
Pagi hari yang cerah. Udara pagi hari yang hangat menerpa kulit halus Asmi yang pagi itu tampak berjalan-jalan di sekitar kampung. Itu adalah kebiasaan yang selalu dia lakukan hampir setiap minggu, jalan pagi sambil menghirup udara yang segar.
Beberapa penduduk desa yang dia kenal, menyapa wanita cantik itu sambil sekedar berbasa - basi.
" Pagi, neng Asmi. mau kemana.? " tanya Mang Mamat, sapa salah satu warga yang rumahnya terletak di ujung jalan dekat sawah.
" Pagi juga, Mang Mamat. Biasa.. mau jalan - jalan santai dulu. Mang Mamat gimana kabarnya? "
" Alhamdulillah, Sehat neng. Neng Asmi sehat?"
" Alhamdulillah, sehat mang. Oh.. iya.. Mamang sedang sibuk, tidak?"
" Yah, biasa neng.. Paling juga sibuk di sawah. Apalagi yang bisa mamang lakukan. Cumah itu...! "
Asmi tersenyum mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Mang Mamat. Kesederhanaan tercermin dari sikap dan tutur kata mereka. Rendah hati dan tulus. Itulah yang Asmi sukai.
" Mang Mamat, bisa tidak kalau Asmi minta tolong?"
" Ini minta tolong apa maksudnya, neng Asmi? "
" Begini, Mang. Asmi minta tolong sama mamang untuk membersihkan pekarangan depan dan belakang rumah Asmi. Karena Asmi tidak sempat melakukannya."
"Oh, begitu.. Baik.. nanti mamang akan ke rumah neng Asmi untuk membersihkan halaman depan dan belakang. "
" Terima kasih ya, Mang. Ini Mang sekedar pengganti cafe dan uang rokok." Asmi menyerahkan tiga lembar pecahan seratusan kepada mang Mamat.
" Aduh neng, ini banyak sekali. Kan, mamang cuma membersihkan halaman depan dan belakang saja.! "
" Tidak, Asmi mohon maaf hanya bisa kasih segitu."
" Tidak, ini sudah lebih dari cukup." kata laki-laki itu seraya membungkukkan badan tanda Terima kasih pada Asmi.
" Kalau begitu, Asmi mohon diri, ya mang. Asmi mau melanjutkan jalan - jalannya. "
" Baik, nanti mamang ke sana neng setelah melihat sawah dulu."
" Iya, mang. Assalamu'alaikum."
" Waalaikumsalam "
Asmi kembali melanjutkan perjalanannya berkeliling desa.
Di tempat lain, Ayu dan mertuanya juga sedang berjalan - jalan sambil membawa yusuf, anak Ayu dan Ilham.
__ADS_1
" Itu, bukannya si Asmi, yu! " tunjuk Bu Darmi.
" Iya,.. tapi sama siapa dia jalan? "
Dalam penglihatan Ayu dan mertuanya. Asmi yang sedang berjalan sendiri, terlihat seperti sedang berjalan bersama lelaki lain. Memanglah.. Pangeran Hasyeem sedang berada di sisi Asmi.
" Sayang, sepertinya istri Ilham dan mantan mertuamu ada di sana!" Asmi menoleh ke arah yang ditunjuk Pangeran Hasyeem. Belum sempat Asmi berjalan menjauh untuk menghindar, Ayu dan ibunya sudah berada di samping Asmi.
" Hei, janda mandul. Pagi - pagi sudah gatel, aja lo! " kata Ayu sambil menoleh ke arah Pangeran Hasyeem. Wajah sangar dan masamnya seketika berubah menjadi manis kemayu ketika melihat wajah tampan milik Pangeran Hasyeem.
'Gila, pacar Asmi ganteng banget. Lepas dari Ilham, dia malah dapat yang lebih ganteng. Bikin iri saja!' kata Ayu dalam hati.
Ayu jadi salah tingkah ketika Pangeran Hasyeem tersenyum manis sambil menatapnya.
Bu Darmi yang melihat hal tersebut langsung merasa tak enak hati melihat kegenitan sang menantu.
" Eh, Ayu. Bukannya kamu ya, yang kemarin kena penyakit kulit dan gatal - gatal? Iihhh, jangan dekat - dekat! entar nular lagi.!" kata Asmi dengan senyum meledek.
Wajah Ayu merah padam. " Kamu sekarang sudah berani ngelunjak , ya!" Ayu melangkah maju mendekati Asmi. Ingin sekali dia menampar mulut perempuan yang merupakan mantan- istri dari suaminya.
" Sayang, ayo kita pergi. Kayaknya hari sudah semakin siang." ajak Pangeran Hasyeem.
" Oh iya, Aku sampai lupa kalau masih banyak kerjaan. Dari pada ngurusin orang yang lagi ' kena penyakit gatel', tapi masih ngatain orang lain gatel. Hadeuh...nggak tahu diri amat. Ngaca woi !" jawab Asmi.
Asmi berlalu pergi dari hadapan Ayu yang kesal. Niatnya bikin malu Asmi, ternyata malah dia yang dipermalukan.
Senyum licik tertarik di sudut bibir tipisnya.
" Hmm, aku makin tertarik pada wanita itu. Sepertinya dia memiliki aura yang berbeda dari wanita bangsa manusia lainnya. Tapi mengapa Raja Haizzar tidak menyukai wanita itu?" dia bergumam sendiri.
Kembali dia melangkah dengan diam - diam mengikuti Asmi dan pangeran Hasyeem dari jarak yang tidak terlalu jauh.
Pura-pura berlagak tak tahu, pangeran Hasyeem tetap meneruskan langkah sembari memeluk Asmi dengan erat.
