Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 94 Nenek Kuntilanak.....


__ADS_3

Revan membuka dokumen laporan penyelidikan dan juga video yang dikirim padanya.


Sesaat kemudian, rahang lelaki tampan itu mengeras dan tangannya terkepal kencang.


"Delia, kamu harus menjelaskan padaku apa yang telah kamu sembunyikan dari kami! " desisnya dengan penuh amarah.


Sementara itu di desa tempat tinggal Asmi, suasana malam ini terasa agak sedikit berbeda. Apakah karena malam ini adalah malam jumat kliwon. Malam yang ditakuti oleh sebagian orang karena kekeramatan dan keangkerannya, atau memang sudah seperti itu dari sana.


Semua orang yang ada di dalam rumah Asmi sudah nyenyak tertidur, kecuali pangeran Hasyeem. Jin tampan suami Asmi itu sedang duduk di samping tubuh Asmi yang sudah tertidur dari selepas magrib tadi. Wanita itu kelelahan karena habis membantu Delia dan keluarga suaminya untuk acara tahlilan empat puluh hari kematian Yovan.


Pangeran Hasyeem sedang bersemedi melatih ilmu kanuragan dan tenaga dalam. Dia tampak fokus dan penuh konsentrasi menyatukan diri dengan penguasa jiwa yang Agung.


Tak beberapa lama, terlihat Asmi yang gelisah membolak - balik badannya ke kanan dan ke kiri. Entah karena bawaan hamil atau apa, tubuh wanita hamil itu mengeluarkan bulir - bulir keringat sebesar biji jagung yang kini tampak membasahi dahinya yang sedikit lebar.


Serasa seperti ada hawa panas yang diam - diam menjalari seluruh isi ruangan ini membuat Pangeran Hasyeem yang asyik bersemedi terjaga dan merasa heran. Dia menengok ke samping dan tampak olehnya keadaan istrinya yang demikian. Dia mengeryitkan alis merasa ada yang tidak beres dengan istrinya.


" Asmi tampak gelisah dan tidak tenang. Sepertinya ada yang mencoba mengganggu istri dan calon anakku. Sebaiknya aku mencari tahu apa yang terjadi." kata pangeran Hasyeem bergumam dalam hati.


Pangeran tampan itu kemudian kembali duduk bersila dengan tangan bersedekap di dada. Dia memejamkan mata dan mencoba berkonsentrasi mengerahkan tenaga dalamnya untuk merapalkan ajian sepih angin miliknya.


Suara demi suara di pilah menyibak misteri kekelaman malam yang terjadi di luar sana. Sampai suatu ketika, indranya yang tajam menangkap gerakan lembut yang hampir tak terdeteksi bahkan oleh bangsa jin sekalipun keberadaannya.


" Jika ki sanak hanya ingin lewat saja, maka segeralah berlalu, karena kehadiran ki sanak di sini telah membuat resah istri dan janin yang ada di dalam tubuhnya." kata pangeran Hasyeem melalui suara bathin yang dapat di dengar jelas oleh makhluknya yang bergerak pelan di ujung belakang rumah Asmi.


" hihihihi, kini aku tahu mengapa wanita hamil yang berasal dari bangsa manusia itu mengeluarkan aroma aneh yang sedari tadi menggodaku. Ternyata dia sedang mengandung seorang anak yang merupakan campuran antara manusia dan jin! " katanya sambil tertawa terbahak-bahak. Dia lalu memunculkan diri dengan wujud berupa seorang nenek tua berwajah mengerikan.


" Hmm, rupanya aku berhadapan dengan sosok nenek kuntilanak.!! kata pangeran Hasyeem.


Hantu nenek kuntilanak adalah iblis perempuan berwajah nenek tua yang biasa selalu menggangu wanita terutama wanita yang sedang hamil muda, untuk kemudian di hisab darahnya pelan - pelan. Kadang dia juga menghisap darah bayi yang baru lahir.


Itulah kadang kita melihat seorang wanita hamil atau wanita yang sedang kedatangan tamu bulanan berwajah pucat karena kekurangan darah.


