Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 66 Duel


__ADS_3

Tantangan sudah dilayangkan. Pangeran jin penguasa Bukit Malaikat yang sudah terlanjur geram dengan Pak Panca dan Nyi Darsih mengirimkan pesan kepada kedua manusia berhati iblis itu untuk menemuinya di hutan Larangan.


Pangeran Hasyeem ingin kedua manusia jahat itu mempertanggung jawabkan hasil dari perbuatannya karena telah menyakiti wanita yang di cintainya.


" Kamu belum lupa padaku, kan. Nyi Darsih? " Pangeran Hasyeem tiba-tiba sudah muncul di hadapan Nyi Darsih yang tengah khusuk bersemedi. Nyi Darsih membuka matanya. Dilihatnya sesosok makhluk berbentuk gorila raksasa dengan mahkota dikepalanya. Rupanya SangPangeran hadir dalam bentuk wujud aslinya.


" Huh, Jin terkutuk. Apa maumu? Aku tak ada urusan lagi denganmu!"bentak Nyi Darsih.


" hahahahaha, kau salah, Nyi Darsih. Kamu masih punya urusan yang belum kamu selesaikan denganku. Jangan memulai sesuatu tanpa mengakhirinya, hei penyihir busuk!"


" Bukan aku yang berniat untuk menghabisi kekasihmu, tapi Pak Panca." sentak Nyi Darsih.


" Hm, tapi kamulah orangnya yang mengirimkan serangan teluh pada kekasihku. Apa kamu pikir aku tidak tahu, Nyi!" Bentak Pangeran Hasyeem tak kalah sengit.


" Cih, Aku hanya orang yang diupah untuk melakukan pekerjaan itu. Aku bekerja demi uang. Jadi jangan menimpakan kesalahan padaku. Salahkan saja orang yang menginginkan kematian kekasihmu, bedebah!" Nyi Darsih terlihat marah.


" Aku akan membayar setiap kesakitan yang dialami oleh kekasihku. Kalian tak akan bisa lari dariku. Dan kau, Nyi Darsih. Akan kuratakan gubukmu ini! agar kau tak lagi berbuat kejahatan. Dosamu sudah tak terampunkan. Tak terhitung sudah berapa banyak korban dari ilmu Hitammu yang sesaat! " kata Pangeran Hasyeem dengan sorot mata yang tajam menusuk.


" Itu bukan urusanmu, Kau makhluk tak tahu diri. Bahkan kau tak lebih mulia dariku!" sergah Nyi Darsih.


Pangeran Hasyeem tertawa sinis.


" Baiklah. Katakan saja pada tuanmu yang mulia itu, bahwa Aku menunggunya bersama dirimu di dekat air terjun hutan Larangan, sepekan dari sekarang.!" kata pangeran Hasyeem.


Sejurus kemudian, Sang Pangeran mengayunkan pedangnya sekelebat. Dalam sekejap api menyala dan membakar habis sesajen untuk sesembahan milik Nyi Darsih. Bahkan api tersebut turut juga membakar pondok Nyi Darsih.


"Hahahaha, lihatlah! itu adalah peringatan pertama dariku. Jika masih berani menggangu kekasihku, maka aku akan datang lagi padamu, tanpa menunggu sepekan dari sekarang. Aku akan menghabisimu detik itu juga! " ancam Sang Pangeran. Lalu kemudian menghilang dari pandangan Nyi Darsih sambil menyisakan tawa yang memekakkan telinga.


Wajah Nyi Darsih merah padam menahan amarah. " Bedebah Keparat! Terkutuklah. Sungguh kurang ajar dan berani sekali putra Raja Jin dari Gunung Kahyangan itu membakar sesaji untuk junjunganku dan membakar habis gubukku! " , kutuk Nyi Darsih meradang penuh dendam pada Sang Pangeran.


Sesaat dia ingat dengan tantangan Pangeran Hasyeem yang ditujukan padanya dan Pak Panca dan dirinya. Rupanya Pangeran jin itu tidak main - main dengan ancamannya.


Setelah membakar habis pondok Nyi Darsih, Sang pangeran lenyap begitu saja bagai ditelan bumi. Tampaknya dia kembali ke Bukit Malaikat untuk menemui Sang kekasih.


Nyi Darsih bergegas pergi untuk menemui Pak Panca untuk menyampaikan tantangan pangeran Hasyeem.


