Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 117 Penyerbuan Ke Istana Bukit Malaikat


__ADS_3

Aluna tak sadar mengepalkan jari - jari tangannya. Dia geram. Ternyata Sonia adalah mata - mata dari Hades yang ditugaskan untuk mengawasi segala gerak - gerik Alyan dan dirinya.


Dia mendengus geram. 'Huh, Awas saja. Aku akan membuat perhitungan denganmu, Sonia! ' kata Aluna dalam hati.


" Siapa di sana? " bentak makhluk jelmaan dari Penguasa hutan larangan dengan suara keras. Dia merasa seseorang sedang berdiri mengawasi dirinya dan Sonia.


Dengan menahan nafas, Aluna perlahan-lahan menyingkir meninggalkan tempat itu.


Tampak sosok makhluk itu mendatangi tempat tadi Luna berdiri. Hidungnya terlihat seperti mengendus sesuatu.


" Sepertinya aku mencium bau manusia yang berasal dari tempat ini." serunya pada Sonia yang berdiri dengan cemas, takut jika ada orang yang akan melihat dan mengenalinya.


" Sebaiknya aku pergi saja, yang Mulia. Aku akan segera memberi kabar tentang perkembangan aktivitas mereka! "kata Sonia. Gadis itu kemudian melesat pergi meninggalkan tempat itu.


Sementara Aluna masih belum beranjak dari persembunyiannya. Dia takut jika penguasa hutan larangan itu akan memergokinya.


Makhluk jelmaan penguasa hutan larangan itu masih saja berdiri di sana dengan pandangan liar mengamati setiap pergerakan yang mencurigakan.


Perlahan-lahan Aluna menggeserkan langkah kakinya ke belakang. Dia ingin kembali ke Gunung khayangan karena pasti sekarang Alyan sedang mencarinya.


Krek! bunyi ranting yang patah akibat injakan kaki Aluna.


" Siapa di sana? tunjukkan dirimu!" bentak makhluk itu.


Aluna mengumpat menyumpahi dirinya sendiri. Bodoh....maki Aluna dalam hati. Dia lupa, walaupun dia tak terlihat, tapi dia memiliki masa dan bobot.


Makhluk itu berjalan ka arah Aluna. Kembali Aluna menahan nafas agar tidak terendus dan terdeteksi oleh makhluk itu.


" Arghh..... kalau aku berhasil mendapatkan dirimu, anak manusia. Akan ku makan dagingmu sekarang juga." kata penguasa hutan larangan itu dengan marah.


Dia kesal karena dia dengan jelas sudah mencium bau tubuh manusia, namun, jangankan manusia, hewan pun tak dia temukan di tempat tersebut.


Akhirnya dengan kesal makhluk jelmaan penguasa hutan larangan itu pun pergi dari tempat itu.


Luna menarik nafas lega karena berhasil lolos dari sergapan makhluk itu. Segera dia kembali ke istana Gunung khayangan. Di sana, terlihat Alyan yang sedang mencari - cari keberadaan dirinya.


" Pangeran! " serunya pada Alyan.


Alyan menoleh ke arah Luna. Dia segera berlari ke arah Luna yang berdiri tak jauh dari pintu gerbang istana.


" Kamu kemana saja? Aku mencarimu dari tadi? " tanya Alyan.


" Aku sedang membuntuti seseorang. Dan Pangeran pasti tak akan percaya jika tahu siap yang aku buntuti. " katanya dengan bersemangat.


" Hmm, siapa? Alkan? tak mungkin sepupuku itu berbuat yang aneh - aneh? " tanya Alyan.


" Hmm, nanti saja aku ceritakan. Ayo kita pergi dari tempat ini? " Ajak Luna.


" Baiklah. Tapi janji segera ceritakan padaku saat kita sampai nanti!"


" Iya, Pangeran. Cerewet sekali! " seru Aluna. Bayangannya melesat pergi meninggalkan pintu gerbang istana.


" Apa katamu, Luna.. Berani kamu mengatai aku cerewet! Awas, kalo kudapat akan kuhukum kamu nanti ! " serunya sambil berlari mengejar bayangan Luna.


Alyan menghentikan larinya saat mata elangnya yang tajam menangkap ada yang tidak beres.

__ADS_1


Di hadapannya, berdiri beberapa manusia yang memakai jubah hitam dan beberapa sosok makhluk mengerikan menghadang dirinya.


Aluna menjadi gemetar. Dia mengenali dengan jelas siapa laki-laki yang tengah berdiri di hadapan Alyan. Laki-laki itu adalah Hades, sang Penguasa Kegelapan.


