
Hati Asmi dipenuhi oleh bunga-bunga yang bermekaran sebelum kemudian tubuh wanita itu terkulai lemah di pelukan sang suami. Asmi pingsan karena kelelahan dan kehabisan tenaga.
" Sayang,..... sayang. Bangunlah!!" Pangeran Hasyeem panik mengetahui ibu dari anak - anaknya pingsan sehabis melahirkan.
*
*
*
Arryan sedang belajar di kamarnya. Dia ketinggalan banyak pelajaran. Sehingga harus banyak mengejar ketinggalan.
Arryan menatap benda segi empat dan pipih yang tergeletak di samping tempat tidurnya. Dulu, saat berada di negeri jin, dia hampir tak pernah mengenal benda itu. Karena mereka berkomunikasi hanya menggunakan Ajian Sepih Angin.
Benda segi empat pipih itu kini berbunyi. Sebuah chat yang berisi pesan masuk muncul.
" Hello! " Arryan buru - buru memeriksa chat tersebut.
Ting! ting! ting!
Beberapa pesan kembali masuk secara bersamaan. Isinya modul pembelajaran dari seseorang. Arryan sudah bisa menebak, siapa yang mengirim pesan, Keanan.
" Terima kasih! " Arryan mengetik pesan ucapan terima kasih kepada si pengirim pesan.
" Sama-sama! " balas Keanan.
Hening...... Arryan kembali meneruskan kegiatannya. Belajar.
Sementara itu, di langit - langit kamar Arryan sepasang mata menatapnya dengan senyum menggoda.
" Jika kanda masih saja bertengger di sana, maka sebentar lagi dinda akan melempar sepatu ini ke atas sana." ucapnya lirih namun masih bisa terdengar jelas.
" Hahaha, rupanya matamu masih tajam, dinda. Aku kira jika sudah tinggal di dunia manusia, kemampuanmu menjadi berkurang! " Azzura tertawa terbahak - bahak.
" Kanda, turunlah! " seru Arryan.
Azzura mendarat ringan di atas kasur Arryan. Adiknya itu tampak serius sedang belajar. Dia sebenarnya bermaksud hanya menengok sekilas keadaan sang adik atas perintah dari sang ayah yang kini sedang sibuk dengan kelahiran adik mereka.
" Bunda sudah melahirkan sepasang adik untuk kita! " Azzura memberi kabar .
" Benarkah, kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita pulang, kanda! " ajak Arryan.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu kan, sedang belajar! " tukas Azzura.
" Itu bisa dilanjutkan nanti. Sekarang aku ingin melihat keadaan bunda ratu. Ayolah... aku sudah tidak sabar ingin melihat wajah adik baru kita! " rengek Arryan.
Kedua kakak beradik itu menghilang dari kamar Arryan , kemana lagi jika tidak ke Bukit Malaikat, tempat tinggal orang tua mereka.
*
" Aluna, apa kamu ada waktu? ada yang mau aku bicarakan, penting! " sebuah pesan masuk melalui aplikasi Whatsapp di handphone milik Aluna.
Aluna mengamati benda pipih berwarna hitam dan berbentuk segi empat itu dengan seksama.
Neneknya baru membelikan benda itu dengan menyuruh Panji untuk membelikannya di kota. Panji juga yang memasang aplikasi perpesanan itu di ponselnya.
__ADS_1
" Ada apa ? tak biasanya Panji bersikap serius" tanya Aluna dalam hati. Dia lalu mengetik pesan buat Panji.
" Aku sedang sibuk sekarang. Bilang saja kalau ada yang penting. " balas luna di chat.
Hening sesaat, Panji belum membalas chat Aluna. Bosan menunggu, Luna memutuskan untuk jalan - jalan ke luar rumah. Namun baru saja dia akan membuka pintu kamar, ting! handphonenya berbunyi memberitahu sebuah pesan masuk.
Aluna bergerak kembali mengambil handphone yang tergeletak di atas tempat tidur. Dia membuka pesan dari Panji.
" Aku minta maaf mungkin telah lancang bersikap, tapi aku tak bisa menahan perasaanku lebih lama lagi. Aku jatuh cinta padamu! "
Mulut Luna terbuka lebar saat membaca chat dari Panji. Astaga......
*
*
*
Alyan, Azzura, dan Arryan sudah berada di istana Bukit Malaikat. Mereka datang karena Asmi, ibunda mereka melahirkan lagi sepasang adik kembar untuk mereka. Mereka ingin melihat adik baru mereka.
" Aih...gemasnya! " mata Arryan berbinar saat melihat kedua adik kembarnya yang kini sedang tertidur di samping tubuh ibundanya.
Asmi masih juga belum sadarkan diri walaupun tabib istana sudah memberikan obat yang akan mengembalikan kondisi Asmi seperti semua. Segar dan awet muda.
" Dia lebih mirip dirimu, kanda Alyan! " kata Azzura saat menggendong adik laki-lakinya.
" Tapi matanya tidak seperti mata kita, matanya mirip mata ayah! " kata Arryan.
Dua anak Asmi yaitu Alyan, dan Arryan memiliki mata yang sama seperti warna mata ayahnya, coklat terang namun tidak memiliki bintik kuning ditengah. Warna rambut Alyan dan Arryan juga sama dengan sang ayah, yaitu Coklat kemerahan. Sedangkan Azzura, mata pemuda tampan bertampang baby face itu memiliki warna mata yang sama dengan rambutnya, hitam pekat seperti warna mata Asmi.
" Siapa nama kedua adikku, ayah? " tanya Arryan pada sang ayah yang sedang duduk di samping ibunya.
