
Widarti masih setia menunggu kedatangan suaminya. Sampai akhirnya dia lelah dan berhenti berharap. Dia sudah mengikhlaskan suaminya itu. Anggapannya, barangkali saja suaminya itu sudah meninggal dunia.
Hingga pada suatu hari,.....
" Widarti...! "
Bagai disambar petir di siang hari, Widarti langsung menoleh mencari suara yang tadi memanggilnya. Suara yang sangat di rindukannya siang dan malam. Suara suaminya, Hadi Wijaya.
" Mas, Kangmas Hadi Wijaya! " seru Widarti. Wanita itu masih berdiri terpaku tak percaya bahwa yang berdiri di hadapannya itu adalah benar suaminya.
" Benarkah itu kamu, Mas. Owalah... gusti..! Kamu kemana Aja, Mas..? " Wanita itu berlari menghambur memeluk sang suami. Hadi Wijaya mencium istri dan anaknya dengan haru.
Setelah melepas rindu dan bertemu dengan anak-anaknya. Hadi Wijaya mengeluarkan sebuah bungkusan dari balik bajunya.
Widarti terkesima setelah suaminya itu kemudian membuka isi bungkusan tersebut. Mulut Widarti ternganga lebar.
" Mas, katakan padaku. Dapat dari mana semua perhiasan ini, Mas? " Widarti menyodorkan kembali perhiasan itu kepada suaminya. Pikirannya kini mulai diliputi kecemasan. Apakah jangan.... jangan suaminya???
" Aku bekerja, dek. Itu semua hasil kerjaku selama tiga tahun ini. Sekarang, dengan perhiasan ini, kita bisa punya modal untuk buka usaha. Demi masa depan anak-anak kita, dek. Agar keluarga kita tidak lagi dihina dan direndahkan oleh keluargamu." kata Hadi Wijaya dengan mantap.
Widarti terdiam tanpa bisa membantah ucapan suaminya. Memang, selama ini kehidupan mereka sangat miskin. Saking miskinnya, hingga keluarganya pun enggan untuk mengakui dirinya sebagai bagian dari keluarga Bangun Sujiwo.
Sejak saat itu, kehidupan keluarga Hadi Wijaya berubah drastis. Rumah gubuk mereka menjelma menjadi istana yang megah. Sawah ladang dan kebun milik keluarga Hadi Wijaya sudah tak terhitung banyaknya. Belum lagi pabrik tekstil milik keluarga mereka di kota. Semua itu membuat keluarga Hadi Wijaya menjadi orang terkaya di desa mereka.
Tak ada lagi hinaan dan cemooh dari keluarga Bangun Sujiwo. Malahan keluarga ini seperti menjilat kembali ludah mereka. Widarti yang dulu di campakkan dan dibuang oleh keluarga karena bersuamikan seorang kusir kereta yang miskin, kini berbalik seratus delapan puluh derajat mengeluh - elukan Hadi Wijaya sebagai menantu di keluarga Bangun Sujiwo.
Namun dendam Hadi Wijaya rupanya belum usai. Satu demi satu, kematian misterius menimpa keluarga Bangun Sujiwo. Mulai dari kematian Romo Sutejo, ayah dari Widarti yang meninggal secara mendadak. Menurut hasil visum dokter mengatakan bahwa Romo Sutejo meninggal karena penyakit jantung. Tak beberapa waktu berselang, istri Romo Sutejo juga menyusul suami dengan cara kematian yang sama, yaitu serangan jantung. Dalam tiga tahun, dua orang yang berarti dalam hidup Widarti, telah berpulang menghadap-Nya.
Sementara itu, kehidupan keluarga Hadi Wijaya semakin bergelimang harta. Usaha lelaki itu semakin maju dan berkembang.
" Dek, malam ini malam Jum'at kliwon. Sesajen dan kembang tujuh rupa yang aku minta, apa sudah kamu siapkan? " tanya Hadi Wijaya kepada Sang istri.
" Sudah, Kangmas. " jawab Widarti singkat. Yah.... semenjak suaminya kembali lagi ke rumah mereka, tugasnya setiap malam jumat kliwon adalah menyiapkan sesajen berupa daging ayam segar dan kembang tujuh rupa untuk persembahan yang dia sendiri pun tak pernah tahu untuk siapa. Tugasnya hanya menyiapkan sesajen saja lalu meletakkannya di depan kamar khusus yang disediakan oleh suaminya.
