
" Andros... ? Apa yang kamu lakukan di sini? " Aku bertanya karena kaget mendapati pemuda tampan jelmaan jin itu di kamarku.
" Cepat tinggalkan tempat ini.... Kamu dan teman - temanmu dalam bahaya"
Setelah memberiku peringatan, Andros kemudian lenyap dari hadapanku.
Tanpa pikir panjang aku langsung bangkit dari tidur dan berdiri menghampiri Melda yang sedang pulas tertidur di kasurnya.
" Melda..... ssst... bangun. Mel... Melda... bangun.. " Aku berbisik di telinga Melda.
Gadis langsing berkulit sedikit coklat itu menggeliat seakan enggan untuk membuka mata.
" Arryan.... ada apa? " Mata gadis itu setengah terbuka. Masih dengan kantuk yang menggelut di matanya.
" Ayo, cepat bangun.... kita harus segera pergi meninggalkan tempat ini." kataku sambil menarik tangan gadis itu agar segera bangun.
" Iya...iya. Jelaskan dulu, mengapa kita harus meninggalkan tempat ini segera. Bukankah KKNnya masih satu minggu lagi? Lagian...ini masih malam, Arryan? " wajahnya terlihat sedikit bingung dengan apa yang baru saja aku katakan.
" Aku tak ada waktu untuk menjelaskannya. Nanti saja... yang jelas kita semua dalam bahaya. Sekarang bersiaplah..! Aku mau membangunkan yang lain..! " kataku sambil beranjak keluar menuju ke kamar depan.
Namun, baru saja aku akan membuka pintu kamar, seseorang memukul kepalaku dari belakang. Aku yang tak menyangka akan mendapat serangan mendadak, tak sempat lagi untuk mengelak. Aku terjerembab dan jatuh tersungkur ke lantai. Pandangan mataku berkunang - kunang, lalu kemudian berubah gelap. Kemudian aku tak ingat apa - apa lagi setelah itu.
Entah berapa lama aku tak sadarkan diri. Aku terbangun ketika samar - samar aku mendengar seseorang berteriak - teriak memanggil namaku dengan keras.
" Arryan, bangun.... Arryan...! " suara Tyas membangunkanku. Setengah sadar, perlahan-lahan aku membuka mata. Pandanganku masih terasa berkunang - kunang. Kepalaku masih terasa berat dan pusing. Rasa sakit di belakang kepalaku akibat pukulan tadi masih terasa. Aku menoleh dan mendapati Tyas yang sedang dalam posisi terikat di tiang rumah, berteriak mencoba untuk membangunkan aku.
__ADS_1
" A... apa yang terjadi? " Aku bertanya pada Tyas ketika mendapati diriku juga sedang dalam posisi terikat disebuah tiang. Mataku memandang nanar ke sekeliling tempat ini. Kulihat Afdal dan Tano masih tak sadarkan diri. Kondisi mereka juga tak jauh berbeda dengan keadaan aku dan Tyas. Tubuh mereka sama-sama terikat di tiang pondasi rumah.
" Dimana kita...? " tanyaku lagi
" Entahlah.... Aku tak tahu kita ada di mana, Arryan." jawabnya.
Aku kembali memandang ke sekeliling tempat itu. Sepertinya kami berada di dalam sebuah gudang atau semacam gedung yang tak terpakai. Bau busuk entah seperti bau bangkai terendus oleh penciuman kami membuat perutku mendadak mual seketika.
Mataku yang memang berbeda dengan mata manusia menangkap beberapa penampakan makhluk - makhluk ghaib dengan berbagai bentuk - bentuk yang menyeramkan. Tampak seperti mereka adalah roh - roh gentayangan penghuni tempat ini. Mereka tak melakukan apa - apa, hanya berdiri saja memandang ke arah kami. Aku diam tak bergeming. Tak ingin membuat ketiga temanku yang lain menjadi ketakutan.
" Jelaskan padaku, mengapa kalian juga bisa berada di tempat ini?
