
Fara menjelaskan panjang lebar alasannya pergi tanpa pamit kepada Alseenio, semua itu tidak ada yang dimanipulasi olehnya dan murni terjadi tanpa ada satu pun kedustaan.
Selama penjelasan mengenai alasan tersebut diucapkan, Alseenio mendengar dengan seksama dan menyimaknya dengan hati-hati, ini penjelasan yang paling ingin Alseenio tahu.
Dengan demikian, penjelasan yang Fara berikan mudah dipahami oleh Alseenio, secara keseluruhan Alseenio dapat menyimpulkan bahwa kejadian Fara pergi tanpa sempat untuk pamit bukan kemauan Fara untuk terjadi.
Itu memang semuanya di luar jangkauan Fara, apalagi dahulu Fara masih kecil dan tidak begitu tahu masalah orang tuanya.
Orang tuanya memang sudah memutuskan untuk pindah dari jauh-jauh hari tanpa memberi tahu Fara, tiba-tiba saja beberapa hari setelah lulus, ia pindah di pagi hari dan itu tidak diberi kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Alseenio, bahkan Fara sendiri pun terkejut, ia dibawa pergi oleh kedua orang tuanya secara mendadak.
Fara tidak bisa menjelaskannya lebih detail persoalan apa yang menyebabkan orang tuanya tiba-tiba memutuskan untuk pindah rumah.
Masalah ini sudah masuk ke sesuatu yang paling dalam di keluarganya, Fara belum bisa mengungkapkan dan memberikan masalah internal tersebut kepada Alseenio.
Alseenio hanya bisa menghormati pilihan Fara, ia tidak bisa memaksakan Fara untuk menerangkan masalahnya.
“Jadi, aku sekarang meminta maaf kepadamu Alseenio, aku sebenarnya juga tidak ingin pergi dari sini, mau tidak mau aku harus ikut orang tua, tidak ada pilihan lain lagi aku memang harus ikut,” kata Fara menatap Alseenio dengan perasaan yang bersalah.
Setelah mendengarkan ucapan permohonan maaf Fara, Alseenio menghela napas panjang, dan berkata pelan, “Aku tidak merasa kamu itu telah membuat kesalahan, hanya saja aku merasa bimbang dan gelisah ketika kamu menghilang begitu saja tanpa omongan apa-apa, banyak hal yang aku pikirkan setelah itu.“
“Maaf, Nio. Aku benar-benar tidak berniat untuk pergi, maaf ….“ Fara menundukkan kepalanya dan menahan untuk tidak menangis.
Kini Fara yang merasa sangat bersalah karena telah membuat Alseenio merasa gelisah dan sedih.
Sejujurnya, perasaan tersebut bukan cuma Alseenio yang merasakan, Fara sendiri pun sama, ia mengalami perasaan menyakitkan tersebut setelah jauh dari Alseenio.
Entah itu orang yang ditinggal dan yang meninggalkan, keduanya pasti merasakan sakitnya perpisahan.
“Kamu tidak salah, itu memang keputusan orang tuamu, kita sebagai anak hanya bisa menuruti mereka selagi itu bernilai positif.“
Alseenio tidak menyalahkan Fara, sedari tadi ia meyakinkan kepada Fara bahwa tidak ada yang dalam perpisahan ini.
Seorang anak sudah seharusnya menurut kepada kedua orang tuanya, terlebih ketika kecil di saat kita memang sedang masa-masanya sangat bergantung pada orang tua.
Pandangan mata Alseenio terpaku ke wajah Fara yang sedang mengarah ke bawah, Alseenio masih bisa melihat ekspresi bersalah dan sedih di wajah Fara.
Alseenio menghembuskan napas, dan berkata, “Sekarang kamu ada di sini, aku dan kamu bertemu lagi layaknya waktu kita kecil. Aku harap kamu tidak pergi tanpa pamit seperti dahulu. Jikalau kamu ingin pergi, usahakan untuk bilang dam beri tahu kepadaku apapun kondisinya, apakah kamu bisa melakukan itu?“
Begitu Fara mendengar kata-kata Alseenio, ia mengangkat wajahnya perlahan dan memandang Alseenio dengan wajah yang berubah-ubah.