Tak ada yang boleh memasuki kamar itu selain suaminya. Bahkan dirinya yang nota bene adalah istri dari Hadi Wijaya sendiri pun, tak diperbolehkan untuk masuk ke dalam kamar itu.
Sudah tujuh genap tujuh tahun lamanya dia melakukan tugas ini tanpa bertanya atau mengeluh sedikitpun pada suaminya.
Namun, suatu hari, timbul pertanyaan dalam dirinya, apa yang kira - kira suaminya lakukan di dalam kamar tersebut. Mengapa dia tak boleh mengetahui apa saja yang suaminya lakukan di dalam sana.
Waktu sudah menunjukkan pukul 00.00. Widarti terbangun oleh bunyi jam bekerja yang sengaja dia pasang untuk membangunkannya saat ini. Malam ini, dia bertekad untuk mencari tahu, apa yang dilakukan oleh suaminya itu di dalam kamar khusus tersebut.
__ADS_1
Suaminya memang selalu menyuruhnya untuk tidur saja tanpa harus menunggunya selesai melakukan ritualnya.
Dengan mengendap-endap, Widarti berjalan mendekati kamar khusus tempat suaminya kini berada. Dia sudah menyiapkan kunci cadangan agar memudahkan dia untuk membuka kamar tersebut.
Perlahan - lahan, Widarti mulai memasukkan kunci kamar tersebut ke lubang kunci dan menggerakkannya perlahan-lahan agar tidak menimbulkan suara.
Widarti hampir memekik seandainya saja dia tak buru-buru membekap mulutnya agar tak bersuara.
Astagfirullah..... Astagfirullah...Widarti beristighfar sambil menahan nafas. Dengan mata kepalanya sendiri, dia melihat suaminya sedang bergumul di atas ranjang dengan seorang perempuan yang wajahnya... mirip seperti seekor serigala.
Setelah melihat apa yang sudah di lakukan oleh suaminya, perlahan-lahan Widarti mundur dan kembali menutup pintu kamar tersebut dengan perlahan-lahan.
Wanita itu menangis tak bersuara saat mengetahui apa yang sudah dilakukan suaminya. Ternyata, suaminya itu sudah bersekutu dengan iblis. Mengapa dia tak pernah curiga sama sekali dengan semua harta yang di dapat oleh suaminya.
Waktu berlalu begitu saja. Sama seperti kemarin, tak ada yang terjadi setelahnya. Semuanya berjalan seperti biasa. Hadi Wijaya tetap menjalankan tugasnya sehari-hari sebagai suami dan kepala keluarga.
Hanya saja, bagi Widarti, semenjak dia mengetahui apa yang telah dilakukan oleh suaminya. Wanita itu merasa jijik. Dia pun menjadi enggan untuk disentuh oleh suaminya.
" Aku harus mengakhiri semua ini. Aku tak mau jika anak - anakku kelak akan dijadikan tumbal dari wanita siluman itu."
Widarti bertekad akan memberikan pelajaran buat suami dan juga wanita jadi - jadian simpanan suaminya itu agar tak lagi datang ke rumahnya.
Hingga saat yang dia tunggu - tunggu datang juga. Ini adalah malam jum'at kliwon. Seperti biasa, dia diserahi tugas oleh suaminya itu untuk menyiapkan sesajen bagi wanita siluman itu.
Dengan mengendap-endap, dia berjalan mendekati kamar khusus yang terletak di belakang rumah mereka. Seperti beberapa waktu yang lalu, dia kembali membuka kamar tersebut dengan kunci duplikat yang dia miliki.
Kembali dia melihat adegan yang membuatnya merasa jijik. Dia kembali melihat suaminya sedang bergumul dengan wanita yang sama. Wanita yang berwajah mirip serigala.
Dengan mengendap-endap, dia mendekati sesajen yang terletak di dekat pintu masuk dan dengan cepat dia menyuntikkan racun yang memang sudah dia siapkan di kantongnya. Setelah selesai, dia kemudian buru - buru keluar dari tempat tersebut dan bersembunyi tepat di samping kamar itu.
" Kang Hadi, malam ini aku puas sekali. Kamu memang laki-laki yang perkasa. Kamu bisa memuaskan aku dengan baik." kata wanita itu.
" Apapun itu untukmu dewi. Aku senang jika kamu merasa puas." kata Hadi Wijaya sambil memeluk tubuh polos wanita itu.
