
Ammar meringis menahan rasa sakit dan panas di dadanya akibat pukulan tenaga dalam yang maha Kuat menghantam telak dadanya.
" Hmm, apalagi yang kau lakukan, saudara ku, setelah kemarin kamu membawa kabur istri orang, hari ini kau kembali lagi membawa kabur seorang bayi! "
Sambil meringis menahan rasa sakit, Ammar berdiri mendekati Pangeran Hasyeem. Diraihnya kembali bayi merah yang berada dalam gendongan Pangeran Hasyeem. Kemudian membalutkan jubahnya ke tubuh bayi mungil itu agar bayi itu tidak kedinginan.
Aneh sekali, bayi itu seketika menjadi tenang dan tidak gelisah.
" Apakah kamu baik - baik saja? Tampaknya kamu terluka dalam. Singgah lah sebentar, aku akan mengobati luka dalammu. Oh ya, jangan lupa ceritakan juga padaku, bagaimana bisa kamu mendapatkan bayi ini? " kata Sang pangeran.
" Bayi ini diambil mereka dari ibunya. Aku tak sengaja memergokinya. Sekarang aku harus mengembalikannya kepada ibunya karena aku yakin saat ini pasti ibunya sedang kebingungan mencari - cari bayinya."
" Baiklah, tapi masuklah dulu ke istanaku. Banyak waktu untuk bercerita. Aku ingin mendengar kisah petualanganmu, saudaraku! " kata Pangeran Hasyeem seraya mempersilahkan Ammar untuk masuk ke istananya.
Mau tak mau, akhirnya Ammar terpaksa mampir ke istana Pangeran Hasyeem. Dia harus mengobati luka dalam tubuhnya akibat perkelahian tadi.
Bayi itu kemudian di urus oleh dayang istana yang segera memotong tali pusarnya dan memandikan bayi mungil yang cantik itu.
Mereka memuji kecantikan bayi itu. Bahkan Asmi sendiri langsung jatuh hati pada bayi tersebut.
" Sayang, bagaimana jika kita rawat saja bayi mungil ini? Aku sangat menyukainya.! " kata Ratu istana bukit Malaikat itu merengek manja pada Sang suami.
" Sayang, bayi itu masih memiliki Ibu. kita tidak boleh memisahkan Ibu dan anaknya. Jadi biarkan Ammar mengantarkan bayi ini kembali pada Sang ibu." kata Pangeran Hasyeem dengan bijak.
Asmi kesal dan cemberut memanyunkan bibirnya. Pangeran Hasyeem hanya tersenyum gemas melihat kelakuan Sang istri.
" hmm, sayang. Baiklah... jika kamu memang menginginkan seorang anak perempuan, nanti kita akan buat lagi adik perempuan untuk Alyan." bujuk Sang pangeran mesum.
Asmi mencubit gemas Sang suami yang mesumnya sudah tingkat dewa.
...----...
Sementara itu, di sebuah rumah sederhana berdinding kayu yang terletak tak jauh dari pinggir hutan larangan, seorang wanita tampak sedang duduk termenung seorang diri.
Ada kesedihan yang terpancar melalui air mata yang mengalir perlahan di pipi wanita itu.
Amirah, nama wanita cantik itu. Kalau di pikir - pikir tak habisnya malang yang menimpa wanita berparas cantik itu.
Sudah hamil di luar nikah dan di tinggal sang kekasih pergi begitu saja, di buang orang tua dan di kucilkan orang sekampung, kini bertambah lagi penderitaannya dengan kehilangan anak yang baru saja dia lahirkan.
Sebenarnya yang terakhir itu dia tak tahu apa mau disebut sebagai kemalangan atau malah keberuntungan.
Sebenarnya, dengan hilangnya anak yang dia lahirkan, maka akan berkurang beban penderitaan yang harus dia pikul akibat mengasuh dan membesarkan anak seorang diri.
