
Aluna bergidik ngeri saat menyusuri celah sempit di terowongan itu. Tak beberapa lama kemudian, telinganya mendengar seseorang ehh... salah beberapa orang sedang berbincang - bincang di salah satu ruangan ini.
' Siapa yang sedang berbincang- boncang di sana, ya ?" tanyanya pada diri sendiri.
" Aluna minggir! Jangan di jalan! seru seseorang dari arah belakangannya.
Luna menoleh dan menemukan Azzura sedang tersenyum pada dirinya. Iya. memang Azzura sudah mengetahui tentang Luna yang hanya berbentuk bayangan saja.
Tadi saat ingin buang air kecil tak sengaja matanya menangkap bayangan seseorang yang sedang mengendap - endap di depan ruangan tempat Luna di baringkan.
Mengira ada orang lain yang menyusup ke tempat itu, bergegas dia mengikuti dan mengawasi gerak-gerik bayangan yang mencurigakan itu.
Ternyata, itu adalah bayangan Luna. Dia menarik nafas lega dan mendekati bayangan Luna bermaksud untuk mengagetkan dan menggoda gadis itu.
" Pangeran Azzura! anda di sini? Mana Putri Arryan dan ki Anom? Lalu apakah anda bertemu dengan pangeran Alyan?" tanya gadis itu bertubi-tubi.
" Stop! Ya ampun, Luna! Itu pertanyaan atau rel kereta api? " tanya Azzura dengan ekspresi menggoda.
Bayangan Luna tampak terdiam. Pasti sedang malu - malu kucing, pikir Azzura. Sayang sekali dia tak bisa melihat ekspresi wajah Luna yang sudah pasti tampak lucu.
" Luna, masuklah!" seru Ki Anom.
Luna menurut dan masuk ke dalam ruangan itu. Dia mengambil tempat berdiri dekat dengan tubuhnya yang sedang berbaring seperti orang tidur saja layaknya.
" Iya, bagus. Berdirilah di sana! " perintah Ki Anom.
" Pangeran Alyan, kemarilah sebentar!" Alyan bergerak maju menghampiri Ki Anom.
" Berikan padaku pedang Naga Jiwo yang ada di pinggangmu itu, sekarang! " perintahnya lagi.
Dengan ragu, Alyan mengeluarkan pedang Naga Jiwo miliknya dari sarungnya dan memberikan kepada Ki Anom.
" Sekarang, duduklah di hadapanmu. Kita satukan semua kekuatan kita untuk mengembalikan tubuh Aluna dengan bayangannya.! kata laki-laki itu.
__ADS_1
Alyan mengambil dekat
tempat duduk berhadapan dengan Ki Anom. Pedang Naga Jiwo tertancap di depan sang pangeran dan keris Pancasona milik Ki Anom yang kini berdiri tegak di hadapan pemiliknya.
" Konsentrasi, pangeran dan kerahkan hawa murni dalam tubuh anda agar aku bisa membantuku untuk menerapkan ajian Wayang Sewu untuk menolong menyatukan tubuh Luna dan jiwanya.
Ajian Wayang Sewu milik Ki Anom adalah ajian ilmu kebatinan tingkat tinggi yang mana pemilik ilmu ini harus memiliki kemampuan tenaga dalam yang tinggi serta tirakat jiwa yang tinggi pula.
Karena pada dasarnya, Ilmu itu adalah Penyatuan antara kita sang pengembala jiwa dengan Sang Pemilik Jiwa dan Sukma yang sebenarnya. Dialah Yang Maha Agung.
Kesucian dan tirakat diri serta penyerahan hati yang hanya tertuju pada-Nya saja, harus sepenuh dikuasainya oleh orang yang ingin mempelajari ilmu Wayang Sewu.
Ki Anom adalah seorang lelaki yang sepenuhnya mengabdi pada Yang Maha Kuasa Pemilik segala kehidupan. Sudah lama sekali dia meninggalkan segala kehidupan keduniawian dan memilih mengasingkan diri.
Dahulu sekali, dia memilih tinggal di desa Raden, karena desa itu merupakan tempat para pertapa yang memilih kehilangan sederhana yang tenang dan damai daripada kehidupan dunia yang penuh nafsu dan angkara murka.