Mereka menghisap darah korbannya dalam keadaan hidup dan terus menerus menempel dan menggangu hingga kadang sampai menyebabkan kematian.


"hihihi, rupa kamu bukan sembarangan jin. Kamu cukup berilmu dan memiliki banyak kesaktian !" kata nenek kuntilanak itu dengan seringai mengejek di wajahnya yang kini semakin terlihat jelas karena cahaya lampu yang menyorot.


" apa maumu? " tanya Pangeran Hasyeem dingin.


"Aku peringatkan, pergilah dari sini! Jangan menggangu istri dan anakku! karena aku tak akan segan untuk menghabisi siapa saja yang berani menggangu keduanya!" bentaknya lagi.


" hihihi hihi, aku tak takut dengan ancamanmu! ejeknya sinis.


" aku memang sengaja ingin menggangu anak dan istrimu karena tubuh mereka harum sekali dan tampaknya 'menggugah selera' untuk di makan. hihihi !" tawa mengerikan bergema di belakang rumah Asmi.


" kalau begitu keadaannya, maka aku tak akan segan - segan lagi untuk membunuhmu." kata pangeran penguasa Bukit Malaikat itu dengan marah.


Pangeran Hasyeem menyerang nenek kuntilanak dengan menggunakan kekuatan bathin yang luar biasa. Beberapa kali tubuh pangeran sakti itu melayang naik ke atas lalu kembali lagi turun ke bawah karena mengimbangi kekuatan tenaga dalam yang dia keluarkan saat menghadapi nenek kuntilanak.


Nenek kuntilanak adalah hantu yang sudah hidup selama ratusan tahun. semakin banyak darah bayi, wanita hamil, dan wanita haid yang mereka hisab, semakin besar kekuatan mereka.


Dan kali ini, Pangeran Hasyeem harus berhadapan dengan nenek kuntilanak yang sudah hidup ratusan tahun lamanya. Itu terlihat dari kulit - kulit tubuh mereka yang bersisik - sisik mirip seperti sisik ikan dan rambut yang semakin putih dan panjang.

__ADS_1


Suatu ketika, nenek kuntilanak berhasil memukul pangeran Hasyeem tepat di dada membuat pangeran muda putra Raja Haizzar itu jatuh terpental ke belakang. Mulut pangeran Hasyeem mengeluarkan darah segar.


Nenek kuntilanak segera masuk ke rumah Asmi melalui sela- sela lubang angin di kamar Asmi.


Asmi semakin gelisah membolak balikan tubuh. Keringat makin deras mengalir walaupun kamar itu kini sudah berpasang Air Conditioner.


Pangeran Hasyeem mengejar masuk ke dalam rumah saat hantu nenek kuntilanak itu berdiri tepat di depan Asmi yang sampai detik ini masih tertidur. Sebenarnya Asmi sudah terbangun saat mendengar keributan di sebelahnya. Namun entah mengapa dia tak sanggup untuk membuka matanya.


"Jangan kau sentuh anak dan istriku, kuntilanak sialan!! " seru Pangeran Hasyeem dengan marah kepada kuntilanak berwajah nenek-nenek yang sekarang sudah menjulurkan lidahnya, panjang dan berlumuran darah busuk.


Pangeran Hasyeem kembali menyerang nenek kuntilanak dengan cepat. Dia menyerang nenek kuntilanak dengan cepat dan tanpa kenal belas kasihan.


" Cepat sekali, kamu pulih jin sialan! hihihihi!' kata kuntilanak itu tertawa cekikikan sambil mengelak menghindari serangan dari pangeran Hasyeem.


Mereka kembali lagi berkelahi dari ruangan kamar Asmi hingga berlanjut lagi ke belakang rumah.


" MAMPUSLAH KAMU IBLIS!? " seru pangeran Hasyeem saat dia membabatkan pedang emasnya ke tubuh kuntilanak itu.


Nenek kuntilanak terkesima kemudian menunduk ke bawah mendapati tubuhnya sudah terpotong dua.


