Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 167 Bolehkah Aku menciummu?


__ADS_3

Kamu, manusia? " tanya pemuda itu dengan tatapan yang aneh.


Kening Nisa berkerut saat mendengar pertanyaan pemuda itu. Apa ada yang aneh jika dirinya manusia? Apakah makhluk di hadapannya itu bukan manusia? "


Belum lagi Nisa menjawab pertanyaan aneh pemuda bermata abu abu itu, sesosok bayangan entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja muncul di hadapannya sesosok makhluk berwajah menyeramkan. Makhluk itu langsung bergerak mendekati Nisa.


Anisa menjerit histeris ketakutan dan tanpa sadar memeluk pemuda itu. Alhasil Hamish, pemuda itu menjadi gelagapan lantaran tak pernah berhadapan langsung dengan seorang wanita apalagi di peluk, kecuali almarhum ibunya, kakaknya dan tuan Putri Arryan.


" Hei.. hei kak, tenanglah...Tak apa - apa, dia salah seorang pengawal di sini." kata Hamish sambil berusaha melepaskan pelukan Nisa dari tubuhnya. Tangan Hamish memberi isyarat kepada makhluk itu untuk pergi meninggalkan mereka berdua. Dengan patuh, makhluk itu berlalu pergi dari tempat itu.


" Makhluk itu sudah pergi. Bisakah kakak melepaskan pelukan kakak, karena aku merasa kesulitan bernafas."


Nisa yang menyadari keadaan, menjadi malu dan buru - buru melepaskan diri dengan wajah yang semerah tomat.


"Maaf."


" Tak apa - apa. Oh, iya namaku Hamish. Siapa nama kakak? "


" Namaku, Anisa. Kamu bisa memanggilku Nisa."


" Baiklah Nisa, kau tak perlu takut pada makhluk seperti yang tadi kamu lihat. Mereka adalah pengawal kerajaan yang berjaga-jaga di tempat ini. Tugas mereka adalah mengawasi dan berjaga - jaga di sekitar istana.Kehadiranmu mengundang mereka kemari. Mereka mencium bau manusia yang berasal dari dirimu. Apalagi kamu sedang mengandung."


" Istana....? Istana apa?" Nisa tak faham apa maksud ucapan pemuda itu. Mereka sedang berada di istana, tapi istana siapa.


" Istana Bukit Duri. Istana milik ayahku Panglima Ammar." jawab Hamish.


" Ammar? Jadi aku sedang berada di istana lelaki itu."


" Iya, dia ayahku. Apakah dia yang telah membawamu kemari? "


Anisa mengangguk . " Iya, lelaki yang memiliki mata yang sama denganmu. Dia membawaku ke tempat ini karena ingin menyelamatkan aku dari kejaran pembunuh bayaran yang diupah oleh mantan suamiku."


" Mengapa mantan suamimu ingin membunuhmu? "


" Karena dia membenciku. Teramat sangat membenciku. Karena aku, dia kehilangan warisannya dan tidak bisa menikah dengan kekasihnya. Karena itulah dia berniat menyingkirkan aku, karena hanya dengan kematianku, harta warisan itu bisa kembali jatuh ke tangannya. "


" Pengecut, lelaki seperti itu pantas diberi pelajaran." Hamish mengepalkan tangannya karena geram mendengar cerita Nisa.

__ADS_1


Sebuah deheman membuat kedua insan yang berbeda dunia itu menoleh.


" Ayah? Kapan ayah pulang? "


" Semalam. Wah, rupanya kalian sudah bertemu dan saling mengenal."


" Iya, tamu ayah ini tersesat di halaman istana dan menjadi histeris saat bertemu penjaga istana."


" Hehehe, maaf. Aku lupa memberitahukan padamu bahwa kamu sedang berada di istanaku. Kamu akan terbiasa nantinya, karena akan sering melihat hal - hal seperti itu."


" Siapa sebenarnya kalian. Mengapa suasana di tempat ini terasa aneh. Jam di handphone aku menunjukkan bahwa sekarang sudah pagi, tapi mengapa matahari belum juga muncul ? "


Ayah dan anak itu saling berpandangan. Lalu tertawa bersamaan, membuat Nisa semakin bingung.


" Nisa, kamu sedang berada di negeri jin. Di sini, waktu malam lebih lama dari waktu siang. Itulah sebabnya kamu belum melihat matahari pada jam segini. karena sekarang masih lagi malam hari."


"Hah..., Apa? Jadi kalian berdua adalah... jin? " Wajah Anisa pucat tak berdarah. Tungkainya mendadak lemas seolah tak bertenaga. Dengan tubuh terhuyung, wanita yang sedang hamil itu mencoba berpegangan pada pilar besar yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.


" Nisa, apakah kamu baik - baik saja? " tanya Hamish. Wajah kedua orang dihadapannya menampakkan rayt wajah cemas. Nisa mundur beberapa langkah dari kedua makhluk jin yang berwujud manusia tampan itu .