" Hah, dasar jin keparat. Terkutuklah di neraka. Akan ku bakar dirinya bersama panasnya api neraka. Biar dia tak bisa lagi menyombongkan diri di hadapanku!" geram Pak Panca. Hatinya terbakar oleh amarah dan dendam. Terlaknatlah jin yang telah menggagalkan rencana balas dendam seorang Panca Nugraha. Aku akan membuat perhitungan denganmu, Jin laknat! umpatnya dalam hati.


Dia merasa di remehkan oleh sosok jin yang dia anggap tak lebih mulia dari dirinya yang seorang manusia. Seorang jin telah berani menantang seorang Panca yang iblis saja masih menaruh hormat padanya, pikir Pak Panca sombong.


" Baiklah, aku akan terima tantangannya. Aku akan datang ke Hutan larangan sepekan dari sekarang. Pak Han, cari dan lacak keberadaan wanita itu.!titahnya kepada orang suruhannya. Pak Han segera berlalu dari hadapan tuannya. Niatnya hanya satu, melacak keberadaan Asmi dan melaksanakan perintah tuannya.


Sementara itu di Bukit Malaikat, Asmi sedang berjalan- jalan di negerinya Hasyeem. Dia diantar oleh beberapa orang Dayang pengurus istana dan pengawal kepercayaan pangeran Hasyeem.


" Nyi Embun.. apakah aku boleh bermain main di tepi sungai itu? " tunjuk Asmi ke arah tepi sungai yang ada di sekeliling taman.


" maafkan hamba..Tapi tuanku melarang tuan putri untuk mendekati sungai, di situ berbahaya bagi anda, tuan putri! "


Asmi mengangguk patuh.. Dia kembali melanjutkan kegiatannya berjalan - jalan menikmati keindahan taman bunga yang dibuatkan oleh Pangeran Hasyeem untuk dirinya.


Beberapa penduduk desa menatap ke arah Asmi. Mereka segera mengenali jika Asmi bukanlah berasal dari bangsa mereka.


Namun mereka heran, mengapa ada anak manusia yang sampai ke negeri mereka. Namun, saat melihat ada beberapa Pengawal kepercayaan Sang Pangeran, maka mereka tak berani lagi berkutik atau mengganggu Asmi.


Pangeran Hasyeem yang mengawasi gerak - gerik Sang kekasih dari kejauhan, tersenyum - senyum sendiri. Betapa menggemaskannya tingkah laku calon ratunya itu, pikirnya. Sang pangeran kemudian melesat menyusul Sang kekasih untuk menemaninya sambil menghabiskan waktu.

__ADS_1


...----...


Sepekan sudah berlalu dari waktu yang di tetapkan oleh Sang Penguasa Bukit Malaikat.


Pak Han tidak berhasil melacak dan menemukan keberadaan Asmi. Dia kemudian meminta bantuan Nyi Darsih untuk melacak keberadaan Asmi, namun hasilnya kembali mengecewakan. Murid penguasa Hutan larangan itu tak mampu melacak keberadaan wanita itu. Dia menduga jika Pangeran Hasyeem lah yang telah menutup dan menghapus jejak keberadaan wanita itu agar orang - orang suruhan Pak Panca tak bisa menyakiti wanita itu kembali.


Sementara itu, di bawah siraman air terjun yang jatuh dari atas gunung batu di atas sana, seorang lelaki dengan rambut panjang keemasannya duduk tepekur dengan bertopang sebilah pedang berwarna emas berhulu naga miliknya.


Readers semua pasti sudah dapat menduga, Siapakah lelaki itu ,Sang pangeran. Dia sedang menghitung dan menunggu orang-orang yang sudah dia kirimi Undangan untuk berkencan di " vila' air terjun miliknya.


Pak Panca tiba di tempat itu bersama lima orang dukun yang terkenal sakti. Mereka adalah orang - orang kepercayaannya, termasuk Pak Han. Lelaki tua itu begitu setia pada tuannya. Para dukun dan juga lelaki paruh baya itu menatap nanar pada sesosok makhluk raksasa yang kini terlihat duduk tenang bersila menatap ke arah mereka.


Tak berapa lama berselang, tampaklah Nyi Darsih menampakan batang hidungnya. Wanita berjubah hitam itu mendengus marah saat tatapan tertuju pada sesosok makhluk yang duduk di bawah air terjun dengan sebilah pedang yang tertancap di hadapannya.


"Turun dan hadapi aku, kau jin keparat!" seru Nyi Darsih.


