
"Pengawal! Tutup rapat gerbang istana dan segera sisir seluruh isi istana ini. Temukan penyusup itu dan bawa segera padaku! " titahnya.
Segera, gerbang istana itu ditutup dan beberapa pengawal istana berhamburan menyisir seluruh wilayah istana untuk menemukan penyusup yang berani memasuki istana Bukit Malaikat.
Alyan dan Aluna tiba di Bukit Malaikat tepat pada saat gerbang istana mau ditutup. Segera keduanya masuk dan bergabung dengan ayahnya sang Pangeran Hasyeem.
" Alyan, kamu terluka! Apa yang terjadi? " Pangeran Hasyeem sangat terkejut ketika melihat luka di dada Sang Putra.
" Panjang ceritanya, ayah. Sekarang yang paling penting, selamatkan dulu ibuku dan juga ibu Aluna. Mereka adalah target selanjutnya." kata Alyan.
Pangeran Hasyeem terkesiap.. Bagaimana dia bisa melupakan Sang istri. Ibunda Ratu kerajaan Bukit Malaikat, dialah yang seharusnya paling di lindungi di istana ini.
Segera mereka semua berlari masuk ke dalam istana. Demikian juga Aluna, dia berlari cepat ke arah Bukit Duri, karena istana ayah dan ibunya berasal di sana.
Aluna mendapati Sang ibu dan adiknya dalam keadaan baik - baik saja. Dia menarik nafas lega karena kekhawatiran dirinya tidak terjadi.
Namun berbanding terbalik dengan keadaan di istana Bukit Malaikat. Saat mereka memasuki istana, mereka semua sudah di kepung oleh para penyusup yang menghadang mereka di pintu masuk alun - alun pendopo istana.
" Ibuuu! " seru Alyan yang melihat tubuh Sang ibu sudah berada di tangan salah seorang penyusup.
Tubuh pangeran Hasyeem bergetar karena menahan amarah yang memuncak. Beraninya mereka menyandera dan menyakiti ratunya. Kedua tangannya terkepal erat.
Segera, di tariknya pedang emasnya dari sarungnya. Pedang itu kini bersinar terang tanda haus akan darah korbannya.
" Berani sekali kalian memasuki istanaku dan menyentuh ratuku.!" bentaknya dengan suara yang bergetar karena marah.
" Hahahaha, cih. Aku sudah lama menantikan kesempatan ini. Aku dengan senang hati membunuh dan mencincang - cincang tubuh manusia tak berguna ini dan meminum darahnya." seru orang yang menyandera Asmi.
" Asmi, Sayang!" seru Sang Pangeran. Dia ingin bergerak maju untuk membebaskan Sang Ratu, namun..
" Selangkah saja yang mulia maju, maka nyawa ratumu akan segera melayang! " seru orang yang menyandera istrinya.
Pangeran Hasyeem dan Alyan urung untuk maju. Nyawa ibundanya menjadi taruhan jika dia dan ayahnya salah perhitungan.
" Lepaskan istriku, maka akan ku ampuni kalian semua! " katanya dengan suara serak.
" Hahaha, Pangeran. Nyawa kami tak berharga. Kami rela mati sekalipun jika itu demi bisa membunuh ratumu dan juga putra kesayanganmu itu! " tunjuknya pada Alyan.
Mata Alyan merah menahan tangis. Dia paling tidak bisa jika melihat ibunya menderita. Satu - satunya alasan yang bisa membuat dia menangis adalah melihat air mata dan penderitaan Sang ibu.
" Lepaskan, Ibuku. Ambil saja aku sebagai ganti Ibuku. Toh... selama ini yang kalian inginkan adalah aku.!" katanya dengan memelas.
__ADS_1
"Alyan..! Mengapa kamu seperti itu.. Lihatlah apakah aku memohon pada mereka. Jangan takut, putraku! Majulah bersama ayahmu, dan habisi mereka semua. Aku tak takut meskipun harus mati hari ini.! " seru Sang Ibu pada Alyan.
Orang yang menyandera Asmi menjadi geram. Dia menusukkan pisau kecil yang dia todongkan ke leher Asmi lebih keras hingga masuk dan melukai wanita cantik itu.
Darah segar mengucur dari leher Sang Ibu membuat Alyan kalap dan maju menyerang.
Para penyusup itu tidak tinggal diam. Mereka maju dan menghadapi Alyan. Melihat Sang Putra bertarung seorang diri menghadapi para penyusup itu , Sang ayah tak mau ketinggalan.
Pangeran Hasyeem segera turun tangan membantu Sang Putra menghadapi para penyusup yang kini sudah mengeroyok mereka.
Keadaan kini menjadi imbang. Para penyusup itu satu persatu tumbang oleh kedahsyatan pedang ayah dan anak itu.
Orang yang menyandera Asmi mulai panik. Dia merapat ke pinggir arena dan berteriak dengan suara lantang.
" Berhenti atau kubunuh sekarang Ratu kalian! " serunya geram.
Segera para penyusup itu bergabung dan mengelilingi tubuh Asmi dan orang yang menyanderanya.
" Awas saja kalau kalian berani menyentuh ibuku, maka aku tak akan segan untuk menghabisi kalian semua!" bentak Alyan sambil menghunus kembali pedang Naga Jiwo miliknya.
Keadaan menjadi semakin tegang. Salah seorang dari mereka terlihat komat - kamit seperti sedang membaca sebuah mantera.
Blusss! di hadapanmu mereka kemudian muncul puluhan makhluk - makhluk dengan aneka bentuk dan wajah .yang menyeramkan.
