
Kemudian mereka melanjutkan melihat - lihat foto yang lain. Kembali keanehan terjadi. Foto Sherly yang diambil saat pesta ulang tahun keponakannya Amris, juga sama seperti foto Rima. Buram tak terlihat. Di Foto itu, kepala Sherly malah terlihat seperti hilang. Hanya potongan tubuhnya saja yang terlihat. Nadia bergidik ngeri saat menyadari keanehan pada foto Sherly."
" Lantas... bagaimana hasil penyelidikan polisi, kak? "
" Yah... begitulah, dek. Polisi juga tak menemukan petunjuk terkait kasus hilangnya Sherly dan juga Rima." kata Nadia.
" Hmm, kasus ini semakin membuatku penasaran. Sepertinya kita memang harus segera menemui ayahku"
" Sepertinya memang begitu, Dek. Jadi kapan kiranya kita bisa menemui ayahmu. Kakak mau secepatnya kita menemui ayahmu dan meminta petunjuk dari beliau."
" Bagaimana kalau besok malam, Kak. Soalnya entar malam aku kebagian tugas piket."
Nadia berpikir sejenak, lalu kemudian mengangguk menyetujui usulan Putri Arryan. " Baiklah, kakak akan kesini, besok malam. Kita pergi menemui ayahmu berdua."
" Oke.. "
" Ya udah, kalau gitu kakak pulang dulu, yah..."
" Ok, kak. Hati - hati, ya Kak."
" Ok,. makasih, Dek. Assalamu'alaikum.. "
" Waalaikum salam..., Hati-hati, Kak..! "
Sepeninggal Nadia, Putri Arryan kembali meneruskan istirahatnya di kamar. Namun, dia tak dapat memejamkan matanya kembali. Pikirannya masih teringat akan cerita Nadia dan keanehan yang terdapat dalam foto kedua temannya Nadia yang dilihatnya tadi.
Tak mungkin hanya kebetulan. Masa ada kebetulan dua orang teman kakak sepupunya itu dengan berkas jejak foto yang sama. Mungkin juga di sanalah petunjuk itu berasal.
Sementara itu, Nadia tidak langsung pulang ke rumahnya, tetapi wanita cantik itu datang ke rumah Devan. Dia ingin menceritakan kepada Devan tentang keanehan yang dia temukan.
Di tempat lain, Amris sedang berada di rumahnya. Sudah beberapa hari ini, mama Amris dibuat bingung oleh tingkah Amris yang aneh. Pasalnya, semenjak Sherly dikabarkan menghilang dari rumah usai menemui Amris, pemuda itu juga ikut - ikutan berperilaku aneh. Dia mengurung diri terus di kamar. Di ajak makan menolak, ditanya diam saja. Sepanjang malam, anak itu terjaga, hingga pagi menjelang baru anak itu tertidur.
Semula sang mama menyangka perilaku Amris yang demikian disebabkan barangkali saja dia terpukul dengan masalah Sherly yang menghilang secara misterius. Maklum saja, sepulang dari piknik, masalah seolah - olah selalu saja menggangu kehidupan anaknya. Mulai dari sahabatnya yang menghilang secara misterius tanpa meninggalkan jejak. Kemudian, ditambah lagi dengan menghilangnya Sang kekasih hati yang juga tanpa jejak, kemungkinan membuat Amris menjadi sangat tertekan.
Berpedoman akan hal itu, sang mama berusaha untuk maklum dan terus berusaha memberi dukungan untuk sang anak. Namun untuk saat ini, sepertinya dua sudah kehabisan kesabaran.
" Amris.... Amris.... buka pintu, Nak! "
Tak ada sahutan dari dalam kamar. Mama Amris tak putus asa. Dia kembali mengetuk pintu kamar Amris dan memanggil - manggil nama pemuda itu. Namun tetap tak ada jawaban.
__ADS_1
Mama Amris mendorong pintu kamar Amris yang ternyata tidak terkunci. Saat terbuka, bau busuk yang menyengat hidung tercium dari dalam kamar Amris. Sontak Sang mama menutup hidung karena tak tahan dengan bau busuk yang menyengat tadi.
Kamar Amris sangat gelap karena pemuda itu menutup semua jendela kamar dan gorden hingga tak ada cahaya sedikit yang bisa masuk ke kamar tersebut.