Pantas saja, lelaki itu bisa dengan mudahnya keluar masuk kamarnya walaupun semua sudah terkunci. Tapi bagaimana bisa ada jin dengan wujud setampan itu.


Nisa meraup nafas sebanyak - banyaknya agar bisa bernafas lega dan hidup. Kejutan ini telah menerbangkan separuh nyawanya. Setelah bisa menguasai diri dengan dua buah kejutan yang dia peroleh pagi ini, dia memutuskan untuk kembali lagi ke kamar. Dengan langkah ragu, Nisa melangkah pelan ke kamarnya.


Menyadari bahwa kini dia sedang berada di dunia jin, membuat Nisa merasa sangat ketakutan dan khawatir. Berpikir cara bagaimana dia bisa keluar dari tempat ini dalam keadaan hidup? Tapi, dia tak melihat adanya seseorang yang berniat untuk mencelakai dirinya di tempat ini.


Akhirnya, Nisa memutuskan untuk kembali lagi ke kamarnya. Di dalam kamar, Nisa merasa gelisah. Perutnya kini merasa lapar. Panggilan alam dari tubuhnya yang terbiasa sarapan pagi membuat dia tak bisa memejamkan katanya.


Sebuah ketukan di pintu kamarnya membuat Nisa mau tak mau kembali bangkit untuk membuka pintu. Ammar ternyata sudah berdiri di depan pintu kamar. " Ayo, aku antar kamu kembali ke rumahmu!"


Nisa pun mengangguk senang saat dirinya tahu akan kembali lagi ke rumah. Dia sudah hendak bersiap - siap untuk pergi, saat mendapati dirinya sudah berada kembali di dalam kamarnya. " Loh, ini kan, kamar aku? Kayaknya aku sudah berada kembali di kamarku. Tapi kapan dia membawaku kemari..? tanya Nisa dalam hati. Dia bingung bagaimana bisa dia sudah berada di rumah dalam sekejap mata.


" Nisa, kamu dari mana?" suara mama membuat Nisa menoleh. Mama sudah berdiri di ambang pintu kamarnya sambil menatapnya dengan pandangan aneh. " Oh, Nisa tidak kemana-mana, mah. Cuma jalan - jalan pagi saja, soalnya dokter menyarankan agar sering jalan - jalan pagi, karena baik untuk Nisa. " kata Nisa.


" Oh...pantesan, tadi pagi mama saat membangunkanmu, mama tak menemukanmu di tempat tidur. Mama pikir kamu kemana. Ya udah, .. jangan lupa sarapan setelah kamu selesai mandi. Mama mau berangkat ke kantor dulu. Hari ini, mama ada pertemuan dengan klien dari Singapura. Jika ada sesuatu, bilang saja sama mama, ya.


" Iya, ma. Makasih.. " Mama kemudian beranjak pergi untuk meningalkan pintu kamar Nisa, tapi tiba-tiba wanita itu berbalik...

__ADS_1


" Nisa, tadi malam waktu mama masuk ke kamarmu, mama juga tak menemukan kamu di kamar. Mama takut sekali, karena melihat ada beberapa orang yang memasuki rumah kita. Tapi anehnya, mereka sepertinya tak melihat kita. Mereka melewati mama yang ketakutan begitu saja, seolah - olah mereka memang tak melihat mama. Mama juga heran saat mendengar mereka bicara dengan seseorang di telpon, merupakan mengatakan bahwa tak ada siapapun di rumah ini. Padahal kami semua ada didepan mereka." cerita mama masih dengan ekspresi yang aneh. Namun, Nisa sudah tahu siapa yang berada di balik semua itu. Siapa lagi kalau bukan, Ammar. Pastilah lelaki itu yang telah menutup pandangan mata dari orang - orang itu. Orang - orang yang berniat ingin mencelakai mereka, semalam.


" Mah, .... sebaik mama hati - hati sekarang. Nisa rasa, tempat ini sudah nggak aman lagi buat kita semua. Mas Arya pasti akan selalu berusaha untuk mencelakakan Nisa dan kita semua, Mah."


" Jika memang betul dia yang berbuat semua ini, kita laporkan saja ke polisi. Biar dia kapok. "


" Masalahnya tidak semudah itu, mah. Kita tak punya bukti untuk menyeretnya ke penjara. Dia bekerja dengan sangat licik. Nisa rasa memang sebaiknya kita pindah saja dari tempat ini."


Mama memandang wajah Nisa sesaat. Ada rasa iba akan nasib putrinya yang telah di campakkan begitu saja oleh seseorang yang dahulu dia kira mampu untuk membahagiakannya.


Dewi, mamanya Nisa menghela nafas berat. Sebenarnya, dia tahu pasti sebab mengapa Arya begitu membenci Nisa.


Pemuda itu mengetahui jika dirinya adalah wanita yang telah membuat ibunya mati perlahan-lahan dalam kesedihan. Dewi meremas dadanya.. perih. Andai dia bisa mengulang waktu, dia tak akan lagi mengulang kesalahan yang sama.