Sebenarnya, dari tadi Pangeran Hasyeem sudah mengetahui bahwa seseorang sedang mengikuti dia dan Asmi. Senyum penuh arti tercetak dari sudut bibirnya, saat mengetahui siapa yang sedang mengikutinya.
" Sayang, aku akan meninggalkanmu dalam beberapa hari ke depan. Aku tak tahu, apakah aku bisa kembali secepatnya atau mungkin memerlukan waktu beberapa hari di sana. Aku harap sekali, kamu selalu sehat- sehat saja dan dalam keadaan baik - baik saja. Karena aku rasanya khawatir jika harus meninggalkan dirimu lama-lama." kata sang pangeran sambil menghela nafas.
Asmi menatap heran pada pangeran Hasyeem. Mengapa kekasih jin-nya ini berkata seperti ini. Apa dia menyembunyikan sesuatu?, pikirnya.
" Katakan padaku, Adakah yang sedang mengganggu pikiranmu?" tanya Asmi kemudian.
" Tidak, aku hanya sedang bingung saja. Aku tak bisa jika harus meninggalkan kamu berlama - lama. Namun aku memegang janji untuk membantu seorang teman."
__ADS_1
" Kehormatan seorang pria adalah ketika dia menepati janjinya. Aku bangga memiliki seorang kekasih yang bisa memegang janji. Itu artinya dia adalah orang yang setia dan amanah."
Pelukan Pangeran Hasyeem makin erat. Hatinya bingung dan sedih. Dia tahu, kekasihnya dalam bahaya. Tapi dia juga tak bisa mengabaikan janji. Dia tak bisa mengatakan pada Asmi, bahwa ada seseorang dari bangsanya yang berniat akan mencelakakan kekasihnya.
Dia tak bisa mengatakan dengan jelas tanpa adanya bukti. Dia ingin menangkap basah sang pelaku, sekaligus mengungkap siapa dibalik semua ini.
...----...
Sudah seminggu Asmi sendirian saja di rumah. ( hehehe. .. biasanya ada babang Hasyeem yang nemenin). Kesunyian terasa sekali bagi Asmi yang sudah terbiasa tidur dalam pelukan sang kekasih.
Biasanya kekasihnya itu akan menemani dirinya, memeluk tubuh Asmi hingga wanita itu tertidur, atau menemani Asmi pergi kemana saja yang Asmi mau dan kapan saja. Namun saat ini, hanya sunyi saja yang setia menemani Asmi.
Jam dinding kamar Asmi sudah menunjukkan pukul setengah dua malam. Mata Asmi masih belum juga mau diajak merem.
" Duh, ini mata kenapa nggak bisa merem, sih. Aku selalu ingat sama Hasyeem terus. Aku rindu sekali padanya." rengek Asmi. Tiba-tiba...
Prang!! Vas bunga kecil di sisi tempat tidur Asmi terjatuh dan pecah.
Asmi menoleh ke arah samping tempat tidurnya.
Aneh..? perasaan tak ada yang menyentuh atau menyenggol Vas tu. Asmi sampai keheranan dibuatnya.
Belum lagi hilang rasa keheranan Asmi akan perkara jatuhnya Vas bunga itu, mendadak dari ekor matanya, Asmi melihat seseorang sedang duduk di kursi meja hias yang terletak di dekat pintu kamar Asmi.
Orang itu duduk membelakangi Asmi. Hanya rambutnya yang panjang serupa milik kekasihnya saja yang terlihat.
" Hasyeem,.. kaukah itu? " Asmi bangun dan duduk di atas tempat tidurnya.
" Maafkan aku, jika kehadiranku mengganggu tidurmu, Tuan putri Asmi." kata orang itu.
Asmi terkejut sekali. Ternyata yang sedang duduk di kursi meja rias adalah seorang lelaki. Mata kelam dengan bintik kuning di tengah mirip mata kucing milik lelaki itu sudah menjelaskan pada Asmi tentang asal usulnya. Wajahnya tampan walaupun tidak setampan kekasihnya.
" Siapa kau? mengapa kamu bisa berada di kamarku? " Tanya Asmi lagi. Dia benar-benar takut kali ini. Bayangkan, seorang diri di kamar lalu muncul seorang laki-laki yang bukan dari bangsa manusia dan juga sudah pasti bukan muhrim. Kalo nggak digebrek massa, yang pastinya di gebrek jin ifrit.
" Jangan takut, aku adalah sepupu pangeran Hasyeem. Namaku Azyziel. Aku ditugaskan untuk menjemputmu. Pangeran Hasyeem terluka parah dalam pertempuran terakhir. Dia ingin bertemu
denganmu." kata lelaki yang mengaku bernama Azyziel itu dengan ekspresi sedih.
Wajah cantik Asmi menjadi pucat dan cemas mendengar kekasihnya terluka.
"Benarkah Pangeran Hasyeem terluka? cepat katakan padaku, sekarang dia ada di mana? Tolong...aku mohon antarkan aku padanya" Hibanya pada lelaki itu. Air mata sudah mengalir deras di pipinya yang putih mulus bak pualam.
Secarik senyuman samar terbentuk di sudut bibir laki-laki itu. Senyuman penuh kemenangan.
__ADS_1
" Mari ikutlah denganku. Aku akan mengantarkanmu pada pangeran Hasyeem! " Lelaki itu meraih tangan Asmi dalam genggaman tangannya. Sesaat kemudian keduanya lenyap dari kamar itu.
Tanpa Asmi ketahui, dua orang pengawal pangeran Hasyeem yang ditugaskan untuk menjaga Asmi sudah terkapar tak berdaya dengan tubuh terikat.