" Hm, rupanya kalian sudah datang semua. Baguslah.... aku tak perlu repot-repot untuk mencari kalian. Dan untuk kalian yang datang bersama iblis tua bangka itu, ku beri kalian kesempatan untuk pergi dari sini. Aku sebenarnya tak ada urusan dengan kalian. Urusanku hanya dengan tua bangka itu dan wanita penyihir ini!" bentak Pangeran Hasyeem.


Sejenak ada keraguan di wajah para dukun itu. Memang pada dasarnya memang mereka tak ada urusan dengan jin penguasa Bukit Malaikat itu. Namun mereka sudah dibayar oleh Pak Panca. Jadi, mau tak mau mereka harus membantu lelaki itu. Mereka tak menyangka jika ternyata mereka harus berhadapan langsung dengan sesosok makhluk jin yang memiliki kesakitan pilih tanding.


Mereka dapat merasakan betapa kuatnya aura kekuatan yang terpancar dari jin itu. Tapi sudah kepalang.... mau mundur juga tak mungkin. Akhirnya, mereka hanya terdiam sambil menunggu aba - aba dari Pak Panca.


" Hm, aku tak ingin berbasa-basi lagi denganmu. turun dan mari selesaikan urusan kita! " ucap lelaki itu dingin.


Pangeran Hasyeem berdiri tegak. Di tariknya pedang emas berhulu namanya yang sejak tadi tertancap di hadapannya. Semua orang yang hadir di tempat itu menatap tegang ke arah Sang pangeran.


Wujudnya yang berupa gorila raksasa saja sudah terlihat menyeramkan. Sekarang makhluk bertubuh raksasa itu sudah berdiri tegak di hadapan ke lima dukun dan juga Pak Panca.


Nyi Darsih mundur beberapa langkah untuk mengambil ancang-ancang. Tangannya bersiap untuk mengeluarkan ajian Guntur Geni miliknya. Kali ini dia tak mau main-main dengan lawannya. Karena dia sudah tahu, siapa lawan yang harus dia hadapi.


Pangeran Hasyeem menaikan tangannya ke atas. Ajian Guntur Geni milik Nyi Darsih disambut dengan indah oleh Ajian Halilintar miliknya.


Duarrr! terdengar suara keras disertai percikan api yang menyambar. Dua kekuatan yang berasal dari unsur yang sama, Api, bertemu. Dua kekuatan tenaga dalam saling beradu.Mana yang paling kuat bertahan, itu lah yang akan menjadi pemenang.


Semakin lama, kekuatan halilintar yang terpendam di tubuh Sang Pangeran membuncah keluar dan bertambah besar.


Wajah Nyi Darsih sudah semakin tegang. Tangannya terasa semakin kebas dan panas. Hingga pada suatu ketika, pedang pangeran Hasyeem berkelebat naik ke atas dan bergerak menyambar tubuh Nyi Darsih.


Wanita penyihir itu terjungkal ke belakang dengan tubuh yang terbelah dua. Tak ada suara jeritan yang keluar dari mulutnya. Hanya matanya saja yang melotot hampir keluar. Mungkin kaget, karena tak menyangka nyawanya sudah tercabut dengan begitu cepat tanpa dia sadari.


"AKH, NYI DARSIH!! " seru Pak Panca. Semua dukun sakti yang dibayar oleh Pak Panca menatap pias ke arah tubuh yang sudah terbelah dua milik Nyi Darsih yang kini jatuh mengambang di atas air sungai di bawah air terjun yang mengalir ke bawah.


"Bagaimana, masih punya nyali kalian semua!? " bentak makhluk itu dingin.


Pak Panca, Pak Han, dan ke lima orang dukun sakti itu segera bersiap mengambil posisi untuk menyerang.


Mereka akan menyerang bersama-sama karena tak mungkin untuk menang jika menghadapi makhluk ini seorang diri, pikir mereka.


Pak Panca mengeluarkan sebilah keris panjang miliknya. Demikian juga halnya dengan Pak Han dan juga kelima dukun sakti itu.


Kini semuanya bergerak mengelilingi Sang Pangeran dengan senjata andalan masing-masing.


" Terkutuk, Rasakan kekuatan keris empu Gandring milikku, Hai jin laknat! seru Pak Panca.


Keris empu Gandring miliknya mengeluarkan sinar terang yang menyilaukan mata.

__ADS_1


Sejenak Sang Pangeran bergerak menghindar dari silaunya sinar yang dikeluarkan oleh keris empu Gandring milik Pak Panca. Kesempatan ini tak di sia-siakan oleh Pak Panca dan Pak Han. Mereka menyerang dan menusukkan keris itu ke tubuh Sang pangeran.