Namun, tetap saja naluri sebagai seorang ibu, membuat wanita cantik itu merasa kehilangan. Anaknya adalah satu-satunya orang yang dia miliki sekarang. Kini, tanpa anak, dia merasa semakin tak berguna untuk hidup.
__ADS_1
" Assalamu'alaikum! " seseorang dari luar mengucap salam. Amirah menyeka air matanya dan menjawab salam dengan segera.
" Waalaikum salam! " jawabnya.
" Bolehkah saya masuk?" tanya orang itu lagi.
Amirah tak menjawab pertanyaan itu, namun dia segera berdiri beranjak membuka pintu.
" Anda siapa, tuan? dan ada perlu apa?" tanya Amirah. Dia melihat seorang lelaki berdiri di depan pintu rumahnya. Lelaki itu berdiri di tempat yang agak terlindung dari cahaya.
" Aku ada perlu dengan pemilik rumah ini." kata lelaki itu dingin.
" Saya bukan pemilik rumah ini, tuan Saya hanya orang yang menyewa rumah ini. Jika tuan datang ke sini di suruh untuk meminta tagihan uang sewa rumah ini, maka saya mohon maaf. Saya baru saja melahirkan, dan kehilangan anak saya. Dan lagi pula kondisi saya belum pulih benar untuk bekerja. Saya mohon untuk tuan, kiranya memberi saya waktu beberapa hari lagi agar bisa mengumpulkan uang." kata Amirah dengan wajah menghiba.
Ammar memandang Amirah dengan pandangan iba. Malang sekali nasib wanita ini, pikirnya.
Kemudian, lelaki itu melangkah maju beberapa langkah ke arah Amirah. Amirah tampak sangat terkejut dan ketakutan sekali saat matanya tak sengaja bersitatap dengan mata lelaki itu.
" Si... si.. a.. pa, kamu?? " tanya Amirah dengan ketakutan yang sangat. Baru kali ini dia melihat seseorang dengan mata yang begitu menakutkan. Warna mata itu tidak seperti warna mata manusia pada umumnya. Mata itu lebih mirip seperti mata seekor kucing hutan. Bersinar - bersinar saat berada dalam kegelapan.
" Namaku Ammar, akulah yang telah menyelamatkan putrimu dari korban tumbal pengikut penguasa hutan larangan. Dan maksud kedatangan aku kemari adalah untuk menyerahkan bayi ini kembali sebelum mati karena kelaparan dan kehausan" kata Ammar datar.
Dia menyerahkan bayi mungil yang sejak tadi di dalam gendongannya yang tertutupi oleh jubahnya yang panjang.
Ammar dapat melihat kesedihan pada tatapan wanita itu. Namun dia tak tahu apa yang menjadi penyebab kesedihan wanita itu.
" katakan dimana suamimu? aku harus bicara padanya! " kata Ammar.
Amirah terdiam. Bingung. Dia tak tahu harus menjawab apa?
" Hei, kamu mendengarku, kan? katakan, di mana aku harus menemui suamimu! Ada hal penting yang harus aku katakan padanya perihal anak kalian!" nada bicara Ammar terdengar agak tinggi.
Amirah mengkerut ketakutan.
" Tuan, sa.. saya tidak memiliki suami. Aku di usir dari rumah karena hamil di luar nikah dan kekasihku tak mau bertanggung jawab. Jadi, jika tuan ingin berbicara mengenai anak ini, bicara saja denganku, tuan. Karena aku adalah ibunya! " kata Amirah.
Sejenak Ammar tertegun. Jadi inilah penyebab kesedihan di mata wanita ini. Akh.... mengapa dia kembali lagi harus berurusan dengan wanita yang disakiti. Belum hilang keterkejutan Ammar, sebuah cahaya kuning keemasan melesat ke arah mereka.
Cahaya itu menyerang Ammar dan Amirah yang sedang menggendong Sang bayi.
Untung saja, Ammar bergerak dengan cekatan. Tubuh Ammar bergerak melindungi Amirah dari pukulan jarak jauh yang di lontarkan oleh Penguasa hutan larangan.
