Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 144 Bertemu dengan Profesor Alfred.


__ADS_3

Pangeran Alyan mendengus kesal mendengar ejekan bercampur peringatan dari adiknya itu.


" Ayo, sayang. Kita pulang sebelum setan hadir diantara kita."


Pangeran Alyan meraih tengkuk kekasihnya. Setelah mencium sekilas bibir kekasihnya, lalu keduanya juga menghilang dari tempat itu bersamaan.


...-----...


Arryan tersentak bangun dari tidur ketika merasakan sentuhan dingin di pipinya. Nadia kakak sepupunya, berdiri memandang ke arahnya dengan pandangan aneh.


Arryan melirik jam dinding yang terpajang di atas nakas. Pukul 06.10 , pagi.


" Kamu mimpi buruk, dek? " Nadia menarik tirai yang menutupi kamar, hingga cahaya matahari pagi leluasa menerobos masuk melalui tirai yang tersibak.


Arryan mengangguk seraya menyapu keringat sebesar biji jagung yang bergulir di keningnya. Rasanya aneh saja, kamarnya yang sejuk karena terpasang masih mampu menghadirkan keringat di tubuhnya.


Namun yang paling aneh, adalah mimpi itu lagi. Mimpi yang sama yang dia dapatkan dalam beberapa malam ini, hingga kadang membuatnya selalu terjaga dari tidur.


" Mimpi apa, dek ..? Kok, kamu sampai menjerit-jerit seperti orang ketakutan gitu. " Nadia bertanya dengan penasaran. Soalnya bukan kali ini saja adik sepupunya yang cantik itu menjerit-jerit kalau tidur, tapi juga beberapa malam - sebelumnya.


" Entahlah, kak. Tapi aku rasanya aneh saja. Mimpi itu selalu datang. Mimpinya juga selalu sama, kak. " kata Arryan.


Nadia mengernyitkan alis ke atas. Dia semakin penasaran akan mimpi yang dialami oleh adiknya itu.


" Coba ceritain, dek. Siapa tahu kakak bisa bantu buat cariin solusinya.! " Arryan lalu bercerita kepada Nadia bahwa dia selalu bermimpi yang sama. Dalam mimpinya dia merasa bahwa dia di kejar - kejar oleh seseorang. Orang tersebut berteriak - teriak menyebutkan namanya. " Elisa..., jangan lari. Elisa... tunggu. Aku akan mendapatkanmu, Elisa..! "


Pada suatu kesempatan, orang tersebut berhasil mendapatkan dirinya. Teriakan kesakitan terdengar saat orang itu menusukkan sebuah benda tajam ke perutnya berkali - kali.


"Mampuslah..kau...matilah bersama anak haram ini..!" Dia tak tahu siapa yang melakukannya. Dia hanya bisa merasakan rasa sakit yang luar biasa di perutnya. Darah.... ada darah dimana - mama. Di bajunya, di tangan orang itu dan di tanah. Setelah itu semuanya gelap. Lalu bayangan berganti.


Dia melihat dirinya yang di kubur di sebuah tempat yang dia tidak tahu dimana. Anehnya, mimpi itu selalu sama dan berulang - ulang.


Nadia menyimak dengan seksama cerita dari adik sepupunya itu. Dia yang juga mahasiswa kedokteran jurusan phisikologi merasa aneh saat Arryan menyebutkan sebuah nama yang sudah lama tak dia dengar kabar beritanya lagi.


" Tunggu... tunggu, tadi kamu menyebutkan sebuah nama. Siapa tadi namanya? Elisa? Soalnya dulu kakak punya teman mahasiswa kedokteran juga, tapi kakak tak tahu dia sekarang ada di mana. Terakhir kabar yang kakak dengar sih, dia pindah kuliah ke Singapura. Ikut saudaranya. Jadi mungkin saja itu Elisa yang lain kali, dek." Arryan mengangguk dan kembali meneruskan ceritanya.


Nadia menghela nafas panjang sesaat setelah Arryan bercerita. Dia merasa miris pada nasib yang menimpa cewek yang bernama Elisa.


Drttt... Drttt...! getar benda di atas meja belajar membuat keduanya menoleh. Itu Handphone Arryan yang bergetar pertanda bahwa ada panggilan masuk.

__ADS_1


" Hallo! " Arryan mengangkat telepon yang ternyata berasal dari Keanan.


"Arryan, aku mau kasih tau, kalau kamu mau tambahan poin untuk mata kuliah Kardiovaskuler, kami harus menemui profesor Alfred.! "


Deg.! jantung Arryan berdetak cepat.


" Apa? Profesor Alfred. Aduhhh... aku nggak tahu yang mana orangnya. Gimana ini? " Arryan merasa bingung sendiri.


" Kok diam? Kenapa? Mau aku temani untuk menemui Profesor Alfred? "


" I... iya. Boleh. Soalnya aku kan mahasiswa baru. Jadi belum kenal yang mana Profesor Alfred. Jadi, kalau nggak merepotkan Pak Keanan, saya merasa senang kalau ditemani. "


" Boleh, tapi ada syaratnya.. "


" Hah, pake syarat? Emang Syaratnya apa Pak Keanan? " Arryan kesal, nolong aja pake syarat, sih.


" Jangan panggil aku 'Pak'. Emangnya aku setua itu, ya..? "


" Terus, saya mesti panggil apa? "


" Aku mau kamu panggil aku Kak Keanan., faham? Panggilan Pak kesannya seperti aku Bapakmu. "


" Dinner denganku! "


"What!??? "


...-----...