" Kenapa lari dengan tergesa-gesa, anak muda? " seru laki-laki itu. Lelaki itu memiliki postur tubuh paling besar di antara semuanya.


Alyan menatap laki-laki itu tak bergeming. Sedang Aluna, gadis itu berlindung di antara pepohonan yang besar, mengintip Alyan yang kini tengah berhadapan dengan Hades.


Masih untung tadi Hades tak memergokinya. Secara, lelaki itu mampu melihat keberadaan Luna.


Hades membuka tudung kepala yang menutupi wajah dan kepalanya. Tampaklah seraut wajah yang menyeramkan, dingin bak dewa maut. Mata lelaki itu tertutup, memberi cekungan yang jauh masuk ke dalam .


Sesaat kemudian, bola mata itu terbuka. Menampakkan kedua iris mata yang berwarna merah dengan kilatan api yang menyala - nyala pada kedua pupilnya.


" Kita ada sedikit urusan yang harus diselesaikan, wahai Pangeran Alyan.!" katanya. Senyum iblis terbit di bibirnya.


" Cuih, aku tak ada urusan dengan kalian. Minggir! Kalian menghalangi jalanku! " bentak Alyan. Tak ada rasa takut atau gentar saat menghadapi seorang Hades. Hal ini membuat Hades sedikit merasa kagum dengan keberanian dari musuhnya


itu. Dia merasa mendapatkan lawan yang tangguh dan imbang.


" Hmm, tak ada satu pun makhluk di dunia ini yang berani memerintahkan seorang Hades. Apa kamu memiliki banyak cadangan nyawa, Wahai Putra Penguasa Bukit Malaikat? " tanya Lelaki bertubuh besar itu.


" Hahaha, siapa Hades? aku tak peduli padanya. Yang aku mau, kalian semua menyingkir dan jangan halangi jalanku!" jawab Alyan.


Hades menjadi murka karena merasa di remehkan oleh anak muda yang menurut ramalan akan menjadi musuh sejatinya yang kelak akan menghancurkan dirinya dan juga gerbang Oreon dan mengirimnya kembali ke neraka.


Tanpa banyak bicara lagi, Hades memerintahkan kepada pengikutnya yang dari tadi sudah berdiri di belakangnya untuk menyerang pemuda itu.


Terjadi pertarungan yang tidak seimbang. Satu melawan beberapa orang. Tentu saja keadaan tak menguntungkan bagi Alyan. Aluna yang mengintip dari kejauhan merasa khawatir dan cemas melihat Alyan yang dikeroyok oleh para pengikut Hades.


Alyan yang mulai terdesak mengeluarkan pedang Naga Jiwo yang dari tadi terselip di pinggangnya.


Beberapa orang pengeroyoknya mundur beberapa langkah. Mereka berseru tertahan.


" Pedang Naga Jiwo! " seru mereka.


Sejenak nyali mereka ciut. Siapa pun pasti sudah mendengar tentang kehebatan pedang Naga Jiwo.


Kini anak muda dihadapan mereka terlihat tengah memegang pedang sakti tersebut.


" Hah, kenapa mundur? Nyali kalian keder melihat pedangku, ya! " ejek Alyan.


Mereka sejenak menatap ke arah Alyan. Hades yang melihat hal itu, menjadi geram. Dia memerintahkan para pengikutnya untuk mundur. Kini dia sendiri yang kemudian yang maju untuk menghadapi Alyan.


Dia mulai menyerang Alyan mengunakan beberapa pukulan yang mematikan ke arah titik vital pemuda itu.


Namun sudah beberapa jurus berlalu, pemuda itu masih belum bisa tersentuh walau seujung rambut pun.


" Hah, hanya segitu saja kamampuan dirimu?" tanya Alyan saat mendapati Hades yang berhenti sebentar di tengah pertarungan.


Hades sendiri heran mengapa tak ada satupun dari pukulannya yang berhasil mengenai tubuh pemuda itu.


" Kamu meremehkan aku, saudara! " jawab Hades. Setelah berkata demikian, kembali dia menyerang Alyan .


Kini perkelahian semakin seru saat Hades mulai mengeluarkan ilmu kanuragan yang dimilikinya.

__ADS_1


Tangan Hades tersilang di depan dada. Sejurus kemudian, tubuhnya melayang terbang melesat menyerang Alyan.


Alyan bersiap menerima serangan itu dengan pedang terhunus. Dia berpikir sudah kepalang tanggung. Maka dia mengeluarkan segenap kemampuannya untuk melawan Hades.


