Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 59 Menghapus Jejak


__ADS_3

Asmi menjerit histeris.... pemandangan di hadapannya begitu mengerikan. Tak jauh dari sana berdiri sesosok lelaki tampan berbaju rompi tanpa lengan dengan pedang berwarna keemasan terhunus di tangannya.


Tatapannya sedingin pedang yang masih meneteskan darah menatap tajam ke arah Asmi.


" Hasyeem!"


" Cepat pergi dan tinggalkan tempat ini. Bawa juga Wira pergi bersamamu!" perintah Pangeran Hasyeem sambil menyarungkan kembali pedangnya.


Tubuh Asmi lemas karena kaget dan ngeri dengan kejadian yang baru saja dia alami.


"Ta.. ta.. tapi Hasyeem. Aku... bagaimana caranya aku membawa tubuh Wira.?" tanya Asmi yang kebingungan dengan perintah Hasyeem.


" Asmi, sentuh tubuh Wira dan bayangkan jika kamu ada di rumah. Cincin bermata safir biru akan membawamu ke sana. Aku akan membawa kembali motor Wira, untuk menghilangkan jejaknya."


"Baiklah.. ya Tuhan. Semoga ini berhasil." kata Asmi seraya memegang tangan Wira dan memejamkan matanya. Dia mengelus batu cincin bermata safir biru seraya menyebutkan tujuan dan membayangkan rumahnya.


Dan dalam sekejab, tubuh Wira dan Asmi sudah lenyap dari tempat itu lalu muncul secara tiba-tiba di dalam rumah Asmi. Tubuh Wira masih dalam posisi telungkup tak sadarkan diri. Asmi menarik nafas lega karena sudah berada kembali di rumahnya.


Sementara itu Pangeran Hasyeem juga sudah lenyap dari tempat itu bersama motor Wira. Kini yang tersisa hanya tubuh - tubuh yang terpotong dua dan darah yang menggenangi tempat itu.


Kehebohan terjadi sesaat setelah ada saksi mata yang mendapati kejadian itu dan melaporkannya kepada pihak yang berwajib. Orang - orang beramai - ramai mendatangi tempat kejadian. Semuanya bergidik ngeri saat menyaksikan tubuh - tubuh yang terpotong dua korban pedang emas berhulu naga milik Pangeran Hasyeem.


Kini peristiwa itu masih dalam penyelidikan pihak yang berwajib. Sementara di media sosial berita itu semakin heboh karena di bumbui oleh cerita adanya perang antar dua kelompok geng mafia.


Dugaan mereka sementara adalah perkelahian antar dua geng yang berujung pada pertumpahan darah. Tiada seorang pun yang menyangka jika pelaku sebenarnya bukan dari bangsa manusia.


Sementara itu, di kediaman Pak Panca, seseorang tampak masuk dengan tergesa-gesa. Wajahnya pucat ketakutan ketika sudah berhadapan dengan tuannya.


"Gawat tuan, .. Agus dan teman - temannya, mereka semua tewas dengan tubuh terpotong menjadi dua. kini kasus mereka sedang diselidiki oleh pihak kepolisian. Kita harus bagaimana, tuan?" tanya laki-laki itu. Tubuhnya gemetar ketakutan. Lalu......


Jlebb! sebuah pisau menancap di punggungnya hingga sampai menembus ke jantung. Matanya melotot hampir keluar karena kaget dan rasa nyeri di punggungnya.

__ADS_1


Tubuh laki-laki itu tersungkur ke lantai dan kemudian diam tak berkutik lagi.


"Cepat singkirkan mayatnya! menyusahkan saja!" bentak Pak Panca pada pengawalnya dengan gusar.


"hm, wanita itu benar-benar membuat aku marah! Rupanya aku terlalu meremehkan kemampuannya. Pantas saja Nyi Darsih tidak ingin berurusan dengannya lagi. Tampaknya aku harus waspada. Bayangan hitam yang selalu terlihat dan mengikuti wanita itu tempo hari, mungkin saja dialah pelindung dari wanita itu." guman Pak Panca nyaris tak terdengar.


Sementara Pak Panca sibuk dengan analisanya, maka Asmi sibuk dengan tubuh Wira yang tak kunjung sadar.


" Hasyeem , bagaimana ini? Mengapa mas Wira masih belum sadar juga?" tanya Asmi cemas.


" Mengapa kamu terlihat mencemaskan dia, apakah dia sangat berarti bagimu?" tanya Pangeran Hasyeem, kesal. Ada kecemburuan yang tersirat dari pertanyaannya.


"Bu.. bukan itu maksudnya, Hasyeem. Aku takut jika ada tetangga yang melihat Wira di rumahku, nanti mereka berpikir yang bukan-bukan. Ujung-ujungnya nanti aku digebrak warga dan di kawinkan sama Mas Wira." keluh asmi.


" Ohh, begitu, ya? Aku kira kamu mencemaskan Wira karena kamu ada hati dengan dia." kata Hasyeem sambil membuang pandangan ke tempat lain.


