
" Asmi, kamu masih saja cantik dan menggoda seperti dulu. Aku tak tahu, mengapa aku selalu saja tak bisa menahan diri, jika melihatmu.. " lelaki itu menyeringai lebar saat mengingat betapa dia dulu hampir mendapatkan wanita itu, jika saja Pangeran Hasyeem tak keburu menemukannya.
" Asmi, aku sangat merindukanmu, sayang! " bisiknya sambil menahan sesuatu di balik celananya yang tiba-tiba saja mengeras.
Asmi melangkah kecil memasuki lorong taman menuju gerbang istana Bukit Malaikat bersama kedua anak kembarnya.
Kedua anak kembar itu masih saja asyik bermain. Mereka dengan riangnya berlarian di antara bunga - bunga di taman itu sambil sesekali kembali lagi menghampiri sang bunda.
" Khalied.. Khumaira..! Berhenti bermain - mainnya. Ayo, cepatlah.. hari sebentar lagi magrib. Ayah kalian pasti tak lama lagi pulang. " panggil Asmi pada kedua anaknya.
Keduanya kemudian menghampiri sang bunda, dan berjalan di sisi kanan dan kiri Asmi.
" Bunda, ayah kemana? Mengapa belum pulang? " tanya Khalied dengan ekspresi yang lucu.
" Ayah sedang ada pekerjaan. Tapi nanti ayah kalian pulang. Jadi kalian harus segera mandi dan membersihkan diri." kata Asmi kepada keduanya.
" Iya, bunda. Ayo Khalied, kita segera mandi..! " ajak Khumaira yang segera di angguki oleh saudaranya.
Kedua anak kembar itu setengah berlari melewati lorong taman dan masuk ke dalam gerbang istana, jauh meninggalkan Asmi yang berjalan anggun menyusuri lorong demi lorong di dalam taman istana itu. Asmi tersenyum sendiri saat membayangkan dirinya, betapa suaminya Pangeran Hasyeem dulu, bersusah payah membuatkan sebuah taman ini hanya untuk dirinya dalam waktu yang singkat, demi untuk menyenangkan hatinya.
" Asmi..! " sebuah suara membutarkan lamunan Asmi. Suara itu....seperti dia mengenalnya. Sejenak Asmi diam terpaku. Wanita cantik itu tak bisa lagi menggerakkan kaki. Apa dia tak salah dengar. Mengapa suara itu ada di sini?. Penasaran, Asmi menoleh dan mendapati seraut wajah yang hampir serupa dengan wajah suaminya, hanya bintik kuning ditengah iris itulah yang membedakan keduanya.
" Kau..! " Kaki Asmi ingin bergerak untuk berlari, namun secepat kilat lelaki itu bergerak ke arahnya dan mencengkram lengannya dengan keras. Asmi ingin berteriak memanggil pengawalnya namun urung dia lakukan saat dia melihat empat orang pengawalnya sudah tergeletak tak bergerak di tanah.
" Beginikah caramu menyambut kekasih lamamu..? " bisik Azyziel di telinga Asmi. Sebelah tangannya mengunci tubuh wanita cantik yang masih saja cantik seperti anak gadis berumah dua puluhan, dengan kedua tangannya.
" Azyziel, lepaskan aku! " bentak Asmi sambil meronta di dalam kuncian Azyziel.
Namun Azyziel bukannya melepaskan, malahan pemuda itu semakin erat memeluk wanita itu. Dengan beringas dia mencium wanita cantik yang masih saja mencoba meronta memberontak tak ingin disentuh olehnya.
Asmi semakin keras meronta, hingga mau tak mau, membuat Azyziel terpaksa menotok jalan darahnya. Wanita cantik itu lemas terkulai tak berdaya, dan pingsan setelah totokan Azyziel di leher yang tepat di jalan darahnya.
" Kau tidak bisa lepas kali ini, sayang." Azyziel menyeret tubuh Asmi hingga menjauhi gerbang istana. Semakin jauh hingga hingga akhirnya menghilang bersama dengan menghilangnya tubuh Azyziel.
__ADS_1
...-----...
Azyziel membawa Asmi yang pingsan ke tempat yang jauh dari Bukit Malaikat. Dia terus berlari melesat bersama angin, semakin menjauh. Dia takut, para pengawal pangeran Hasyeem dan juga kemungkinan Sang Pangeran sendiri akan berhasil melacaknya dan menemukan dirinya dan Asmi. Maka sia-sia sudah semua usahanya.
Bertahun-tahun lamanya dia terus mengawasi dan mengamati wanita pujaan hatinya itu dari jauh. Hanya itu saja yang bisa dia lakukan, karena Pangeran Hasyeem selalu menjaga dan mengawasi permaisurinya itu dengan ketat.
Namun, hari ini dia menemukan celah kesempatan untuk menemui dan membawa Asmi. Saat ini, Pangeran Hasyeem sedang berada di negeri manusia. Saat inilah yang ditunggu - tunggu oleh Azyziel, Asmi sendirian dan tak ada yang mengawasi. Tidak juga anak - anaknya yang sedang sibuk semua. Azyziel membawa kabur Asmi.
" Huh, sepertinya keadaan sudah aman
Aku yakin, aku sudah jauh dari Istana Bukit Malaikat "
" Paman.... mengapa berhenti, apakah sudah sampai? "
" Hah, Apa....?? " Azyziel menoleh dan mendapati sepasang bocah laki - laki dan perempuan dengan wajah yang nyaris serupa, sedang berdiri tak jauh dibelakangnya. Wajah Azyziel pucat pasi karena terkejut. Dari mana datangnya kedua bocah ini, pikirnya. Dia merasa seperti maling yang kepergok sedang melakukan aksinya.
