Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 180 Catatan Perjalanan Arryan ( Part 5)


__ADS_3

Kulihat beberapa orang berjalan ke arah kami. " Lepaskan, kami..! " teriak Tano dengan wajah merah." Mengapa kalian mengikat kami di sini? " Tanyanya kemudian.


" Sayang sekali, kami tak bisa melakukannya... " kata seseorang dari balik topengnya. Aku menaikkan sebelah alis ke atas. Seperti aku mengenali suara itu


Suara itu adalah..... suara Melda.


" Melda...... ka.. kamu..... Melda? " sentakku setengah tak percaya. Juga dengan ketiga orang temanku yang lain. Mereka menjadi sangat terperanjat saat aku menyebutkan nama Melda. Mereka tak menyangka salah satu diantara orang-orang yang bertopeng itu adalah teman mereka. Lebih terperanjat lagi mereka saat kemudian akhirnya salah seorang yang bertopeng itu membuka topengnya.


" Iya.... ini aku." Melda menyeringai dengan senyuman puas. Hilang sudah tampang lugu, lembut dan anggapan gadis lemah lembut dan mudah panik seperti yang selama ini terlihat. Kini berganti dengan pandangan mata kejam dan penuh dengan aura membunuh di matanya.


" Apa...? Tapi.....mengapa....? tanyaku dengan keheranan yang gak habis - habisnya. Ternyata Melda, teman yang selama ini kami kenal sebagai sosok dengan jiwa sosial yang tinggi dan lemah lembut serta gampang sekali panik, adalah pembunuh berdarah dingin yang kejam.


" Aku adalah salah satu dari mereka. Aku adalah putri dari Pak Saharuddin. Kepala desa dan juga kepala suku di tempat ini." katanya sambil berjalan menghampiriku.


" Tapi.... bukannya di data, kamu berasal dari Malang, juga kota tempat kelahiran mu pun berasal dari sana. Dan lagi pula nama ayahmu bukan Bapak Saharuddin, tapi Bapak Juliansyah." tukasku padanya.


" Hahaha, Arryan.... lugu sekali atau bodoh? Hari gini, masalah data, apa yang susah? Aku tinggal memasukkan data ke sistem, dan sistem sendiri yang akan memasukkan datanya. Seperti sistem dalam list tentang tempat tujuan KKN. Kalian tentu saja heran, mengapa tempat ini masuk dalam daftar tujuan KKN padahal lokasi tempat ini tidak tercantum dalam peta. Pintar bukan? " Melda tertawa licik. Aku menjadi geram. Ternyata dia yang ada di balik semua data yang selama ini kami Terima. Dia telah memanipulasi semua data tentang desa Wentira.


" Hmm.... benar - benar licik dan kejam, pastilah kalian yang sudah membunuh gadis yang aku lihat waktu itu? "


" Yah...... saat kamu bercerita bahwa kamu melihat gadis itu, aku tahu bahwa gadis itu adalah salah satu dari arwah yang menjadi tumbal untuk desa kami."


"Mengapa kalian tega melakukan semua ini. Perbuatan kalian sungguh biadab! " Kata Afdal.


" Huh, kami tidak biadab. Justru kalianlah yang telah merusak lingkungan tempat tinggal kami. Hutan - hutan itu telah rusak oleh keserakahan kalian orang - orang kota." dia menjawab dengan dingin.


" Untunglah para leluhur kami menjaga kami semua dari kekejaman kalian. Yang Kami hanya perlukan hanya tumbal untuk para leluhur kami, sebagai bentuk penghargaan untuk semua jasa - jasa mereka. Merekalah yang akan menjaga keberadaan tempat ini dan melindungi kelestarian kampung kami. Leluhur kami yang agung akan selalu menjaga kami semua." Kata Melda diikuti oleh anggukan kepala dari orang - orang yang berdiri dibelakangnya.


" Leluhur kalian adalah iblish yang haus darah.... " desisku penuh amarah.