Fara sedang berpikir dan menimbang permintaan yang Alseenio ajukan.
Perlu penilaian diri dan situasi untuk menentukan keputusan di antara pilihan sanggup dan tidaknya menanggung sebuah perjanjian yang dilakukan secara tidak langsung ini.
“Baik, aku bisa melakukan itu.“ Fara mengangguk dan melihat Alseenio dengan tegas.
Sudut mulut Alseenio melengkung perlahan setelah mendengar jawaban Fara, lalu ia mengedepankan tubuhnya sambil mengulurkan jari kelingkingnya ke arah Fara. “Janji?“
Alseenio menatap mata Fara dengan tatapan yang lembut dan sedikit terasa seduktif.
Melihat wajah Alseenio saat ini, Fara tiba-tiba tersentak terkejut sesaat, suatu adegan yang sangat bernuansa nostalgia terjadi sekarang.
Ia melihat bayangan dari sosok Alseenio waktu masih kecil dahulu yang pernah melakukan sebuah perjanjian dengannya ketika bermain permainan tradisional bersama yang melarang untuk berbuat kecurangan.
Timbul senyum manis khas Fara yang ditampilkan jelas kepada Alseenio, tangannya pelan-pelan menjulur, lalu jari kelingkingnya yang lebih kecil dari Alseenio itu mengait dengan keliling Alseenio.
“Iya, aku berjanji!“
Kedua jari kelingking tersebut saling terkait satu dengan yang lain, secara otomatis perjanjian antara keduanya berhasil dibuat.
Setelah perjanjian itu terjadi, mereka berdua segera melepaskan jarinya masing-masing dan duduk dengan normal.
Suasana di antara mereka terasa harmonis dan bahagia.
“Omong-omong, kenapa kamu memakai baju rapih seperti itu?“
Fara baru menyadari pakaian yang dikenakan Alseenio sangat terlihat rapih seakan-akan sedang ingin bertemu dengan orang yang penting.
“Aku berencana akan pergi hari ini ke suatu tempat dan bertemu orang-orang, makanya aku memakai pakaian seperti ini,” kata Alseenio sambil merapihkan pakaiannya.
“Oh, begitu. Apakah tempat orang penting? Bertemu dengan pemilik suatu perusahaan?“ tanya Fara yang ingin tahu.
Alseenio menggelengkan kepalanya, dan menjawab, “Tidak-tidak, aku ingin pergi ke panti asuhan untuk menyumbangkan pakaian lamaku yang sudah tidak terpakai dan juga beberapa barang.“
“Aku lupa, sepertinya kamu memang sudah pindah, ya? Aku tidak begitu memerhatikan latar belakang di video siaran langsungmu.“ Fara menepuk keningnya dan baru ingat bahwa latar belakang siaran langsung Alseenio bukan di rumah ini.
Namun, dari tindakan cerobohnya tersebut ia bisa bertemu dengan Alseenio lagi.
“Pantas saja kamu ke sini, ternyata kamu masih menyangka aku tinggal di sini,” ujar Alseenio mengehela napas ringan. “Kamu pernah menonton siaran langsungku di Instagrem?“
“Emm … iya, soalnya aku melihat berita tentangmu di internet dan aku langsung penasaran, ketika aku memeriksa akun Instagremmu, kebetulan aku melihat kamu tengah melakukan siaran langsung,“ Fara mengangguk dan berkata sedikit malu.
Meskipun Fara kurang baik parasnya dibandingkan dengan wanita lain, senyumannya tetap yang paling berkesan bagi Alseenio.
Ketika malu, postur duduk Fara pasti sama seperti apa yang Alseenio tahu, yaitu Fara akan meletakkan tangannya di atas kedua pahanya yang sudah dirapatkan, sesekali ia memainkan jari-jarinya yang ada di atas pangkuannya sendiri.
Terlihat lucu dan manis.
“Jangan-jangan kamu termasuk penggemarku, ya?“ Alseenio mulai candaannya lagi.
“Tidak! Kata siapa?“ Fara mengangkat kepalanya dengan cepat dan menyanggah dugaan Alseenio.
“Kataku, haha.“
“Hum! Sepertinya kamu ingin merasakan cubitan dan jeweranku lagi.“ Fara berdiri sambil memamerkan kepalan tangan dan jari-jarinya yang terlihat cantik ke arah Alseenio.