Karena itulah, dia tak pernah mau hidup di istana, tetapi lebih memilih tinggal menyepi di atas bukit di desa Raden. Keseharian lelaki itu tak jauh dari tirakat dan munajat mendekatkan diri kepada-Nya.
Tubuh Ki Anom bergetar hebat tak kala mulutnya selesai mengucapkan mantra - mantra dari Ajian Wayang Sewu.
Azzura dan Arryan yang melihat hal itu memandang tak berkedip, mereka takjub melihat kehebatan ilmu Ajian Wayang Sewu yang di terapkan oleh sang guru.
Sukma Ki Anom terbang meninggalkan raganya. Sukma itu melayang pergi meninggalkan tubuhnya terbang menuju alam antara alam Dunia dan alam Barzah.
Alam ini berada di dimensi lain yang keberadaannya hanya dipisahkan oleh batas tipis yang di sebut dengan Shiraz.
Shiraz ini yang membatasi antara dunia manusia yaitu alam dunia , baik dunia Jin dan manusia dengan alam Barzah yaitu alam kematian.
Setelah cukup lama mencari tanda - tanda keberadaan Luna, Ki Anom akhirnya menemukan roh gadis itu yang bersembunyi di antara tumpukan puing-puing reruntuhan sebuah gedung.
" Luna, kemarilah! panggil Ki Anom pada ruh Luna yang sedang duduk terpekur sedih.
Tuh Luna menoleh dan kemudian tersenyum senang saat menyadari bahwa yang memanggilnya barusan adalah sang guru.
__ADS_1
" Ki, akhirnya Ki Anom menemukanku. Tolong, bawa aku kembali ke rumahku. Aku tak ingin disini sendirian. Aku takut!" kata Luna dengan memelas.
Dia tak habis pikir, mengapa dia terperangkap di alam ini. Setiap kali dia mencoba ingin pergi meninggalkan tempat itu, dia pun pada akhirnya akan kembali lagi ke tempat itu. Begitu terus yang terjadi sampai detik ini. Sepertinya waktu berhenti berputar di tempat itu.
" Peganglah tanganku dan jangan lepaskan ikatan benang merah yang aku ikatkan di tangan kiri-mu walaupun apapun yang terjadi dan jangan terpengaruh dengan apapun yang kamu lihat atau dengar."
"Jika hal itu kamu langgar, maka kamu akan selamanya berada kekal di tempat ini hingga Kiamat.
Ki Anom membimbing Luna untuk melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Di tariknya lengan gadis itu dan berjalan menuju ke sebuah taman yang luas. Lalu Melewati sebuah saung dan kembali melewati taman lainnya hingga akhirnya sampai mereka di depan pendopo sebuah rumah.
" Masuklah Luna, seseorang di dalam sudah menunggumu! " kata Ki Anom.
Luna masuk ke dalam rumah tersebut. Tak ada apapun di dalam rumah itu selain sebuah tempat tidur yang terletak di tengah ruangan. Di atas tempat tidur itu terbaring seseorang. Luna tidak tahu siapa yang berbaring di sana.
Aluna berjalan menghampiri tempat tidur tersebut. Kali ini, dia tampak terkejut saat melihat siapa yang sedang terbaring di atas tempat tidur itu.
"Itu adalah dirinya! Bagaimana bisa dirinya terbaring di sana. Sedangkan dia berdiri di sini.?" pertanyaan itu menghinggapi dirinya.
Seperti tahu apa yang ada di benaknya,
sebuah suara menjawab pertanyaan Luna.
" Itu adalah dirimu sendiri, anakku! "
" Tapi mengapa? Apakah aku sudah mati?" tanyanya.
" Tidak, kamu belum mati. Kamu hanya koma saja."
" Aku.....? Koma?" tanya Aluna seperti tak percaya.
" Iya, kamu koma dan terluka pada pertarungan kamu terakhir melawan Hades. " papar suara itu lagi.
__ADS_1
Dia ingat sekarang. Tubuhnya terbagi menjadi dua bagian di dimensi ini aakibat sambaran pukulan Tapak Hades di dadanya.