" Hmm, adikmu yang laki-laki, bernama Khalied dan adikmu yang perempuan bernama Humaira."
" Khalied dan Humaira, nama yang bagus dan indah. Sepertinya aku akan sering - sering pulang untuk menengok adikku. " kata Arryan.
" Aku kira kamu akan melupakan kita karena sekarang sudah nyaman dengan kehidupan di dunia manusia." sindir Azzura.
Arryan melotot mendengar sindiran Azzura. Sedangkan Alyan hanya tersenyum sambil menggeleng - gelengkan kepala melihat pertengkaran kedua adiknya.
Salah seorang pengawal datang dan menghaturkan sembah pada pangeran Hasyeem.
" Ampun, Tuanku. Di luar ada utusan dari Negeri Atas Angin. Mereka datang ingin bertemu dengan tuanku."
" Baiklah, aku akan segera menemui mereka! " kata Pangeran Hasyeem.
Ketiga putra dan putri pangeran Hasyeem sudah terlebih dahulu melangkah keluar dan berjalan menuju pendopo istana. Mereka ingin tahu, siapa utusan yang di kirim oleh Pangeran Anggada, raja dari Kerajaan Atas Angin, dan apa maksud kedatangan utusan tersebut.
Di pendopo istana, tampaklah rombongan utusan dari raja Anggada yang kini sudah dipersilahkan duduk di kursi yang memang disediakan untuk para tamu dan utusan Kerajaan lainnya.
" Astaga, cantik sekali!!" desis Pangeran Azzura.
Semua putra dan putri pangeran Hasyeem memandang tak berkedip pada seorang gadis yang duduk di barisan paling depan dari rombongan utusan raja Anggada.
Walaupun wajahnya tertutupi cadar transparan berwarna putih, namun siapapun tak menyangkal bahwa aura dan kecantikan gadis itu begitu menonjol.
__ADS_1
" Siapa dia? " bisik putri Arryan.
" Entahlah... tapi dia cantik sekali. Aku jadi ingin tahu, siapa dan dari mana dia berasal ! " kata Azzura yang kini sudah melangkah maju bergerak ke arah pendopo. Sedangkan pangeran Alyan, lebih memilih berbelok dan ingin melangkah keluar.
" Pangeran Alyan, Pangeran Azzura dan Putri Arryan, silahkan duduk! " kata Pangeran Hasyeem yang entah dari mana sudah berada di kursi singgasana kebesarannya.
Mau tak mau, Pangeran Alyan terpaksa duduk di kursi yang telah disediakan bersama kedua orang saudaranya.
" Salam, Putri Keysha. Ada gerangan apakah yang membawamu kemari? " Pangeran Hasyeem menyambut tamunya dengan hangat.
" Salam, Tuanku. Terima kasih atas sambutan hangat dari Tuanku Pangeran Hasyeem pada kami. Maksud kedatangan kami kemari adalah menyampaikan ucapan selamat atas kelahiran putra dan putri kembar anda. Terimalah salam dari ayahanda dan ibunda kami, Tuanku. Mereka juga menghaturkan kenang-kenangan untuk kedua bayi kembar anda, tuan." Putri Keysha segera memberi isyarat pada orang yang berada di belakangnya untuk maju dan menyerahkan bingkisan dan seserahan yang mereka bawa.
" Terima kasih aku ucapkan atas bingkisan dan seserahan ini. Seperti biasa, Aku menerimanya dengan senang hati. Sampikan juga rasa Terima kasihku pada kedua orang tuamu." jawab Pangeran Hasyeem.
Sementara Ayahnya sedang bercakap - cakap dengan para tamu, pangeran Azzura tak berhenti menatap ke arah Putri Keysha. Sedangkan Pangeran Alyan tampak gelisah duduk di kursinya.
" Aluna, aku mohon tunggu aku! " bisiknya dalam hati.
Arryan memperhatikan sang kakak tertuanya tampak gelisah. Gadis cantik putri Pangeran jin itu menyenggol sang kakak dan bertanya.
" Kanda Alyan, apa ada yang salah? "
" Tidak, tapi aku merasa tak nyaman berada di sini. " jawabnya.
" Apa karena kakak sudah ada janji dengan Aluna? "
Pangeran Alyan bungkam. Putri Arryan tersenyum faham.
Sementara Putri Keysha, diam - diam gadis cantik itu memperhatikan pangeran Alyan.
" Apakah dia Pangeran Alyan yang menjadi buah bibir di Negeri jin karena berhasil menghancurkan gerbang Oreon? Tampan sekali...! " bisiknya dalam hati.
Pangeran Hasyeem dan Pangeran Alyan saling pandang.
*
*.
*
Sementara itu di Hutan Larangan, seorang gadis cantik sedang berdiri sendiri di atas bukit sambil memandang jauh ke depan. Rambutnya yang tergerai hitam sepekat malam, melambai - lambai ditiup angin.
Gadis itu adalah Aluna. Aluna datang ke puncak bukit ini karena ada janji bertemu dengan Pangeran Alyan.
" Kemana pangeran Alyan? Tak biasanya dia datang terlambat. Apa telah terjadi sesuatu dengannya? " tanya Aluna dalam hati.
krezekkk! krezzzkkkk! sesuatu dibalik semak - semak bergerak mendekati gadis itu.
" Pangeran..? Kaukah itu? " Sepi tak ada jawaban.
Tiba-tiba.....
" Arrggkhhhhh!!!! " Sesuatu dari balik semak - semak melompat keluar dan menerjang ke arah gadis itu.
" Pangeraaannnnn!!! Tolong! " teriak Aluna.
__ADS_1