
Sabarlah.....sedikit lagi kita akan tiba di rumah Ki Anom. Dia tahu apa yang harus dia lakukan.Bertahanlah...." Ammar mengecup pucuk kepala Nisa, mencoba untuk memberikan dukungan kepada calon istrinya tersebut.
" Ammar, aku sudah tak sanggup lagi. Ini rasanya sakit sekali."
Tiba-tiba saja Nisa pingsan sebelum Ammar tiba di rumah Ki Anom.
...-----...
Perlahan-lahan Nisa terbangun dan mulai membuka matanya. Tubuhnya terasa sangat lemas dan kepalanya terasa berat. Pandangan matanya nanar mengawasi tempat di mana dia berada saat ini. Nisa meraba perutnya yang kembali lagi terasa sedikit agak menegang. Kembali Nisa meringis ketika merasakan nyeri di bagian perut dan pinggangnya walaupun rasanya tidaklah sesakit seperti tadi.
" Ammar..... " rengeknya mencari - cari keberadaan Ammar sambil berusaha untuk bergerak bangun. Namun kembali rasa sakit menyeruak hadir ketika dia mencoba untuk bergerak.
" Jangan banyak bergerak. Kamu mengalami pendarahan. Perbanyaklah berzikir dan membaca doa. " ucap seseorang di sebelah Nisa.
Nisa merasa heran. Itu bukan suara Ammar. Kemana Ammar?
Nisa menoleh. Seorang pria paruh baya berpakaian serba putih sedang duduk bale - bale sambil memegang tasbih dan juga sebilah cambuk. Benda itu mirip seperti milik Ammar. Hanya saja bentuknya lebih besar dan lebih panjang.
" Siapakah bapak ini? Dan dimana Ammar? " tanya Nisa heran.
" Aku ki Anom. Aku menyuruh Ammar untuk melakukan sesuatu. Namun kamu tenang saja. Sebentar lagi dia akan kembali. Sekarang lakukan saja seperti yang aku perintahkan. Perbanyaklah istighfar dan juga membaca doa."
Mendengar hal itu, Nisa pun mengangguk pasrah. Wanita itu mencoba berbaring dengan posisi nyaman sambil melakukan apa yang lelaki tua itu perintahkan. Dia memejamkan mata dan tak lupa untuk mulai berzikir dan melafalkan berdoa untuk keselamatan dirinya dan bayinya.
Saat berzikir, Nisa merasakan ketenangan dan kedamaian. Rasa sakit di perutnya perlahan-lahan mulai berkurang, walaupun belum sepenuhnya hilang. Keadaan itu membuat Nisa merasa nyaman hingga membuatnya kembali tertidur.
Saat Nisa terbangun, dia masih belum menjumpai pria tampan kekasihnya berada di dekatnya.
" Mengapa Ammar belum juga kembali? "
" Belum waktunya dia kembali. Bangkitlah, bantulah aku dengan berzikir dan berdoa. Karena sejujurnya kamu dan bayi yang kamu kandung saat ini berada dalam bahaya. Mereka ingin mengambilnya untuk tumbal. "
Hati Nisa menjadi ciut saat mendengar bayinya ternyata akan dijadikan tumbal.
" Si... siapa yang tega melakukan itu, Ki?" isaknya sedih.
" Maaf, mereka adalah mantan suamimu dan guru ilmu hitamnya. "
" Tidak...." Nisa menggeleng tak percaya. Mengapa Mas Arya sampai hati melakukan hal itu. Dia tahu, Arya sangat membencinya. Yang dia sesalkan, mengapa tak sedikitpun ada rasa sayangnya pada anak yang dikandung Nisa.
Disamping itu, dia juga tahu bahwa Arya adalah orang yang tidak percaya akan hal - hal seperti itu. Jadi.. terasa ada yang aneh saat mengetahui jika Mas Arya mempelajari ilmu Hitam.
"Aduhh...... perutku...! Sepertinya aku akan segera melahirkan, Ki. Aku sudah tidak tahan..!" seru Nisa kembali memegangi perutnya yang kini kembali terasa sakit.
Seorang perempuan kemudian terlihat masuk ke ruangan tersebut. Dia menenteng sebuah baskom yang berisi air hangat dan sebuah kain bersih.
" Nyi Mirah akan membantumu melakukan persalinan. Bersiaplah.... " ujar Ki Anom kembali memejamkan mata dan berkonsentrasi untuk memusatkan energi dan tenaga dalam agar bisa menolong wanita hamil yang saat ini sedang menjadi incaran siluman kuda hitam.
