Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 163 Pertempuran Di Hutan Alas Purwo ( part 1)


__ADS_3

Pangeran Alyan membuka tutup cepu emas itu dengan cepat. Lalu secara ajaib, cepu itu berubah menjadi seekor tikus


yang menggigit semua tali - tali yang - mengikat tubuh mereka semua hingga tak bersisa walau hanya sejumput saja.


" Alhamdulillah, akhirnya kita terbebas juga, kanda." seru Arryan dengan wajah riang.


...---...


Di dalam istana Penguasa Hutan Alas Purwo, terdapat sebuah tempat rahasia yang terletak di bawah istana.


Tempat itu sangat luas akan tetapi hanya sedikit saja cahaya yang sampai ke tempat itu. Tempat yang sangat menyeramkan untuk dipijak. Rintihan dan erangan dari para manusia yang di jadikan budak oleh penguasa hutan Alas purwo bukan lagi hal yang aneh untuk di dengar. Tempat itu lebih mirip seperti sebuah neraka. Di tempat itulah mereka menyiksa jiwa - jiwa manusia yang kini menjadi budak-budak mereka sepanjang sisa akhir hidup mereka.


Tempat itu dihuni oleh ratusan budak. Maka bisa kita bayangkan, begitu banyak manusia yang tergiur untuk mencari kekayaan dengan cara pintas dengan menghalalkan segala cara termasuk bersekutu dengan setan dan jin, bahkan juga dengan bangsa siluman sekalipun.


Konon katanya, sesuai perjanjian, para manusia yang meminta kekayaan ataupun kemuliaan pada Penguasa hutan Alas Purwo akan menjalani separuh dari sisa hidup mereka untuk mengabdi pada penguasa hutan Alas Purwo. Jiwa mereka pada dasarnya sudah tergadai. Jadi dilihat di mata orang awam, mereka sudah meninggal dunia karena suatu sebab. Padahal mereka sebenarnya belum meninggal, hanya saja jiwa mereka direnggut paksa untuk dijadikan abdi atau budak dari Penguasa hutan Alas Purwo sesuai dengan isi perjanjian ghaib antara manusia yang serakah dan haus akan kekuasaan dan uang dengan penguasa Alam ghaib hutan Alas purwo yang haus akan darah.


" Pengawal, cepat kumpulkan dan siksa budak - budak itu. Sepertinya mereka mulai tak patuh pada tuannya. Beri mereka pelajaran, agar mereka tahu siapa tuannya.! " titah Siluman Serigala kepada para pengawal dan Abdinya.


Pengawal dan abdi Penguasa Hutan Alas Purwo mengangguk patuh terhadap perintah Raja mereka.


Mereka segera mengumpulkan seluruh budak - budak y ada di tempat tersebut. Tubuh - tubuh kurus yang tak berbaju dan hanya bertelanjang saja, kini sudah berbaris dengan leher dan kaki yang di rantai. Sungguh miris sekali. Tadinya mereka yang hidup mewah bergelimang harta semasa di dunia, kini tak lebih mulia dari pada hewan. Na'uzubillahi minzalik.


Dengan kejam dan tak mengenal belas kasih mereka terus mendera para budak tersebut dengan siksaan yang kejam. Termasuk juga dengan keempat manusia cucu keturunan Hadi Wijaya.


Teriakan kesakitan dan minta tolong terdengar begitu menyayat hati. Suasana di tempat penyiksaan para budak itu sungguh mengerikan untuk dilihat. David dan ayahnya serta Keanan dan papanya tak menyangka akan mengalami nasib seperti ini. Eyang Hadir Wijaya beserta Eyang Hutama merasa sangat sedih dan terpukul sekali melihat nasib anak cucu keturunannya. Dia tak menyangka, bahwa keinginannya untuk membebaskan anaknya akan membawa penderitaan bagi mereka.


" Hahaha, aku bermurah hati mengizinkanmu untuk melihat bagaimana cara kami memperlakukan anak cucu keturunanmu."


" Paduka, hamba mohon ampuni hamba dan anak cucu hamba. Tolong bebaskan kami! " Suara Eyang Hadi memelas dan memohon kepada Penguasa Hutan Alas Purwo untuk membebaskan dirinya dan anak cucunya dari tahanan Raja Siluman Serigala itu.


" Hah ! Hadi Wijaya, kamu tidak berhak untuk memohon kepadaku seperti itu karena.."


