
Sudah dua minggu Asmi tidak bertemu dengan Hasyeem. Dia tidak pernah memanggil jin tampan itu walaupun dia sangat merindukan lelaki tampan dari bangsa jin itu.
Pagi itu, Asmi memutuskan untuk pergi jogging. Sudah lama dia tidak melakukan olahraga. Rasanya tubuhnya sudah pegal-pegal. Butuh refresing juga udara pagi yang segar.
" Pagi, dek! "
" Eh, mas Wira. kapan datang? "
" sudah dari kemarin. dek Asmi saja yang jarang di rumah. Makanya tak tahu berita. " sindir Wira.
Asmi melongos membuang wajah. Memang benar dia jarang di rumah. akhir akhir ini dia lebih sering tinggal di rumah Mirna.
" banyak kerjaan di toko, mas. " jawab Asmi sekenanya.
" oh, kamu nginepnya di rumah dek Mirna? "
Asmi mengangguk. Dia kembali melanjutkan langkahnya. Sementara Wira juga masih terus mengikuti Asmi.
Setelah cukup lama berjalan, Asmi sampai di tepi danau kecil di pinggir desa. Tempat favorit Asmi jika sudah lelah selepas jogging. Dia lalu duduk di atas rerumputan. Wira mengambil tempat di sisi Asmi.
" Tempat ini bagus ya, dek. "
" Iya, Mas. Ini tempat favorit aku untuk beristirahat selesai jogging. " kata Asmi.
Wira menatap wajah Asmi yang terlihat berkeringat sehabis jogging. Lelaki itu mendesah dalam hati.
'Betapa cantiknya perempuan ini. ' pikir Wira.
" dek, minggu ini adek ada waktu, kah? "
" hm, memangnya ada apa, Mas? "
" nggak, Mas cuma mau ngajak jalan - jalan saja. apa kamu bersedia ? " tanya Wira.
" Kalau hari minggu, mungkin bisa, Mas. karena Minggu Asmi nggak kerja. "
" oke, kalau gitu hari Minggu, mas jemput kamu. Kita jalan jalan ke kota, dek. " kata Wira.
Asmi hanya mengangguk. Senyum lebar terukir di bibir Wira. Lelaki itu sangat bahagia karena wanita yang di sukainya akhirnya mau juga di ajak jalan.
" Haus nggak, dek? " tanya Wira.
" sedikit, tapi nggak apa. Ayo kita segera pulang. Biar cepat sampai di rumah. "
" Sudah, ayo kita beli minum aja di sana. " Wira menunjuk ke warung kecil yang terletak tak jauh dari tempat mereka duduk.
" tapi Asmi nggak bawa uang, Mas. "
" Huss, nanti Mas yang beliin. "
__ADS_1
" Ayo, kita ke sana. Sekalian aja sambil jalan pulang. " Wira mengulurkan tangannya untuk membantu Asmi berdiri.
" Ayo, Mas.! " Asmi menerima uluran tangan Wira. Setelah berdiri tegak, Asmi kemudian mengikuti langkah kecil lelaki itu menuju ke warung kecil di depan sana.
" kamu mau minum apa, dek? "
" Air mineral aja, Mas " pintar Asmi.
Wira lalu membeli dua botol air mineral lantas memberikan sebotol kepada Asmi.
" Terima kasih, mas. " ucap Asmi lalu meneguk isi botol itu hingga setengahnya.
Setelah itu, mereka berdua kembali meneruskan perjalanan pulang.
Asmi tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang terus menatap dirinya dan Wira dengan pandangan marah dan cemburu.
Apalagi saat di dengarnya, Wira yang akan datang dan menjemput Asmi serta akan mengajak wanitanya itu untuk jalan jalan. Rasanya dia akan menyihir lelaki itu menjadi seekor katak.
Hasyeem menghela nafas dengan gundah. Dia sudah menemui Putri Azylla dan berbicara dengan gadis cantik itu. Mengatakan yang sebenarnya bahwa dia tidak bisa menikah dengan Putri Azylla karena dia tidak mencintai gadis itu.
Di hatinya hanya ada Asmi. Wanita cantik yang sudah mengisi seluruh relung hatinya dengan bunga bunga cinta dan rindu.
Dan benar saja, Putri Azylla yang mendengar dan mengetahui semua isi hati Hasyeem menjadi marah dan kemudian pergi begitu saja meninggalkan Pangeran Hasyeem.
Hasyeem jadi merasa was - was. Dia takut jika putri cantik itu akan berbuat sesuatu pada wanitanya. Juga takut jika Putri Azylla akan melaporkan hal ini pada ayahandanya.
Hari ini Asmi tidak ada kerjaan. Iseng dia pergi jalan - jalan ke pasar sekedar untuk membeli beberapa keperluan dapur.
Walaupun Hasyeem selalu menyuruh beberapa pelayan kepercayaannya untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah, namun dia masih senang melakukan beberapa hal sendiri.
" Lagi cari apa, Asmi? " Asmi menoleh mencari asal suara tadi. Tampak olehnya Ilham sedang berdiri sambil menggendong anaknya. Di sampingnya berdiri Ayu dengan wajah cemberut.
" Nggak lagi nyari apa - apa. " Mood belanja Asmi mendadak hilang. Kenapa juga dia mesti bertemu dengan si Bedebah Ilham.
