Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab.22 Air terjun Alas Tirta


__ADS_3

" Don, apa kita nggak salah jalan? perasaan dari tadi kita hanya berputar - putar terus di sini ! " bisik Nazwa pada Doni yang berjalan di sebelahnya.


" Iya nih, Ryan. Payah banget jadi penunjuk jalan. kayaknya kita nyasar.? "


"Kata siapa kita nyasar. Kan, aku sudah bilang, aku pernah ke tempat ini sebelumnya, jadi kalian tidak perlu takut. Memang begini rutenya. Banyak sekali tempat - tempat yang terlihat sama namun sebenarnya berbeda. Hal inilah yang sering membuat bingung para penjelajah hingga mudah tersesat. " kata Ryan.


Isna dan Nazwa saling berpandangan. Mereka enggan berkomentar lagi. Suasana sepi yang mencekam sedari mereka memasuki wilayah hutan ini cukup membuat mereka sedikit kehilangan nyali.


Nazwa merasa seperti sedang di awasi. Hal itu, membuat Nazwa menjadi khawatir. Apalagi peristiwa beberapa malam yang lalu, masih saja menghantui pikiran Nazwa.


Mereka berhasil membujuk Ryan untuk menjadi pemandu jalan ke Hutan Alas Tirta. Dan di sinilah mereka sekarang, di hutan Alas Tirta. Mereka berangkat dari kos kosan Nazwa pagi pagi sekali.


Flashback on


" Please, Ryan. Gue minta tolong banget sama lo, hanya lo yang tahu tempat dan daerah itu. Dan lagian lo kan sodara gue, masa lo tega ngebiarin gue dan teman teman gue pergi ke sana. Yang ada..entar kami semua nyasar lagi.!" Doni kembali lagi mendatangi kos kosan Ryan dan membujuk lelaki itu agar mau menemani dan menjadi penunjuk jalan bagi dia dan teman temannya.


" justru karena gue sayang sama lo, makanya gue nggak ngebiarin lo pergi ke tempat itu. Lo kagak tau aje, dua orang sahabat gue mati meregang nyawa di tempat itu." ucap Ryan sambil menghela nafas berat.


Ada duka yang kembali hadir saat kenangan buruk bersama dua orang sahabatnya itu melintas dalam ingatannya.


" Tapi kali ini gue janji, kami nggak akan ngapa- ngapain. Lo percaya sama gue, nggak bakal terjadi apa - apa pada kami, karena niat kami murni cuma ingin melihat dan mengabadikan keindahan Air terjun Alas Tirta. Gue pastiin setelah selesai kita semua bakal pulang secepatnya. Oke, bro..! "


"nggak, gue tetap nggak mau ikut! " Ryan bangkit sambil berjalan menuju kulkas yang ada di pojokan kamarnya. Mendadak saja kerongkongannya terasa kering.


" Oke, fine. Kalo lo nggak bersedia nemenin kita, kita bertiga akan tetap pergi. Gue cabut, bro.! " Doni kecewa karena Ryan tetap keukeuh pada pendiriannya.


Ryan menatap punggung Doni dengan pandangan tak terbaca.


" Don, tunggu. Baiklah lo menang. Selesai pemotretan langsung pulang. Usahakan kita nggak bermalam di hutan itu. " Ujar Ryan akhirnya. Doni tersenyum lebar sambil mengacungkan dua jempol.


" Makasih, bro. lo emang sahabat dan sodara gue yang paling baik. " Doni kemudian pamit pulang dengan perasaan senang.


" Sama-sama, bro. hati hati di jalan." balas Ryan. Dia kembali menghela nafas.


Sebenarnya Ryan terpaksa menyetujui untuk mengantarkan Doni ke Hutan Alas Tirta, karena Ryan takut akan terjadi sesuatu hal yang tak di inginkan pada Doni.


Selain sebagai sahabat ,Doni juga adalah saudara sepupu Ryan. Sehingga lelaki berambut sedikit gondrong itu akhirnya terpaksa menyetujui untuk mengantarkan Doni dan temannya pergi ke Hutan Alas Tirta.

__ADS_1


Flashback off


Mereka bertiga terus melangkah memasuki Hutan Alas Tirta mengikuti jejak langkah Ryan yang berada di depan.


Hari sudah menjelang dhuhur, ketika mereka akhirnya tiba di air terjun Alas Tirta. Air terjun itu tampak indah, menjulang dengan angkuh dari atas sana memuntahkan jutaan ton air yang jatuh ke bebatuan di bawah sana lalu memercik ke sungai kecil yang mengalir ke hilir di bawahnya.


Rimbun pepohonan hijau dan batu batu cadas di balik air terjun iti sangat kontras dengan bening warna air terjun yang jatuh dari atas ke bawah. Sementara gemuruh suara air terjun berbanding terbalik dengan kesunyian alam di sekitarnya.