" Kita tinggal mengikuti saja apa yang mereka inginkan. Lalu bergerak jika keadaan sudah memungkinkan." kata pangeran Hasyeem.
"wahai saudaraku, bunuh mereka semua yang ada di istana ini. Jangan sisakan seorang pun! " serunya.
Selesai berkata demikian, makhluk itu segera bergerak menyerang semua orang yang ada di istana itu. Para pengawal istana dan juga penjaga pintu gerbang tampak kewalahan menghadapi makhluk itu. Mereka sangat buas dan haus akan darah.
Satu demi satu korban berjatuhan. Asmi menjerit histeris menyaksikan banyaknya korban yang tewas karena keganasan makhluk itu. Dia meronta berjuang untuk membebaskan diri dari sanderaan orang di belakangnya.
Pada suatu ketika , orang yang menyandera Asmi menjerit tertahan. Dia tumbang dengan luka tusuk di lehernya.
Rupanya diam - diam Aluna hadir di tempat itu. Dia dengan mudah mendekati Sang Ratu yang berada dalam sandera karena keberadaan dirinya yang tak terlihat oleh bangsa jin.
Beruntung sekali, kesemuanya dari para penyusup itu berasal dari bangsa jin. Mereka adalah jin kafir penyembahan iblis dan penganut ilmu sihir.
Aluna menusukkan pisau tepat di leher orang yang menyandera Asmi hingga orang itu tewas seketika.
Alyan menoleh ke arah Sang Ibu dan bergerak cepat meraih tubuh ibundanya. Dia berhasil menyelamatkan Sang ibu dari tangan para penyusup. Sedang Aluna dia bergerak kembali ke tepi arema untuk melindungi Sang ibu dan juga adiknya.
__ADS_1
Sedangkan pangeran Hasyeem, saat melihat Sang Ratu sudah terbebas, segera dia maju dan membabat habis semua musuh yang berdiri di dekatnya.
Para penyusup itu tumbang berjatuhan dengan tubuh yang terpotong-potong. Sekarang yang tersisa adalah makhluk - makhluk buas peminum darah hasil ciptaan para penyihir itu.
Kini giliran alyan yang menyelesaikan mereka semuanya. Setelah dia menyerahkan Sang Ibu kepada Ayahnya, dia segera berlari menerjang makhluk - makhluk itu dengan pedang Naga Jiwo miliknya.
" Pedang Naga Jiwo. Rupanya ayahanda paduka raja Haizzar telah mewariskan pedang itu kepada Alyan Putra kita, sayang! " bisik Pangeran Hasyeem pada Sang Ratu.
Dia kemudian menjilati darah yang mengalir di leher Sang istri. Ajaib, luka tusuk di leher Asmi lenyap tak berbekas.
" Sayang, ayo kita menyingkir dari sini. Biarkan saja putramu bermain - main dengan mahkluk - makhluk itu.! " serunya sambil menggendong tubuh Asmi dan melesat masuk ke dalam istana.
" Makhluk - makhluk ini seakan tak ada habis- habisnya. Walaupun sudah dibantai, tetapi yang lain terus berdatangan. Bagaimana cara memusnahkan mereka? " pikir Alyan.
" Fokus Alyan, fokus!! " kata hati Alyan.
Dia lalu mengamati makhluk itu. Mereka semuanya memang bisa terbunuh dan mati. Namun itu hanya sesaat, tubuh mereka bangkit lagi dan menyerang seperti sedia kala..
Itu dia! makhluk itu tidak akan mati melainkan jika kita bisa membunuh Sang ' biang'! " seru Alyan gembira.
" Tapi bagaimana cata mengetahui yang mana ' Sang Biang' " tanya Alyan pada diri sendiri.
" Cari saja sosok yang bergerak paling lambat. dialah 'Sang Biang'! "seru Aluna. Dia sekarang sudah berdiri di dekat Alyan.
Kembali Alyan mengamati makhluk itu satu persatu. Tepat pada saat itu, ada sesosok makhluk yang bergerak agak lambat di bandingkan dengan yang lain. Segera Alyan berjalan mendekatimya.
' Srett?tubuh Alyan menusukkan pedang Naga Jiwo ke tubuh makhluk itu .
Makhluk itu tidak menyadari jika Alyan mengetahui kelemahan mereka. Mereka masih sibuk menyerang rakyat yang tak berdosa . Kini keadaan sudah berbalik. Makhluk - makhluk itu kini sudah semakin terdesak dan berlarian pontang panting menyelamatkan diri.
Keadaan istana Bukit Malaikat sudah mulai terkendali. Para pengawal tampak sedang membereskan sisa - sisa kekacauan dan menyingkirkan mayat - mayat yang bergelimpangan untuk dikuburkan.
" Aluna, bagaimana keadaan ibu dan adikmu? " tanya Alyan pada Luna. Setelah keluar dari bilik Sang ibu, Alyan bergegas menemui Luna.
" Ibu dan adiku tampak terpukul sekali melihat keadaanku. Ibuku juga kini mulai mengkhawatirkan keadaanku dan ayahku. Bahkan dia juga minta diantar untuk menemui Ayahku." jawab Luna.
" Kita harus secepatnya menyatukan bayangan dan tubuhmu. " kata Alyan.
" Bagaimana caranya? " tanya Luna yang tak faham dengan semua itu.
" Ayo kita segera kita minta petunjuk Ki Anom! agar masalah ini cepat selesai" ajak Alyan pada Luna.
__ADS_1
Luna mengangguk dan berjalan mengikuti Alyan menuju ke kediaman Ki Anom