
Nisa menangis melihat kehadiran bayi merah itu. Ada keharuan yang terlukis di sana menyadari sekarang ini dia sudah menjadi seorang wanita dewasa dan seorang ibu.
" Ammar... " panggilnya lirih.
Ammar mendatangi wanita itu dan mencium sekilas pucuk Kepala wanita itu dengan penuh rasa haru.
" Selamat ya, sayang. Kau sudah berhasil menjadi seorang ibu
Sementara itu di tempat yang berbeda, jauh di kegelapan malam di tengah hutan, seorang pria paruh baya jatuh tersungkur kesakitan sambil memegangi dadanya yang berwarna kemerahan seperti habis terbakar.
Tak di ragukan lagi, pria itu mengalami luka dalam. Dan kali ini luka dalam yang dialaminya sangatlah parah. Hingga membuatnya tak bisa lagi berkutik.
Tak jauh berbeda keadaannya dengan pria yang berada tak jauh darinya.
Pria itu juga terlihat sangat menggenaskan. Bukan hanya itu, selain luka dalam yang dialaminya, di sekujur tubuhnya juga terdapat luka yang menganga seperti luka bekas cambukan benda tajam.
Kedua orang tersebut adalah Ki Prana dan Arya. Kedua orang itu sedang menikmati buah karma dari perbuatan mereka yang mengabdi pada iblish dan jadi pengikut mereka. Karena kesombongan sesaat, kedua orang tersebut lupa diri dan menuruti hawa nafsu yang menjerat mereka ke dalam lingkaran iblis yang memiliki segudang tipu daya untuk menjerumuskan manusia ke jurang kesesatan yang nyata.
Pada akhirnya, Ki Prana menemukan lawan yang lebih tangguh. Karena sejatinya di atas langit a
itu ada langit.
Belum lagi sempat kedua orang itu mengobati luka - luka di tubuh mereka, dari dalam kegelapan malam yang di hutan itu, terdengar ringkihan suara kuda memecah keheningan dan kegelapan malam yang kelam.
Semakin lama suara kuda tersebut semakin dekat. Wajah kedua orang tersebut menjadi pucat pasi.
" Ki Hitam..... "
Nyali kedua manusia itu mendadak ciut. Mereka sadar akan apa yang akan mereka hadapi. Mereka tak bisa menghindar lagi. Perjanjian sudah terucap. Kata ingkar sama artinya dengan kematian.
" Tidak.... aku tak ingin mati sekarang, Ki." Arya merengsek sambil menggeleng - gelengkan kepalanya. "Aku mohon.... tolong selamatkan aku, Ki. Tolong Ki.. " mohon Arya seraya bersimpuh di hadapan Ki Prana.
Arya sangat ketakutan saat ini. Rasa nyeri di tubuhnya mendadak lenyap tergantikan rasa takut yang tak terbayangkan.
" Kau pikir hanya kamu saja yang bakal merasakan kemarahan Ki Hitam? Aku juga takut dan cemas, Arya. Kita berdua sudah gagal mempersembahkan tumbal bagi Ki Hitam. Jadi kini bersiaplah untuk menerima sanksi dan hukuman dari Ki Hitam. Kini yang bisa kita lakukan hanyaa berdoa dan berharap bagaimana supaya makhluk siluman kuda itu mengampuni kita berdua. "
Derrrghh........
__ADS_1
Bayangan seekor kuda hitam melintas di hadapan mereka. Melewati tubuh Ki Prana dan kemudian tubuh Arya. Akan tetapi, begitu melewati keduanya, tubuh Arya dan Ki Prana terlempar dan jatuh tersungkur ke bumi.
" KALIAN SUDAH MELANGGAR PERJANJIAN.. " dengusnya dengan marah.
Kedua manusia itu berusaha untuk bangun dengan badan gemetar. Darah segar keluar dari mulut kedua manusia pengabdi ilmu sesat itu. Belum sampai di situ. Makhluk siluman kuda itu berlari balik dan kembali mendatangi keduanya.
" Ampun kami, Ki Hitam. Kami mengaku salah. Ampuni kami, Ki.... " Ki Prana dan Arya membungkukkan badan hingga mencium tanah. Keduanya bersujud memohon ampun kepada Ki Hitam agar makhluk siluman kuda itu mengampuni mereka.
