
Segera Ammar melesat pergi menemui pangeran Hasyeem dan berpamitan pada lelaki itu dan sekaligus menyampaikan pesan Terima kasih Delia pada Pangeran Hasyeem kepada Asmi.
Delia sangat terkejut dan shock mendapati kakak iparnya seorang jin "
Oh.... Astaga.... apa yang terjadi? mengapa dia dan kakaknya memiliki takdir yang nyaris sama.
Delia termenung sendiri bahkan dia tak menyadari jika Ammar sudah berada kembali di dekatnya.
" Delia! Delia...! "
Ammar menepuk bahu Delia.. Wanita cantik itu segera tersadar dari lamunan.
" Ada apa? apa kau sudah berpamitan pada pangeran Hasyeem? "
" Kamu yang ada apa? aku dari tadi memanggimu, tapi kamu hanya diam mematung.. Sebenarnya kamu sedang berpikir apa? " tanya Ammar.
" Tidak ada, ayo kita pergi jika sudah tidak ada lagi urusan kita disini! "
Walaupun heran dengan sikap Delia, tetapi Ammar tetap mengikuti kemauan wanita cantik itu dan pergi Meninggalkan istana pangeran Hasyeem bersama Delia.
Sementara itu, di sebuah tempat di Hutan Larangan. Berita tentang kegagalan Sang Shepard dalam mencegah kelahiran sang penghancur tersebar dan jadi buah bibir di kalangan para dukun penganut ilmu hitam.
" Sungguh tiada di sangka, Sang Shepard bisa gagal dan terbunuh dalam misi terakhir membunuh Sang Penghancur." kata salah seorang dukun yang kembali malam ini mengadakan pertemuan untuk membahas kelanjutan rencana mereka untuk menghalangi dan menghapus garis ramalan terhadap nasib gerbang orion dan juga kelangsungan hidup antara dua dunia.
" Iya, sungguh tak dapat di pungkiri, betapa legenda kesaktian penguasa Bukit Malaikat bukan omong kosong semata. Mulai sekarang kita tidak bisa menganggap remeh kesaktian seorang pangeran Hasyeem!"
Begitulah yang terjadi. Mereka kini semakin khawatir akan yang terjadi di masa depan. Tak rela jika kekuasaan terhadap dunia sihir berakhir begitu saja di tangan seorang anak kecil.
" Jadi bagaimana rencana kita selanjutnya? "
Saat semua sedang sibuk memikirkan apa langkah selanjutnya, seberkas sinar kekuningan melesat hadir mendatangi tempat itu. Penguasa Hutan larangan hadir menampakkan diri.
Para dukun ilmu hitam itu segera menunduk dan memberi salam.
" Salam yang mulia! " ucap mereka serempak.
" Hmm, kalian pasti sibuk berpikir tentang rencana apa selanjutnya untuk menghadapi Sang penghancur. " Aku sedang mempersiapkan sebuah rencana baru.!"
Para dukun tersebut mendengarkan ucapan Sang Penguasa Hutan larangan dengan atunsias dan penuh penasaran.
" Rencana apa, yang mulia? "
__ADS_1
" Beberapa hari lagi akan terjadi gerhana bulan darah. Cari seorang bayi yang lahir tepat pada saat gerhana bulan darah dan bawa kemari. Karena hanya bayi itu yang memiliki kekuatan untuk menandingi kesaktian Sang Penghancur." kata Sang Penguasa hutan larangan.
Sejenak suasana menjadi ramai. Mereka saling berbisik penuh harapan, bahwa masih ada jalan bagi mereka untuk menghalangi jalan Sang penghancur.
" Dengarlah, .... mulai saat sekarang. Kalian harus mengamati setiap wanita yang hamil tua di sekitar tempat ini, dan awasi dengan cermat. Sampai pada hari di mana gerhana bulan berdarah terjadi, cari anak tersebut dan bawa kepadaku.!" titah Penguasa hutan larangan dengan tegas.
Semuanya yang hadir di sana serentak menganggukkan kepala.
" Baik yang mulia, akan kami laksanakan segera! " jawab mereka semua.
Setelah itu mereka semua membubarkan diri dan kembali ke tempat masing - masing. Mereka mulai mengawasi semua wanita yang hamil di tempat itu terutama yang hamil tua.
...----...
Di tempat lain, Pangeran Hasyeem sedang berjalan - jalan mengawasi setiap sudut istana, dan kegiatan para prajuritnya dan pengawal istana. Untuk menambah kekuatan, mereka kini menambah jumlah bala tentara kerajaan. Mereka kini lebih waspada dan cermat demi keselamatan putra mahkota kerajaan jin Bukit Malaikat, Alyan Haidar.
" Bagaimana, apakah keamanan di setiap pintu masuk di perketat? " tanya Sang pangeran.
" Sudah Tuanku! Semua pintu masuk kini sedang di jaga oleh dua puluh ribu tentara jin. Kini kekuatan kita yang terkumpul adalah sebanyak seratus lima puluh ribu tentara jin, belum termasuk cadangan tentara yang tuan persiapkan sendiri." lapor panglima angkatan perang dari Kerajaan Bukit Malaikat.
" Hmm, bagus! aku suka dengan semua ini. Hancurkan saja siapa saja yang berusaha masuk tanpa seizinku. Aku tak ingin ambil resiko! " kata Sang Pangeran.
