Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 135 Palasik


__ADS_3

"Sial..! kita kehilangan buruan kita karena kedua bocah itu!" umpat salah seorang dari mereka yang tampaknya adalah pemimpin mereka.


" Lantas kita harus bagaimana ?Pasti guru akan marah besar jika kita tak mendapatkan seorang gadis untuk tumbal pada malam bulan purnama ini! " kata salah seorang dari mereka.


Keenam murid padepokan Pasir hitam itu akhirnya pulang dengan tangan hampa.p Mereka menerima kemarahan sang guru akibat tidak bisa menjalankan tugas dengan baik. Batas waktu mereka sampai bulan purnama. Dan itu artinya waktu mereka tinggal beberapa hari lagi.


*


*


*


Pagi hari yang cerah. Seorang gadis cantik dengan rambut panjang sepinggang sedang berjalan dengan tergesa-gesa sambil menenteng beberapa buah buku. Tampaknya dia sedikit kerepotan karena buku - buku yang dia bawa semuanya sangat tebal. Sudah pasti sangat berat dan merepotkan.


Dia adalah Arryan, putri Asmi dan Pangeran Hasyeem yang kini sudah menjadi salah seorang mahasiswa kedokteran di salah satu universitas terkenal di daerah tersebut.


Hari ini adalah hari pertama dia menginjakkan kakinya di kampus ini.


Dan pagi ini, dia terlambat bangun karena tadi malam kakaknya, Alyan dan Azzura mengajaknya menjenguk Aluna, keadaan gadis itu kini sudah semakin membaik.


Brugh!! tubuh mungilnya Arryan menabrak seseorang.


" Maaf!" Arryan mendongak karena yang dia tabrak seorang pemuda yang berbadan jangkung. Pemuda itu memiliki wajah yang sangat tampan dan berkulit putih. Mirip artis Korea yang sering dia lihat di televisi di rumah tante Mirna.


" Ya, ampun. Tinggi sekali pemuda ini dan lumayan....ganteng!" ucapnya dalam hati


" Makanya kalau jalan, matanya di pake, mbak! " jawab pemuda itu ketus sambil berlalu tanpa berniat untuk membantu gadis itu.


Mulut Arryan terbuka lebar. Astaga... baru kali ini dia bertemu seseorang yang sangat kasar sekali. Menyesal rasa nya sudah buru - buru memberi nilai ganteng pada cowok itu. " minus gantengnya!" umpatnya dalam hati.


" Tapi kayak pernah liat, tuh cowok. Dimana, ya? " pikirnya. Dia mencoba mengingat - ingat dimana dia pernah bertemu pemuda itu.


.


" Akhh...aku ingat sekarang!" Dia ingat, itu adalah pemuda yang sama yang bertemu dengannya di restoran kapan hari. Pantes saja dia merasa familiar dengan wajah itu.


" Wajar saja sih, dia marah-marah. Ini adalah kali kedua aku menabraknya, hihihi! " Arryan cekikikan sendiri karena menyadari bahwa selama ini dia sudah menabrak orang yang sama dua kali.


Arryan bergegas berjongkok dan memungut buku- bukunya yang jatuh berserakan di lantai koridor kampus.


" Hai, mahasiswa baru, ya! " sapa sebuah suara dengan ramah.


Arryan mendongak ke atas. Seorang gadis cantik berhijab kini ikut berjongkok dan membantunya memungut buku - bukunya yang terjatuh saat bertabrakan tadi.


" Iya, aku mahasiswa baru di sini! "


" jurusan mana? " tanya gadis itu.

__ADS_1


" Kedokteran! " jawab Arryan singkat.


" Wah.... sama. Aku juga kedokteran. Kelas kita ada di ujung lorong ini lalu belok kanan. Bagaimana kalo bareng aja!" ajak gadis itu.


Arryan mengangguk senang. Senang rasanya dapat teman yang ramah.


" Namaku Arryan! " Arryan memperkenalkan dirinya.


" Namamu unik, aku suka. Oh.. ya. Aku Nisa. Sini aku bantu bawain separuh buku- bukumu! " Nisa mengambil beberapa buah buku di tangan Arryan dan membawanya. Mereka lalu berjalan beriringan menuju ke kelas.


" Saudara saudariku sekalian, hari ini kita kedatangan mahasiswa baru. Dia bernama Arryan. Kepada Saudari Arryan silahkan nanti memperkenalkan diri sesudah selesai pelajaran usai. Sekarang mari kita mulai pelajaran kita. Silahkan buka buku kalian. Materi kita hari ini tentang 'Anatomi dasar tubuh Manusia'! " Dosen mata kuliah mereka pagi ini memperkenalkan Arryan pada mahasiswa yang lain.


Mata Arryan melotot tak percaya. Dosen mata kuliah mereka ternyata cowok jangkung yang dia tabrak barusan.


" Kamu kenapa, Arryan. Seperti habis liat hantu?" tanya Nisa.


" Nggak, hanya kaget saja. Tak percaya aja, tuh orang habis aku tabrak tadi !" sahut Arryan dengan entengnya.


" Namanya Keanan. Hati - hati, jangan terpedaya oleh pesonanya, dia sudah sering mematahkan hati banyak mahasiswi di kampus ini!" Arryan mencibir mendengar cerita Nisa.


" Hmm, aku kemari buat belajar, nyari ilmu. Bukan nyari jodoh!" tukas Arryan. Nisa terkekeh.


" Belum tau aja lo, pesonanya gunung Fuji. Indah .. tapi... dingin! " bisik Nisa di telinga Arryan.


Mereka berdua tertawa cekikikan.


Keanan POV.


Aku bertemu lagi dengan gadis itu. Gadis yang dompetnya aku temukan. Namun, anehnya dompet itu kembali lagi pada gadis itu dengan cara yang misterius.


