Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 80 Yang Tertinggal....


__ADS_3

Asmi meringis memegangi kepalanya yang terasa pusing dan berkunang - kunang. Tubuhnya pun masih terasa lemah. Namun suhu tubuh Asmi sudah turun setelah kemarin terserang demam tinggi.


" Ughh, dimana aku?" Asmi menoleh ke kiri dan kanan. Nanar matanya memandangi sekeliling. Rasanya dia mengenali tempat ini.


"kamu sudah sadar?" Pangeran Hasyeem tiba-tiba muncul di hadapan Asmi.


Asmi membuang pandangan ke lain arah, tak ingin bersitatap dengan bola bening berwarna coklat terang yang menatap penuh cinta dengan segenap kerinduan.


" Kamu masih marah padaku, sayang?" Pangeran Hasyeem memegang wajah Asmi dan menghadapkan tepat di hadapannya.


" Aku tak berhak marah, pangeran. Aku cukup tahu diri, siapa dan bagaimana aku. Aku mohon, tinggalkan saja aku dan akhiri saja hubungan ini. Biarkan aku kembali ke kehidupan asalku." kata Asmi sambil menangis. Dadanya terasa sesak oleh rasa yang dia sendiri pun tak tahu, apa dan seperti apa.


" Kamu jelas masih marah padaku!" Pangeran Hasyeem memandang wajah wanita pujaannya Rasa gemas di hatinya namun juga sedih karena melihat wanita ini menangis bercampur jadi satu.


"Sudah kukatakan, aku tak marah. Dan aku tak berhak untuk marah karena ucapanmu benarlah adanya!" emosi Asmi menjadi terpancing.


" Jika tidak marah mengapa berniat untuk berpisah?" Asmi tergagap tidak tahu harus menjawab apa. Tapi.. dia merasa jika hubungan mereka pada akhirnya juga hanya akan berakhir luka. Sudah cukup banyak hal yang terjadi selama mereka menjalani hubungan ini, dan itu semua membawanya pada satu kesimpulan bahwa cinta mereka adalah hal yang mustahil. Dia merasa tidak pantas.


" itu... itu karena aku merasa tak pantas saja menjadi kekasihmu. Karena aku, kamu dan ayahmu bersitegang dan sekarang menjadi seteru bagi sepupumu sendiri !"


" Aku tahu, Namun setelah semuanya yang terjadi masihkah kamu meragukan kesungguhanku dalam mencintaimu?"


Asmi diam tak berkutik. Memang, cinta pangeran Hasyeem tidak di ragukan lagi. Lelaki itu sangat mencintainya.


" Jawab, sayang! apakah kamu meragukan cinta dan kesetiaanku?" pangeran Hasyeem menatap langsung manik mata Asmi yang kini penuh dengan butiran - butiran kristal bening yang menyeruak deras tak ingin untuk berhenti.


" Aku... akh...!" Asmi tak dapat meneruskan ucapannya. Dadanya sesak oleh rasa pedih. Dia merasa gamang. Asmi bangkit dari tempat tidur walau kepalanya masih dirasa berat. Dia berjalan dengan sempoyongan ke arah jendela yang terbuka menghadap ke arah lembah. Rupanya rumah ki Anom berada di puncak bukit.


Pemandangan dari jendela ini sedikit banyak menyejukkan hatinya.


Pangeran Hasyeem menyusul Asmi dan berada tepat di belakang tubuh wanita itu.


" Jika masih meragukan kesetiaan dan cintaku, adakah cara lain lagi untuk membuktikan cinta ini. !" tanya pangeran Hasyeem. Di kecupnya pundak Asmi dan menyesap wangi rambut wanitanya.


Asmi berbalik dan menatap sepasang netra coklat terang milik pangeran Hasyeem dalam. Bintik kuning yang sama walaupun terlihat lebih kecil dari milik Azyziel terlihat diliputi kabut kesedihan, kecewa, dan juga lelah...!