" Aih, aih.. kamu cemburu rupanya, sayang?" goda Asmi.


Dia malu jika tatapannya kepergok Asmi dan harus mengakui bahwa dia cemburu dengan kedekatan Asmi dengan lelaki itu.


Asmi tersenyum menggoda. " Baiklah, kalo nggak cemburu, aku bawa saja Wira ke rumahnya. Aku mau menempatkan tubuh Wira di kamarnya saja. Di sini bahaya!" kata Asmi lalu mendekati tubuh Wira dan memegang salah satu tangannya.


" Ehhh..... mau ngapain kamu, sayang?" tanya Pangeran Hasyeem pada Asmi.


"Ya..Aku mau memindahkan tubuh Wiralah ke kamarnya." jawab wanita itu dengan enteng.


" sudah, ..sudah..ggak usah. Biar aku saja yang memindahkan tubuh Wira ke kamarnya!" kaya Pangeran Hasyeem, kesal. Walaupun sedang kesal dan dalam 'mode cemburu' tapi dia lebih tak rela lagi jika harus membiarkan Asmi menyentuh tubuh laki-laki selain dirinya.


Maka dengan bersungut - sungut Pangeran tampan jelmaan jin itu memindahkan tubuh Wira ke kamar di rumahnya. Senyum penuh kemenangan terbit di bibir Asmi. Yess, ... jebakannya berhasil. Pangeran Hasyeem dengan suka rela mengantarkan Wira ke kamarnya tanpa dia harus cape- cape mengeluarkan tenaga.


Tubuh Wira sudah di pindahkan oleh Pangeran Hasyeem ke kamarnya. Kini lelaki tampan Putra Raja Jin Gunung Kahyangan itu sudah muncul kembali untuk menggoda wanitanya.

__ADS_1


" sedang apa kamu, sayang?" tanya Pangeran Hasyeem. Di lihatnya Asmi sedang membakar baju yang dipakainya ketika pergi dengan Wira tadi.


" Aku harus membakar baju ini untuk menghilangkan bukti noda darah di bajuku. " kata Asmi kepada Pangeran Hasyeem.


" Tak perlu repot di bakar, tinggal hilang kan saja, selesai!" ujar Pangeran Hasyeem.


Dia lalu menggerakkan tangannya ke udara. Seketika, baju Asmi yang terkena noda percikan darah langsung hilang dari hadapan Asmi.


" Wahh, iya. Aduhh, kenapa aku selalu lupa dengan kemampuan kaummu, Pangeranku." Kata Asmi sambil tertawa senang.


Kini kecemasan di hatinya sudah hilang. Dia tak akan terlibat urusan dengan korban mutilasi pedangnya Pangeran Hasyeem.


Hiii... katanya sambil bergidik ngeri ketika dia kembali mengingat tubuh laki-laki yang menodongkan pistol padanya itu jatuh ke tanah dari bagian dada ke atas. Sedangkan tubuh bagian dada ke bawah masih berdiri tegak dengan kucuran darah untuk kemudian juga ikut tumbang ke bumi.


" kamu lagi mikirin apa, sayang?" tanya Pangeran Hasyeem seraya menarik wajah Asmi hingga keduanya saling berpandangan.


Hasyeem dapat melihat apa yang terlihat di pikiran wanita itu, lalu ...


" Asmi, kamu tidak akan mengingat apa yang kau lihat hari ini! " kata Pangeran Hasyeem. Kemudian dia menjentikkan jarinya dan Asmi pun tertidur dalam posisi berdiri.


" Maafkan aku, sayang. Namun sepertinya hal yang terjadi hari ini terlalu mengerikan untuk kamu ingat. Maka aku sengaja menghapus ingatanmu. Agar kamu tidak dapat lagi mengingat apapun lagi tentang kejadian hari ini." kata Pangeran Hasyeem seraya menggendong tubuh Asmi ke tempat tidur.


Dibaringkannya tubuh Asmi di kasur. Sejenak lelaki tampan Pangeran jin itu terpesona menatap wanitanya.


" Ah...Asmi, kamu terlihat sangat cantik sekali dalam keadaan tidur seperti ini. " desahnya sambil membayangkan betapa indahnya dunia jika dia mencumbu tubuh itu.


Tangannya menyentuh wajah cantik kekasihnya yang halus tanpa noda. Membelai mesra setiap pahatan Tuhan yang sempurna di guratan wajah asmi. Bibirnya dia labuhkan di bibir Asmi dan m******tnya dengan lembut.


Hasrat Pangeran Hasyeem semakin membuncah seiring gerakan erotis dari tubuh Asmi ketika tangannya kini sudah meremas lembut gunung kembar milik Asmi yang tampak menggoda.


Karena tak tahan akan nafsu birahi yang kini sudah merasuki dirinya, Pangeran tampan itu kemudian pergi meninggalkan Asmi yang masih tertidur pulas. Dia tak mau menodai kesucian cintanya pada wanita cantik bangsa manusia itu. Semua akan indah pada saatnya, pikir Pangeran Hasyeem.

__ADS_1


__ADS_2