Semakin bergetar tubuh keduanya ketika Ki Hitam dengan jelas mengatakan bahwa dia tidak bisa menerima kesalahan.
Ketakutan akan bayangan kematian jelas terpancar di wajah Arya. Dia sama sekali tak menyangka jika nasibnya harus berakhir seperti ini.
" Kalian sudah melanggar perjanjian. Maka sesuai hukum kesepakatan yang sudah terucap, bahwa jika siapa saja di antara mereka yang melanggar perjanjian, maka ditebus dengan darah. Aku rasa kalian sudah paham akan hal itu. " ujar Ki Hitam dengan suara dingin.
" Ampunkan kami, Ki... Kami mohon. Kami belum ingin mati saat ini" seru keduanya.
" Sayang sekali, kalian sudah terlambat" Dengan sekali terjang tubuh kedua manusia itu terlempar dan jatuh beberapa meter dari tempat mereka semula.
Tubuh Mi Prana tergeletak tak bergerak lagi. Sedangkan tubuh Arya yang jatuh tak jauh dari sisi Ki Prana masih bertahan walaupun sekarat.
" Kamu membuatku kehilangan separuh kekuatanku. " ujarnya dingin.
" Ampun, Ki. Ampunilah, saya.. " hiba Arya.
" Hm... TERLAMBAT.... TERLAMBAT SEKALI. "
Selesai berkata demikian, Kaki depan Ki Hitam terayun ke atas bersiap untuk menghujam ke tubuh Arya.
Arya memejamkan mata. Tak ingin melihat maut yang menjemput dirinya. Dia sudah pasrah namun sekaligus takut.
Terdengar suara nyaring ringkihan kuda. Wajah Arya kini sudah seputih kapas.
"Ya Allah... ampunilah hambamu ini yang tersesat." tobatnya di detik - detik terakhir.
Sedetik..... dua detik.... tiga detik.....
Detik ke lima, Arya memberanikan diri mengintip sedikit lewat sudut matanya.
__ADS_1
Hening....tak ada yang terjadi.
Siluman kuda hitam itu sudah tak ada lagi. Suasana kembali sepi. Tak ada lagi suasana yang mencekam seperti tadi. Yang ada hanya dirinya yang tinggal sendiri bersama jasad Ki Prana.
Arya menangis terharu karena selamat dari maut. Untuk kemudian pria itu jatuh pingsan tak sadarkan diri karena tak kuat lagi menahan seluruh rasa sakit yang baru kemudian dia rasakan.
Dua tahun kemudian.....
" Arsya..! Tunggu mama, Sayang." Seorang wanita cantik terlihat sedang berlari mengejar seorang bocah lelaki yang berusia sekitar dua tahunan.
Namun, bocah itu terus berlari sambil tertawa senang. Dia sedang berusaha mengejar seekor kupu - kupu yang dilihatnya tadi ketika sedang bermain di taman.
Tanpa disadari oleh bocah itu, di depannya ada batu sedang matanya terus tertuju kepada kupu - kupu yang terus terbang tinggi meninggalkan dirinya.
Brughh......
Tubuh bocah itu jatuh akibat tersandung batu. Lututnya berdarah.
" Mommy...... " jeritnya sambil menangis kencang.
Wanita cantik yang mengejar bocah tadi semakin mempercepat larinya untuk mendekati bocah laki-laki yang kini sedang menangis tersedu.
" Arsya..... mommy sudah bilang jangan lari - lari. Nanti jatuh... " tegur wanita itu dengan sabar sambil memeluk lalu kemudian meniup luka di lutut Arsya.
" Ayah....., ayah....! " jerit bocah itu semakin kencang.
" Kenapa anak ayah menangis? " Suara Ammar yang datang tiba-tiba membuat bocah itu seketika menghentikan tangisnya.
" Ayah, atit yah... utut acha ada alahna.... " adunya pada sangat ayah.
Dengan sigap Ammar menghampiri Arsya dan menggendong bocah tersebut. Lalu dengan lembut dia mengusap lutut Arsya sehingga luka di lutut bocah itu lenyap tak berbekas.
Bocah itu tersenyum gembira karena kakinya sudah sembuh dan tak sakit lagi.
" Sayang, ayo ijab qabul putri Arryan dan Andros sebentar lagi akan dimulai. Kita sudah ditunggu
__ADS_1