
Lelaki itu mengepalkan tangannya. Wajahnya dingin tanpa ekspresi menatap kepergian Asmi.
'Sombong sekali! wanita ini berani menolak pemberianku!', pikirnya.
Pak Han menatap kepergian Asmi dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. Dia melirik ke arah tuannya yang diam tak bergeming dengan tangan terkepal. Dia tahu saat ini tuannya sedang marah.
" Pak Han, bawa bi Rumi ke hadapanku!" titahnya. Lelaki yang rambutnya sudah berwarna dua itu menunduk dan segera berlalu dari hadapan Pak Panca.
Sementara itu, Asmi dan Nadia sudah pulang ke rumah dengan menumpang mobil ambulance yang langsung mengantarkannya ke rumah Mirna.
Mirna yang melihat kedatangan mobil ambulance di depan rumahnya menjadi panik. Pikiran kotor sudah berkelebatan di kepala tentang kakak dan juga anaknya.
"Ya, Allah. Ada apa dengan anakku, mbak Asmi?" tanyanya dengan hati cemas.
"maaf, apa benar ini rumah ibu Mirna?" tanya sang petugas ambulance yang mengantarkan Asmi dan Nadia.
"ya, benar. Siapa yang di dalam?"tanya Mirna semakin panik. Dia berlari mendekati pintu ambulance yang masih tertutup rapat. Namun sebelum tangannya menyentuh pintu itu sudah terbuka dari dalam.
Begitu pintu ambulance terbuka dan tampaklah wajah kakaknya yang sedang duduk memeluk Nadia. Wajah kakaknya terlihat sangat pucat dan lemas.
" ya, Allah. Mbak Asmi, apa yang terjadi?"tanya Mirna seraya memeluk kakaknya dengan panik dan haru yang bercampur menjadi satu.
"cerita panjang, dek. Nanti saja mbak ceritain. Mbak mau istirahat dulu, badan mbak lemas." kata Asmi yang turun dari mobil ambulance dengan langkah lunglai dan lesu.
" Apa yang terjadi, Pak?"Mirna kembali bertanya pada sopir ambulance yang mengantar Asmi.
" itu mbak nya yang tadi baru saja habis nyelametin seorang anak yang hanyut terbawa ombak saat tour di pantai Parangtritis, Mbak."jawab sopir ambulance yang kemudian pamit pada Mirna, karena tugasnya mengantar Asmi dan Nadia sampai ke tempat tujuan sudah selesai.
Mirna bergegas masuk ke rumah untuk menemui anak dan kakaknya.
" Bun, Nadia lapar!" rengek Nadia.
" hmm, sini kakak, bunda ambilin makanan. Sudah mandi, belum?" tanya Mirna pada sang buah hati.
"belum, bun. Tapi Nadia lapar!"
"hehehe, kakak mandi dulu sementara bunda siapin makanan, ya!" tanpa menunggu waktu lagi, segera gadis kecil itu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
__ADS_1
"Bunda, tolong ambilin handuk Nadia!" katanya dari dalam kamar.
Mirna geleng-geleng kepala menghadapi tingkah gadis kecilnya yang kadang masih suka membandel itu.
Sementara itu, Asmi yang sudah selesai membersihkan diri kini sedang duduk bersandar di tepi tempat tidur.
Bluss! kekasihnya yang tampan muncul dengan wajah merah menahan marah.
" Jangan sekali - kali kamu ulangi ngelakuin yang kayak tadi! Sumpah kamu bikin jantung aku hampir copot, sayang!" ujar Pangeran Hasyeem dengan wajah kesal.
Dia masih tidak terima dengan Asmi yang nekat berenang untuk menyelamatkan gadis kecil itu.
"Aku juga tak tahu, Hasyeem. Aku spontan saja melompat berenang saat kulihat gadis kecil itu dalam bahaya!" jawab Asmi membela diri.
"tapi yang kamu lakukan tadi bisa saja membuat kalian berdua tewas. Untung saja aku cepat bertindak." katanya masih dengan nada kesal.
" Ya, aku mana tahu, sayang. Jika Diva sudah keburu pingsan. Tapi aku tahu, jika kekasihku yang hebat ini pasti tak akan membiarkan aku celaka." jawab Asmi dengan mata menggoda dan sukses membuat wajah Pangeran Hasyeem yang tadinya berkabut kini berubah cerah kembali.
" sudahlah, jangan ulangi lagi!" katanya kemudian.
"iya, aku hanya berniat menolong sesama, sayang. Janji lain kali aku akan lebih berhati-hati.! " jawab Asmi sambil tersenyum seraya mengangkat sebelah tangan ke atas.
