutar video pesepak bola terkenal yaitu C. Penaldo yang sedang selebrasi ala dirinya sendiri.


Selebrasinya melompat dan menyilang tangan sesaat, kemudian mendarat sambil membuka silang tangan dan mengucapkan kata “Siu”.

__ADS_1


“Oh, aku tahu ini, aku bisa melakukannya,” ujar Bapak Firdaus yang berani dan menerima persyaratannya.


“Namun, Bapak Firdaus harus berkata keras saat mengucapkan kata 'siu' sambil bergaya ala Penaldo,” Alseenio mengingatkan Bapak Firdaus agar misi tidak gagal memindai bahwa Bapak Firdaus adalah target misi yang berhasil melakukan syarat.


“Oke, aku siap. Mau dimulai sekarang?“ Bapak Firdaus berdiri dan bersiap-siap untuk melakukan selebrasi.


“Boleh,” kata Alseenio sembari mengangguk. “Ayo mulai selebrasinya, Pak Firdaus!“


“Siap!“ seru Bapak Firdaus dengan semangat.


Berikutnya, di bawah tatapan Alseenio, Fara, Bapak Gono, dan orang yang lewat di jalan raya, Bapak Firdaus melompat dan bergaya layaknya seorang Penaldo seraya berkata, “Siuuu!“


Suaranya begitu keras sehingga orang di jarak belasan meter menoleh dan melihat ke arah Bapak Firdaus.


Alseenio, Fara, dan Bapak Gono menahan tawa begitu melihat aksi Bapak Firdaus, kelihatan sangat lucu.


Setelah itu, Alseenio memberikan banyak uang 100.000 yang jumlah nilainya 10 juta kepada Bapak Firdaus.


Tangan Bapak Firdaus bergetar saat memegang uang sebanyak ini, dan kemudian ia menatap Alseenio dengan tidak percaya.


Melihat pandangan Bapak Firdaus, Alseenio melempar senyuman dan mengangguk, menandakan bahwa uang ini sungguhan diberikan kepadanya.


“Ini imbalan karena telah menerima tantangan dariku. Uang legal, kok. Jangan takut, Pak Firdaus.“ Alseenio menepuk pelan pundak Bapak Firdaus.


“Ini …. Terima kasih banyak!“


Bapak Firdaus ingin mencium tangan Alseenio, tetapi Alseenio dengan cepat menarik tangannya supaya tidak dicium oleh Bapak Firdaus.


Melihat ini, Bapak Gono terkejut, ia tak menyangka anak di depannya ini benar-benar memberi uang kepada orang hanya dengan syarat konyol itu.


Usai memberi uang, kini giliran Bapak Gono yang diberi uang karena telah memenuhi syarat untuk dibagikan uang.


Aksi Bapak Gono tidak selucu Bapak Firdaus yang bersemangat, Bapak Gono sudah bilang ia sudah tua, tak boleh melompat tinggi.


Namun, ucapan kata 'siu' yang dilontarkan oleh Bapak Gono sangat keras, sama seperti Bapak Firdaus.


Orang-orang mulai ramai, banyak orang yang mengerumuni mereka dan ingin melihat apa yang mereka lakukan.


Melihat uang yang diberikan Alseenio kepasa Bapak Gono dan Bapak Firdaus, banyak orang yang ingin mencoba.


Akan tetapi, melihat mereka adalah orang pekerja kantoran dan pekerja di toko yang cukup terkenal dengan gaji UMR dan masih muda juga, Alseenio berpamitan dengan kedua bapak-bapak tersebut.


Alseenio menghindari kerumunan dan pergi bersama Fara meninggalkan banyak orang-orang.


Vroom!


Sepeda motor Harley DavidDisini yang bersuara berat meluncur dan pergi ke tempat tujuan.


“Aku masih merasa lucu mengingat kedua bapak-bapak itu selebrasi seperti Penaldo, Sayang. Hahaha!“


Fara yang duduk di belakang itu tertawa ketika mengingat Bapak Gono dan Bapak Firdaus melakukan selebrasi.


“Namanya juga sudah bapak-bapak, tidak gagah seperti saat muda, Sayang,” kata Alseenio. “Mungkin aku kalau sudah tua juga seperti itu. Kamu masih mau jika aku seperti itu perawakannya?“


“Tentu saja, aku juga sudah tua tidak cantik seperti sekarang, kamu yakin mau sama aku saat penampilanku tua layaknya ibu-ibu?“ Fara membalikkan pertanyaan.

__ADS_1


“Aku akan selalu bersamamu sampai ajal kematian datang!"


__ADS_2