" aaaaahhhhhh..... panassssss!!! " jeritan kesakitan terdengar dari mulut kuntilanak berwajah nenek-nenek itu.


walaupun sudah terpotong dua, iblis wanita itu belum juga mati. Dia masih hidup hingga terpaksa pangeran Hasyeem sekali lagi mengayunkan pedang emasnya dan mencincang tubuh sang iblis hingga tak berbentuk. Kemudian membakarnya dan ajian halilintar miliknya.


Pangeran Hasyeem menghela nafas lega. Anak dan istrinya terlepas dari bahaya.


Suara tepukan terdengar setelah tubuh kuntilanak itu lenyap tak berbekas.


" Hebat sekali ilmu pedang anda, Pangeran Hasyeem!"


" Kamu mengetahui siapa diriku? " tanya Pangeran tampan itu.


" Aku mencari tahu siapa dirimu. Ternyata aku berkenalan dengan salah satu pendekar negeri jin yang terkenal bahkan penguasa Bukit Malaikat."


" Kau terlalu berlebihan, pergilah. Aku mau menemui istriku."


" oke, sampai jumpa! " kata Ammar. Lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Pangeran Hasyeem lalu masuk dan menemui istrinya. Dia lega tidak terjadi apa-apa pada Sang istri.


" Kamu tidak apa - apa, sayang? " katanya pada Asmi yang kini sudah terbangun.


Asmi mengangguk lalu memeluk suaminya erat. Pangeran Hasyeem balas memeluk istrinya dengan air mata yang mengalir tanpa dia sadari.


Dia bersyukur sekali kepada Allah, karena hampir saja dia kehilangan istri dan calon anaknya. Jika dia tak cepat bertindak.


Kandungan Asmi sudah semakin besar. Untuk menghindari peristiwa serupa, Pangeran Hasyeem membawa Asmi le Bukit Malaikat. Di sana, lebih mudah baginya mengawasi Asmi karena ada banyak ribuan pengawalnya.


Usia kandungan aku Asmi memasuki bulan ketujuh. Semua rakyat menyambut suka cita kabar gembira dari Kerajaan Bukit Malaikat. Mereka gembira akan kedatangan calon Penerus keturunan dari tuan mereka yaitu Pangeran Hasyeem.


Pesta meriah pun di selenggarakan di halaman istana. Aneka makanan dan minuman terhidang , limpah ruah di hadapan mereka. Semua bergembira dan bersuka cita.

__ADS_1


Aneka pertunjukan tari di suguhkan di hadapan Asmi dan Pangeran Hasyeem. Para penari tersohor di datangkan, mulai dari negeri atas angin hingga negeri bawah, yaitu Kerajaan bawah laut.


Asmi duduk menghadap ke depan di atas bale - bale yang beralaskan permadani tebal agar tubuh wanita itu merasa nyaman. Beberapa dayang istana menyuguhkan aneka makanan dan minuman untuk ratu mereka.


Sedangkan pangeran Hasyeem, dia duduk di kursi singgasana kebesarannya. Pangeran tampan itu tampak sedang menikmati pertunjukan tari yang di suguhkan oleh seorang penari yang cantik dan bertubuh menggiurkan.


Penari itu terlihat terpesona dengan ketampanan seorang pangeran Hasyeem. Dia berusaha menggoda Pangeran tampan dan gagah itu dengan gerakan tarian nya yang erotis dan menggoda.


Asmi menoleh dan menatap tajam ke arah penari tersebut. Tatapannya kemudian beralih pada suaminya yang tampak duduk tenang menikmati tarian dari si penari.


Suatu ketika, penari tersebut maju dan mendekati Pangeran Hasyeem. Dia kemudian menari tepat di depan Pangeran tampan itu sambil menyodorkan dadanya yang menyembul ke depan dengan gerakan yang sensual.


Panas hati Asmi melihat pemandangan itu. Sungguh tak pernah terpikirkan olehnya bahwa suaminya itu akan di goda oleh seorang penari istana.


