
"Percayalah, tuan. Senjatamu tak akan mempan olehnya!" kata Ambika sambil berlalu dari hadapan Azzura.
Azzura terheran-heran mendengar penjelasan dari Ambika.
"Hei, beritahu padaku. Makhluk apa itu tadi?" tanya Azzura.
*
*
*
Arryan berjalan ragu mendekati pintu bilik kedua orang tuanya. Sayup-sayup terdengar suara ******* ibunya dan gemuruh dengus nafas sang ayah yang berpacu. Arryan mundur dan berbalik pergi meninggalkan tempat itu.
" Nanti saja aku kembali. Ayah dan ibuku sedang bersama." kata gadis itu dalam hati. Dia bukanlah gadis kecil yang bodoh yang tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh kedua orang tuanya.
Sementara itu, Alyan sedang berada di kandang kuda milik keluarga istana. Pemuda tampan itu sedang bermain - main bersama si Hitam. Kuda kesayangan keluarga mereka. Kuda itu sangat cantik dengan bulu-bulunya yang berwarna hitam mengkilap.
" Pangeran Alyan, jika anda punya waktu, datanglah kekediamanku" sebuah bisikan hadir sayup-sayup ditelinga pemuda berdarah separuh jin dan separuh manusia itu.
" Baik, Ki. Aku akan segera ke sana!" katanya menjawab pesan Ki Anom menggunakan kekuatan ilmu Sepih Angin miliknya.
Segera dia memasukkan si Hitam kembali ke kandangnya. Sekejap kemudian, tubuh pemuda itu lenyap dan muncul kembali di rumah kediaman Ki Anom, sang guru.
" Assalamu'alaikum, ki! " kata Pemuda itu santun memberi salam.
" Waalaikum salam. Masuklah! " jawab ki Anom. Lelaki itu sedang duduk bersila dengan tangan bersidekap di depan dada. Walaupun matanya terpejam, dia masih dapat mengetahui posisi tamunya saat ini.
Itulah kekuatan ilmu Sepih Angin yang bisa mengetahui dimana posisi seseorang dan ilmu itu juga dapat digunakan untuk berkomunikasi.
Pangeran Alyan duduk di hadapan ki Anom.
" Ada apa gerangan hingga ki Anom memanggilku? " tanya sang pangeran dengan rasa penasaran.
Andai saja gurunya orang lain sudah dari tadi dia menggunakan kemampuannya untuk mengetahui isi hati dan pikiran sang guru. Namun itu tampaknya terlihat tidak sopan untuk dia lakukan saat ini.
" Apa pangeran tak ingin tahu, makhluk apa yang membunuh ' calon mertua' anda itu? " tanya Ki Anom pada Alyan.
Mendengar Sang guru menyebutkan kata calon mertua muka Alyan mendadak merah. Rupanya sang guru diam - diam sudah mengetahui hubungannya dengan Luna.
" Guru tahu?" ...
"Dengan ilmu mata malaikatku, apa yang sulit untuk ku ketahui, Pangeran." jawab Ki.
Alyan tersenyum malu. Dia baru ingat, jika kemampuan ilmu mata malaikat sang guru sangatlah dahsyat.
" Kemarilah, Pangeran! " titah Sang guru pada Pangeran Alyan.
Alyan mendekat ke arah sang guru dan duduk persis di depan Ki Anom. Segera Ki Anom memegang tangan Alyan dan memerintahkan agar pemuda itu fokus membuka mata bathinnya.
" Fokuslah pangeran alyan ! Konsentrasikan pikiran dan perhatianmu. Pusatkan ke mataku, pangeran!" kata Ki Anom.
__ADS_1
Pangeran Alyan memfokuskan pikiran dan jiwanya untuk membuka mata bathinnya. Perlahan-lahan dia membuka matanya dan bertatapan langsung dengan mata Ki Anom.
Kilatan peristiwa - peristiwa yang terekam dalam ingatan Ki Anom yang melihat sesuatu melalui mata bathinnya, terlihat dan terbaca juga oleh pangeran Alyan.