Nazwa dan teman - temannya tertegun memandangi keindahan ciptaan Tuhan yang ada di depannya.


Sungguh sebuah mahal karya alam yang sempurna. Tanpa menunggu lama, mereka segera mengambil beberapa gambar panorama air Terjun Alas Tirta serta keadaan alam di sekitar tempat itu.


Tak lupa juga mereka mengambil beberapa foto selfie dengan latar belakang keindahan air terjun Alas Tirta.


Setelah selesai melakukan pemotretan, mereka memutuskan beristirahat dan makan siang dengan bekal masing-masing.


" Lo, sudah selesai makannya.? tanya Doni pada Nazwa yang hanya membalas dengan anggukan karena masih ada sisa sisa makanan di mulutnya.


Dia menyodorkan air mineral pada Nazwa. Gadis itu menerima dengan malu - malu.


Doni memang selalu saja peka dan bersikap melindungi. Hal itulah yang sering kali membuat Nazwa menjadi salah tingkah. Dia bukan buta dan tuli akan signal cinta yang di kirimkan Doni padanya.


Setelah makan dan sholat dhuhur, Mereka kemudian memutuskan untuk pulang, mumpung hari masih siang.


" Ayo, bersiap. Waktunya kita pulang. Cek kembali barang kalian jangan sampai ada yang tertinggal. " Kata Doni.


Sementara Ryan sudah berdiri bersiap. Lelaki itu sudah selesai berbenah sedari tadi.


Nazwa dan Isna segera mengecek peralatan mereka. Setelah memastikan tak ada satupun yang tertinggal, mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang.


Tanpa mereka sadari, sedari awal kedatangan mereka di air terjun itu, sepasang mata terus saja mengawasi segala gerak gerik mereka.


Sesosok makhluk dengan wajah menyeramkan, menyeringai lebar dengan lidah yang terjulur panjang mencapai punggung Nazwa.


Nazwa merinding merasakan bulu kuduknya berdiri. Namun Nazwa mencoba mengusir rasa takutnya dengan beristighfar dan membaca doa dalam hati.


Seketika makhluk itu menarik kembali lidahnya yang terasa panas dengan marah. Matanya membara menatap Nazwa.

__ADS_1


...-----...


Sementara itu, Asmi berjalan mondar-mandir sendiri di kamarnya. Perasaan Asmi mendadak gelisah.


" Heran, kenapa perasaanku jadi nggak enak, ya? aku selalu kepikiran sama Nazwa. Semoga saja dia nggak kenapa napa. "


Asmi mencoba menghubungi nomor gadis itu tapi whatsappnya tidak aktif. Asmi makin cemas.


" Iih, Nazwa..! kenapa handphonenya pake nggak aktif segala, sih.! "


Blusss! Hasyeem muncul dengan wajah yang serius.


" kamu ,kenapa?" tanya Asmi heran.. Tak biasanya kekasih hatinya yang tampan itu muncul dengan wajah yang full serius.


" aku mau menunjukkan sesuatu padamu! " kata Hasyeem. Segera Asmi berjalan ke arah Hasyeem, menghampiri lelaki itu.


" Pegang tanganku, akan ku tunjukkkan sesuatu, tapi berjanjilah untuk tidak panik. "


Segera setelah memegang tangan Hasyeem, Asmi merasa sebuah kekuatan menyeret tubuhnya. Rasanya tubuhnya seperti terlempar ke dimensi waktu yang lain.


" Hasyeem, aku takut..! " Asmi memeluk tangan Hasyeem erat.


" pejamkan saja matamu jika kau takut. Aku akan menjagamu. " Lelaki itu kemudian mendekap tubuh Asmi kedalam pelukannya. Sesaat kemudian mereka sudah berada dalam sebuah ruangan.


Asmi tertegun saat matanya sudah bisa menyesuaikan dengan keadaan kamar yang sedikit gelap.


" ini kamar Nazwa. " Asmi berguman sendiri saat melihat foto Nazwa di meja kecil di samping tempat tidur.


Rupanya Hasyeem membawa Asmi ke kamar Nazwa.. Itu artinya sekarang dia sedang berada di kosan Nazwa. Tapi di mana.??


" Kita ada di kosan Nazwa di Desa Kemang Balu, Sumatra Barat." Hasyeem menjelaskan seakan faham isi kepala Nazwa.


Asmi menutup mulutnya tanda takjub. Bayangkan saja, sekejap saja dia sudah berada di Sumatera, tanpa harus susah payah naik pesawat terbang.


" lihatlah ke sudut ruangan itu ! "


Segera Asmi mengalihkan pandangan ke arah yang di tujukan oleh Hasyeem.

__ADS_1


" Ya, Allah! Ya Tuhanku.!! Allahu Akbar." pekik Asmi dengan wajah ngeri bercampur pias. sambil menutup mulutnya agar suaranya tidak terdengar nyaring.


" Makhluk apa itu, Hasyeem?? "


__ADS_2