" Tuanku, apakah tuan tidak berniat untuk menjamah tubuhku malam ini?" bisiknya merayu sang pangeran. Berharap pangeran tampan itu tergoda untuk menikmati tubuhnya, seperti kebanyakan raja - raja atau para pangeran yang sering di hiburnya.


Penari itu kemudian duduk di atas pangkuan sang pangeran yang masih saja duduk dengan tenang sambil sesekali menikmati makanan yang disuguhkan di samping kursi singgasananya.


Mata Asmi sudah mulai berkabut, giginya gemeletul menahan geram dan rasa marah. Serta merta dia bangkit dan turun dari tempatnya, dan berjalan mendekati pangeran Hasyeem.


Pangeran Hasyeem yang melihat ratunya bangkit dan berjalan mendekatinya, segera saja menggeser tubuh penari itu karena menghalangi pandangannya ke arah sang Ratu. Penguasa bukit Malaikat itu berdiri menyambut sang Ratu.


Namun, penari di depannya itu salah faham mengira jika pangeran Hasyeem tergoda untuk menari dengan dirinya.


Penari itu tidak menyadari akan kedatangan Asmi. Dia masih saja menarik pangeran Hasyeem agar menari bersamanya.


Asmi semakin gusar tak kala menyaksikan penari itu dengan berani menempelkan tubuhnya ke tubuh sang pangeran, suaminya.


Serta merta dia menarik lengan penari itu hingga menjauh dari tubuh pangeran Hasyeem.


" Sudah cukup ! Menyingkirlah dari hadapannya! " kata Asmi pada penari wanita yang masih saja berusaha untuk menggoda suaminya.


Penari itu menatap Asmi dengan pandangan sinis dan mengejek.


" Hah, mengapa ada bangsa manusia di tempat ini. Hey! seharusnya kamu yang menyingkir dari sini. Kamu tidak pantas berada di antara kami.! " katanya sambil mendorong tubuh Asmi hingga hampir menyebabkan tubuh wanita yang sedang hamil itu tersungkur jatuh.


Untung saja tangan kokoh sang pangeran sigap menahan tubuh sang istri sehingga tak sampai jatuh. Semua yang hadir di istana itu menjadi tegang.


Mata Pangeran Hasyeem berkilat marah. Dengan gusar di dorongnya tubuh penari itu hingga jatuh tersungkur ke lantai.


" Tuan, apa yang tuan lakukan. Kenapa tuan mendorongku. Aku hanya bermaksud menyingkirkan manusia yang menjijikkan dan lemah itu dari tempat ini. Sungguh, dia tidak pantas berada di antara bangsa kita!" katanya membela diri.


Semua yang mendengar ucapan wanita itu menutup mulutnya. Ngeri membayangkan apa yang bakal junjungan mereka lakukan terhadap penari itu karena lancang menyakiti dan menghina Ratu mereka.


" KAU, cepat minta maaf kepadanya. Dia adalah istriku, Ratu di tempat ini.! " kata pangeran Hasyeem.


Wanita penari itu terkejut bukan kepalang. Benarkah junjungannya yang sangat dia kagumi ketampanannya itu menikahi wanita dari bangsa manusia.


" Ma.. maafkan hamba yang mulia. Hamba tidak tahu jika wanita itu adalah istri tuanku. karena adalah hal yang mustahil seorang manusia menikah dengan lelaki dari bangsa jin dan begitu juga Sebaliknya."


Asmi terdiam di tempatnya. Sesuatu terasa mencubit hatinya. Sedih..

__ADS_1


" Yang mulia, hamba mohon maafkan atas kesalahan hamba? hamba... "


Asmi diam tak menjawab. Dia berlalu pergi dari keramaian pesta dan masuk ke kamarnya. Hatinya sedih. Ternyata dia belum diterima sepenuhnya oleh bangsa suaminya, yaitu bangsa jin sebagai bagian dari mereka. Karena mereka beranggapan bahwa manusia adalah sebagai makhluk yang lemah dan menjijikkan.


__ADS_2