SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 167: Seorang Dikenal ke Restoran


__ADS_3

“Pelayan!“ teriak seorang pria yang duduk di meja makan nomor 7 di restoran.


Mendengar panggilan keras ini, Linda yang sebagai pemimpin bagian depan berinisiatif datang untuk menanyakan sesuatu kepada pelanggan ini.


Begitu Linda sampai di depan meja pria tersebut, sebuah ocehan ditujukan kepada Linda dengan ekspresi yang tidak ramah.


Linda terkejut, tetapi ia menahan emosinya dan mendengarkan kalimat yang dilontarkan oleh pria ini.


“Makanan saya mana? Mengapa belum datang?! Saya sudah menunggu sekitar lima belas menit di sini. Oh, iya. Ada banyak yang aku tidak suka di sini, kursi tidak higienis, aku masih bisa melihat banyak bakteri yang bertebaran, lebih lagi bagian meja ini! Lihatlah! Ada genangan air kecil di sini! Ini restoran apa, sih?! Kalian niat berjualan atau tidak?!“ Saking marahnya, pria ini sampai menunjuk kening Linda dan mendorongnya hingga kepala Linda terdorong ke belakang.


Suara keras yang dikeluarkan oleh pria satu ini membuat banyak mata teralihkan ke arah mereka berdua.


Sebagai karyawan lama di restoran ini, Linda sudah pernah menghadapi beberapa peristiwa yang semacam ini. Dia menunggu sampai orang ini tidak berhenti bicara dan emosi orang ini sedikit menurun.


“Maaf, Pak, atas ketidaknyamanannya. Saya hanya ingin memberi tahu bahwa makanan Anda sedang dimasak dan sebentar lagi—”


“Masih dimasak?! Lama sekali! Kalau begini aku lebih baik pergi dan makan di restoran lain!“ Pria ini mengambil tas koper kotak di atas meja hendak pergi.


“Pak, Anda tidak bisa begitu. Pesanan telah diterima dan sedang disajikan, tak lama lagi makanannya siap dan saya akan membawakannya!“ Linda menjadi panik begitu melihat gerakan pria ini yang ingin beranjak pergi dari meja. Ia menahan pria ini untuk pergi dan menjelaskan dengan cepat supaya pria ini tidak pergi.


Pelanggan satu ini tampaknya sulit dan berbeda dari orang yang lain.


“Sampai kapan aku harus menunggu makanan ada di depanku?!“ Pria ini melototi Linda dengan wajah yang menunjukkan perasaan yang marah.


“Sebentar, saya akan memeriksanya terlebih dahulu.“ Linda hendak berbalik untuk pergi ke dapur dan menanyakan pesanan makanan dari pria ini.


Tepat ketika dirinya ingin berbalik, sebuah suara Alseenio yang penuh kelembutan dan kejantanan terdengar di telinga Linda.


“Makanannya sudah ada di sini.“


Begitu berbalik, Linda melihat Alseenio yang sedang membawa nampan makanan berbentuk kotak dengan satu tangan kirinya, terdapat 2 piring keramik besar di atas nampan ini, makanan yang dibawa Alseenio adalah 2 ikan gurame yang berbeda cara masaknya, goreng dan bakar.


Kedatangan Alseenio bagaikan orang yang membutuhkan uang tiba-tiba mendapatkan uang dari orang yang baik. Linda merasa lega atas kehadiran Alseenio yang membawa makanan ini.


Dengan gegas ia meletakkan kedua makanan ini di atas meja nomor 7.


“Silakan, Pak! Makanan Anda sudah datang, tersisa beberapa pesanan lagi. Mohon ditunggu sejenak,” ucap Linda dengan ekspresi ramah di wajahnya.


Pria ini menatap makanan yang datang untuk beberapa saat, nafsu makan yang telah lama hilang kembali datang dalam sekejap.

__ADS_1


Tanpa sadar, pria ini duduk kembali ke kursi meja nomor 7 dan melihat ikan gurame goreng yang terlihat renyah dari tampilan luar.


Akan tetapi, emosinya masih terpatri di dalam tubuhnya. Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat untuk menyingkirkan sebuah perasaan hipnotis ini.


Matanya yang lunak kembali mengencang dan melotot ke arah Linda.


“Baru dua makanan ini saja? Kopi susu tetes dan es cendolnya mana?!“ protes pria satu ini.


Wajah dari pria ini makin lama dilihat makin membuat memberi kesan kepada orang bahwa dirinya orang yang banyak bertingkah. Sangat cocok untuk dijadikan bahan latihan tinju.


Linda sudah marah di dalam hatinya, ingin sekali dirinya menjambak rambut pria satu ini dan membantingnya ke meja.


“Ada di sini, Pak. Selamat menikmati!“ Alseenio yang datang kembali dari dapur langsung tiba beberapa detik berikutnya setelah mengantarkan makanan.


Kali ini ia membawakan pesanan lain dari pria ini berupa es cendol dan kopi tetes.


Tanpa menunggu Linda menurunkan makanan, Alseenio menaruh kedua minuman ini ke atas meja dan tak lupa untuk berbicara ramah dengan pelanggan.


“Oke,” jawab pria ini tanpa ekspresi wajah.


Pria ini terlihat bingung, antara ingin marah dan menikmati makanan.