Makhluk itu..... makhluk itu adalah manusia juga. Manusia jadian - jadian yang bersekutu dengan raja Iblis agar bisa menjadi kekal. Manusia yang mencari keabadian.
"Astaghfirullah.... sesat. Sungguh mata hatinya sudah tertutup oleh kesesatan duniawi!" geram hati Alyan melihat semua itu.
Ki Anom kemudian menghentikan semedinya. Alyan berpindah tempat dan duduk di sebelah Ki Anom.
" Sebenarnya, ada maksud lain yang ingin ku sampaikan, pangeran." kata Ki Anom sembari menatap Alyan tajam.
" Apa, Ki. Apakah ini ada hubungannya dengan mahkluk itu an juga keluargaku?" tanya Alyan. Ki Anom mengangguk. Alyan jadi makin penasaran.
" Nyawa ibumu dan kekasihmu! " jawab Ki Anom.
" APA?!! " Alyan terlonjak kaget. Tubuhnya segera berdiri menatap sang guru tajam.
" Mengapa demikian, Ki.?"
" Tumbal keabadian! " jawab Ki Anom.
" Maksud Ki Anom, mereka mengincar nyawa ibuku dan Luna untuk dijadikan tumbal?" tanya Alyan dengan rasa penasaran yang semakin besar.
" Maafkan aku, pangeran. Ada seseorang yang rupanya tahu persis mengenai keluargamu dan keluarga Luna. Orang itu mempelajari sebuah ilmu keabadian. Dia rupanya ingin hidup abadi sehingga membutuhkan tumbal untuk pengganti nyawanya."
" Tapi mengapa hanya ibuku dan Luna, Ki? " tanya Alyan tak mengerti.
Alyan terperangah. Dia baru menyadari jika kedua wanita yang menjadi belahan hatinya itu adalah manusia sejati. Manusia yang fana dan berumur pendek.
Menyadari hal itu, hatinya sedih sekali. Seperti Luna, akankah dirinya akan kehilangan ibunya juga.
Ibunya tidak seperti ayahnya, yang bisa hidup ratusan tahun. Lantas, bagaimana dengan dirinya dan adik - adiknya. Seperti apakah mereka nantinya.
Memikirkan semua itu membuat hati Alyan gundah.
Ki Anom, Sang guru memahami hal itu. Dia menepuk bahu Sang murid pelan.
" Kullu nafsin zaa ikatul maut! Setiap yang bernyawa pasti akan mati."
* Aku tahu, ki. Namun mengapa bangsa manusia memiliki umur yang pendek. Mengapa hanya bangsa jin dan iblis saja yang berumur panjang? " serunya merasa tak adil.
" Itulah kekuasaan Allah atas makhluknya, Pangeran. Siapalah kita, hanya insan biasa. Semua dari kita, cepat atau lambat, pastinya akan mengalami yang namanya sakaratul maut. Kita tak bisa mengelak takdir. Jadi siapkan bekal untuk menghadap-Nya! " kata Ki Anom dengan bijak.
Alyan mengangguk tanda faham akan maksud perkataan Sang guru.
" Kalau begitu, aku pamit dulu, guru. Aku ingin menemui ayah dan ibuku. Tiba-tiba saja aku rindu ibuku." kata pemuda itu.
Ki Anom mengangguk mempersilahkan pangeran Alyan untuk kembali. Sekejab kemudian, tubuh pangeran Alyan sudah lenyap dari hadapan Ki Anom.
*
__ADS_1
*
*
" Assalamu'alaikum, bunda!" sapa Arryan pada Sang ibu seraya memeluk wanita hamil itu. Mengecup pipi kanan dan kiri Sang ibu yang sedang duduk di balkon istana. Tempat favorit Sang bunda jika sedang duduk santai menikmati pemandangan taman istana yang indah yang sengaja dibuat Sang ayah khusus untuk Sang bunda Ratu. Istri tersayangnya.