Arryan sedang duduk manis di depan halte yang terletak di halaman kampusnya. Dia sedang menunggu Keanan yang berjanji akan menjemput dan mengantarnya menemui Profesor Alfred. Profesor Alfred sulit sekali di temui. Dia jarang berada di kampus. Lelaki yang merupakan dosen senior di kampus itu lebih sering menghabiskan waktunya di rumah sakit.


" Jadi sekarang kita mau pergi kemana, kak Keanan? " Arryan bertanya saat dirinya sudah berada di dalam mobil Keanan yang sedang meluncur membelah jalan raya ibukota.


" Ya ke rumah sakit, lah. Profesor Alfred sekarang ada di sana. " Jawab Keanan.


Perjalanan ke Rumah sakit memakan waktu kurang lebih lima belas menit.


" Ayo turun, Profesor Alfred sudah menunggu kita.! " kata Keanan setelah memarkirkan mobilnya.


" Kok bisa, Kak Keanan emang sudah buat janji, ya? "

__ADS_1


" Iya, biar enggak bentrok jadwalnya dengan kuliah kamu. Jangan lupa, habis ini kita dinner, ya! "


Arryan tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, membuat tarikan di sudut bibir Keanan makin melebar.


Sementara hati Keanan berbunga - bunga karena Arryan mau di ajak dinner, lainnya halnya dengan hati Arryan. Gadis itu merasa jantungnya berdetak kencang. Sebentar lagi dia akan bertemu dengan Profesor Alfred, lelaki yang menjadi kekasih masa lalu Elisa.


" Selamat sore, Profesor! " Keanan mengulurkan tangan, menyalami dan memeluk Profesor Alfred. Keanan memang akrab dengan seniornya yang satu ini karena mereka dulunya, Profesor Alfred juga adalah dosen Keanan sebelum Keanan menjabat sebagai asisten dosen saat ini.


" Kenalkan, ini Arryan, gadis yang tadi pagi saya ceritakan pada Profesor di telpon. Dia bermaksud ingin menemui Profesor, karena dia mahasiswi baru dan dia banyak ketinggalan materi. Saya hanya membantunya karena kebetulan dia salah satu mahasiswi saya. "


Profesor Alfred menatap Arryan dengan tatapan penuh selidik. " Tentunya dia gadis yang spesial, sampai seorang Keanan Bagaskara mau turun tangan membantunya. Padahal bukan satu dua mahasiswi cantik yang bermasalah dengan nilai. "


" Nama saya Arryan, Prof. Semoga kedepannya saya bisa memperoleh bimbingan dari Profesor. Saya banyak mendengar tentang kehebatan seorang Profesor Alfred dari beberapa angkatan terdahulu. "


" Ahh, mereka terlalu berlebihan. Baiklah.. silahkan duduk. Buatlah diri kalian senyaman mungkin." Profesor Alfred mempersilahkan Keanan dan Arryan duduk. Mereka kemudian terlibat obrolan akrab. Sampai suatu ketika Profesor Alfred melihat bayangan Elisa melintas di belakang Arryan.


" Akh... E... lisa!! " pekik Profesor Alfred tergagap. Wajah dokter yang merangkap Profesor itu pucat bagai tak berdarah.Kening Keanan berkerut. Heran... mengapa Profesor Alfred menyebutkan nama Elisa.


" Elisa?... Elisa siapa? " Keanan menggeleng tak mengerti. Namun lain halnya dengan Arryan. Walaupun gadis itu tidak sepenuhnya mengerti, namun ekor mata Arryan sempat melihat bayangan Elisa yang berjalan melintasi mereka.


" Maaf, Profesor... apakah anda baik - baik saja? " Arryan cemas saat melihat keadaan Profesor Alfred yang tampak shock melihat bayangan Elisa.


" Oh.. saya baik - baik. Hmm... bisakah pembicaraan ini dilanjutkan lain hari. Karena saya ada jadwal pertemuan sore ini? " Profesor Alfred mendadak merasa tak nyaman dengan kehadiran bayangan Elisa. Dia ingin beristirahat sejenak.


" Okelah kalau begitu, Prof. Lain kali saja kita lanjut pembicaraan kita. Sekarang kami mohon pamit. Selamat sore, Profesor. " Keanan berdiri di ikuti oleh Arryan yang kemudian keduanya pamit mohon diri.


Arryan masih sempat melihat Elisa yang menatapnya tajam dengan senyum yang tak bisa dia artikan.


" Keanan, tunggu sebentar. Aku masih mau duduk di sini dulu." Arryan meminta Keanan untuk duduk di depan ruangan Profesor Alfred. Dia sedikit cemas dan mengkhawatirkan keadaan Profesor Alfred .


" Apa yang akan dilakukan Elisa pada Profesor Alfred..? " pikir Arryan.


Sementara itu, sepeninggal Keanan dan Arryan, Profesor Alfred menelpon seseorang.


" Hallo, bisa kita bertemu. Ada hal penting yang ingin kubicarakan. "


".... "


Profesor Alfred kemudian menutup telepon secara sepihak. Kemudian dia buru - buru melangkah keluar. Namun baru saja dia akan membuka pintu, dari dinding di samping pintu, muncul bayangan Elisa yang membuat pria paruh baya itu terkejut bukan kepalang.

__ADS_1


" Elisa.....! " desisnya.


__ADS_2