
Ammar menatap kepergian kuda itu dengan hati masghul. Di dalam hatinya ada rasa penasaran dan bertanya-tanya siapa yang telah mengirimkan pelet ajian jaran goyang itu.
Di tempat lain, di dalam sebuah kamar yang cukup luas, seorang pria terlihat sedang duduk bersila sambil memejamkan mata. Di depannya tersaji sesajen dan dupa yang masih menyala. Aroma kemeyan menguar memenuhi ruangan. Di tangan pria itu terdapat sebuah cemeti. Suasana dalam kamar itu terasa hening namun sangat menyeramkan.
Tiba-tiba lampu di kamar yang semula menyala redup kini mendadak berkedip - kedip. Angin bertiup kencang dan membuka jendela kamar tersebut secara paksa hingga sesajen yang tersaji di meja berikut tempat dupanya terlempar dan berhamburan di lantai. Terdengar suara ringkihan dan dengusan napas kuda walaupun belum terlihat wujud aslinya. Setelah itu suasana kembali menjadi hening. Lalu tiba-tiba saja tubuh Arya terlempar ke belakang beberapa meter. Seekor kuda hitam kemudian muncul di tempat itu. Darah segar keluar dari mulut Arya. Kuda hitam itu berjalan memutari tubuh Arya.
" Berani sekali kamu mempermainkan diriku. "
Arya memegangi dadanya yang terasa sakit. Dengan terhuyung - huyung pria muda itu mencoba bangkit dan kembali duduk bersila lalu mengatur nafas. Dia mencoba mengobati luka dalam yang dia alami akibat sepakan kuda siluman tadi.
" Apa maksud ucapan Ki hitam? "
" Aku tak bisa mendapatkan tumbal bayi yang kamu maksud. Wanita hamil itu dilindungi oleh seorang yang bukan dari alam manusia. "
Arya mengangkat wajahnya memandang ke arah kuda hitam itu dengan wajah keheranan.
" Aku tak paham dengan ucapan Ki Hitam. Bukankah aku sudah menyerahkan anak yang di kandung wanita itu sebagai tumbalku . Wanita itu sendiri yang mengatakan jika bayi yang sedang dia kandung itu adalah anakku. Tapi aku merasa tak pernah menyentuh wanita itu. Jadi aku pikir lebih baik bayi itu aku jadikan tumbal saja. "
" Apa kamu yakin kalau itu bukan bayiku. Nyatanya memang benar bayi itu adalah calon anakmu. Bayi yang dikandung oleh wanita itu adalah darah dagingmu. Jadi saat ini wanita itu sedang mengandung bakal anakmu. Tapi tampaknya ada sesosok makhluk yang melindungi mantan istrimu itu. Seseorang yang bukan berasal dari bangsa manusia. "
Darah Arya berdesir. Apa tadi yang dikatakan makhluk berwujud kuda itu, Nisa sedang mengandung anaknya? Jadi perkataan wanita itu benar adanya. Dirinya memang sedang mengandung anaknya. Tapi Arya merasa tak pernah melakukan apapun juga terhadap Anisa. Atau apakah perkataan wanita itu benar tentang dia yang dalam keadaan mabuk dan tidak sadarkan diri kemudian menyentuh Anisa.
Tapi apa tadi yang dikatakan Ki Hitam, ada sesosok makhluk yang melindungi mantan istrinya itu. Mendadak ada rasa tidak senang di hati Arya mengetahui hal itu.
" Apa maksud Ki hitam mengatakan bahwa Anisa dilindungi oleh seorang yang bukan berasal dari golongan manusia. "
" Iya, mantan istrimu itu sekarang tampaknya berada dalam perlindungan makhluk sebangsa Jin Muslim. Makhluk itu berkata bahwa istrimu adalah miliknya."
Arya semakin heran. Bagaimana mungkin wanita modern seperti Nisa percaya akan hal gaib dan klenik seperti itu. Bagaimana mungkin Nisa bisa mengenal makhluk jin yang secara harfiah sulit dijangkau keberadaannya.
" Bagaimana bisa seperti itu, Ki? " tanya Arya dengan gusar. Wajahnya merah padam menahan amarah
" Bisa saja terjadi. Bangsa jin sama dengan bangsa manusia. Seperti kita, mereke juga memiliki nafsu dan keinginan. Mereka pun memiliki rasa cinta dan kasih sayang. Namun, terlepas dari semua itu, sulit rasanya bagi kita untuk bisa melawan mereka karena mereka penuh dengan tipu daya dan muslihat .
" Lantas sekarang aku harus bagaimana, Ki? " tanya Arya dengan ekspresi bingung.
" Gunakan ajian pelet jaran goyang dari jarak jauh. Kita akan memanggil jiwa dari mantan istrimu itu. Buat dia tergila - gila kepadamu sehingga dia jadi tunduk pada keinginanmu." Saran Ki Hitam.