'Apa dia mau pamerin anaknya ke aku? ' ada rasa nyeri yang menyentil Asmi. Ya... dia memang tidak bisa memberikan keturunan pada laki-laki yang kini sedang berdiri di hadapannya.
" Oh, ya mumpung ketemu. Aku mau bilang kalo gugatan cerai aku untuk Mas Ilham sudah di proses. Mungkin minggu ini sidang pertama. Mas tinggal datang.Lalu tanda tangan." kata Asmi dingin.
" Mengapa kamu lakukan itu, Asmi. Kita bertiga bisa bersama dalam satu keluarga. Kamu juga bisa menganggap Yusuf sebagai anakmu juga. " kata Ilham dengan penuh harapan.
'Bedebah! dia pikir aku sudi kembali lagi padanya! " geram Asmi dalam hati.
" Maaf, ya Ilham, Tapi aku tidak sudi jika harus kembali padamu. Lelaki yang tak setia dan tak punya pendirian. " Asmi menatap Ilham dan Ayu lalu kembali berucap.
" Lagi pula hatiku sudah aku serahkan pada seseorang. Seseorang yang seribu kali jauh melebihi dirimu. Jadi saya harap, kamu nggak usah mimpi, mengharap aku bakal mau balikan lagi sama 'kamu'. " Asmi berlalu dari hadapan Ilham dan Ayu.
Kata ' kamu' yang ditujukan Asmi pada Ilham seolah menegaskan bahwa tak ada lagi jejak bagi Ilham di hidupnya. Kini mereka hanyalah dua orang asing yang tak saling mengenal.
" Asmi, Asmi.! " panggil Ilham. Asmi berbalik ke arah Ilham dan mengangkat kedua tangannya ke atas dengan dua jempol terbalik.
__ADS_1
' Kau pecundang, Ilham.! ' seolah olah itulah yang ingin Asmi katakan pada lelaki brengsek mantan suaminya itu.
Asmi pulang kembali ke rumah. Niat hati untuk belanja hilang begitu saja.
Asmi melempar tas selempang miliknya ke sembarangan tempat. Membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil memijit - mijit keningnya yang terasa pening.
" Assalamu'alaikum, Asmi. " sebuah suara menyapa gendang telinga Asmi.
Yang Membuat Asmi terkejut adalah karena suara itu bukanlah suara yang sangat dia rindukan, tetapi sebuah suara yang sangat halus sekali.
" Si.. siapa? " tanya Asmi terbata- bata. Secepat kilat Asmi bangkit dari tempat tidurnya.
Bluss!! di hadapan Asmi berdiri seorang wanita dengan busana serba putih dan memakai cadar.
" Putri Azylla!! "
" Ya, aku. Kenapa kamu tampak sangat terkejut.? " tanya putri Azylla dengan lembut. Tak tampak aura permusuhan dari dirinya.
Asmi nampak salah tingkah menghadapi putri Azylla. Rupanya hal ini di ketahui oleh putri Azylla. Putri cantik itu berjalan mendekati Asmi. Asmi berdiri dengan sikap waspada.
" Tak usah gugup dan cemas. Aku tak akan mencelakakanmu. " kata putri Azylla sambil tersenyum.
" Ada maksud apa tuan putri Azylla datang kemari? " tanya Asmi setelah berhasil mengatasi Kegugupannya.
Putri Azylla menatap Asmi. Lalu dia mengulurkan tangannya kearah Asmi.
" Kita belum berkenalan secara resmi. Namaku Putri Azylla Zahra. Kamu boleh memanggilku Azylla saja. Aku adalah sepupu Hasyeem. Dan aku juga...kau tahu sendiri." Putri Azylla tidak meneruskan ucapannya. Namun Asmi tahu kelanjutannya.
Asmi menghela napas lalu menghembuskan kembali. Dia menyambut uluran tangan putri Azylla.
" Namaku Asmi. " jawab Asmi singkat.
" Asmi, bolehkah kita berteman? " tanya putri Azylla.
" Apa!? berteman? Maksud putri Azylla berteman yang bagaimanakah ? " tanya Asmi yang tak mengerti maksud putri Azylla.
" Berteman sebagaimana bangsa manusia berteman dengan sesama mereka. Aku ingin sekali memiliki seorang sahabat. Terutama dari bangsa manusia. Bolehkah? " tanya putri Azylla penuh harap. Ada ketulusan yang tertangkap di matanya.
Asmi menganggukkan kepala tanda setuju dengan tawaran pertemanan yang di ajukan oleh putri Azylla.
Putri Azylla seketika langsung memeluk Asmi.
" Terimakasih karena sudah mau berteman denganku. Kalau begitu aku mohon diri dulu. Lain kali kita akan bertemu lagi. " kata putri Azylla.
Putri cantik dari bangsa Jin itu kemudian menghilang dalam sekejab mata.
Tinggallah Asmi yang melongo tak percaya dengan apa yang baru saja ia alami.
' Benarkah putri Azylla ingin berteman dengannya. Apakah dia tidak merasa sakit hati karena Asmi sudah merebut tunangannya.? ' Itulah yang ada dalam pikiran Asmi saat ini. Bingung..????
__ADS_1