" Ammar.... waktunya sudah tiba. Bersiaplah... " Ki Anom menggunakan ilmu tenaga dalam tingkat tinggi untuk berkomunikasi jarak jauh dengan Ammar.
__ADS_1
" Iya, Ki. Aku juga sudah hampir selesai..." jawab Ammar.
" Aduhh, sakit,..Tolong, perutku sakit sekali..." Nisa merintih sambil memegangi perutnya yang kini sudah semakin sakit.
Dengan cekatan, wanita yang bernama Nyi Mirah itu menempelkan kain hangat ke perut Nisa, lalu meniupkan sesuatu ke arah perut Nisa. Ajaibnya setelah itu perut Nisa tidak lagi merasa sakit.
Dia meraba perut bagian bawahnya. Perut itu memang tidak sakit lagi. Tapi sekarang ini dia merasakan seperti ada yang mendesak ingin keluar melalui jalan lahirnya.
" Nyi.... apa ini? Seperti ada yang mengganjal di bawah sana dan ingin melesak keluar. Aku takut... aku takut, Nyi...? "
" Jangan takut... Itu hanya bayimu saja yang ingin keluar dan sekarang dia sedang ' mengintip keluar untuk melihat situasi yang tepat.. "
" Istighfar dan berdoa. Aku akan berusaha untuk melindungimu dari makhluk itu. Sebentar lagi Ammar akan menyudahi semua ini. " Seru Ki Anom berusaha untuk menyakinkan Nisa agar mematuhi perintah.
Terlihat mata Ki Anom menutup rapat dan mulutnya komat kamit membaca mantra.
"sun matek ajiku Jaran Goyang, ora goyang ing tengah latar, upet-upetku lawe benang, pet sabetake gunung gugur, pet sabetake lemah Bangka, pet sabetake segara asat, pet sabetake ombak gede sirep, pet sabetake atine wong wadon, cep sido edan ora mari-mari yen ora isun seng nambani.”
Tangan Ki Anom terayun keatas dan kemudian meluncur ke bawah dengan cepat, menyabetkan cemeti di tangannya ke suatu arah.
Ctaarrrrr...
Bunyi suara cemeti yang berderu nyaring menggelagar menggetarkan nyali siapa saja yang berada di sana.
Langit langsung berubah gelap. Ada bayang - bayang hitam di langit yang menyeruak hadir secara tiba-tiba. Langit seperti mengabarkan jika seperti itu perbuatan manusia yang sudah dirasuki nafsu dunia.
Dengan sigap lelaki paruh bata itu mengelak guna menghindari serangan membabi buta dari bayangan hitam itu.
" Hemm.... ternyata disamping jelek dan hitam, kamu juga pengecut yang hanya berani sama wanita dan dan orang tua.." ejek Ki Anom pada bayangan hitam tersebut yang rupanya hanyalah seekor kuda hitam.
" KEPARAT!! JANGAN CAMPURI URUSANKU, WAHAI KAU MAKHLUK BUNIAN RENDAH.!! " seru kuda hitam itu dengan marah sambil.
" Siapa yang lebih rendah..? Mengapa tidak bercermin dahulu sebelum berucap." jawab Ki Anom dengan tenang.
Bayangan berbentuk kuda itu hitam itu semakin marah. Kembali dia menyerang Ki Anom dengan ganas. Dia berusaha menembus pertahanan Ki Anom dengan memecah konsentrasi lelaki paruh baya yang sayangnya tak bergeming sedikit pun oleh usaha Ki Hitam.
" Aku tidak bermaksud untuk urusanmu. Aku hanya ingin menolong sesama makhluk Tuhan yang sedang membutuhkan pertolonganku."
" Dia milikku..! Ayah bayi itu sudah berjanji untuk menumbalkan bayi yang ada di perut wanita itu sebagai tumbal ilmu jaran goyang yang kuwariskan padanya. " ujar Ki Hitam dengan marah.
Ki Anom hanya terkekeh mendengar pembelaan Ki Hitam.
" Aku tak peduli dengan semua Itu. Itu semua adalah urusanmu dengan lelaki tersebut. Urusanku, menyelamatkan wanita ini dari kebiadaban kuda siluman jadi - jadian yang haus darah macam dirimu. " jawab Ki Anom.