" Apakah hal tersebut bisa dilakukan, Ki. Bukankah tadi Mi Hitam katakan bahwa Nisa saat ini menjadi milik makhluk itu. Bagaimana bisa aku melakukannya? "
" Hal itu bisa saja kita lakukan karana toh kamu bapak dari jabang bayi itu. Antara kamu dan Nisa terhubung karena ikatan itu. " kata
"Tapi aku tak tahu harus bagaimana cara. melakukannya, Ki? "
" Lakukan seperti biasa. Apakah kamu punya foto dan rambut perempuan itu? "
" Kalau foto ada, Ki. Tapi kalau rambut, aku tak tahu. Mungkin aku bisa mendapatkannya dari sisir Nisa yang ketinggalan di rumah, atau mungkin aku akan mengambil rambutnya secara paksa. "
" Lakukanlah secepatnya. Aku tak ingin gagal lagi kali ini. Jika gagal, maka nyawamu lah yang menjadi gantinya. " kata Ki Hitam.
" Baik, Ki.. " jawab Arya.
" Ayah, beberapa waktu yang lalu Pangeran Alyan bertandang kemari." kata Aluna saat bertemu dengan ayahnya. Ayahnya baru saja muncul di istana.
" Apakah ada hal yang penting? "
__ADS_1
" Pangeran Alyan ingin memastikan kapan ayah ada waktu karena dia dan ayahnya ingin bertemu dengan ayah secara langsung. Katanya ada hal penting yang ingin dia bicarakan. " jawab Luna.
" Mengapa kamu tidak langsung menghubungi ayah. Kamu tahu benar bagaimana cara menghubungi ayahmu."
" Oh, iya. Maafkan aku, yah. Aku benar - benar lupa. "
Ammar menjentik hidung bangir putrinya dengan gemas.
" Bagaimana kabar wanita itu, ayah? " tanya Luna tiba-tiba.
" Entahlah.... tapi baru - baru ini, dia mendapat serangan ilmu ajian jaran goyang. "
Mulut Luna terbuka lebar. " Astaga, siapa yang berbuat sekeji itu pada seorang wanita hamil? "
" Entahlah... ayah juga tak tahu. Tapi ayah punya satu orang yang cocok dijadikan tersangka. "
" Siapa, yah? "
" Mantan suaminya. "
"Loh, kok bisa. Bukannya mantan suaminya itu sendiri yang sudah mengusir wanita itu dari rumahnya. "
" Tapi jangan lupa, mantan suaminya juga yang berniat untuk mencelakai dirinya dan keluarganya. "
" Mengapa mantan suaminya sangat membenci dia? "
" Karena harta, Luna. Ahli waris, anak itu pemegang ahli waris kekayaan sesuai surat wasiat dari ayah pria itu. Semenjak peristiwa meninggalnya ayah Nisa, maka orang tua Arya semakin gusar dan akhirnya mengubah isi surat wasiat menjadi atas nama Nisa dan anaknya. Hal itu membuat Arya semakin gusar. Dia yang awalnya merasa benci kepada Nisa menjadi semakin benci. Kebencian itu berubah menjadi dendam karena pada akhirnya kekasih Arya juga ikut - ikutan meninggalkan dirinya ketika mengetahui jika Arya kehilangan hak atas warisan kekayaan orang tuanya. "
" Mungkin wajar saja jika Arya merasa seperti itu, ayah. Secara Arya kan anak mereka. Tapi mengapa dia justru tak mendapatkan haknya? Kita tak bisa menimpakan kesalahan ini sepenuhnya kepada Arya. "
" Nah, itu ayah tahu. " kata Aluna sambil memeluk sang ayah. Ayahnya membelai pucuk kepala putri kesayangannya dengan lembut. " Iya, terus... ngomong - ngomong, kapan kekasihmu Pangeran Alyan akan datang lagi bersama Pangeran Hasyeem? "
" Sepertinya besok malam, ayah. "
" Baiklah, .. ayah akan mempersiapkan diri untuk menerima calon mertuamu. " kata Ammar dengan senyum menggoda.
" Ayah.... " Aluna bergelayut manja di lengan Ammar. Ammar tertawa lepas melihat wajah merah merona milik sang putri.
...----...
Sebuah mobil mewah berhenti di depan sebuah Vila. Seorang pria bergegas turun dengan langkah tergesa-gesa menuju ke gerbang Vila yang masih terkunci rapat.
" ANISA..... buka pintunya!! " teriak pria itu yang tak lain adalah Arya.
Seorang pria paruh baya berlari dengan tergopoh - gopoh.
" Dengan Arya.... "
" Mana Nisa, mang?"
" Neng Nisa tak ada di sini, Den. "
" Mamang jangan bohong.Menurut orang kepercayaanku, Nisa berada di Vila ini. " bentak Arya gusar.
Pria tua paruh baya itu tampak mengkeret ketakutan karena di bentak oleh Arya.
" Benar, den. Neng Nisa tak ada di sini." jawabnya dengan takut.
__ADS_1
" Katakan, di mana Nisa? "
" Ti.. tidak tahu, den. Neng Nisa pergi dari sejak kemarin malam, den. "
Mang Dadang, pengurus Vila itu kemudian kembali masuk ke dalam Vila.