" Kalian...! Mengapa kalian bisa ada disini? " tanya Azyziel dengan gugup.
" Kami melihat paman membawa bunda, jadi kami ikut. Lepaskan bunda kami, paman! " pinta Khumaira sambil menarik - narik baju Azyziel.
" Bagaimana jika aku tak mau, apa yang akan kalian lakukan? " Azyziel bertanya bermaksud menggoda kedua bocah tersebut.
" Terpaksa kami akan menghajarmu, paman! Karena ayahanda kami menyuruh kami untuk menjaga bunda. Jadi siapapun yang mau berbuat jahat bpada bunda, harus berhadapan dengan kami. " kata Khalied sambil menatap Azyziel dengan sorot mata tajam.
Azyziel menghela nafas panjang, bingung. Mereka secara tak langsung adalah keponakannya. Namun, dia juga tak akan sanggup jika harus kembali kehilangan kesempatan untuk mendapatkan Asmi, wanita yang selama ini selalu menghiasi angan - angan dan impiannya.
" Baiklah, tapi, maaf, paman tak bisa melepaskan ibunda kalian. Jadi sebaiknya kalian ikut paman saja, ya." pinta Azyziel.
" Tidak bisa, paman. Nanti ayah kami marah. Apakah paman mau bertanggung jawab jika ayahanda kami marah? "
Wajah Azyziel merah padam mendengar pertanyaan kedua bocah itu. Bagaimana ini, tak mungkin juga dia harus menghadapi kedua bocah itu.
" Khalied, Khumaira... mengapa kalian sampai bermain sejauh ini? " sebuah suara mengagetkan ketiganya. Azzura, pemuda berambut panjang hitam itu berdiri dengan gagah bersama sebuah busur di pundaknya.
__ADS_1
" Kakak, tolong bunda ratu, orang ini ingin membawa bunda ratu pergi." Azzura menoleh ke arah lelaki yang berdiri sambil membopong tubuh seorang wanita.
" Bunda..! Hei, apa yang kau lakukan dengan bundaku? Lepaskan bundaku! " serunya pada Azyziel.
Merasa keadaan kurang menguntungkan baginya, terpaksa Azyziel ambil langkah seribu dengan membawa tubuh Asmi dalam gendongannya.
Azzura dan kedua adiknya tidak tinggal diam. Mereka langsung mengejar Azyziel yang kini sudah berlari semakin jauh.
Kejar - kejaran pun terjadi. Azzura tak membiarkan Azyziel lolos begitu saja dengan membawa ibundanya. Dia mengerahkan segenap kemampuan larinya untuk mengejar Azyziel. Sampai pada suatu ketika, pemuda itu berhasil menyusul Azyziel dan...
Brukkk!! Tubuh Azyziel jatuh terjerembab ke tanah bersama tubuh Asmi yang di gendongannya, oleh tendangan Azzura. Sedangkan tubuh Asmi kemudian di tangkap oleh Azzura yang kemudian mendapatkan tubuh sang Bunda.
Belum lagi Azyziel bangun, kembali sebuah tendangan mendarat di wajah Azyziel.
" Itu titipan salam dari ayahku, karena berani menggangu dan menculik istrinya!" kata Azzura dengan geram.
Kemudian pangeran tampan itu pergi meninggalkan tempat tersebut sambil membopong tubuh ibundanya.
...-----...
Malam hari di desa Mekar sari, suasana tampak sunyi dan sepi. Tak ada satupun orang yang tampak berjalan di luar. Di tambah lagi hujan gerimis yang turun semenjak sore, membuat penduduk desa itu semakin enggan untuk keluar rumah. Mereka lebih senang menarik selimut dan tidur daripada harus berada diluar rumah kedinginan.
Dari kejauhan, sebuah benda berwarna putih tampak sedang berjalan mendekat di kegelapan malam. Benda tersebut tidak benar-benar menapak di tanah, melainkan melayang - layang kira - kira jarak sejengkal dari tanah.
Semakin dekat, semakin jelas bentuk benda tersebut. Benda yang sekilas mirip dengan guling dewasa berwarna putih itu berjalan dengan gerakan yang sedikit melompat. Benda putih itu terus berjalan hingga tiba di depan sebuah rumah penduduk yang cukup besar.
Cukup lama benda tersebut berhenti dan berdiam diri. Setelah beberapa saat, benda putih tersebut mendekati pintu rumah. Terdengar pintu rumah di ketuk sekali. Lalu kembali diam. Benda putih tersebut berdiam diri seperti sengaja menunggu seseorang membuka pintu.
Pintu rumah kembali di ketuk sekali. Kali ini, pemilik rumah rupanya mendengar ketukan tersebut dan memutuskan untuk membuka pintu dan menengok keluar.
Tampak wajahnya yang celingukan ke kanan dan ke kiri dengan wajah heran, karena tak menjumpai siapapun di luar. Sebenarnya benda putih itu masih berdiri di hadapannya, namun dia tak dapat melihatnya. Pemilik rumah kembali masuk dan menutup pintu. Sedangkan benda berbentuk guling putih itu juga masuk ke dalam rumah dengan menembus pintu.
Selang beberapa saat kemudian.
__ADS_1
" Tolong...tolong...Pocong...ada Pocong..!!" terdengar jeritan kengerian dan minta tolong dari dalam rumah, yang menembus keheningan malam hingga membangunkan penduduk desa dari lelapnya tidur. Mereka semua bertanya - tanya, apa yang sebenarnya sedang terjadi??