" Duduklah, putri Arryan. Lama sekali aku tak melihat kehadiranmu di istana. Apa kamu betah di kediaman Ki Anom? " tanya Asmi. Arryan duduk di hadapan Sang Bunda.
Arryan memang sangat tertarik dengan dunia pengobatan dan juga seni. Sehingga dia betah berlama-lama di rumah Sang guru untuk belajar seni pengobatan dan juga seni melukis. Ki Anom adalah sosok yang membuat Sang putri kagum dengan kemampuan ilmu bela diri dan pengobatan serta wawasan pengetahuan lelaki paruh baya tersebut.
" Ayahanda mana, bunda? " tanya gadis itu. Lehernya celingukan mencari sosok Sang Ayah.
" Ayahandamu sedang pergi menemui paman Ammar. Paman Ammar mengatakan pada ayahandamu bahwa ada sesuatu yang hendak dia sampaikan." Jawab Asmi.
" Mengapa tidak paman Ammar sendiri yang datang kemari?" tanya Arryan heran.
" Pamanmu masih berduka. Dia tak bisa meninggalkan istana Bukit Duri." jawab Asmi lagi.
" ohhh, begitu! "
Arryan lalu mendekati Sang ibu dan menggenggam tangannya. Sang ibu yang membaca gelagat itu sudah bisa menduga pasti ada yang diinginkan oleh sang putri cantiknya itu.
" Bunda, apakah ayahku akan mengizinkan jika aku bersekolah di dunia manusia? " tanya gadis itu dengan ragu.
Raut wajah Asmi berubah serius. Putri Arryan ingin bersekolah di dunia manusia?
" Hmm, mengapa kamu sangat tertarik ingin menuntut ilmu di sana? Apakah disini kita kekurangan guru yang hebat?" tanya sang ibu.
" Aku ingin menjadi seorang dokter yang bisa mengobati berbagai macam penyakit. Aku ingin membantu banyak orang, bunda! " kata gadis itu.
" Baiklah, tapi bunda tak dapat memutuskan hal ini sekarang. Bunda harus bertanya dulu pada ayahmu. karena... "
" Karena apa? Ada apa ini. Mengapa kalian menyebut - nyebut diriku dalam pembicaraan kalian? " kata Pangeran Hasyeem yang muncul tiba-tiba. Dia memeluk sang istri dengan mesra dan menghadiahi wanita itu ******* mesra di bibirnya.
Arryan memandang wajah Sang bunda. Memberi isyarat untuk bundanya agar bundanya saja yang memberitahukan pada Sang ayah tentang keinginannya.
" Kenapa, kenapa saling pandang seperti itu? " tanya pangeran Hasyeem. Dia menatap penuh tanda tanya pada istri dan juga anaknya
Asmi tersenyum menatap suaminya yang masih saja tampan tak berubah sedikitpun baik wajah dan juga bentuk tubuhnya.
" Putrimu ingin bersekolah di alam manusia. Dia ingin tinggal di rumah Mas Ardi." jawab Asmi.
" Hmm, keputusan yang cukup berani. Tapi juga banyak resikonya,untuk seorag gadis belia sepertimu, Putri Arryan" kata Sang ayah, Pangeran Hasyeem.
" Aku yakin sekali jika aku mampu untuk menjalaninya, ayah! " kata gadis itu dengan penuh percaya diri. Tanganya sudah bergayut manja di lengan kekar Sang ayah. Mencoba merayunya dengan mata 'puppy eyes' nya agar mau mengabulkan keinginannya.
" Baik, ayah mengizinkannya dengan syarat kamu harus tinggal bersama keluarga ibumu. Ayah tak ingin kamu hidup sendiri, sayang?" kata Sang ayah dengan mimik serius.
"Ahkhai.... akhirnya! Yes.. yes! Aku bisa sekolah di alam manusia! " serunya kegirangan. Dia serta merta langsung memeluk ayah dan juga ibunya lalu menghadiahi keduanya kecupan sayang.
" Arryan mau tinggal di dunia manusia??" seru kedua orang yang baru saja tiba itu secara bersamaan dengan raut wajah heran.
__ADS_1