Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 183 Kecemburuan Andros


__ADS_3

Aluna tertunduk malu mendengar ucapan Pangeran Alyan. Wajahnya bersemu merah karena dia merasa tersindir.


Akhirnya, gadis itu beranjak bangun dari pembaringan dan berniat hendak keluar dari kamar. Namun di tahan oleh Pangeran Alyan.


" Mau kemana, kamu. Kamu belum menjawab pertanyaan dariku."


" Aku mau keluar, ambil air wudhu. Aku mau sholat subuh... " jawab Aluna.


" Hah....! Oke.. baiklah... tapi tunggu aku, aku juga mau solat subuh. Kita solatnya bareng aja, ya.. "


Kembali Aluna menatap wajah tampan yang berdiri begitu dekat dengan dirinya. Ada perasaan aneh saat menyadari bahwa sebentar lagi, jika berjodoh pemuda ini akan menjadi imamnya.


" Ayo, belajar membiasakan diri menjadi makmumku.. " kata pemuda itu lantas mengambil posisi di hadapannya. Berdiri menghadap kiblat dan memulai sholat subuh.


Luna juga melakukan hal yang sama. Ada perasaan aneh yang menjalar di hati gadis yang sudah mulai beranjak dewasa itu. Jika biasanya dia sholat sendiri, sekarang dia sholat dipimpin oleh seorang imam. Hanya saja yang aneh dengan semua ini adalah bahwa yang menjadi imam bagi dirinya saat ini ada seorang pemuda yang berasal dari bangsa jin.


Sholat subuh berjamaah itu akhirnya selesai juga. Namun baru saja Luna hendak beranjak melangkah keluar kamar, Pangeran Alyan kembali menangkap lengannya.


" Kali ini kamu tak bisa lagi menghindar dariku." Pangeran Alyan menarik tubuh Aluna kedalam pelukannya. Aluna rebah dalam dekapan pemuda itu. Selanjutnya keduanya menghilang dari kamar Aluna.


" Pangeran... kemana kamu akan membawaku? "


" Menurutmu..? "


Mereka tiba di sebuah tempat. Sejauh mata memandang hanya air saja yang terlihat.


" Ini bukan di dunia jin. Tapi aku juga tak mengenal tempat ini."


" Lihatlah dulu ke sekelilingmu! Pasti kamu akan mengenalinya..! "perintah Pangeran Alyan. Aluna mengedarkan pandangannya menyapu ke sekelilingnya. Dia memang seperti mengenal tempat ini.


" Astaga.... " Aluna membekap mulut tak percaya. " Pantai selatan... " gumannya tak percaya. Dia pernah ke tempat ini ketika kecil dulu. Pangeran Hasyeem mengajak dia dan Alyan bertemu penguasa tempat ini.


" Ayo....! " ajak pangeran Alyan meraih tangan gadis itu dan terbang menyusuri pantai lalu kemudian berhenti di pinggir pantai.


Pemandangan di pinggir pantai itu sangat indah. Menyaksikan matahari yang terbit secara langsung seperti menatap Sang Maharaja yang baru muncul dan duduk di singgasana kebesarannya.


" Seperti matahari itu, aku akan selalu ada untukmu. Walaupun tak terlihat, bukan berarti aku tak ada. Jadi, yakinlah untuk selalu bersamaku. Mendampingi diriku dalam suka dan duka. Aku tak bisa menjanjikan selamanya kebahagiaan untukmu, tapi aku akan selalu berusaha untuk membuatmu bahagia." Pangeran Alyan menatap lurus manik mata kecoklatan milik Aluna. Ada bening yang beriak - riak di sana.


" Aku harap, ini adalah air mata terakhir bagiku. Aku tak ingin lagi melihatnya setelah ini." Dia mencium dahi Aluna kemudian beralih mengecup bibir gadis itu dalam dan lama.


Aluna pasrah dan membalas ciuman itu. Keduanya saling memeluk dan berciuman disaksikan deburan ombak Pantai Selatan yang saling berkejaran berlomba - lomba mencapai Pantai.