Sedangkan Arya melangkah dengan gontai menjauhi pintu gerbang Vila itu yang masih terkunci dari dalam.
" Huh.... wanita sialan. " maki Arya yang merasa kesal karena tidak bertemu dengan Anisa.
" Mas Arya... " tiba-tiba terdengar seorang memanggil Arya.
Arya menoleh dan melihat mantan istrinya sedang berdiri di bawah pohon akasia yang berada di depan Vila.
" Heh, dari mana saja, kamu. Perempuan hamil masih saja keluyuran." Arya berjalan mendatangi Nisa yang masih berdiri di bawah pohon. Dengan kasar, dia menarik lengan wanita itu dan menyeretnya menuju ke mobil.
" Lepaskan saya, Mas. Mas enggak ada hak untuk menyentuh Nisa lagi. Kita sudah bukan suami istri lagi. " Nisa menyentak tangan Arya hingga pegangan pria itu terlepas begitu saja.
Mang Dadang yang melihat hal itu menjadi terkejut. Dari mana datangnya Neng Nisa, pikirnya heran. Namun tak urung dia kemudian merogoh handphone di sakunya dan menelpon seseorang.
Sementara Arya merasa heran mengapa tenaga Nisa bisa sedemikian kuat. Biasanya wanita itu hanya bisa merengek dan menangis saja ketika di bentak atau diperlakukan kasar oleh Arya.
Kembali tangan Arya menjambak kepala Nisa yang ditutup jilbab. Sekali jambak penutup kepala wanita itu terlepas hingga menampakan rambut panjang wanita itu yang terurai lepas. Arya semakin kalap dan menarik rambut wanita itu dengan keras hingga Nisa menjerit dan berteriak karena kesakitan.
" LEPASKAN WANITA ITU....! " bentak seseorang dari arah belakang Arya. Arya menoleh da n terlihat seorang pria berpakaian polisi dan seorang lelaki paruh baya yang berpakaian rapi.
Nyali Arya langsung menciut melihat lelaki berpakaian seragam itu serta pria di sampingnya. Mang Dadang buru - buru membuka pintu gerbang dan membimbing tangan Nisa, mengajak wanita itu agar masuk ke dalam Vila. Namun wanita yang sedang hamil tua itu menahannya.
" Maaf, saya hanya ingin agar istri saya pulang kembali ke rumah kami, Pak. "
" Mantan istri, Pak. Kami sudah lama bercerai, Pak. " jawab Nisa dengan berani.
Mata Arya melotot ke arah Nisa. Wanita ini makin berani saja, pikirnya. Awas saja nanti. Diam - diam Arya memasukkan beberapa helai rambut Nisa yang tadi sempat dia tarik ke dalam saku bajunya.
" Perkenalkan, saya adalah kepala desa di sini. Mas ini mantan suaminya, mbak Nisa, ya? "tanya pria berpakaian rapi tersebut. Arya mengangguk kesal.
" Saya kemari karena mendapatkan laporan dari penjaga Vila bahwa Masnya datang kemari dan membuat keributan dengan Mbak Nisa. Saya selalu kepala desa di sini bertanggung jawab terhadap keselamatan dan ketenangan warganya. Jadi saya harap Masnya tidak membuat ulah di sini, Mas. Jika Mas masih saja tidak menggubris, maka kami terpaksa mengambil tindakan tegas. "
Mendengar ancaman dari kepala desa itu, Arya sedikit merasa keder. Mau tak mau lelaki itu terpaksa masuk ke dalam mobilnya dan berlalu dari tempat itu dengan hati dongkol. Niat hati ingin memberi pelajaran kepada wanita itu, namun urung karena kemunculan dua orang tokoh masyarakat tersebut.
Sepeninggal Arya, kedua orang itu juga mohon pamit kepada Nisa. Setelah keduanya berlalu, Mang Dadang mendekati Nisa dan mengajak wanita hamil itu masuk.
" Ayo, masuk, neng. Tak baik wanita hamil berkeliaran di luar rumah sore hari begini. Pamali... "
" Iya, Mang. Mang Dadang masuk saja duluan. Tapi jangan lupa kunci pintu gerbang kembali lagi. Saya mau jalan - jalan dulu di taman. "
" Oh, gitu ya, neng. Baiklah, tapi jangan kesorean, ya neng. "
" Iya, mang. "
Mang Dadang bergegas mengunci pintu gerbang dan segera berlalu dari hadapan Nisa.
Sepeninggalan Mang Dadang, Nisa tersenyum penuh misteri. Perlahan-lahan, sosok Nisa kemudian berubah wujud menjadi sosok kuntilanak yang berwajah menyeramkan. Sosok kuntilanak itu tertawa terbahak - bahak.
" Hihihi.....Saya sudah melaksanakan semua perintah anda, tuanku. " katanya dengan suara yang berat.
" Aku tahu, terima kasih. Kamu boleh pergi sekarang.. " kata Ammar.
__ADS_1