
'Apa yang sedang terjadi pada Doni, ya? ' pikir Ryan dalam hati.
Kepalanya serasa mau pecah memikirkan nasib Doni sahabatnya yang juga sekaligus sepupunya.
Sudah dua hari semenjak mereka menemukan Doni yang terkapar tak berdaya di lantai rumahnya, keadaan cowok ganteng itu masih sama masih belum sadarkan diri.
Ryan bingung harus kemana minta tolong. Sehingga akhirnya cowok itu membawa sepupunya ke rumah sakit.
Menurut dokter yang memeriksa Doni, sepupunya itu hanya pingsan karena kelelahan phisik yang sangat berat.
Ryan bingung dengan maksud perkataan dokter itu. Memangnya Doni kerja apa sampai harus menderita kelelahan phisik yang berat.
Setahu dia, sepupunya itu hidup bergelimpangan harta yang tidak bakalan habis di makan tujuh turunan. ( Bang Ryan lupe ya, abang juga kan Tajir melintir.. hehehe). Jadi mana mungkin jika sepupunya itu bekerja keras demi hanya untuk mendapatkan lembaran rupiah.
Saat ini, cowok gondrong terpaksa harus berada di rumah sakit karena harus menjaga dan menemani Doni, sahabatnya yang terbaring di ruang perawatan dalam kondisi masih sama seperti kemarin.
Ryan dengan sabar menunggu Doni. Mengurus segala keperluan Doni termasuk menghubungi Nazwa dan Isna sekedar untuk memberikan informasi tentang kondisi keadaan Doni saat ini.
Nazwa yang di hubungi Ryan, berjanji akan menyempatkan diri untuk menjenguk dan membantu Ryan menjaga Doni setelah dia pulang dari rumah Datuk Melenggang Langit.
Nazwa bermaksud untuk menanyakan perihal tentang kondisi Doni pada tetua desa Kemamg Balu itu. Siapa tahu beliau bisa memberikan solusi atau bantuan.
Sementara itu Doni masih dalam kondisi terbaring tak sadarkan diri. Walaupun raganya terbaring diam, namun jiwa cowok itu sebenarnya sedang mengembara ke suatu tempat.
Doni merasakan seolah seperti sedang berada di suatu tempat yang asing. Dia sedang tersesat dan tidak tahu kemana arah yang harus dia lalui untuk pulang.
Doni seperti merasa bahwa dia pernah berada di tempat itu sebelumnya. Namun dia lupa, kapan dia pernah ke tempat itu.
Doni masih terus berjalan hingga akhirnya dia sampai ke sebuah perkampungan yang agak ramai. Sepertinya masyarakat di kampung itu sedang bersiap - siap untuk mengadakan sebuah pesta. Terlihat dari sibuknya masyarakat di kampung itu hingga tidak menyadari kehadiran Doni di tempat itu.
" tempat apa ini? " Doni masih bertanya-tanya dalam hati.
Karena rasa penasaran, Doni pun bertanya pada seorang lelaki tua yang kebetulan lewat memikul seonggok kayu di pundaknya.
" Assalamu'alaikum, Pak. Permisi numpang nanya. " lelaki itu berhenti dan menoleh ke arah Doni.
__ADS_1
" Waalaikum salam, anak yang memanggil, Bapak? " tanya lelaki itu memastikan apakah benar Doni yang barusan memanggilnya.
" Benar, Pak. Maaf , kalau boleh tahu, tempat ini bernama desa apa ya, Pak. Saya tersesat dan tidak tahu sekarang berada di mana. ? "
Lelaki itu sejenak memandang wajah Doni, kemudian tersenyum seraya menepuk bahu anak muda itu.
" Ini namanya desa Raden." jawab lelaki tua itu.
" Tampaknya penduduk desa ini sedang sibuk menyiapkan sesuatu. Kalau boleh tahu, ada apa ya, Pak? tanya Doni lagi. Dia masih tak dapat membendung rasa penasaran di hatinya.
Kembali lelaki tua itu menatap Doni dengan seksama.
" Desa kami akan merayakan pesta perkawinan pemimpin kami. " jawab lelaki tua itu kemudian.
Hening sesaat, Doni semakin tertarik untuk mengetahui seperti apa wajah pemimpin desa Raden. Rasa penasaran di hatinya kini semakin menjadi jadi.
Lelaki tua itu tersenyum misterius saat menatap wajah penasaran Doni.