" Karena kamu bukanlah lagi budaknya, Hadi Wijaya!! seru seseorang di belakang mereka.

__ADS_1


Eyang Hadi dan Raja Siluman Serigala menoleh bersamaan ke arah datangnya suara itu.


Betapa terkejutnya Penguasa Hutan Alas Purwo itu mendapati Pangeran Hasyeem dan Ketiga putra dan putrinya sudah berada di tempat itu. Dia tak menduga bahwa Pangeran Hasyeem dan ketiga putra - putrinya bisa melepaskan diri semudah itu. Padahal dia sudah mengikat keempatnya dengan tali akar ghaib pengikat raga. Pias. Hati Penguasa Hutan Alas Purwo itu kini mendadak ciut.


" Hei, Siluman Serigala licik! Lepaskan dia dan keempat manusia itu sekarang juga!" bentak Pangeran Azzura. Pangeran itu memang tak pernah sabar jika melihat seseorang berbuat kezholiman dan keangkaramurkaan.


Telinga Raja siluman Serigala memerah mendengar bentakan Pangeran Azzura.


" Bagaimana kalian bisa membebaskan diri? Bukankah aku sudah mengikat kalian dengan tali dari akar ghaib pengikat raga. "


" Kamu lupa, siapa kami?" Pangeran Hasyeem dan ke tiga putranya tertawa melihat wajah bingung Raja Siluman Serigala. " Akar ghaibmu hanyalah mainan bagi kami. Sekarang, bebaskan mereka. Kamu tidak berhak menahan Hadi Wijaya ataupun anak cucunya karena dia bukan lagi budakmu." kata Pangeran Hasyeem.


Mata Siluman Serigala itu melotot marah mendengar perkataan Pangeran Hasyeem. Nafasnya naik turun menahan geram karena melihat tahanannya berhasil meloloskan diri.


" Pangeran Hasyeem, aku minta jangan mencampuri urusanku. Aku harus mendapatkan darah suci titisan Hadi Wijaya untuk kesempurnaan ilmuku."


" Bagaimana jika aku bersikeras?" Tajam pandangan Pangeran Hasyeem pada Penguasa Hutan Alas Purwo itu.


" Maka tak ada jalan lain, kamu harus berhadapan dengan kami. " kata makhluk itu berdiri dengan kedua tangan di pinggang. Apa boleh buat, pikirnya. Dia berpikir bahwa tentulah pangeran Hasyeem tidak akan berani terhadapnya karena jumlah mereka yang lebih banyak.


Raja Siluman Serigala terperanjat. Bagaimana bisa Pangeran Hasyeem mengetahui jalan pikirannya. Apakah.... apakah dia....


" Ya, aku tahu apa saja yang ada di dalam pikiran anda. Dan sebaiknya pikirkan kembali permintaanku atau anda akan menanggung sendiri akibatnya."


" Hahaha, Aku tak pernah merasa gentar terhadap ancamanmu, Pangeran. " ejek Raja Siluman Serigala. Dia melirik pada kedua pengawalnya yang berdiri tak jauh di sampingnya. Dengan isyarat mata, dia memerintahkan kepada pengawalnya untuk mengepung dan menangkap ke empat tamunya itu.


Kedua pengawal itu mengerti akan isyarat tuannya. Mereka kemudian mengeluarkan sebuah benda dari telapak tangan mereka dan melemparkan benda tersebut ke udara.


Dalam sekejap mata benda tersebut berubah bentuk menjadi sebuah jala besar yang langsung saja menutupi mereka semua hingga tak bisa lagi kemana-mana. Itulah salah satu benda keramat andalan dua penjaga Raja siluman Serigala yaitu jala Sukma. Sebuah jala ajaib yang bisa menyedot jiwa dari makhluk yang terperangkap di dalamnya.


Kembali keempatnya terperangkap dalam jala besar yang kini sudah mulai terlihat mengeluarkan cahayanya. Hal itu sebagai pertanda bahwa jala Sukma sudah mulai menyerap jiwa dari makhluk yang terperangkap di dalam jala besar tersebut.


Putri Arryan dan Pangeran Azzura merasakan hawa panas yang merasuki tubuh mereka. Kini keduanya tak mampu lagi untuk bergerak. Mereka merasa lemas dan tak bertenaga akibat energi mereka terhisab oleh Jala Sukma. Namun berbeda dengan Pangeran Hasyeem dan Pangeran Alyan, keduanya tidak merasakan apa - apa.