" Hahaha.... aku mau tahu bagaimana caramu menyelamatkan wanita itu, tua bangka..? " seru Ki Hitam dengan sombongnya.
Ki Anom tak menanggapi ucapan Ki Hitam yang bernada jumawa itu. Dengan tenang dia berdiri sambil menggengam cemeti yang sejak tadi sudah berada di dalam genggamannya.
" Dengan ini...! " jawab Ki Anom kemudian langsung mengayunkan cemeti tersebut ke arah Ki Hitam.
__ADS_1
Kuda itu rupanya sudah menduga akan serangan Ki Anom yang tiba-tiba. Maka dia bergetar dengan lincah mengelak dan berlari memutari Ki Anom. Setelah itu, kembali dia meringkik disertai dengan tawa yang penuh ejekan.
" Kamu memainkan cemetinya seperti anak kecil yang bermain kuda - kudaan. Bagaimana bisa kamu mengalahkan diriku. "
Namun.....
Tarrrrr...... !!!!!!
Satu lecutan berhasil mengenai tubuh kuda hitam liar itu sehingga membuat kuda itu meringkik nyaring kesakitan.
" Pantasnya seekor kuda itu dicambuk, bukan dipuja dan di sembah.. " Selesai berkata demikian, kembali Ki Anom melayangkan lecutan cemetinya ke arah Ki Hitam dengan mulut yang komat kamit membaca penangkal ajian Ilmu pelet yang konon katanya warisan dari nenek lampir tersebut.
Ki Hitam meringkik semakin nyaring ketika baris demi baris dwei untaian mantra tersebut ke luar dari bibir Ki Anom. Semakin keras dan semakin cepat dia mendengungkan mantra - mantra tersebut, Siluman kuda hitam itu berputar semakin cepat....
" Ammar..... sekarang saatnya!!! "
Sebuah bisikan yang dihantarkan dengan tenaga dalam yang dahsyat terdengar di telinga Ammar yang saat itu sedang memegang sesuatu di tangannya.
Dengan sigap, lelaki itu kemudian melesat pergi ke arah ruangan Ki Anom sambil menenteng sesuatu di tangannya.
Tubuh Ammar berlari cepat menerobos masuk ke ruangan tersebut dan melemparkan benda yang dia bawa tepat ke tubuh Siluman kuda hitam yang saat ini sedang berlari kencang memutari ruangan tanpa bisa dicegah untuk berhenti.
Tap...... !!!
"Kena kau kuda, sialan..!! "ucap Ammar dengan nada berang.
Panglima Ammar, lelaki itu kemudian berkelebatan melayang di udara lalu keluar dengan menembus dinding kamar.
Ammar kembali lagi dengan membawa ikatan daun kelor lantas menebaskan ikatan daun kelor tersebut ke tubuh Siluman kuda hitam. Kuda siluman itu tak berdaya menghadapi serangan Ammar yang tak terduga.
Nyalinya sebenarnya sudah ciut sejak tadi, hingga kemudian dia bermaksud ingin kabur saja dari tempat itu.Namun sayangnya, dia terlambat.
Ammar terlihat mengayunkan ikatan daun kelor tersebut ke tubuh kuda siluman itu beberapa kali tanpa ampun hingga kuda siluman itu tak ayal lagi langsung ambruk ke bumi. Untuk sesaat, siluman kuda itu masih tersungkur di tanah. Kemudian secara perlahan-lahan, tubuhnya lenyap dari tempat tersebut.
Sementara itu, Nisa sedang berjuang untuk melahirkan cabang bayinya dengan bantuan Nyi Mirah. Tak beberapa lama kemudian, bayi Njsa pun lahir.
Bayi itu lahir sesaat setelah ambruknya tubuh Ki Hitam ke bumi.
Bayi tampan yang mungil itu langsung menjerit kencang sesaat setelah keluar dari perut Nisa.
" Bayimu sangat tampan, neng. " Kata Nyi Mirah.
Nisa menangis melihat kehadiran bayi merah itu. Ada keharuan yang terlukis di sana menyadari sekarang ini dia sudah menjadi seorang wanita dewasa dan seorang ibu.
" Ammar... " panggilnya lirih.
Ammar mendatangi wanita itu dan mencium sekilas pucuk Kepala wanita itu dengan penuh rasa haru.
" Selamat ya, sayang. Kau sudah berhasil menjadi seorang ibu. "
__ADS_1