__ADS_1


" Sanggupkah kamu memenuhi permintaanku, sebagai bukti kesetiaan dan cintamu padaku? "


" Apapun itu, akan kulakukan demi membuktikan cinta dan kesetiaanku." jawabnya.


" Jika demikian, menikahlah dengan Putri Azylla dan lupakan aku!" Bukan mudah bagi Asmi untuk mengatakan hal itu. Terasa ada ratusan jarum yang menghujani lidah dan dadanya. Perih dan sakit.


Bagaikan di sambar petir, wajah pangeran Hasyeem tiba - tiba mengeras lalu berubah pias.


Permintaan Asmi bagaikan tusukan ujung pedang emas berhulu naga miliknya. Tajam dan mematikan. Untuk sejenak, pangeran tampan itu terdiam dan tak mampu berbicara. Otaknya mencerna kata demi kata yang terlontar dari bibir indah sang kekasih.


" Mengapa kamu menjebakku dengan pilihan itu?" Ada kilatan marah di netra coklat miliknya.


" Karena hanya itulah yang paling benar, di antara semuanya. Ketetapan ayahmu adalah titah dan mutlak terlaksana. Apalah dayaku, hanya seorang wanita, dan sialnya tak ada yang bisa aku banggakan. Kebetulan saja takdir baik berpihak padaku diantara semua kemalangan ini, aku bisa mengenal dirimu. Pergilah.... dan lupakan aku. Aku akan berusaha untuk merelakanmu.


Cukuplah cinta dan kenangan akan dirimu bagiku. Karena aku tak bisa memaafkan diriku jika harus menjadi sebab akan rusaknya hubungan antara seorang lelaki dengan wanita yang sudah menjadi tunangannya, seorang ayah dengan putranya, seorang kakak dari saudaranya yang lain. Katakan padaku... bagian mana dari diriku yang layak untukmu? Apakah tunggu ayahmu membunuhku dulu baru kamu menyadari bahwa begitu tidak diinginkan aku sebagai menantu ayahmu?" kata Asmi dengan emosi. Tubuhnya terguncang oleh isak yang ditahan.


Mata pangeran Hasyeem berkaca - kaca mendengar ucapan Asmi. Hatinya sakit... sesakit sakitnya rasa.


" Mengapa semua jadi begini?, pikirnya kalut.


Asmi mengusap air matanya kemudian berlalu dari hadapan pangeran Hasyeem.


Asmi memejamkan matanya. Meraba cincin bermata safir biru dan berniat dalam hati untuk pulang ke rumah. Tempat sebaik - baiknya bagi semua kelelahan hati dan jiwanya saat ini.


Sekejap kemudian tubuhnya lenyap. Dia kembali ke tempat asalnya. Dunia manusia, tempat dimana semua kebaikan dan keburukan karma terjadi.


Meninggalkan pangeran Hasyeem yang masih saja berdiri mematung tak percaya akan permintaan gila sang kekasih.


Air matanya sudah jatuh sedari tadi. Pangeran Hasyeem menangis. Pangeran jin yang perkasa dan sakti pilih tanding itu ternyata kalah oleh rasa cinta dan kasihnya pada seorang wanita yang berasal dari golongan manusia.


Tubuhnya bergetar oleh rasa sedih yang membakar habis seluruh relung hatinya hingga hanya menyisakan ratapan pilu tak berkesudahan.


...-----...


Asmi kini sudah berada di rumahnya kembali. Wanita cantik kembang desanya itu kembali menjalani rutinitas sehari - hari plus gelar janda 'hadiah' dari Ilham.

__ADS_1


Tak ada yang istimewa dari kehidupan yang dia jalani sekarang. Sesekali kadang berkelana ke negeri bawah laut tempat Paduka Raja Marick berada. Di sana dia belajar ilmu kanuragan dan sebagai ganti timbal baliknya dia mengajarkan anak - anak istana mengaji dan juga pelajaran seperti membaca dan menulis.