Keris empu Gandring dan keris milik Pak Han menancap di dada Sang Pangeran. Darah segar berwarna kebiruan mengucur dari dada makhluk bertubuh besar itu.


"Argghhh!! erangan keras terdengar dari mulut makhluk itu.


" Serang makhluk itu pada bagian matanya!"


"Kita serang bersama-sama pakai tenaga dalam!" seru salah seorang dukun itu.


Pangeran Hasyeem mundur seraya mendekap dadanya yang terluka akibat tusukan keris Pak Panca dan Pak Han.


Dia mengusap dadanya dengan telapak tangannya. Seketika, luka tusukan di dadanya lenyap tak berbekas.


" Iblish! ternyata tubuhnya kebal terhadap senjata!


" Serang, serang tubuh iblish itu dengan tenaga dalam kalian, sekarang!" seru Pak Panca.


Bertujuh, serempak mereka menyerang Sang Pangeran.


" Huh, hanya itu saja kah batas kemampuan kalian?" ejek makhluk itu.


Mereka yang menyerang Sang Pangeran menjadi geram. Kini mereka semua menyerang ke arah Sang Pangeran.


Duarrr! kembali suara keras terdengar di sekitar air terjun yang menjadi saksi dahsyat pertarungan itu. Percikan air terlontar ke atas akibat benturan tenaga dalam dari mereka semua yang saling bertemu.


Tubuh ke tujuh lelaki itu terangkat ke atas dan berputar - putar mengelilingi tubuh Sang Pangeran yang sedang berkonsentrasi menangkis dan membendung serangan ketujuh lelaki itu.


Sampai suatu ketika, Tubuh Sang Pangeran bergerak melesat melewati tubuh ketujuh penyerangnya. Ayunan pedangnya berkelebat membabat ke arah mereka.


Tubuh ketujuh penyerangannya terlempar jatuh ke tanah. Pak Panca mendekap dadanya yang terbuka. Rupanya sabetan pedang Pangeran Hasyeem mengenainya. Darah segar mengucur dari lukanya. Pak Han bergerak menghampiri Pak Panca.


" Apakah anda baik - baik saja?" tanya Pak Han dengan khawatir.


" Keparat! terkutuklah kau iblish neraka! Akan ku habisi tubuhmu dan ku lempar ke neraka Jahanam, biar membusuk di sana!" geramnya.


Sementara itu, kelima dukun sakti itu kini sudah mulai bersiap kembali menyerang.


" Serang dan jangan beri ampun."


Mereka kembali melancarkan serangan ke arah makhluk itu. Kali ini mereka mengerahkan seluruh kemampuannya.


Pertarungan kembali terjadi. Sangat seru dan dahsyat. Masing-masing mengeluarkan kemampuan ilmu kanuragan dan tenaga dalam mereka dengan sepenuhnya. Mereka tak ingin kecolongan dan terluka seperti nasib Pak Panca. Serangan demi serangan mereka lancarkan ke arah tubuh Sang pangeran.


Pangeran Hasyeem nampak sedikit kerepotan karena harus menghadapi tujuh orang penyerangnya.


Namun makhluk jin itu tak mau menyerah. Dia bergerak lincah menghindari dan kadang-kadang balas menyerang balik. Di suatu kesempatan dia berhasil menyabetkan pedangnya ke arah penyerangnya, hingga mereka semua terlempar ke belakang.


Tiga orang dari mereka langsung tewas di tempat, termasuk Pak Han yang terkena pedang tepat di dadanya. Sedangkan ke empat orang itu juga terluka meski tidak terlalu parah.


Pangeran Hasyeem bersiap untuk mengeluarkan jurus terakhirnya, Ilmu pedang Halilintar yang terkenal tanpa ampun membabat tubuh lawannya.


Tangannya terangkan ke atas dan kini terarah kepada ke empat orang itu yang juga tampak sudah bersiap - siap menghadapi serangannya.


Dengan sekali gebrakan saja. Tubuh ke empat orang itu kini terkapar bermandikan darah. Tamat sudah riwayat lelaki tua bangka yang hatinya tertutup oleh dendam dan keangkara murkaan dunia. Kini yang tertinggal hanya tubuh - tubuh bergelimpangan tak bernyawa hasil buah tangan Sang Pangeran.

__ADS_1


__ADS_2