" Kamu yang Iblis. Apa kamu kira aku tak tahu siapa dirimu?" kata Melda dengan pandangan tajam kepadaku. Aku tertegun. Apa maksud ucapan Melda tadi. Apa dia sudah mengetahui tentang identitas asliku..?


Melda lalu bergerak mendekat ke sebelahku dan berkata. " Apa perlu aku buktikan kepada mereka siapa dirimu, Hai anak haram jin..!" bisiknya dengan penekanan pada akhirnya kalimatnya. Darahku mendidih saat mendengar apa yang dia ucapkan. Berani sekali di mengatakan aku adalah anak haram jin. Wah..wah....dia sudah berani menginjak - injak harga diri keluargaku. Aku berdecih menahan geram sambil terus berusaha untuk membuka ikatan tali di tanganku pada tiang.


Dengan isyarat matanya, orang - orang bertopeng itu berjalan ke arahku dan juga Tyas. Beberapa orang lagi berjalan ke arah Afdal dan Tano. Melepaskan ikatan tali yang mengikat kami semua lalu menggiring kami ke sebuah tanah lapang yang terletak di alun-alun desa.


Di sana, telah berkumpul seluruh warga desa Wentira dan kepala desa mereka.


Mereka semua memakai pakaian seperti jubah serba putih dengan tudung kepala. Kecuali kepala desa yang memakai pakaian serba kuning.


Riuh rendah suara para penduduk menjadi hening saat melihat kami di bawa memasuki tempat itu. Aku dan teman - temanku di giring ke tengah lapangan seperti akan menjalani sidang. Lalu mereka kemudian di ikat satu persatu di tonggak batu besar yang berbentuk totem. Setelah mengikat tubuh kami salah seorang dari mereka kemudian mengeluarkan sebuah benda dari balik baju, lalu menancapkan benda tersebut di empat penjuru dari tempat aku diikat.

__ADS_1


Kembali warga desa berbisik - bisik sambil menatap ke arah kami. Tak lama kemudian, Pak Sahar mulai berbicara.


" Saudara - saudaraku sekalian, hari ini kita kembali mempersembahkan kepada leluhur kita yang Agung berupa tumbal untuk tanah leluhur kita. Semoga curahan rahmat dan keabadian selalu tercurah untuk kita semua. Puja untuk leluhur desa Wentira.... Puja dewa yang Agung..." kata Kepala desa sambil mengangkat kedua tangan ke atas.


Melalui isyarat tangan, dia memerintahkan untuk segera memulai upacara pengorbanan untuk leluhur mereka.


Melda menyeringai menatapku sambil mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Tano yang berada di sebelahku membelalakan matanya demi melihat benda apa yang sekarang berada dalam genggaman tangan Melda. Sebilah belati berhulu warok terhunus di tangannya.


" Melda..... sadar, Mel. Kamu itu sudah dirasuki oleh iblis. Istighfar.. Mel. " kata Tano dengan wajah cemas dan ketakutan.


" DIAM....BERISIK...! Tunggu saja giliranmu. " Melda membentak Tano yang kini sudah menutup matanya karena tak tega melihat belati yang terarah kepadaku.


Sorak sorai riuh para warga yang sudah mulai tak sabar menanti eksekusi untuk kami. Bau menyan dan juga wangi - wangian lain bercampur menjadi satu dengan bau asap dari tungku api yang mereka nyalakan di depan tiang pengikat kurban.


" Bunuh..... mereka..... korbankan mereka untuk dewa kesuburan.... Aku mau tanah Pertanian tumbuh subur dan hasil panenku melimpah seperti tahun lalu....! " teriak salah satu warga.


" Bunuh...! bunuh.......! " sorak sorai warga semakin ramai.


Wajah ketiga orang temanku sudah semakin pucat. Nyali mereka semakin ciut. Terlebih saat melihat beberapa orang - orang yang bertopeng tadi mulai mengeluarkan senjata mereka, siap untuk melakukan eksekusi.