Pelanggan sudah kembali normal dan tidak menjadi banteng yang mudah marah lagi. Untungnya, pria ini tidak mengenakan pakaian berwarna merah, jika iya, itu akan disebut banteng merah marah.


Alseenio dan Linda kembali dari meja makan nomor 7 di tengah perhatian banyak pelanggan.


Peristiwa barusan sangat heboh karena nada tinggi suara pria tersebut yang membuat perhatian semuanya diarahkan ke dirinya.


Ternyata permasalahan karena makanan lama datangnya.


Sebelumnya, pelayan yang mencatat pesanan makana sudah mengimbau kepada mereka untuk sabar menunggu pesanan mereka semua datang, durasinya memang lebih lama sampai kurang lebih setengah jam, dan itu durasi paling lama untuk menunggu makanan datang. Pasalnya, restoran sedang ramai yang membuat proses memasak dan mengolah makanan memerlukan waktu yang lebih lama.


Beberapa pelanggan yang merasakan kekesalan karena makanannya belum sampai, padahal sudah menunggu lebih dari 20 menit, mereka menjadi tenang dan memiliki pikiran bahwa makanannya akan datang sebentar lagi.


Alseenio dan Hilman dengan gerakan yang cepat dan lincah membawakan makanan pelanggan satu per satu. Hanya butuh kurang dari 30 menit atau setengah jam untuk mereka berdua menyelesaikan semua makanan yang dipesan oleh semua pelanggan.


Kebanyakan makanan diantarkan oleh Alseenio karena ia berjalan bergerak sangat cepat, bahkan Linda tidak tahu tiba-tiba Alseenio muncul di lorong tempat mengambil makanan.


Pekerjaan menjadi lebih cepat dengan adanya Alseenio. Beberapa keluhan Alseenio hadapi dan selesaikan dengan mudah, terlebih dengan para pelanggan wanita.

__ADS_1


Cukup mengeluarkan suara magnetis, aura negatif dari kemarahan para pelanggan luluh dan luntur begitu saja. Mereka menerima informasi dari Alseenio bahwa makanan akan datang sesaat lagi.


Para pelanggan tidak tahu bahwa dapur restoran sudah sangat berantakan akibat para karyawan bekerja dengan cekatan penuh tanpa berleha-leha.


Membuat makanan bukan suatu kegiatan yang instan. Mereka kira restoran ini dikerjakan oleh mesin.


Tidak ada yang instan di dunia ini, bahkan buang air besar pun butuh proses untuk keluar.


“Bagus, Asep. Menghadapi para pelanggan yang mudah naik darah dan pitam harus dihadapi dengan tenang dan ucapan yang ramah. Jikalau kita membalasnya dengan ucapan yang sama kerasnya, itu akan mengakibatkan masalah kecil menjadi besar dan akan merembet ke mana-mana. Tetap tenang, santai, dan baik,” kata Linda kepada Alseenio yang ucapannya ini ditunjukkan kepada rekan-rekan kerja, termasuk Hilman.


“Aku paham.“ Alseenio mengangguk mengerti.


Hilman dan lainnya pun ikut mengangguk sebagai respons dari ucapan Linda.


Tak lama Alseenio bekerja, Hilman tiba-tiba berhenti membantu mencuci piring karena ia disuruh oleh Linda pulang. Sudah waktunya Hilman pulang.


Untuk karyawan yang masuk di jam 7 akan pulang di jam 3 sore. Saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul jam 3 lebih belasan menit, sudah waktunya Hilman pulang.


“Pulang dahulu, Bang! Semangat kerjanya!“ Hilman berpamitan kepada Alseenio dan memberi salam perpisahan berupa fist bump.


Semua karyawan belakang disapa oleh Hilman dan melakukan fist bump, orang ini memang ramah dan sangat netral, jarang orang yang tipe seperti ini dibenci oleh orang-orang.


Setelah Hilman pulang, Alseenio mengerjakan bagian tugas mencuci piring sampai jam 5 sore hingga akhirnya Linda datang untuk memberi tahu kepadanya dirinya butuh bantuan.


Di lantai 2 ada banyak pelanggan yang akan datang, Alseenio ditugaskan untuk membantu Bang Ilham melayani para pelanggan nanti.


Mereka akan datang di jam setengah 7 malam.


Alseenio menerima tugas ini dan bergerak ke lantai 2 untuk menyiapkan meja untuk 23 orang lebih sesuai dengan nomor meja yang pelanggan pilih.


Harus dibersihkan terlebih dahulu mejanya dan pastikan tidak ada genangan air kecil. Padahal, genangan air kecil yang pria tadi siang permasalahkan adalan air dari semprotan cairan pembersih meja. Bukan air aneh dan jorok.


Usai selesai menyiapkan makanan, Alseenio berdiri di dekat meja-meja yang ditandai untuk pelanggan menunggu pelanggan tersebut datang.


Dikarenakan lama, Alseenio pergi ke dalam, tempat lift makanan berada. Mereka tak perlu ke bawah untuk mengantarkan makanan, cukup menunggu lift makanan membawakan makanan sampai ke atas.


Tepat ketika Alseenio berjalan keluar, sebuah wajah yang dikenalnya muncul dan berjalan ke arah Bang Ilham.


Kaki Alseenio berhenti melangkah dan menatap seseorang ini dengan tatapan yang terkejut.

__ADS_1


__ADS_2