Senopati Bimantara, .. pemuda gagah yang penuh dengan segala pesonanya sebagai seorang pria tampan dan mapan. Lelaki yang merupakan kekasihnya di masa lalu itu, selain tampan, Senopati Bimantara adalah seorang perayu ulung.


Perjumpaannya kembali dengan Seno, menghadirkan percikan - percikan api yang dulu sempat padam, kini perlahan tumbuh kembali di dalam dadanya. Dia tahu, semua yang terjadi itu salah. Karena Seno yang sekarang adalah pria yang sudah beristri dan juga memiliki seorang putra yang bernama Arya. Sedangkan dia juga sudah memiliki seorang suami dan seorang putri.


Namun, ternyata godaan itu tak semudah itu di tepis, karena ternyata Seno juga masih memiliki rasa yang sama dengannya. Apalagi saat itu hubungan rumah tangganya dengan suaminya sedang goyah. Dia mendapati Mahesa suaminya memiliki hubungan dengan wanita lain.


Seno yang mengetahui tentang perselingkuhan suami Dewi, berusaha menghibur dan membantu Dewi untuk keluar dari permasalahan itu. Karena seringnya bertemu, membuat getar - getar di hati mereka kembali tumbuh dengan subur. Selepas perceraian antara Dewi dan Mahesa, mereka memutuskan untuk menjalin hubungan secara diam - diam.


Lambat laun, hubungan itu tercium juga oleh Maria, istri Seno. Maria yang mengetahui perselingkuhan suaminya denganku menjadi berang. Hingga pertengkaran demi pertengkaran mewarnai rumah tangga mereka. Arya yang saat itu berumur enam tahun, sedikit banyak pasti faham sebab pertengkaran kedua orang tuanya.


Karena merasa bersalah, aku akhirnya mendatangi rumah mereka dan mengakui kesalahanku. Aku meminta maaf kepada Maria dan berjanji akan meninggalkan Mas Seno setelahnya. Mas Seno tidak Terima begitu saja keputusanku, meski dia juga tak ingin rumah tangganya hancur. Namun, aku sudah berjanji pada Maria untuk meninggalkan Mas Seno lebih memilih untuk angkat kaki dan pindah dari kota itu bersama putriku. Setahun kemudian aku menikah lagi dengan Mas Aldi dan melahirkan seorang putri yang kemudian kami beri nama Anisa. Aku menutup rapat - rapat kisah cintaku dan masa laluku bersama dengan Mas Seno. Bagiku, dia hanyalah bagian dari masa lalu yang pernah singgah dalam kisah hidupku.


Namun, berbeda denganku, rupanya Mas Seno tidak pernah bisa melupakan aku. Dia selalu saja membayang - bayangin kehidupanku di mana pun aku berada. Hal ini yang membuat Maria berang dan menyimpan dendam kepadaku. Sampai akhirnya, suatu hari wanita itu ditemukan mati bunuh diri dengan menyilet nadinya di dalam bakal mandi. Mayatnya pertama kali ditemukan oleh putranya, siapa lagi kalau bukan Arya. Sejak itulah, dendam membara di hati Arya padaku. Dendam itu semakin besar sampai saat Arya tumbuh dewasa. Saat Mas Seno menjodohkan Arya dengan Nisa, sebenarnya aku tak setuju. Mas Aldi yang tidak mengetahui tentang kisahku dengan Mas Seno menerima dengan gembira perjodohan itu. Dan dia semakin gembira saat Arya menyetujui perjodohan itu. Beda dengan aku yang kebat - kebit menahan ketakutan dalam dadaku. Karena jujur saja aku takut Nisa dijadikan Arya sebagai alat balas dendamnya.


Ketakutanku akhirnya terjadi. Setelah menikah, Arya memperlakukan Anisa, putriku dengan kejam dan tak berperi kemanusiaan. Perlakuannya semakin kejam saat tahu, bahwa harta warisan sang ayah akan jatuh ke tangan Nisa dan cucuku jika suatu saat Arya menceraikan Nisa. Kecuali jika Nisa tak memiliki anak dari Arya, maka Nisa akan mendapatkan tiga puluh persen bagian saham milik perusahaan keluar Arya. Hal ini semakin menambah daftar panjang kebencian Arya padaku dan Nisa. Hingga puncaknya beberapa bulan yang lalu, Arya menceraikan Nisa dan penyakit jantung suamiku kumat hingga akhirnya priaku itu menghembuskan nafasnya yang terakhir tanpa sempat bertemu dengan Putrinya.


" Mah, ... mama, melamun..? " sentuhan Nisa membuyarkan lamunan Dewi.


" Iya, nanti kita pikirkan lagi hal itu, sayang. Sepertinya memang kita harus pindah dari sini secepatnya. Ok, kalau gitu, mama pergi dulu ya. Ingat jangan lupa sarapan. "


Nisa menutup pintu selepas kepergian mamanya. Namun sesaat setelah dia menutup pintu, seseorang memeluknya dan mencium tengkuknya dari belakang. " Bolehkah aku memelukmu dan menciummu seperti ini? " bisik orang itu.


Nisa terkesiap. Tubuhnya menegang...

__ADS_1


__ADS_2