Tak ingin berlama-lama, Ammar segera menarik tangan wanita itu dan kemudian membawanya kabur secepatnya mungkin meninggalkan tempat itu.
Ammar tiba di gerbang istana Pangeran Hasyeem. Dia berbicara pada penjaga pintu gerbang utama bahwa dia ingin bertemu dengan Pangeran Hasyeem.
__ADS_1
Penjaga gerbang yang mengenali Ammar segera membuka pintu gerbang dan mempersilahkan Ammar untuk masuk.
Ammar mau tak mau akhirnya harus kembali membawa Amirah pergi ke istana Pangeran Hasyeem. Karena hanya di sana, satu - satunya tempat yang dirasa Ammar paling aman untuk Amirah dan putrinya.
" Siapa namamu? " tanya Ammar. Dia baru menyadari jika sampai saat ini dia tak mengetahui nama ibu dari bayi yang sudah dia bawa ke sana kemari.
" Amirah, tuan! " jawab Amirah kaku dan malu. Dia masih merasa canggung karena belum mengenal lelaki tampan di hadapannya ini.
Namun, dia berterima kasih karena lelaki ini sudah menolongnya dan putrinya.
" Amirah, aku akan membawamu menemui seorang. Kamu jangan takut. Aku tak akan mencelakakan dirimu dan anakmu! "
Amirah hanya mengangguk pasrah. Dia percaya bahwa lelaki tampan di hadapannya ini tidak akan berbuat jahat padanya. Buktinya lelaki ini sekali lagi sudah menyelamatkan dia dan bayinya.
Pangeran Hasyeem dan Asmi menatap lekat arah Ammar dan Amirah bergantian.
Pangeran Hasyeem geleng-geleng kepala. Dasar Ammar, tak puas dengan membawa bayinya, kini lelaki tampan itu malah membawa Sang Ibu turut serta.
" Ada apa? sepertinya sudah terjadi sesuatu?" tanya Sang pangeran.
" Ternyata Penguasa hutan larangan datang kembali dan menyerang kami berdua. Dia tak menyerah untuk mendapatkan bayi ini. Apa yang terjadi? mengapa mereka begitu gencar ingin mendapatkan bayi ini? " tanya Ammar yang tidak faham.
" Apakah bayi itu lahir tepat saat gerhana bulan darah tempo hari? tanya Sang pangeran. Ammar mengangguk membenarkan.
" kalau begitu, aku faham sekarang, tentu saja mereka mengejar bayi ini, karena dalam darahnya mengandung kekuatan yang sangat dahsyat. Kelak, dialah yang berjuluk Si Tangan Malaikat. Karena memiliki kemampuan untuk melindungi dan menyembuhkan dengan cepat."
Ammar ternganga tak percaya. Sungguh dia tak menyangka jika ternyata putri Amirah adalah bayi yang luar biasa.
"Lantas, aku harus bagaimana, pangeran?" tanya Ammar bingung. Sedangkan Amirah, lebih bingung lagi. Dia sama sekali tidak faham akan pembicaraan kedua lelaki tampan itu.
"Rupanya kaulah yang berjodoh untuk menjadi penjaganya. Maka kamu harus menjaga bayi itu sampai dia bisa menjaga diri sendiri." kata Sang pangeran bijak.
" Tapi itu tak mungkin, pangeran. Bagaimana dengan Amirah." Ammar menoleh kepada Amirah, lelaki itu seolah meminta dukungan pada Amirah.
" Saya terserah, tuan. Bagaimana baiknya saya akan ikut saja, tuan! " kata Amirah lugu.
Ampun deh, Amirah. Lugu banget...
Ammar menatap Amirah dengan sorot mata yang tajam.
" Benarkah ? Kamu bilang akan mengikuti semua keputusanku tentang ini? " katanya sambil menatap kedua mata Amirah.
" Benar, tuan. Saya percaya sepenuhnya pada anda! "
" Hmm, baiklah. Bagaimana jika kita menikah? '
__ADS_1