" Kami juga tidak tahu persis, waktu itu kami terbangun ketika mendengar suara gaduh dari kamarmu. Kami semua bermaksud hendak menuju ke kamarmu, ketika beberapa orang bertopeng menerobos masuk ke dalam kamar dan memukuli kami semua hingga pingsan, lalu kemudian membawa kami kemari. Ketika aku tersadar, aku sudah mendapati diriku di sini bersama kalian dengan tubuh terikat di tiang. "
Aku diam mencoba mencerna apa yang telah terjadi dari cerita Tyas. Mengapa kami ada di tempat ini. Tiba-tiba, aku teringat Melda.
Tyas menatap bingung kemudian menggelengkan kepala tanda tak tahu.
" Semenjak tersadar tadi, aku belum pernah melihat Melda." jawabnya lirih.
Aku mengeryitkan alis dengan heran dan cemas. " Tadi tadi aku bersamanya. Aku tadi sudah membangunkan melda dan kemudian berniat untuk membangunkan kalian. Tapi.... seseorang kemudian memukul kepala bagian belakangku, hingga aku tak sadarkan diri. "
" Melda, .... Tyas... aku takut jika kenapa - napa dengan Melda. Dia kan orangnya gampang panik dan penakut." Aku jadi cemas akan nasib Melda temanku.
" Yah, habis bagaimana lagi. Kita nggak bisa mencari Melda jika dalam kondisi begini, Arryan.." kata Tyas dengan kesal.
__ADS_1
" Iya, tapi aku takut terjadi hal yang tidak - diinginkan seperti yang ada dalam mimpi aku " kataku keceplosan.
" Hah, mimpi?mimpi apa emangnya? " kata Tyas dengan lugunya.
Aku menutup mulut karena kelepasan bicara. Tapi, mau apa lagi. Aku akhirnya terpaksa menceritakan semua mimpi - mimpi buruk yang aku alami beberapa malam terakhir. Tak lupa pertemuanku dengan gadis itu.
Wajah Tyas langsung pucat setelah mendengar cerita aku. Dia mendadak panik dan kini mulai berusaha untuk melepaskan diri. Dia juga berusaha untuk membangunkan Afdal dan Tano.
Tano membuka mata terlebih dahulu, lalu disusul oleh Afdal. Keduanya langsung shock saat mendapati diri mereka yang terikat di tiang, lantas berteriak-teriak minta tolong. Namun, semuanya hanya sia-sia belaka. Siapa yang mau menolong kami. Kami berlima ditengah hutan belantara, di tengah - tengah suku terasing yang tidak kami ketahui asal - usul dan latar belakang budayanya. Akhirnya... setelah puas berteriak, kedua orang itu kemudian memutuskan untuk berusaha membuka tali pengikat yang mengikat mereka.
Aku diam saja melihat teman - temanku berusaha untuk melepaskan diri. Karena jujur saja, fokusku sedang tertuju ke satu arah. Salah satu dari roh itu menunjuk ke suatu arah. Aku mengikuti arah telunjuk dari roh itu. Tak jauh dari kakiku, teronggok sesuatu yang mencuat naik ke atas. Seperti ada sesuatu yang tertimbun di bawah sana.
Sekuat tenaga, aku meluruskan kakiku dan mencoba mengkais - kais benda yang tertimbun tanah dengan ujung kakiku.
Setelah beberapa saat, aku pun berhasil menendang benda itu agak keras hingga sedikit terangkat ke atas. Ternyata benda itu berujung runcing, hinggap dengan mudah aku kembali menendang benda itu hingga terkuak seluruhnya.
Semua teman - temanku menutup mulut dengan ngeri. Rupanya benda yang berujung runcing itu adalah sebuah senjata tajam yang tertancap di atas tengkorak manusia. Tengkorak itu nyaris terbelah dua.
" Afdal, Tano.... kita harus secepatnya keluar dari tempat ini. Karena.... karena... menurut Arryan..... "
Brakkkk... !!! pintu ruangan terbuka. Beberapa orang masuk ke dalam ruangan dan kemudian mengunci pintu.
Kulihat beberapa orang berjalan ke arah kami. " Lepaskan, kami..! " teriak Tano dengan wajah merah." Mengapa kalian mengikat kami di sini? " Tanyanya kemudian.
" Sayang sekali, kami tak bisa melakukannya... " kata seseorang dari balik topengnya. Aku menaikkan sebelah alis ke atas. Seperti aku mengenali suara itu
__ADS_1
Suara itu adalah..... suara Melda.