" Menikahlah... denganku. Aku tak tahan jika selalu bersamamu tanpa khawatir akan khilaf."


Aluna diam masih meresapi perkataan Pangeran Alyan.


" Aluna.... "


" Eh... iya.... "


" Bagaimana, .... apakah kamu mau? "


" Hmm.... iya. Aku mau... "


Pangeran Alyan tak percaya jika Aluna akhirnya mau untuk menikah dengannya. Sangking bahagianya, dia membawa Aluna dalam pelukannya dan terbang sambil berputar - putar di atas pantai. Dia sangat bahagia sekali hingga senyum bahagia tercetak lebar di wajahnya.

__ADS_1


" Bulan depan kita menikah. Aku akan minta ayahku untuk membicarakan hal ini pada ayahmu." kata Pangeran Alyan sambil memeluk erat kekasih hatinya.


Aluna tersenyum. Dia dapat melihat pancaran gembira di netra berwarna coklat berbintik kuning di tengah itu. Hatinya juga sangat bahagia. Sebentar lagi dia akan memiliki Pangeran Alyan seutuhnya. Hanya dia... gadis yang dipilih oleh pemuda itu sebagai pendamping hidup. Dia berharap... cinta Pangeran Alyan sama seperti cinta ayahnya kepada ibunda Ratu Asmi. Tak goyah oleh berbagai cobaan. Tak pudar oleh waktu.


Kedua insan berbeda alam itu menghabiskan waktu bersama sepanjang hari di pantai itu. Hingga sore hari menjelang, barulah keduanya kembali ke Istana Bukit Malaikat di negeri jin.


 


Sinar matahari mengintip di celah - celah gorden kamar Putri Arryan. Sinarnya yang menerobos masuk membuat silau mata putri cantik itu. Karena silau dia membalikkan tubuh menghadap ke dinding dan menutup matanya dengan bantal. Akan tetapi tanpa sadar, matanya menangkap bayangan seseorang sedang berdiri mengawasinya. Sontak dia bangun dan ingin menjerit tapi urung dilakukannya karena menyadari siapa yang berdiri di sana.


" Andros.... Apa yang kamu lakukan di sini? "


" Menjagamu... "


" Hah.....? " Putri Arryan geleng-geleng kepala saat mendengar jawaban asal pemuda itu.


" Tidak perlu, aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagi pula, tidak sopan seorang pria lajang seperti dirimu berada di kamar seorang gadis. Nanti yang ada bisa timbul fitnah. "


" Baiklah..... segera aku akan menghalalkan dirimu, agar tak timbul fitnah."


" Sembarangan saja, kalau bicara. Apa kamu pikir aku mau."


" Kamu pasti mau. Dan harus mau. Karena aku sudah memastikan bahwa kamu hanyalah milikku, milik Andros."


" Hahaha, percaya diri sekali. Anda tuan Andros. " sindir Putri Arryan setengah mengejek.


" Tentu saja aku percaya diri. Aku tahu, apa yang ada di dalam isi hatimu." Andros berjalan mendekati Putri Arryan kemudian tanpa diduga dia mencium pipi putri cantik itu membuat Putri Arryan menjadi kesal dan salah tingkah.


Namun baru saja dia hendak berucap seseorang mengetuk pintu kamarnya.


" Iya... " bergegas putri Arryan membukakan pintu untuk Annetta.


" Sudah bangun, mbak? Aku kirain belum. Habis.... dari tadi nggak terdengar pergerakan... "


" Cape banget.... banyak pasien.. " jawab Calon dokter yang cantik itu.


" Ya udah.... sana, kalo mau lanjut tidur, mbak dokter. " kata Arnetta kemudian berbalik pergi meninggalkan putri Arryan.


" Calon... baru caloncalon. . mbak.. " gelak putri Arryan sambil kembali menutup pintu.


Baru saja dia menutup pintu, Andros kembali muncul di balik pintu sambil memeluk Arryan.