Alyan menghunus pedangnya, siap menerima serangan dari Hades.


Kembali pukulan demi pukulan Hades berhasil di tepis oleh Alyan, membuat Hades semakin murka.


Perkelahian berlanjut semakin seru. Akhirnya Hades yang tak mau kalah, juga mengeluarkan senjata andalannya berupa sebilah pedang bermata kembar dari neraka.


Pedang itu bentuknya agak panjang dan lentur, mirip seperti sebuah cambuk dengan ujung yang terbelah menjadi dua.


Tangan Hades menggenggam erat pedangnya. Pedang itu mengeluarkan cahaya yang bersinar kebiruan di tangan Hades.


Hiat!! Tubuh Hades melesat bergerak cepat menyerang Alyan yang berdiri dengan pedang terhunus.


Terjadi pertempuran sengit antara Alyan dan Hades. Tubuh keduanya melayang di udara saling serang dan saling tangkis. Semua menahan nafas. Tak seorangpun di antara mereka yang berkedip menyaksikan pertempuran dahsyat itu.


Alyan berkelit cepat ketika pedang Hades hampir saja mengenai tubuhnya.


Pedang Hades beradu dengan pedang Naga Jiwo milik Alyan. Benturan itu membuat tangan Alyan terasa ngilu dan kesemutan.


" Hahaha, rasakan kehebatan pedangku, hei anak muda! Sebentar lagi, kamu akan ku kirim ke neraka agar tak ada lagi orang yang akan menghalangi jalanku! " serunya lantang.


" Cuih.!! kau pikir aku takut padamu! Jangan mimpi! " jawab Alyan pada Hades.


Kembali keduanya terlibat perkelahian yang seru. Sudah berjam-jam keduanya bertarung. Saling beradu pedang dan ilmu kesaktian. Hingga pada suatu ketika, keduanya sama - sama terlempar dengan tubuh yang sama - sama terluka di bagian dada.


Dada Alyan luka tergores ujung pedang Hades hingga terbelah cukup dalam dan lebar. Sedang Hades juga terluka akibat sabetan pedang Naga Jiwo milik Alyan di dadanya.


Darah segar berwarna biru mengalir dari dada Alyan. Sedangkan darah hitam yang berbau busuk mengalir keluar dari tubuh Hades.


Hades mundur beberapa langkah ke belakang. Dia meraba dadanya yang terbuka lebar. Selama ini tak ada senjata yang sanggup melukai tubuhnya.


Namun pedang pemuda itu bisa melukainya. Sama seperti pedang Ayahnya, pedang pemuda itu juga ternyata memiliki kesaktian yang dahsyat hingga mampu melukai makhluk setengah abadi seperti dirinya.


Merasa tak bisa melanjutkan pertempuran itu, Hades memerintahkan agar para pengikutnya untuk mundur dan segara meninggalkan tempat itu.


Aluna menarik nafas lega. Buru - buru dia berlari mendekati Alyan. Di papahnya tubuh Alyan yang terluka.


" Kamu tidak apa-apa?" tanya Aluna cemas.


" Tidak! aku baik - baik saja. Ayo kita ke istana ayahku. Aku takut terjadi sesuatu dengan ayah dan ibuku."


Bergegas keduanya berlari menuju ke arah Bukit Malaikat , tempat sangat Pangeran berada.


Sementara itu, terjadi kegaduhan di istana kediaman Pangeran Hasyeem. Beberapa pengawal yang berjaga di depan pintu gerbang masuk istana kedapatan tewas di tempat. Mereka tewas dengan luka sabetan pedang. Tak ada yang tahu persis kejadiannya.


Seorang penjaga istana melaporkan kejadian itu kepada junjungan mereka yaitu Pangeran Hasyeem.


Mendengar laporan dari pengawalnya,


Pangeran Hasyeem segera berlari dengan tergesa-gesa menuju arah alun - alun istana.


Benar saja, penjaga gerbang istana itu tewas dengan luka menganga akibat sabetan senjata tajam. Siapa yang melakukan semua ini? pikirnya.

__ADS_1


" Pengawal! Tutup rapat gerbang istana dan segera sisir seluruh isi istana ini. Temukan penyusup itu dan bawa segera padaku! " titahnya.


Segera, gerbang istana itu ditutup dan beberapa pengawal istana berhamburan menyisir seluruh wilayah istana untuk menemukan penyusup yang berani memasuki istana Bukit Malaikat.


__ADS_2