Hasyeem mendengus kesal. Andai kekasihnya tahu, siapa yang sudah dia tolong, masih bisakah dia tersenyum.
Anak yang sudah di tolongnya tadi adalah cucu dari laki-laki yang sudah berusaha membunuhnya. Pangeran Hasyeem tanpa sengaja mengenali salah seorang yang berada dalam mobil yang menabrak Asmi beberapa hari yang lalu bersama seorang lelaki paruh baya.
Ternyata lelaki itu adalah Pak Panca. Pemilik yayasan tempat Nadia bersekolah dan sekaligus tokoh masyarakat yang berpengaruh di kota ini.
Hasyeem mengingat lagi kejadian tempo hari. Sesaat setelah menolong Asmi, kekasihnya, Hasyeem kemudian mengejar mobil yang menabrak Asmi.
Hanya perlu waktu sekejap, Dia sudah menemukan mobil tersebut dan bergerak mengikutinya. Dia bahkan masuk ke dalam mobil itu dan mendengar pembicaraan sopir dan penumpang yang tadi menabrak motor Asmi tanpa mereka ketahui.
" Bagaimana, apakah kita sudah aman. Apakah ada yang mengejar kita?" tanya sopir mobil mewah itu seraya menoleh ke belakang.
" Aman. Sepertinya tidak ada yang mengejar kita. Mereka sibuk menolong wanita itu!" kata penumpang di belakangnya. Dering telpon genggam di tangannya membuatnya buru-buru menjawab panggilan tersebut.
"Halo! "
__ADS_1
"....... "
Wajahnya seketika mengeras.
"Sialan! punya nyawa berapa perempuan itu. Bagaimana mungkin dia bisa selamat?" umpatnya setelah mendengar kabar dari si penelpon bahwa target mereka selamat. Dia harus segera menghubungi Tuannya untuk memberitahukan kabar ini.
"Hello, Tuan. Target kita selamat." katanya dengan takut.
" ...... "
"iya, tuan. Terima kasih." jawabnya.
"kata tuan, biar saja perempuan itu selamat sekarang. anggap saja sebagai peringatan baginya. Lain kali... baru kita habisi dia, hahaha." mereka kemudian tertawa bersama.
Hasyeem yang mendengar hal itu mengerutkan alisnya. Lelaki di telepon itu menginginkan kematian Asmi. Berarti peristiwa tabrakan tadi ternyata bukan tabrak lari, melainkan percobaan pembunuhan.
Hasyeem mengamati satu persatu semua orang yang ada di dalam mobil mewah itu. Dia akan menyelidiki siapa orang yang menginginkan nyawa kekasihnya. Mobil mewah itu akhirnya berhenti di tepi hutan selama beberapa saat.
Hasyeem memutuskan untuk kembali karena dia mengkhawatirkan keadaan Asmi. Namun syukurlah, kekasihnya itu dalam keadaan baik-baik saja.
Dan hari ini, saat mendampingi kekasihnya di pantai Parangtritis, dia kembali melihat orang yang sama. Orang itulah yang mengendarai mobil yang menabrak Asmi beberapa hari yang lalu.
Dia menjadi heran, ada hubungan apa antara orang itu dengan lelaki paruh baya yang berdiri di sana , pikirnya.
Lelaki paruh baya itu sedang mengamati gerak-gerik Asmi.
"sepertinya dia bisa melihat kehadiranku di sisi Asmi." kata Hasyeem
Lalu pangeran Hasyeem pergi menjauh sejenak dari Asmi. Dia ingin mencari informasi mengenai laki-laki itu.
Namun tak di sangkanya, Asmi ternyata sedang bertaruh nyawa demi menyelamatkan nyawa seorang gadis kecil yang nyaris tenggelam karena hanyut terseret ombak.
Hasyeem segera datang menyelamatkan Asmi. Untung saja kekasihnya itu pandai berenang. Namun tak urung, kekasihnya itu hampir mati karena kehabisan tenaga dan lemas.
Hasyeem geram saat tahu bahwa anak kecil yang telah di tolong Asmi adalah cucu dari Pak Panca Nugraha. Dan yang membuat Hasyeem bertambah marah adalah sikap lelaki itu.
Pak Panca, lelaki itu bukannya berterima kasih tetapi malah dengan pongahnya menawarkan imbalan atas jasa Asmi yang telah menyelamatkan Sang cucu.
__ADS_1
Namun, Hasyeem boleh merasa bangga, karena kekasihnya itu menolak untuk menerima apapun pemberian lelaki itu , walaupun dia tahu Asmi sangat membutuhkan bantuan.
Hasyeem mengacungkan dua jempol ke atas sebagai tanda jika dia bangga pada sang kekasih.