" Melda.....ya Allah, Melda....sadar, Mel...kamu sudah dirasuki iblis. Mereka sudah memperalat dirimu agar bisa mendapatkan tumbal." kata Tyas dan Afdal yang bergantian berteriak mengingatkan Melda demi membuat Melda sadar dari kesalahannya.


" Hahaha, Kalian diamlah....Aku sudah muak dengan kalian semua. Sekarang kita lihat apa yang bisa dilakukan oleh jin terkutuk itu untuk menyelamatkan putrinya. Hari ini akan menjadi hari yang bersejarah karena kami telah berhasil menumbalkan seorang anak keturunan Jin penguasa Bukit Malaikat, hahaha" katanya sambil tersenyum licik.


" Sekali saja kamu berani menyentuh putriku, maka aku bersumpah aku tak akan mengampuni dirimu dan semua penduduk desa ini." ayahku terlihat sangat marah sekali. Kilatan matanya berapi-api, menatap nyalang ke arah Melda dan orang-orang bertopeng itu.


" Hahaha, aku sudah menduga semua ini akan terjadi, jin keparat sepertimu pasti akan datang untuk menyelamatkan putrimu. Namun, tak perlu khawatir karena aku sudah mempersiapkan semuanya untuk menyambut tamu kita yang Agung ini..." Pak Sahar tertawa terbahak - bahak, lalu kemudian memberi isyarat kepada Melda selalu putrinya.


Dengan patuh, Melda kembali merogoh sesuatu dibalik bajunya dan mengeluarkan beberapa buah bambu kuning dari balik bajunya. Mulutnya komat kamit membaca mantera lalu kemudian melemparkan bambu kuning yang sudah diberi mantra itu tepat di hadapan Pangeran Hasyeem. Pangeran Hasyeem mundur beberapa langkah. Bambu kuning itu mengekang dan mengurung suami Asmi tersebut hingga tak bisa bergerak kemana - mana.


" Mampus kau jin keparat. Rasakan sekarang kamu tak bisa berkutik." Mulutnya komat kamit membaca mantera hingga tak lama kemudian jilatan bambu kuning yang melingkari Pangeran Hasyeem terbakar seketika. Api membubung merah dan menjulang tinggi menutupi tubuh ayahku, Sang Pangeran Penguasa Bukit Malaikat.


" Ayahhhh..... " aku menjerit sekuat tenaga saat melihat api itu menutup seluruh tubuh ayahku. Api itu semakin besar saja seperti sedang memakan seonggok kayu kering. Aku menangis sekencang - kencangnya sambil berteriak meronta - ronta memanggil - manggil ayahku. Tubuhku lemas tak bertenaga, juga jiwaku seakan hilang saat melihat api itu kemudian berkobar membakar tubuh ayahku tanpa ampun.


" Biadab..... kalian biadab.... kalian akan merasakan pembalasan dariku..... " Aku berteriak dengan marah.


Warga desa bersorak-sorai mengelu - elukan api yang sudah membubung tinggi dan membakar habis tubuh ayahku.


Bersamaan dengan itu, tangan kepala desa terangkat ke atas dan berseru.


" Wahai para leluhur kami.. terimalah korban sesembahan kami. Hari ini kami sembahkan darah - darah suci untuk keabadian dan kemuliaan desa kami. Terimalah.... kurban kami.... "

__ADS_1


Seketika, langit berganti warna menjadi hitam... Petir menyambar - nyambar di langit. Lalu kilatan cahaya petir itu kini berkelebatan menyambar - nyambar tempat dimana kami semua terikat.


Aku melihat tubuh Tyas dan Afdal bergetar hebat. Aku tak tahu, apakah karena takut, atau karena sambaran petir. Namun yang jelas, suasana di tempatkan tersebut menjadi mencekam.


Tangan para algojo dan juga tangan Melda sudah terayun ke atas siap menghujam ke tubuh kami semua. Aku memejamkan mata dan mengumpulkan semua kekuatanku, lalu tiba-tiba.....


Jeritan memilukan terdengar di telingaku....