Alseenio mengubah wajahnya sangat cepat bahkan pesawat siluman kalah dengan kecepatan wajah Alseenio yang berubah.
“Tidak, terima kasih atas tawarannya.“
__ADS_1
Cubitan dan jeweran Fara membuat Alseenio trauma, ia tidak ingin merasakan rasa perih yang bersemayam selama beberapa hari di kulitnya.
Cubitan Fara dapat menimbulkan rasa nyeri dan perih yang hebat, bahkan itu berlangsung sangat lama sampai berhari-hari lamanya.
“Oke.“ Fara kembali duduk di kursinya.
Tepat ketika Fara meletakkan bokongnya di atas kursi, Alseenio mendengar suara kematian dari Sistem di telinganya.
“Sial, ini lagi!“
[Ding! Misi Terdeteksi!]
Misi : Ajak Fara untuk ikut ke panti asuhan dan membantu Anda dalam memindahkan barang-barang.
Syarat : Uang sumbangan 100 Juta Rupiah, Fara bangga kepada Anda.
Waktu : Satu hari ini.
Hadiah : 1x Kotak Misteri.
Hukuman : Joni tidak bisa berdiri selamanya.
[Misi Otomatis Diterima!]
Melihat sebaris kalimat di panel layar transparan di depannya, Alseenio hanya merespons dengan senyuman, cuma bisa pasrah dengan keadaan.
Misi bajingan telah muncul kembali dengan hukuman di luar nalar, kini Alseenio mulai terbiasa dengan Misi Sistem.
“Kamu mau ikut ke panti asuhan bersamaku?“ Tiba-tiba Alseenio mengajak Fara untuk pergi bersama.
“Emm ….“
Fara terdiam sambil memegang dagunya sebentar, dan kemudian ia mengangguk. “Baiklah, aku ikut denganmu.“
“Oke.“
Alseenio bangkit dari tempat duduk di ruang tamu dan pergi ke kamarnya, semua barang-barang yang akan dibawa ada di dalam kamarnya.
Di belakang Alseenio terdapat Fara yang mengekorinya, tetapi ia tidak ikut masuk ke dalam kamar dan hanya diam di depan pintu kamar.
Satu per satu kotak yang berisikan barang di dalamnya diangkat oleh Alseenio dan dibawa ke dalam mobil Ferrarinya.
Fara ditinggalkan di rumah untuk membantu mengelola barang yang sesuai dengan jenisnya.
Mereka saling bekerjasama dengan baik, Alseenio yang mengangkut dan Fara yang mengklasifikasikan barang kembali serta menata barang agar semuanya masuk ke dalam kotak.
Setelah semua kotak barang yang ada di kamar telah habis, Alseenio dan Fara keluar dari rumah dan tidak lupa menguncinya.
Kemudian keduanya berjalan menuju tempat mobil Ferarri Alseenio terparkir.
Fara masih belum tahu mengenai mobil Alseenio, dia cuma tahu bahwa Alseenio membawa mobil itu juga karena Alseenio yang memberi tahu.
Begitu Fara mendekati mobil, Alseenio melepaskan jas hitamnya dan menaruhnya di atas bahu kecil Fara.
Fara terkejut dengan tindakan Alseenio dan ia menoleh melihat Alseenio yanga ada di sampingnya.
“Tutupi tubuhmu dengan jasku.“
Sebuah kalimat yang sederhana keluar dari mulut Alseenio.
Namun, kalimat ini memiliki dampak yang baik bagi Fara, hati Fara merasa hangat dan manis, lalu ia mengangguk dan menutupi tubuh atasnya dengan jas hitam Alseenio.
Pakaian Fara memang tampak begitu menonjolkan bobanya, Alseenio melihat baju Fara seperti sudah terlalu kecil dan tidak begitu layak dipakai.
Sangat berbahaya jika Fara berdandan seperti ini.
“Permisi-permisi.“
Alseenio membelah kerumunan orang dengan mudah, itu karena orang-orang sudah tahu dengan Alseenio yang merupakan pemilik mobil.
Fara mencubit kemeja putih Alseenio dan mengikutinya.