" Andros, lepasin, dong. "


" Hmm, maaf. Tapi aku tidak akan membiarkan dirimu pergi kali ini dengan dia..... " ujar Andros ambigu.


Kening putri Arryan berkerut. Apa maksud Andros berkata demikian. Siapa dia?


Tok... tok... tok..


Pintu kamarnya kembali di ketok dari luar. Putri Arryan bergegas melepaskan diri dari pelukan Andros dan membuka pintu.


Wajah Arnetta kembali muncul.


" Sorry... nganggu lagi. Tapi diluar ada Kak Keanan. Katanya mau ketemu sama kamu." kata gadis itu tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


Astaga.... jadi ini maksud dari perkataan Andros barusan. Rupanya jin satu itu sudah tahu jika di luar ada Kak Keanan.


Dengan enggan Putri Arryan berjalan keluar menemui Keanan. " Hai... ! " sapanya.


" Hai, juga. Maaf pagi - pagi sudah mengganggu. Aku mau mengajak kamu keluar jika kamu nggak sibuk."


Putri Arryan diam - diam melirik jam di dinding. " Astaga, sudah jam sepuluh."


Pantesan saja teman - temannya pada sibuk dari tadi. Dan Andros....


" Gimana..? " desak Keanan.


" Hah... apa?" tanya Putri Arryan. Dia kurang fokus karena sempat melamun.


" Aku mau ngajak kamu keluar buat jalan - jalan. Kamu ada waktu, nggak."


" Nggak ada, sih. Tapi.... "


" Ok, baiklah... aku tunggu di sini. Kamu siap - siap saja dulu." Keanan memotong ucapan Putri Arryan.


Putri Arryan terpaksa berdiri dan kembali ke kamar untuk mandi dan bersiap - siap.


" Andros.... aku tahu kamu di sini. Awas kalo ngintip aku mandi. Aku akan membunuhmu.. " Sambil masuk ke kamar mandi.


Hening..... untuk beberapa saat.


Brakkk....!!!


Tiba-tiba kursi di depan meja hias melayang dan jatuh kembali ke lantai hingga menimbulkan suara yang cukup keras.


" Andros... ! " Putri Arryan yang baru keluar dari kamar mandi menjadi terkejut.


" Kamu ingin pergi bersamanya? " Andros muncul dengan wajah yang ditekuk.


" Mengapa..? Sepertinya kamu kesal sekali aku pergi dengan Kak Keanan? " Putri Arryan bertanya sambil masuk ke dalam kamar ganti.


" Hmm..... dia masih mencintaimu. Itu terlihat jelas di matanya. Bagaimana aku tak cemburu? " kata Andros dalam hati.


Andros diam tak menjawab, tetapi membuang wajah ke arah lain. Tak lama kemudian, pemuda itu sudah menghilang begitu saja dari kamar Putri Arryan tanpa berucap sepatah kata pun.


Putri Arryan yang sudah selesai berpakaian heran saat mendapati pemuda itu sudah tak ada lagi di sana.


Dia hanya berdandan seadanya dan keluar menemui Keanan yang sedari tadi sudah menunggu.


Keanan terpaku menatap Putri Arryan. Gadis di hadapannya ini sangat cantik. Sayangnya, keluarganya tak bisa menerima asal usul keluarga Arryan terlepas dari budi baik mereka pada keluarganya.


" Kak Keanan..." panggilan Putri Arryan membuyarkan lamunan Keanan.


" Iya, sudah siap, ya. Ayo..!" ajak Keanan sambil berdiri dan berjalan lebih dahulu untuk membukakan pintu.


Putri Arryan masuk ke dalam mobil Keanan. Keduanya kemudian menyusuri jalanan kota yang terlihat mulai ramai.


Keanan memarkirkan mobilnya di depan sebuah cafe yang terletak di tepi Pantai. Sebelum turun, mata jeli putri Arryan menangkap sosok Andros di antara beberapa pengunjung cafe.


" Andros.. " tanpa dia sadari putri Arryan bergumam sendiri.

__ADS_1


__ADS_2