Sial.! Jantungku berdebat - debar. Aku tak tahu apakah karena Aku terlalu senang atau justru karena aku gugup. Ini adalah pertemuan kami yang kedua.


Rupanya gadis yang aku temui beberapa hari yang lalu di restoran itu adalah salah satu mahasiswiku. Aku tahu namanya dari kartu Identitas yang ada didompet adalah Arryan.


Arryan.. Arryan. Nama yang unik. Seunik orangnya. Dia gadis pertama yang berhasil membuatku terpesona saat pertama kali bertemu. Aku selalu saja gugup saat bertemu dengannya.


Seperti tadi, gadis itu kembali menabrakku. Seperti jodoh saja, kami selalu bertemu dengan cara yang tak terduga dan dalam posisi yang selalu sama.


Konsentrasiku saat mengajar, menjadi terpecah. Beberapa kali aku melirik ke arah Arryan yang terlihat berbincang dengan Nisa. Dapat kutangkap pembicaraan mereka, yang sepertinya sedang membicarakan aku. Aku segera menegur mereka dengan caraku seperti biasa. Dingin dan tegas. Alhasil, mereka langsung diam dan kembali fokus memperhatikan pelajaran yang ku berikan.


Lucu sekali saat melihat ekspresi Arryan yang memandangku dengan ekspresi yang takut-takut. Wajahnya terlihat begitu menggemaskan.


" Pak, Pak Keanan. Permisi, Pak! " sebuah suara membuyarkan lamunanku. Arryan, gadis itu sudah berdiri tepat di depanku. Pelajaran sudah lama usai, namun Aku masih tetap berada di dalam kelas.


Rupanya, Arryan juga masih berada di dalam kelas.


" Yah, ada apa, Arryan? " Aku berusaha menutupi kegugupanku cara kembali bersikap dingin.

__ADS_1


" Saya ketinggalan beberapa mata kuliah bapak, bisakah saya meminta beberapa modul untuk bahan pembelajaran untuk saya pelajari, untuk mengejar ketinggalan saya." kata gadis itu dengan mimik memelas. Drama banget!


" Baiklah, nanti saya kirimkan melalui WA saja. Berikan nomor WA kamu padaku!" jawabku. Modus, bilang saja mau dapatin nomor WA Arryan, aku tersenyum dalam hati.


Arryan segera menuliskan nomor WAnya pada secarik kertas dan menyodorkannya padaku. Aku bersorak dalam hati, akhirnya aku dapat juga nomor WA gadis itu. Aku tersenyum samar.


" Baik, nanti saya kirimkan melalui Whatsapp dan kamu bisa print. Ada lagi, Arryan? " tanyaku.


" Tidak, saya sudah selesai. Terima kasih atas waktu anda, pak! " Gadis itu pun kemudian pamit dan berlalu dari hadapanku.


Sementara itu, di Bukit Malaikat. Seorang wanita cantik sedang merintih kesakitan di kamar seorang diri. Dia memegangi perutnya yang besar sambil sesekali berjalan mondar-mandir ke depan pintu dan kembali lagi ke tepi ranjang.


Tak lama, sebuah cahaya melesat masuk dan kemudian muncul di hadapannya.


" Bunda Ratu Kalina!" Walaupun dalam keadaan sakit wanita itu buru - buru menghaturkan sembah sujudnya tanda bakti pada mertuanya dan juga sang Ratu istana Gunung Kahyangan.


" Sepertinya kamu akan segera melahirkan, Asmi! " ucap Ratu Kalina.


Dengan wajah meringis menahan sakit, wanita itu mengangguk.


" Kemarilah! " Ratu Kalina mengeluarkan sesuatu dari balik lipatan kain di balik bajunya.


" Ini adalah batu mustika Fatimah. Aku akan merendam dan meminumkan airnya agar kamu tidak kesulitan saat melahirkan. " Ratu Kalina kemudian merendam sebuah batu berwarna merah darah ke dalam sebuah mangkuk.


Seketika air didalam mangkuk berubah menjadi semerah darah. Asmi kemudian meminum air rendaman mustika tersebut. Seketika.. rasa sakit di perutnya perlahan-lahan menghilang.


" Sepertinya anakmu akan segera lahir. Berbaringlah, aku akan minta pada suamimu untuk menemanimu. Aku akan suruh dayang untuk segera memanggil tabib istana." kata Ratu Kalina. Asmi mengangguk patuh dan segera berbaring di atas pembaringan. Ratu Kalina segera pergi untuk memerintahkan dayang istana agar segera memanggil tabib istana.


Pangeran Hasyeem segera masuk ke biliknya dan menemani ratunya yang sebentar lagi akan melakukan persalinan.


" Sayang, aku takut!" bisik Asmi.


" Mengapa, takut? Ini bukan pertama kalinya kamu melahirkan, sayang! "


" Tapi aku tetap takut karena.... " Asmi tak meneruskan kata - katanya. Matanya tajam tertuju pada sesuatu. Pangeran Hasyeem menoleh, mengikuti arah pandang Asmi.


Sesosok wajah wanita tanpa tubuh menempel pada langit-langit di bilik mereka. Sedang menyeringai sambil menatap asmi dengan tajam.


Rambutnya terurai kebawah hampir menutupi sebagian wajahnya yang berwarna putih dengan bola mata yang juga berwarna putih semuanya.


" Awas, Asmi. Berdirilah di belakangku!" seru Pangeran Hasyeem.


" Aahhh, Pangeran. Apa itu tadi! " jerit Asmi ngeri bercampur takut.


" Itu Palasik, Asmi. Dia hantu penghisap darah para wanita yang akan melahirkan!"


" APA!! Palasik?" tanya Asmi.

__ADS_1


__ADS_2