Tangan Alseenio terulur dan membuka pintu untuk Fara, selepas itu ia membuka pintu mobil untuk dirinya sendiri masuk ke dalam.
Brooom!
Suara raungan mobil Ferrari yang ganas seperti suara tembakan senapan api terdengar.
Orang-orang yang ada di sekitar mobil menjauh dan membuka ruang untuk mobil Alseenio bergerak.
Kaki Alseenio menginjak pedal gas dan mobil hitam melaju meninggalkan kerumunan.
Di dalam mobil, Alseenio mengaktifkan kamera Yopro yang menghadap ke arahnya yang sedang mengendarai mobil.
Fara tidak ingin disorot kamera dan hanya memperbolehkan suaranya yang boleh didengar. Fara sudah tahu bahwa Alseenio seorang Yituber, sebab ia pernah melihat cerita Instagremnya yang mempromosikan channel Yitub.
Sebagai seorang teman, Fara mendukung Alseenio dengan cara mengikuti akun Instagrem dan channel Yitub Alseenio, ia mendukung penuh apa yang Alseenio jalani.
Sepanjang jalan mereka berdua mengobrol dan bercanda, tidak ada rasa canggung di keduanya, tetapi Fara seperti membatasi gerakannya, gerakan tubuhnya terlihat kaku, seakan ia tidak ingin merusak interior mobil Alseenio.
Fara tahu bahwa mobil Alseenio adalah barang yang mahal, ia tidak ingin merusaknya karena ia tidak memiliki uang untuk mengganti kerugian kerusakan.
Jujur, Fara senang melihat Alseenio yang sudah sukses, terlepas dari itu Fara terkadang bingung dan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri mengenai wajah Alseenio yang sangat tampan, sungguh ia tidak menyangka Alseenio akan tumbuh setampan ini.
“Kenapa tubuhmu terlihat kaku setelah aku amati? Apakah suhu pendinginnya terlalu dingin?“ tanya Alseenio yang menyadari keanehan Fara dan tangannya siap mengatur suhu pendingin mobil.
“Tidak, sudah pas suhunya,” ucap Fara sambil menggelengkan kepalanya.
“Lalu, kenapa kamu tampak kaku bagai robot seperti itu?“
__ADS_1
“Aku hanya belum terbiasa duduk di mobil semewah ini, Nio.“ Lara menundukkan pandangannya dan melihat jari-jari kukunya yang bersih.
“Hahaha, santai saja. Aku akan membawamu dengan mobilku agar kamu terbiasa nantinya.“ Alseenio tertawa sembari fokus mengendarai mobil.
Fara menanggapinya dengan senyuman.
“Omong-omong, bagaimana papah sama mamah kamu di sana?“ tanya Alseenio untuk melanjutkan topik.
Fara memandangi jalan dan menjawab tanpa melihat Alseenio, “Baik-baik saja, mereka berdua sehat.“
“Syukurlah,” jawab Alseenio dengan lega. “Aku lupa tidak menanyakan tempat tinggalmu sekarang.“
“Aku sama orang tua tinggal di Sukabumi.“
“Lho? Kamu jauh-jauh datang ke sini cuma ingin bertemu aku?“ Alseenio terkejut setelah mendengar ini.
Tidak disangka perjalanan sejauh itu ditempuh oleh Fara untuk kembali bertemu dengannya.
“Emm, iya.“ Fara mengangguk.
Alseenio menggelengkan kepalanya sedikit dan mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Fara.
“Lain kali kamu enggak boleh begitu, berbahaya. Apalagi kamu naik kereta api, kan?“
“Iya, aku naik kereta api. Ada apa memang?“ tanya Fara yang penasaran dengan arti bahaya yang dikatakan Alseenio.
“Bahaya, wanita secantik kamu jalan sendirian, nanti ada om-om buncit yang culik kamu.“ Alseenio mulai bercanda lagi.
Bibir Fara mengerucut, dan ia mengambil tangan Alseenio yang sedang mengusap lembut kepalanya, dan hendak menggigit. “Aku gigit nih kalau kamu bercanda lagi!“
“Eh, iya-iya.“ Alseenio dengan cekatan menarik kembali tangannya.