Apartemen Revan
Mata Revan tajam menatap layar laptop yang berisi rekaman kejadian saat Delia melompat dari Balkon apartemennya di Australia.
Tangannya sibuk mencari gambar demi gambar yang menayangkan detik-detik tubuh Delia melayang jatuh ke bawah. Sampai pada suatu detik di mana sesosok bayangan hitam terbang melesat mengejar dan menangkap tubuh Delia. Bayangan yang sama dengan yang dia lihat di dalam kamarnya.
" Akhirnya aku mendapatkan dirimu, bajingan!! " dia tersenyum sinis mengejek.
Tangannya lantas membuat tangkapan layar untuk memperjelas gambar bayangan hitam itu. Namun, sayangnya dia tak bisa menampilkan gambar itu secara utuh.
Gambar itu tetap tampil dalam bentuk citraan saja, bukan berbentuk seperti layaknya pigur manusia atau bentuk lain.
Putus asa, Revan menghubungi salah seorang temannya.
" Hello, bro! lo ada kenal seorang paranormal, nggak? "
" hmm, emang ada apa, bro. Pake nanya
paranormal segala ? mau nyantet orang, lo?
__ADS_1
" nggak, sih. Ada deh, entar aku ceritain. Ada nggak? "
" Gimana ya, Ada sih! tapi jauh tempatnya! "
" Nggak masalah, bisa di panggil ke sini nggak? Soal biaya transportasi dan akomodasi biar gue yang tanggung!" kata Revan.
" Oke, deh! Entar gue hubungi tuh paranormal. Kapan lo maunya, bro? "
" Kalo bisa secepatnya, aku butuh banget. Lo bisa usahain, kan? " tanya Revan lagi.
" Baik, bro. Gue usahakan secepatnya. Lo tunggu aja.! '
" Ok. Makasih banyak, bro! Lo emang yang terbaik! "
" Yoi, sampai nanti, bro! "
Revan menutup telpon dan kembali matanya memandang ke arah layar laptopnya.
" Sebentar lagi, aku akan mendapatkanmu, bajingan! Setelah ini, kamu dan perempuan sialan itu akan kuhabisi tanpa ampun! " human Revan dengan tangan terkepal karena menahan emosi dan marah.
" Aku yakin saat ini perempuan ****** itu sedang bersamanya!" maki Revan dalam hati. Ada perasaan tak suka dalam hati saat dia memikirkan Delia yang sedang bersama dengan orang lain. Sosok yang menjadi misteri baginya tentang keberadaannya di sisi Delia
Tanpa Revan sadari, dua pasangan mata sedang mendengarkan pembicaraan Revan dan temannya di telepon.
Ammar memandang Delia yang termenung menatap wajah suaminya di balik dinding pembatas transparan yang membatasi antara dirinya di dunia ghaib tak kasat mata dengan dunia tempat suaminya berada.
" Dia teramat sangat membenciku. Meskipun aku sudah berterus terang mengatakan apa yang sebenarnya terjadi." kata Delia dengan pandangan kosong.
" Apakah kamu menyesal karena aku membawamu ke tempat ini? aku bisa mengantarmu kembali ke sana!" tanya Ammar.
Dia sebenarnya tak habis pikir mengapa Delia masih mengharapkan belas kasih lelaki yang sudah jelas sangat membencinya, bahkan ingin membunuhnya
Delia menggelengkan kepalanya. " Tidak, aku tak ingin kembali ke sana. Tapi aku juga tak ingin berada di tempat ini. Tolong antarkan aku ke suatu tempat di mana saja. Asalkan jangan di tempat ini. Aku takut, jika dia menemukan diriku dan dirimu di tempat ini akan menjadi fitnah bagi kita. Aku mohon, bawalah aku pergi sekarang juga dari sini! " kata Delia dengan menghiba sambil menangis.
Ammar menatap Delia dengan sorot mata iba. Air mata Delia membuat sakit di hatinya bukan kepalang. Andai saja dia bisa meyakinkan wanita itu agar mau menerima dirinya apa adanya. Namun, Ammar hanya bisa menelan kekecewaannya karena nyatanya Delia enggan untuk menerima dirinya sebagai kekasih.
Ammar mengangguk kemudian meraih tangan wanita malang itu dan membawanya pergi ke suatu tempat yang jauh dari sana. Ke tempat yang Delia mau dan hidup dengan tenang tanpa adanya bayang - bayang kekerasan Revan ataupun bayang- bayang kekecewaan terhadap Yovan di masa lalu.
Keesokan harinya, Paranormal yang di minta Revan datang ke rumah bersama temannya. Tanpa banyak bicara, Paranormal itu segera mengeluarkan kemampuannya.
Matanya tajam mengawasi sebuah dinding yang terlihat di matanya seperti sebuah pintu menuju ke dimensi lain, yaitu dunia ghaib supranatural. Dunia Jin yang tersembunyi. Dalam bahasa arab kata jin itu sendiri berasal dari bahasa arab yang berarti " yang tersembunyi ". Jadi mereka hidup berdampingan dengan kita hanya saja keberadaan mereka tidak terdeteksi oleh indra penglihatan dan kadang indra pendengaran kita.
__ADS_1