Mama Amris mencoba mencari sakelar lampu kamar Amris dan segera menekan tombol on. Begitu lampu menyala, mata perempuan separuh baya itu membelalak tak percaya. Di atas tempat tidur, Amris sedang tidur meringkuk sambil bergelung selimut tebal. Sedangkan di lantai, teronggok berbagai jenis bangkai hewan yang semuanya dalam keadaan sudah mulai membusuk. Pantas saja, baunya busuk sekali. Bergegas, mama melangkah ke arah jendela bermaksud untuk membuka jendela kamar anak lelakinya yang sudah berperilaku aneh menurutnya.
Namun baru saja tangannya menyentuh gorden, seseorang menyentak tangannya dengan kasar.
" Amris.... "
Amris hanya diam saja ketika Sang mama memandangnya dengan pandangan marah. Tatapan Pemuda itu seperti kosong.
" Kamu apa - apaan, sih. Kelakuan kamu makin aneh saja, tau. Mama Minta penjelasan kamu tentang semua ini. Mengapa banyak sekali bangkai hewan mati di kamar kamu? "
Kembali Amris hanya diam sambil memandang kepada mamanya dengan pandangan nanar. Kembali Sang mama berniat untuk membuka jendela kamarnya, namun dengan gerakan reflek, tangan pemuda itu sudah berhasil mencengkram tangan mamanya.
" Amris.. lepasin. Sakit tau... " mama meringis ketika Amris kemudian memutar tangan mamanya dengan keras dan tanpa kenal belas kasih.
Wanita paruh baya yang merupakan ibu dari Amris itu melolong keras ketika. kemudian Amris menghempaskan dirinya ke dinding kamar. Wanita itu jatuh terkulai dengan tangan yang sudah tidak berbentuk tangan lagi. Ya... tangan itu sudah terlepas dari bahunya.
Darah segar mengucur dari bahu mama.
" Mama.... " jerit Vina, adik Amris ketika melihat Sang mama yang jatuh pingsan tak sadarkan diri dengan tangan yang sudah terputus. Dia sangat shock melihat kondisi Sang mama yang kini sedang tidak sadarkan diri dengan tubuh yang bersimbah darah.
Pagi itu, seisi rumah menjadi geger dengan kejadian tersebut. Begitu juga dengan para tetangga yang kemudian datang dan beramai-ramai memberi pertolongan kepada mama Haris dan segera membawa wanita itu ke rumah sakit untuk segera mendapatkan pertolongan medis.
Sementara itu, Amris di amankan ke kantor polisi dan untuk sementara terpaksa menginap di rumah tahanan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Berita tentang Amris ini sudah sampai ke telinga Nadia. Wanita itu semakin yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres dibalik piknik mereka ke air terjun Grobogan Sewu beberapa hari yang lalu.
" Arryan, gimana. Apa kita jadi untuk pergi menemui ayahmu? "
" Eh.. iya, kak. Ini aku dari tadi di rumah aja lagi nungguin kakak."
Keduanya kemudian memutuskan untuk langsung pergi menemui Pangeran Hasyeem di Bukit Malaikat.
" Ayo ke sini, Kak. Ikut aku sekarang."
Putri Arryan lalu mengajak Nadia masuk ke kamarnya dan kemudian mengunci pintu kamarnya.
__ADS_1
" Loh, katanya mau pergi nemuin ayah kamu. Kok malah masuk kamar."
" Sttt.... Kak. Kita memang mau bertemu dengan ayahku. Dan ini adalah cara singkat untuk bertemu dengan Ayahku. " jelas putri Arryan. Nadia bengong. Dia hampir melupakan siapa sebenarnya sang paman.
Putri Arryan merentangkan kedua tangannya keatas. Mulutnya komat kamit merapalkan mantra untuk membuka jalan ghaib menuju ke Bukit Malaikat. Nadia yang lijhat hal itu hanya bisa bengong sambil memasang wajah kagum pada kemampuan adik sepupunya yang cantik itu. Beberapa waktu yang lalu, dia memang pernah ke Bukit Malaikat, tu juga atas ajakan Pangeran Alyan. Kali ni adalah yang kedua kalinya dirinya pergi ke negeri seribu satu malam itu. Sepertinya dia baru menyadari satu hal, bahwa dia ternyata memiliki beberapa orang sepupu dan juga paman yang berasal dari makhluk ghaib.