" aku lapar, kang. Boleh aku makan sekarang? "
" Tentu saja, sayang. Aku tadi sudah menyuruh Widarti untuk menyiapkan semuanya untukmu."
" Hmm, apa istrimu tahu apa yang telah kamu lakukan di kamar ini, kang? "
" Tidak, dia tak akan berani membantah perintahku. Aku sudah melarangnya untuk masuk ke kamar ini. Jadi kamu tenang saja, dia tak akan berani macam - macam."
__ADS_1
Wanita yang bernama Dewi Sekar Wulan itu kemudian melangkah turun dari tempat tidur mendekati meja tempat sesajen. Tanpa ragu, wanita siluman itu memakan semua makanan yang tersaji di meja itu dengan lahap. Termasuk daging ayam mentah yang sudah di suntikkan racun oleh Widarti.
Setelah kenyang, kembali wanita siluman itu mendekati Hadi Wijaya yang masih dalam keadaan yang sama dengannya, polos tanpa busana.
Namun tiba-tiba, wanita siluman itu memegangi lehernya sambil mengerang kesakitan. Rupanya racun itu sudah bekerja. Tubuh wanita siluman itu mengelepar - gelepar sekarat.
" Kang, apa yang kamu berikan padaku. Kamu mengkhianati aku kang..! Kamu akan menerima balasannya.. "
Hadi Wijaya berusaha menolong wanita itu. Dia tak habis pikir apa yang telah terjadi. Apakah jangan.. jangan ini semua ulah Widarti.
" Dewi.... bertahanlah.... aku akan menolongmu! Bertahanlah..! "
Srett..!! sebuah pedang terayun dan menebas kepala wanita siluman itu. Wanita siluman itu tewas seketika dengan kepala yang terpisah dari badannya.
" Mampus kau, perempuan siluman! " sebuah umpatan geram keluar dari mulut Widarti. Perempuan itu menatap suaminya dengan pandangan jijik.
Sadarlah Hadi Wijaya, apa yang telah terjadi. Namun, dia terlambat menyadarinya. Ternyata selama ini istrinya itu sudah mengetahui semuanya.
" Dek,... "
" Jangan mendekat, mas. Aku sudah tahu semuanya. Kamu membohongi aku, mas. Ternyata harta yang mas peroleh selama ini adalah hasil dari mas bersekutu dengan siluman itu. Aku juga tahu, kematian kedua orang tuaku adalah tumbal dari pesugihan antara kangmas dengan siluman itu. Aku tak rela, jika nanti akhirnya anak - anakku yang kang mas jadikan tumbal, maka lebih baik aku akhiri saja semua ini."
Hadi Wijaya menggelengkan kepalanya.
" Kamu salah, dek. Dengan kamu membunuhnya, maka mulai saat ini, aku dan putra pertama kita akan menjadi budak mereka selamanya."
Widarti terkejut mendengar perkataan suaminya. Pedang di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai bersamaan dengan luruhnya tubuh wanita itu.
Tangis wanita itu pecah. Tidak.... tidak, jangan anaknya. Dia tidak rela jika harus kehilangan anaknya. Cukup sudah.... suaminya saja. Dia tak ingin anaknya turut juga menjadi budak siluman itu karena perjanjian bodoh suaminya dengan wanita siluman itu.
" Mas pamit, dek. Maafkan mas dek. Semua ini mas lakukan karena mas sangat mencintaimu. Mas tidak ingin kamu dihina dan direndahkan karena memiliki suami miskin. Sekali lagi, Mas minta maaf. Selamat tinggal, dek! "
Setelah berucap hal itu, tubuh Hadi Wijaya perlahan-lahan berubah wujud menjadi makhluk berwajah seperti serigala. Kini dia adalah budak dari siluman itu sesuai perjanjian yang telah dia sepakati.
Setelah melolong dua kali, makhluk itu membawa pergi mayat wanita siluman itu bersamanya meninggalkan Widarti yang masih saja menangis.
" Maaf Ndoro,..Anu....ketiwasan. Den Hutama, Ndoro.. Den Hutama...! "
Widarti menghentikan tangisnya dan berdiri mendekati sang abdi.
" Bicara yang jelas, mbok. Den Hutama kenapa? "
__ADS_1
" Anu, Ndoro. Den Hutama kecelakaan. Kereta kudanya masuk ke jurang dan meninggal dunia saat itu juga, Ndoro."
Tubuh Widarti kembali ambruk ke lantai. Wanita itu tak sadarkan diri setelah mendengar berita kematian sang putra.