Tapi tunggu dulu, itu bukan jeritan teman - temanku, tapi jeritan orang lain.


Aku terperangah tak percaya.... tubuh Melda berdiri tegak di hadapanmu dengan belati yang masih terhunus di tangan, tapi.... tanpa kepala. Begitu juga halnya dengan ketiga orang bertopeng yang siap mengeksekusi ketiga temanku.


Pak Sahar berteriak histeris saat melihat putri kesayangannya kini tanpa kepala. Juga warga desa Wentira. Mereka semua tertegun menyaksikan kejadian yang tak terduga itu. Rasanya tak percaya, bahwa kurban untuk leluhur mereka kali ini adalah putri kepala desa mereka sendiri dan juga ketiga algojo itu.


" Melda.... anakkuuuuu! " teriak Pak Sahar dengan tubuh bergetar. Sontak dia berlari ke arah tubuh Melda yang masih berdiri tegak. Namun baru saja dia hendak bergerak, sebuah kilatan cahaya berkelebatan di hadapannya. Sedetik kemudian, kedua tangan Pak Sahar sudah putus dan jatuh ke tanah.


Seseorang sudah menebasnya. Wajah Pak Sahar pucat pasi saat melihat siapa yang telah menebas kedua tangannya.


" Kau...! " desisnya dengan mulut ternganga. Ayahku sudah berdiri di hadapannya juga kedua orang kakakku dan juga....Andros. Pemuda tampan jelmaan jin yang baru saja ku kenal itu datang bersama keluargaku.


" Aku sudah berkata sebelumnya, jika kami berani menyentuh putriku, maka aku akan menghabisi dirimu dan seluruh warga desa ini."


Selesai berkata demikian, kembali kelebatan cahaya berputar dan bergerak cepat mengitari penduduk desa disertai dengan jeritan kesakitan yang menyayat hati.


Setelah itu, hening..... yang tersisa hanya lah mayat - mayat penduduk desa yang bergelimang di tanah lapang yang kini berwarna merah oleh darah mereka.


Semua penduduk desa yang hadir pada upacara pengorbanan manusia itu semua tewas dengan menggenaskan. Tubuh mereka terpotong - potong. Ironis sekali... upacara yang semula mereka lakukan untuk mempersembahkan kurban manusia bagi leluhur mereka, berakhir dengan mereka sendiri yang menjadi kurban bagi tanah leluhur mereka sendiri.


Demikianlah..... seperti kata pepatah mengatakan, siapa yang menabur angin, akan menuai badai. Siapa yang berani menanam kejahatan maka akan binasa oleh kejahatan mereka sendiri.


Ketiga temanku tak sadarkan diri karena terlalu shock dengan kejadian mengerikan yang terjadi dan menimpa mereka. Mereka pun masih tak sadar saat mereka kemudian dipindahkan dari tempat itu oleh ayahku ke tempat kami semula berada.


Kini, ketiganya kembali beraktivitas seperti semula tanpa ingat satupun juga tentang peristiwa yang menimpa mereka di desa Wentira. Yah.... ayahku sudah menghapus seluruh ingatan mereka tentang desa Wentira. Sehingga, mereka tak akan mengingat apa pun juga tentang peristiwa tersebut.


Sedangkan Desa Wentira, kini sudah menjadi desa hantu, karena semua penduduknya sudah menjadi arwah yang menepati desa itu seperti janji leluhur mereka, mereka hidup dalam keabadian bersama abadinya desa tersebut. Hutan belantara menjadi selimut tebal yang menyelimuti desa tersebut dari sentuhan peradaban manusia.


Sampai saat ini tak ada lagi yang pernah mendengar atau menginjakkan kaki ke sana. Desa Wentira laksana hilang ditelan bumi.....


Tanggal 10, Juli 2022


Berita Dunia terpopuler saat ini;

__ADS_1


Para Arkeolog dunia saat ini sedang mengadakan ekspedisi ke Desa Wentira.....


__ADS_2