" Ayo, kak. Lewat sini. " suara Putri Arryan menbuyarkan lamunannya. Adiknya itu meraih tangannya dan kemudian keduanya dalam sekejab saja sudah berada di depan pintu gerbang Istana Bukit Malaikat.
" Putri Arryan...." Seseorang memanggil nama Putri Arryan membuatnya langsung menoleh. Dia sangat terkejut ketika melihat Andros yang sedang berdiri bersama dengan Putri Yasmin. Putri kedua dari Pangeran Anggada.
" Andros...kamu juga ada di sini? " tanya Arryan. Wajahnya sengaja dibuat jutek. Dia kesal karena sudah bodoh memikirkan nasib pemuda itu sedangkan dia sendiri di sini sedang enak - enakan bersama Putri Yasmin..
" Aku dan Yasmin mau pergi berburu. Apakah kamu mau bergabung? " tawar Andros . Putri Arryan membuang pandangan. " Tidak, Terima kasih. Aku hanya ingin bertemu dengan ayah saja. " ketusnya. Selesai berkata demikian, dia meraih tangan Nadia lalu menyeret tangan kakak sepupunya itu agar segera mengikuti langkahnya.
" Putri Arryan...benarkah kamu tak ingin bergabung dengan kami?" Ada raut kecea di wajah Andros mendapati penolakan Putri Aryyan.
" Tidak, terima kasih. Silahkan jika kamu mau berburu dengan putri Yasmin. Aku langsung masuk saja. " katanya sedingin es dengan tatapan datar.
" Tapi......" Andros masih mencoba untuk menahan Putri Aryyan namun gadis itu sudah menghilang dibalik pintu gerbang istana.
-------
Sementara itu, Amris yang berada di dalam tahanan polisi di letakkan di dalam sel yang terpisah dengan tahanan yang lain.
Semenjak memasuki tempat tersebut, pemuda itu hanya berdiam diri saja. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut pemuda itu. Tatapannya dingin dan kosong. Polisi yang ingin menanyai pemuda itu merasa kesulitan untuk memperoleh informasi.
Malam beranjak kian larut. Beberapa polisi tampak sedang berjaga - jaga di sekitar tempat. Melakukan patroli rutin mengontrol situasi di tempat itu.
sedangkan Amris, pemuda itu masih betah berdiam diri dengan pandangan kosong. Tiba - tiba pemuda itu bangun dari duduk dan berjalan menuju ke arah pintu selnya. Dengan entengnya, pemuda itu membuka pintu sel yang terkunci dengan hanya sekali dorongan saja. Padahal pintu sel itu sudah di kunci dan di gembok.
Beberapa polisi yang berjaga di tempat itu tak tinggal diam. Mereka bergerak mengepung dan menangkap Amris. Namun semua polisi yang mengepung dan memegang pemuda itu terlempar beberapa meter jauhnya sementara pemuda itu dengan santainya berjalan keluar dari sel dan melangkah menuju pintu keluar.
Tak ingin kecolongan, mereka mengeluarkan tembakan peringatan kepada pemuda itu namun tak digubris. Amris terus saja berjalan sampai melewati pos penjagaan. Polisi yang berteriak sambil mengejarnya, akhirnya mengeluarkan tembakan yang mengarah ke lutut kanan Amris.
Namun anehnya , walaupun mengenai kaki pemuda itu, dia tak sedikitpun meringis atau mengeluh. Padahal kakinya sudah mengeluarkan banyak darah. Dia terus saja berjalan tanpa sedikitpun merasakan sakit. Polisi kembali mengeluarkan tembakan. Kali ini, lutut sebelah kiri Amris. Namun bukannya tumbang, pemuda itu malahan berjalan semakin cepat.
Akhinya polisi memutuskan untuk mengepung dan menangkap pemuda itu. Mereka melemparkan sebuah jaring ke arah pemuda itu. Jaring itu pun membungkus tubuh pemuda itu sehingga tak bisa berkutik.
Mereka lalu mendekti pemuda itu untuk membekuknya. Namun saat mereka sudah semakin dekat, tiba - tiba saja, tubuh Amris lenyap tak meninggalkan bekas.
__ADS_1
" Kemana perginya pemuda itu ? " ucap salah seorang polisi itu.
Mereka semua kehilangan jejak dari pemuda itu.