__ADS_1


" Hahahaha, kini kalian sudah terperangkap di dalam jaring itu. Kalian tidak bisa lagi bergerak. Pengawal! tangkap mereka dan jebloskan ke dalam penjara! " titah Raja siluman Serigala dengan sombongnya.


Habis sudah kesabaran Pangeran Hasyeem menghadapi kelicikan Raja siluman Serigala. Dengan marah, dia mencabut pedangnya seketika itu juga. Kilatan cahaya keemasan sekelebat hadir saat pedang itu terlepas dari sarungnya. Bersamaan dengan itu, jala yang tadinya mengukung mereka kini lenyap tak berbekas.


Putri Arryan dan Pangeran Azzura menarik nafas lega karena terbebas dari jeratan jala Sukma yang menyerap habis energi mereka.


" Dinda Azzura dan dinda Arryan, apakah kalian masih bisa melanjutkan pertarungan? " tanya Pangeran Alyan kepada kedua adiknya.


" Iya, kanda. Kami tak apa- apa. Kami masih bisa untuk melanjutkan pertarungan."


Kedua pengawal raja siluman Serigala mundur beberapa langkah. Mereka tak menyangka jika jala sukma mereka akan dengan mudah dibabat habis oleh Pedang Halilintar dari Pangeran Hasyeem.


" Pengawal, tangkap mereka! " perintah kedua pengawal pribadi Raja siluman Serigala kepada para pengawal yang berada di sana.


Tak berapa lama, ratusan pengawal sudah mengepung keempat manusia yang berasal dari Bukit Malaikat itu.


Pangeran Hasyeem dan Pangeran Alyan kini bersiap maju untuk menghadapi kepungan ratusan para pengawal istana yang kini sudah mengelilingi mereka.


Para pengawal itu mengepung mereka dengan senjata terhunus siap merajam tubuh mereka.


Pertempuran hebat tak bisa lagi terelakkan. Keempat manusia jin dari Bukit Malaikat bertempur dengan sangat hebat. Pedang Halilintar dan pedang Naga Jiwo kembali meminum darah korbannya.


Satu persatu para pengawal Raja siluman Serigala, roboh berjatuhan oleh sabetan pedang kedua makhluk perkasa dari bangsa jin itu. Sementara Putri Arryan dan Pangeran Azzura mengimbangi dengan pedang dan panah mereka.


Para budak bersorak-sorai menonton pertempuran yang seru itu.Tanah yang mereka pijaki bukan lagi berwarna merah, melainkan berwarna hitam oleh darah para siluman itu. Sorak - sorai dari para budak semakin ramai. Mereka mengelu - elukan keempat pahlawan baru yang datang membawa harapan untuk membebaskan mereka semua dari perbudakan itu.


Sungguh pertempuran yang seru. Beberapa kali sabetan pedang dan senjata musuh mengenai Pangeran Hasyeem dan Pangeran Alyan, ataupun kedua anak Pangeran Hasyeem yang lainnya. Namun itu hanya sesaat. Karena luka di tubuh mereka kembali merapat dalam sekejap.


Kini keadaan menjadi berbalik arah. Para pengawal istana yang tadinya berjumlah banyak, semakin lama semakin berkurang jumlahnya. Sampai akhirnya, kini hanya tinggal beberapa saja dari pengawal Raja siluman Serigala yang masih tersisa. Semuanya tewas di tangan keempat orang itu.


" Raja siluman Serigala, menyerahlah! Semua pengawalmu sudah habis tak bersisa. Atau anda masih mau melanjutkan pertarungan ini? " tanya pangeran Hasyeem saat berhadapan dengan Raja Siluman Penguasa Hutan Alas Purwo itu.


" Cuih, Aku masih bisa menghadapi kalian semua walaupun tanpa pengawalku." Penguasa Hutan Alas Purwo itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari telapak tangannya. Sebuah benda yang berbentuk gumpalan rambut yang berbentuk seperti bola. Saat bola itu di lempar ke tanah, dari dalam tanah bermunculan makhluk - makhluk yang berwujud serigala dan mulai menyerang keempatnya.

__ADS_1


" Hati - hati, mereka adalah serigala jadi - jadian. Jangan sampai tergigit, karena jika tergigit, kalian akan berubah menjadi seperti mereka."


__ADS_2