“Kalau mau ke Jakarta, kamu hubungi aku dahulu, nanti aku jemput. Jangan sendiri lagi, kasihan papah mamah kalau kamu hilang di jalan.“
“Iya-iya, Nio bawel ….“ Fara tersenyum dan meledek Alseenio dengan bercanda.
Keduanya tampak seperti kembali lagi di masa SMP, saling menghina tanpa serius hanya untuk bercanda, tetapi terdapat makna saling melindungi satu sama lain.
Tidak lama kemudian, mobil hitam yang keren masuk ke dalam parkiran sebuah mall besar di Jakarta Selatan.
“Ini? Kenapa kita ke sini?“ tanya Fara yang bingung dengan operasi Alseenio.
Katanya Alseenio ingin membawanya pergi ke tempat panti asuhan, kenapa mereka berdua masuk ke dalam mall?
“Ada sesuatu yang harus aku lakukan di sini.“
Mobil Alseenio tersebut berhenti di tempat parkir mall, dan mereka berdua keluar dari mobil.
Alseenio mengajak Fara ke dalam mall untuk melakukan sesuatu.
Akan tetapi … ketika mereka berdua berjalan di lantai dasar, adegan yang tidak terduga terjadi.
Fara tidak sengaja menabrak seorang wanita yang terlihat muda sepantaran dengan Fara hingga keduanya terjatuh ke lantai, barang belanjaan yang dipegang wanita tersebut ikut jatuh dan berserakan di lantai.
Namun, dengan cepat Fara dan Alseenio bantu bereskan dan semua barang-barang yang berserakan telah dimasukkan kembali ke tas belanjaan.
Alseenio membantu Fara untuk bangun dari lantai sebelum membantu membereskan barang.
“Heh! Kalau jalan lihat-lihat dong! Matanya dipakai kalau lagi jalan!“
“Maaf, tadi tidak sengaja.“
Wanita yang jatuh tadi langsung marah-marah setelah terbangun, ia memarahi Fara sampai menunjuk-nunjuk ke depan wajah Fara.
Melihat ini Alseenio segera memisahkan dan membela Fara.
“Maaf, tadi dia lengah dan tidak tahu ada Anda di depan,” kata Alseenio yang masih sabar menghadapi sifat arogan wanita ini.
“Makanya, ajarin pembantu muda kamu kalau mau ke mall, jangan sampai nabrak orang!“ Wanita ini masih mempertahankan sifat arogannya bahkan terhadap Alseenio.
Mendengar ini wajah ramah Alseenio langsung berubah menjadi dingin. “Ini temanku, bukan pembantu.“
“Bukan pembantu? Kenapa mirip dengan pembantuku yang ada di rumah?“
“Maksud Anda apa, ya?“ tanya Alseenio dengan dingin.
“Makanya kalau jalan kacamatanya juga dibuka, biar ngerti kalau orang ngomong apa!“ Wanita ini tetap menaikkan nada tingginya dan bahkan berani melototi Alseenio.
Kegaduhan ini terlihat oleh orang-orang sekitar dan beberapa pengunjung mall yang sedang berjalan memutuskan untuk berhenti dan menyaksikan kegaduhan ini.
“Barang-barang Anda sudah kami berdua bereskan, dan masalah seharusnya sudah selesai, teman saya juga sudah meminta maaf. Kenapa Anda masih marah seperti itu?“
“Karena saya tidak terima dengan hal ini, saya minta ganti rugi!“
Wanita satu ini makin menjadi-jadi, selain arogan wanita ini juga jahat dan tidak masuk akal.
Namun, Alseenio tetap meladeni karena menurutnya wanita ini sudah keterlaluan.
“Berapa?“ Alseenio bertanya.
Jika wanita ini meminta ganti rugi, Alseenio akan kasih uangnya, asalkan masalah selesai tanpa ada lanjutannya.
Wanita ini menyeringai licik setelah mendengar kata Alseenio, dan kemudian bibirnya yang lebar bergerak. “Aku minta ganti rugi uang 2 miliar!“
Sheeeshh!
Dalam sekejap, orang-orang langsung membeku dan terpana.
Bahkan orang yang sedang berjalan pun seketika berhenti setelah mendengar jawaban ini, dan menatap wanita tersebut dengan tatapan yang terkejut.
__ADS_1
“Matamu picek!“