Semua hal itu dia lakukan, semata-mata untuk membunuh rasa kehilangan dan juga kesepian yang melanda hatinya karena kini dia hanya hidup sendiri.


Waktu pun dengan congaknya berlalu. Tiada terasa, dua purnama telah berhasil dia lalui tanpa kehadiran seorang pangeran Hasyeem di sisinya. Dia mulai terbiasa hidup sendiri lagi, walaupun kerinduan dan rasa cinta pada pangeran jin yang tampan itu tidak bisa hilang. Tak dapat dia pungkiri, jauh di lubuk hati, dia sangat merindukan kehadiran jin tampan penguasa Bukit Malaikat itu.


Pagi ini, Asmi bangun seperti biasa untuk sholat subuh dan olahraga pagi. Namun rasanya pening di kepala membuat pandangan Asmi berkunang - kunang. Tubuh limbung dan hampir saja terjatuh jika tidak segera berpegangan pada sandaran ranjang.


Dia heran, beberapa hari terakhir dia merasakan ada yang lain di tubuhnya. Dia merasa mudah lelah dan pusing. Belum lagi rasa mual yang menyerangnya akhir - akhir ini.


" Apa yang salah dengan diriku. Apakah aku sedang sakit?" Asmi berkaca memandang cermin besar di lemari. "wajahku pucat sekali. Kayaknya aku benar-benar sakit. Mungkin aku harus pergi ke dokter. " kata Asmi pada diri sendiri.


Siang harinya, Asmi menyempatkan diri untuk memeriksakan keadaannya. Saat pulang dari mengantarkan Nadia, dia langsung pergi ke klinik terdekat.


Dokter di klinik itu sudah selesai memeriksa kondisi Asmi. Asmi merapikan kembali pakaiannya.


" Ibu Asmi, test urine ya!" kata Dokter itu.


Mulut Asmi sampai ternganga lebar mendengar ucapan dokter wanita yang tadi memeriksanya.


" Maaf, tapi kalau saya boleh tahu, saya sakit apa, ya dok? " Asmi heran, dia hanya merasa tidak enak badan dan meriang. Kenapa harus pake test urine segala. Asmi menjadi parno sendiri dengan pikirannya.


" Ibu nggak usah cemas, saya hanya ingin memastikan sesuatu. Oh.. iya. Kapan terakhir kali ibu Asmi menstruasi? " tanya dokter itu, lagi. Asmi mengingat - ingat kapan terakhir kalinya dia mendapat tamu bulanannya.


Dia langsung menutup mulutnya, kini sepertinya dia mulai bisa meraba ke arah mana maksud dari dokter yang menyuruhnya guna test urine. Walaupun dia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi bumil, namun dia juga tidak bodoh - bodoh amat untuk gagal faham akan maksud dari dokter yang ingin mengatakan bahwa dirinya hamil.."


" Gimana, ibu sudah ingat? "


" sebenarnya, bulan ini saya seharusnya sudah mendapatkan tamu bulanan saya. Tapi sepertinya, tamu bulanan saya telat, dok!"


" Biasanya setiap tanggal berapa? "


" Biasanya setiap tanggal 3 atau tanggal 5 setiap bulannya."


" hmm, sekarang sudah tanggal 21, jadi ibu Asmi telat sekitar dua mingguan, ya bu! " kata dokter tadi.

__ADS_1


Duarrrr!!! Asmi seakan-akan di sambar petir di siang hari bolong. Dia menjadi panik. Jantungnya seaka berhenti berdetak. Bagaimana ini..?, pikirnya.


Ya, Allah. Bukannya dia tak bersyukur atas Anugrah-Nya yang diberikan padanya, namun keadaannya tak memungkinkan dia untuk memiliki seorang anak. Dia tidak bersuami tapi kini sedang hamil. Apa nanti kata orang - orang. Kepala Asmi jadi bertambah pusing.


__ADS_2