" Anak muda, bertindak bijak membuatmu bisa menemukan jati dirimu, menuruti kata hati bisa membawa celaka diri. " kata lelaki tua itu. Kemudian dia berdiri dan kembali meneruskan perjalanannya.
Doni tercenung sendiri meresapi kata - kata lelaki tua tadi.
Doni kembali meneruskan perjalanan langkah kakinya menyusuri jalan kecil setapak yang ada di kampung bernama desa Raden.
Cukup lama Doni berjalan, hingga langkah kakinya terhenti di sebuah perigi ( sumur tua) yang terletak di pinggir bangunan yang mirip sebuah candi kecil.
Rasa lelah dan lapar membuat Doni memutuskan ingin mengambil air dari perigi tersebut sekedar untuk menghilangkan dahaga.
Baru saja Doni akan mengambil air, sebuah bisikan pelan terdengar di telinga Doni.
" anak muda, sekali kamu meminum air dari sumur itu, maka kamu tak akan pernah bisa kembali lagi ke asalmu! "
Doni tersentak kaget dan urung mengambil air untuk minum.
Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari asal bisikan tadi. Namun dia tak menjumpai sepotong manusia pun di sana kecuali dirinya.
__ADS_1
" Mengapa tempat ini aneh sekali, bahkan mau minum saja pun susah sekali. aku sangat haus. Kemana aku harus pergi untuk mencari makanan dan minuman. " ucap Doni dalam hati.
Akhirnya, Doni kembali meneruskan perjalanannya. Berharap dia akan menemukan makanan dan tempat untuk beristirahat, karena dia sangat lelah dan juga lapar.
Cukup lama ia berjalan, sampailah Doni di suatu tempat. Dia berdiri di depan sebuah rumah yang terlihat berbeda dengan rumah - rumah di sekitarnya.
Rumah itu terlihat lebih besar dan indah dengan ornamen sepasang kepala harimau putih yang terletak di depan gapura pintu masuk rumah itu, seperti memberi kesan bahwa sang pemilik rumah bukanlah orang sembarangan.
Sebuah suara mengejutkan Doni yang sedang terkagum kagum memandangi rumah di depannya.
" apa yang sedang ananda lakukan di tempat ini? "
Doni menjadi tersadar, segera dia menoleh dan mendapati seorang wanita tua yang kalau di taksir usianya sekitar tujuh puluh tahunan. Namun tubuh yang masih terlihat segar dan kuat.
" eh, itu. anu. maaf Bu, saya sedang tersesat. Saya hanya ingin bertanya kemana arah jalan pulang. Dapatkah ibu menolong saya, menunjukan jalan mana yang harus saya lalui." kata Doni dengan wajah memelas.
Wanita tua itu menatap Doni lama. Kemudian dia tersenyum.
" saya tahu, tapi mari singgahlah dulu barang sekejap di gubuk saya. " ajak wanita tua itu pada Doni.
Doni menatap tak percaya pada wanita tua yang berdiri dihadapannya kini. Benarkah ajakan wanita tua ini padanya.
" Terimakasih, bu. Tapi benarkah saya boleh singgah di rumah ibu? " tanya Doni yang masih sangsi dengan pendengarannya.
" tentu saja, boleh. Mari! " ajak wanita tua itu seraya memberi isyarat pada Doni untuk mengikuti langkahnya.
" terimakasih, ibu. " Doni membungkuk sedikit sambil menutup kedua tangan di depan dada, sebagai tanda Terima kasih atas ajakan dan pertolongan wanita tua itu pada Doni.
Doni berjalan mengikuti langkah wanita tua itu memasuki rumah indah yang ada di depannya.
Begitu pintu rumah terbuka, pemandangan di dalamnya sungguh memukau mata.
Rumah itu penuh dengan barang barang antik yang hampir sebagian besar terbuat dari bahan emas dan permata. Di kiri kanan dinding rumah, terdapat dua buah lukisan besar.
Sebuah lukisan sepasang harimau putih dan yang satu lagi lukisan seorang wanita muda yang sangat cantik.
__ADS_1
Doni terkesima memandang kedua lukisan tersebut. Ada semacam perasaan aneh saat Doni menatap wajah wanita dalam lukisan itu.
Dia seperti pernah melihat atau bertemu dengan wanita itu. Tapi di mana tepatnya, Doni tidak ingat. Atau barangkali saat ini Dia sedang lupa ingatan, pikir Doni. Sebab Doni juga tidak ingat mengapa dia bisa sampai berada di tempat ini.